May 31

SOLO, Jawa Tengah, akhir tahun 1972. Ada antri beras, dan beritanya santer muncul di koran. Sampai-sampai dikabarkan bahwa dalam antri itu ada bayi kejepit, dan tewas. Tak sabar menunggu laporan dari koresponden di kota itu — yang tak kunjung datang, maka saya pun diutus ke sana untuk menulis Laporan Utama, Tempo edisi 16 Desember 1972.

Perjalanan kali ini dibatasi hanya satu hari. Kita harus berpacu dengan koran harian, yang pada hari-hari itu gencar menampilkan kesan gawat. Agak sesak juga membayangkan sempitnya waktu yang tersedia. Tak kurang serunya pula ialah pesan bos: “Pokoknya kau harus dapat foto yang menggambarkan suasana kelaparan itu. Kalau tidak, lebih baik jangan pulang.” Wah!

Pesan berbumbu ancaman itu muncul, tentulah lantaran berita tadi: di tengah antri ada bayi tewas terjepit. Sebagai fotografer, terus terang, saya mengidamkan untuk beroleh lagi kesempatan semacam itu. Amit-amit….

Continue reading »

written by matkodak

May 30

Pada ulang tahun ke-42 (28 Juni 2007), Kompas menerbitkan buku kedua kumpulan foto para wartawannya. Layak ditunggu terbitnya buku foto yang menampilkan karya wartawannya secara tunggal.

MENGHIMPUN karya foto wartawan dalam sebuah album bukanlah pekerjaan gampang, rupanya. Bahkan untuk koran sebesar dan setua Kompas, perlu waktu 32 tahun untuk menerbitkan buku kedua kumpulan foto wartawannya. Buku pertama, Indonesia Dalam 250 Foto muncul tahun 1975 bersamaan dengan perayaan 10 tahun suratkabar itu.

Buku kedua, Mata Hati 1965-2007, diluncurkan bersamaan dengan pembukaan pameran 179 foto bertajuk serupa, di Gedung Bentara Budaya, Jalan Palmerah Selatan, Jakarta Selatan, 16 Juli 2007. Ketua Panitia — Arbain Rambey, mengatakan setelah digelar seminggu di Jakarta, foto-foto itu dikelilingkan ke Medan, Semarang, Yogyakarta, Malang dan Surabaya.

Continue reading »

written by matkodak \\ tags: , , , ,

May 29

MEMASUKI Tahun Baru 2008 biasanya kalender 2007 — yang tergantung di dinding atau terletak di meja — langsung dibuang. Apa lagi lembar tiap bulan sudah telanjur dirobek. Kini boleh diketahui bahwa susunan hari dan angka di kalender tidak seluruhnya berbeda tiap tahun. Tapi ada yang sama persis.

Misalnya kalender 2008, sama persis dengan kalender 2036, tahun 2064, dan tahun 2092. Menyimak kelipatan angkanya adalah 28, maka berarti kalender 2008 tetap bisa terpakai untuk empat generasi.

Kelipatan 28 ternyata bukan patokan merata. Buktinya, kalender 2009 akan sama persis dengan tahun 2015. Lalu ketemu lagi tahun 2026, 2037, 2043, 2054, 2065, 2071, 2082, 2093, dan 2099. Selisihnya bervariasi antara 6 dan 11 tahun.

Continue reading »

written by matkodak \\ tags: ,

May 27

HARI-HARI di awal Juni 1977, Gubernur Ali Sadikin sebagai penguasa Jakarta bisa saja memanggil semua lurah datang menghadap, lalu pidato untuk pamitan. Tapi bukan itu yang dilakukannya. Bang Ali justru keliling mengunjungi seluruh kelurahan, hanya didampingi satu ajudan.

Pertemuan dengan para lurah begitu akrab. Dan warga setempat pun tumpah-ruah berebut menyalaminya. Di tiap kelurahan, Bang Ali selalu mengingatkan. “Pak Lurah, penghijauan yang kita lakukan sekarang baru pohon-pohon sementara,” katanya. “Cepat susulkan menanam pohon
yang awet, seperti mahoni, pohon asem, kenari, kayak zaman Belanda dulu”.

Sejauh yang kita amati, pesan Bang Ali itu tampaknya dilupakan begitu saja. Namun dalam skala besar, sulit melupakan jejak-langkahnya selama mengurus Jakarta. Bukan sekadar pembangunan fisik yang dikerjakannya hingga Jakarta layak menjadi Ibukota Republik Indonesia. Tapi lebih
dari itu: mencakup pelbagai faset kebutuhan hayati manusia, lahir batin. Ali Sadikin sebagai gubernur benar-benar mewujudkan prinsip mendahulukan kepentingan umum di atas kepentingan golongan atau korps.
Continue reading »

written by matkodak \\ tags: , , , ,

May 27

Pameran teknologi merekayasa karya foto di New York, membuka peluang manipulasi foto hampir tanpa batas. Kejujuran fotografi kini mendapat godaan.

