NASIB menggelindingkannya masuk orbit penguasa. Don Silupahutang pun doyan memamah-biak istilah globalisasi. “Ini adalah arus besar dunia, sudara-sudara… Tak mungkin kita hindari,” katanya di berbagai forum publik.
Tiap kali mendengar pidato “agen globalisasi” ini, orang pun bagai kena sihir. Daya pikir masyarakat begitu tumpul, boleh jadi lantaran keracunan makanan yang sarat bahan kimia pengawet atau bumbu-penyedap sintetis. Atau memang malas berpikir, sehingga lupa “ajaran alam” soal ikut arus atau terbawa arus. Coba berdiri di tepi sungai. Benda apa yang begitu mudahnya hanyut dibawa arus? Kalau bukan busah limbah, ya kotoran manusia.
Mustahil mengelak dari arus globalisasi, kata Don lagi, seraya mengunyah teori bahwa manusia dipengaruhi lingkungan. “Apa lagi kini bola dunia tinggal sekepal. Jadi, ikut arus globalisasi adalah sebuah keniscayaan,” dia bilang.
Don berupaya keras jualan gelembung sabun. Sukses juga dia bikin orang banyak lupa “ajaran alam” soal pengaruh lingkungan.
Coba ambil ikan di laut. Tidak pernah asin, kan? Padahal air laut adalah biangnya garam. Ikan laut bakal jadi asin setelah ditaburi garam lalu dijemur. Artinya, untuk bikin jadi asin si ikan harus dimatikan dulu. Nah, manusia gampang “jadi asin” kena sihir atau dirasuki pengaruh lingkungan. Tak ada yang mati, kok.
Memang, bola matanya tampak nyalang. Tapi sukmanya tidur — kalau tak akan disebut pingsan atau mati. Orang bangun secara fisik, namun non-fisik masih lena alias terlelap. Kondisi semacam ini sasaran empuk bikin orang mirip robot. Ujung-ujungnya, tak sadar kehilangan harkat dan martabat.
Don Silupahutang sebenarnya juga paham urusan martabat. Cuma sudah lama ditukarnya jadi sekadar martabak. Sebab selaku “agen asing” di negeri sendiri, dia telanjur terima dana sponsor. Biar dinilai akuntabel, laporan kegiatan dilengkapi kliping pidatonya di koran. Juga cuplikan video.
Orang disorong-sorong harus ikut arus globalisasi. Mau tau cara si Don menampilkan diri sebagai manusia gombal eh global? Berikut ini adalah pernik tampilannya. Sehari-hari dia pakai mobil Jerman dengan mesin buatan Jepang. Punya handphone mutakhir — merek dari Finlandia, dirakit di Daratan Cina. Arloji bersepuh emas buatan Swiss, bertatahkan berlian Afrika asahan perajin jempolan di Negeri Belanda.
Pakai parfum eks Amerika dengan resep Prancis. Gagang kacamata berlapis platina bikinan Austria. Lensanya dipesan dari Jerman. Ikat pinggang buatan Italy, bahan kulit buaya hasil penangkaran di Thailand. Sepatu buatan Inggris, dengan bahan kulit ular dari India.
Kalaupun ada warna-lokal, cuma berupa baju batik. Namun bahannya tetap saja nun dari seberang: sutra halus buatan Cina. Tapi ada kok warna-lokalnya yang asli buanget. Itu bisa ditandai ketika dia menggunakan kalkulator.
Buatan manapun alat pintar itu, tentu lengkap tombol hitungnya.
Ada kalibataku alias kali, bagi, tambah, kurang. Untuk kali-mengali, bagi-membagi, tambah atau kurang, pabrik menyediakan semua tombol berjalan bagus. Tapi di tangan kawan yang sok globalisasi ini, pabrik kalkulator bisa bingung. Tombol perkalian, tambah, kurang, nyaris botak karena sering dipakai. Tombol bagi-membagi sangat jarang disentuh. Bahkan sengaja direkat dengan selotip. Ini kelakuan berwarna-lokal, tulen!
Singkat cerita, dulu dia mengemis pada rakyat agar memilihnya untuk bisa masuk orbit kekuasaan. Kini soalnya jadi lain. Kawan-kawannya mengingatkan: nama Silupahutang jangan sampai berubah menjadi Silupajanji. Waktu kampanye dulu dia boros sekali obral janji membuka lapangan kerja.
“Kok repot amat, sih? Sudah bagus TKI cari kerja di luar negeri. Ini cara kita tampil beda memasuki era globalisasi. Bukan orang lain saja yang datang pada kita. Tapi orang kita sendiri datang ke negeri orang untuk kerja,” katanya, sembari nyengir-nyengir kuda.
“Nama you itu bukan cuma berubah jadi Don Silupajanji, tapi pantas disebut Don Silupadiri,” komentar seorang kawannya.
“Ah, jangan begitulah. Kalian kan tau peribahasa titian biasa lapuk, janji biasa mungkir. Aku memang obral janji, ya salah sendiri percaya sama janji-janji…. he..he..he,” katanya, dengan wajah tanpa beban.
Maka bagi orang sejenis Don Silupahutang alias Silupajanji alias Silupadiri, globalisasi tulen berarti gombalisasi!