MELIHAT satu kali jauh lebih berharga dibandingkan dengan hanya mendengar seratus kali. Itulah manfaat fotografi: menyebar-luaskan kenyataan di suatu tempat ke seluruh penjuru. Ini memang pernah teruji di bidang kerja orang koran alias dunia jurnalistik. Fotografi berkibar di media cetak sebagai kekuatan khas, sejak medium ini masuk koran menjelang abad ke-20.

Namun sebuah karya foto, sebagaimana tulisan, tak luput dari utak-atik. Sehingga hal “menyebar-luaskan kenyataan” kini harus dikoreksi. Karya foto ternyata bisa juga disalah-gunakan untuk memutar-balik keadaan sebenarnya, terutama untuk tujuan politis.

Ingat saja, misalnya, sajian foto di koran China Pictorial bulan Oktober 1976, dua minggu setelah Jiang Qing dan konco-konconya disingkirkan dari panggung politik Negeri Tirai Bambu itu. Foto tahun 1947 tersebut merekam saat Mao Zedong dan pasukannya melakukan long march, dan Jiang Qing tampak di latar belakang.

Continue reading »

written by matkodak \\ tags: , ,

May 26

INI sepotong cerita lama dibuang sayang. Pada hari-hari menjelang pemilihan umum, seperti biasa ada yang berbusah obral janji : “Pokok-e nanti di sini kita bikin pabrik tektil, sudara-sudara.” Prok-prok-prok! Massa bertepuk riuh.

Dapat sambutan heboh, sang tokoh kian syur menggelebungkan “pabrik tektil”. Sampai lima kali. Sekian kali pula dia sebut “subtansi…. intropeksi…” Jurubisiknya risih. Tekstil, substansi, introspeksi — S di tengah kok raib.
Dari kursi dia setengah berteriak: “Kurang S, Pak…” Sang tokoh pun sigap tanggap, “Yak, susudara, bukan cuma tektil, nanti pabrik es juga bakal kita bikin…”

Mat Gawat masih terkekeh meski cerita itu agak sering diulangnya. “Kebiasaan korupsi, sih. Memulung kata orang lain, S pun ditilap,” komentarnya.

“Mengebiri huruf S, mungkin tak keliwat gawat selama makna kata itu tidak tergeol alias melenceng ke mana-mana…”

“Maksud, Bung?”

Continue reading »

written by matkodak \\ tags: , , ,

May 25

1) Lihat resleting anda.. YKK bukan? Itu singkatan dari Yoshida Kogyo Kabushibibaisha perusahaan resleting terbesar di dunia.

2) Suara “wek..wek..wek” bebek tak akan menggema, baik di gua, lembah, dll. Kenapa? Sejauh ini belum ada penjelasan dari para ilmuwan.

3) Dalam laporan reguler tiap jam tentang kondisi Soeharto menjelang ajal, para dokter merinci keadaan jantung, batang otak, paru-paru dan ginjal mantan penguasa orba itu. Tapi satu organ vital lainnya tak pernah disebut, namanya : HATI.

4) Rata-rata 12 bayi yang lahir di dunia tiap hari, diserahkan ke orang tua yang salah alias tertukar.

5) Coklat asli (dari buah coklat yang baru dijemur/kering) dapat membunuh anjing, menyerang jantung dan sistem sarafnya. Dosis 5 ons untuk anjing kecil / puddel.

6) Sebagian besar lipstik dari merek-merek terkenal, bahan bakunya memakai sisik ikan laut.

7) Tahun 1830, kecap dijual sebagai obat.

8 ) Leonardo Da Vinci bisa menulis sambil tangan yang lain menggambar di saat yang sama.

Continue reading »

written by matkodak \\ tags: ,

May 25

NASIB menggelindingkannya masuk orbit penguasa. Don Silupahutang pun doyan memamah-biak istilah globalisasi. “Ini adalah arus besar dunia, sudara-sudara… Tak mungkin kita hindari,” katanya di berbagai forum publik.

Tiap kali mendengar pidato “agen globalisasi” ini, orang pun bagai kena sihir. Daya pikir masyarakat begitu tumpul, boleh jadi lantaran keracunan makanan yang sarat bahan kimia pengawet atau bumbu-penyedap sintetis. Atau memang malas berpikir, sehingga lupa “ajaran alam” soal ikut arus atau terbawa arus. Coba berdiri di tepi sungai. Benda apa yang begitu mudahnya hanyut dibawa arus? Kalau bukan busah limbah, ya kotoran manusia.

Mustahil mengelak dari arus globalisasi, kata Don lagi, seraya mengunyah teori bahwa manusia dipengaruhi lingkungan. “Apa lagi kini bola dunia tinggal sekepal. Jadi, ikut arus globalisasi adalah sebuah keniscayaan,” dia bilang.
Don berupaya keras jualan gelembung sabun. Sukses juga dia bikin orang banyak lupa “ajaran alam” soal pengaruh lingkungan.

Continue reading »

written by matkodak \\ tags: , , ,