Kreol Ala Indonesia Ali Sadikin: Souvenir Abad XX
May 27

Pameran teknologi merekayasa karya foto di New York, membuka peluang manipulasi foto hampir tanpa batas. Kejujuran fotografi kini mendapat godaan.

MELIHAT satu kali jauh lebih berharga dibandingkan dengan hanya mendengar seratus kali. Itulah manfaat fotografi: menyebar-luaskan kenyataan di suatu tempat ke seluruh penjuru. Ini memang pernah teruji di bidang kerja orang koran alias dunia jurnalistik. Fotografi berkibar di media cetak sebagai kekuatan khas, sejak medium ini masuk koran menjelang abad ke-20.

Namun sebuah karya foto, sebagaimana tulisan, tak luput dari utak-atik. Sehingga hal “menyebar-luaskan kenyataan” kini harus dikoreksi. Karya foto ternyata bisa juga disalah-gunakan untuk memutar-balik keadaan sebenarnya, terutama untuk tujuan politis.

Ingat saja, misalnya, sajian foto di koran China Pictorial bulan Oktober 1976, dua minggu setelah Jiang Qing dan konco-konconya disingkirkan dari panggung politik Negeri Tirai Bambu itu. Foto tahun 1947 tersebut merekam saat Mao Zedong dan pasukannya melakukan long march, dan Jiang Qing tampak di latar belakang.


Dalam foto yang dimuat koran tadi, sosok janda Mao itu raib. Wajahnya disetip dari foto yang menjadi dokumen sejarah itu. Jiang Qing, dianggap mengotori pribadi Mao, jadi harap disingkirkan dari sampingnya. Begitulah, kabarnya, budaya politik yang menganut paham: jika si tokoh turun panggung, artinya sudah mati-politik, wajahnya di berbagai foto resmi juga harus dikubur.

Nah, belum lama ini Kodak menyelenggarkan sebuah festival yang dinamakan Montage 93. di markas besarnya, Rochester, New York, Amerika Serikat. Acara itu dihadiri lebih dari 300 peserta dari berbagai negara. Mereka terdiri atas fotografer, artis, serta pendesain profesional. Dalam festival ini diperkenalkan bermacam software untuk mengutak-atik foto, beserta hasilnya.

Memang, yang dipamerkan Kodak tersebut bukan teknologi utak-atik foto yang pertama. Tapi mungkin pertama kali sebuah festival khusus di bidang ini, dan dengan teknologi mutakhir pula. Proses utak-atik foto di komputer bukan lagi dengan teknik raster yang hasilnya masih “kasar”, melainkan teknik yang halus. Sehingga memungkinkan hasil manipulasi tak mudah dilacak kepalsuannya.

Dalam pameran ini urusan utak-atik itu bukan lagi, misalnya, sekadar menyetip sosok Jiang Qing. Tapi sudah lebih jauh: juga dapat berupa hapus-ganti atau subjeknya ditata-baru. Pokoknya, apa pun gagasan yang tadinya mustahil divisualkan lewat foto, kini menemukan jalannya yang mulus.

Fasilitas ini terutama sudah dimanfaatkan oleh kalangan pembuat iklan, termasuk di media elektronik dan film. Sosok visual yang mereka tampilkan mudah sekali menerobos tapal batas logika. Misalnya, melukiskan bangkai ayam bisa terbang, lalu menyulap diri menjadi kaldu.

Dari segi teknis, utak-atik itu jelas makin sempurna. Yaitu, dengan dikembangkannya sistem reproduksi yang dikenal dengan teknik dye sublimation alias colok halus. Ini berbeda dengan pola lama yang menggunakan sistem raster atau titik dalam jumlah jutaan.

Proses reproduksi lewat komputer bukan lagi dalam bentuk jutaan titik, melainkan dalam sosok gradasi warna atau continuous tone. Hasilnya begitu prima, sulit dibedakan bahwa itu merupakan gabungan dari beberapa foto. Hasil rekayasa itu seolah-olah foto asli.

Dengan hanya memainkan ujung jari di tombol komputer yang empuk, para artis pemimpi dapat menghasilkan karya dengan beragam kemungkinan — dan hampir tanpa batas. Namun bagi kalangan pekerja foto di media massa, maknanya bisa lebih dari sekadar kemudahan. Dan perlu waspada terhadap godaan sesnasional ini.

Anggapan tua yang menjuluki fotografi bagaikan pinsil alam, sekonyong-konyong, bagai bertekuk lutut di depan konsep radikal studio elektronis ini. Misalnya saja, fotografer di majalah anda luput memotret peresmian sebuah pabrik penting oleh presiden. Lalu pabrik itu terbakar.

Sebagai fotografer dia tentu harus menyediakan foto. Gampang. Ada fasilitas utak-atik: pabrik terbakar yang terlambat difoto, lalu digabung dengan gambar presiden yang dikais dari lemari arsip. Hasilnya terkesan seolah foto asli.

Banyak peristiwa mungkin saja bisa dibuatkan rekayasa fotonya. Misalnya, gempa di Los Angeles. Reporter yang meliputnya pesan kepada fotografer untuk beroleh gambar-gambar dramatis. Ternyata hasilnya tidak sesuai dengan yang dimaui sang reporter, sementara deadline alias batas waktu tak bisa ditunda.

Di bagian ini giliran teknologi utak-atik untuk bermain. Dengan mudah dan mulus, operator komputer menggabung beberapa foto. Jalan layang yang patah akibat gempa dikawinkan dengan mobil bertabrakan — dicomot dari arsip lain lagi. Hasilnya, mobil-mobil ringsek ditimpa jalan patah. Dan ada pula yang mencelat seperti kaleng Coca Cola terpelanting di jalan raya.

Singkat cerita, tanpa fasilitas atau kemudahan pabrik pun ada dorongan memanipulasi karya foto. Dengan hadirnya teknologi baru ini, terutama untuk kalangan media masaa, diperlukan sikap yang lebih awas untuk menjaga kejujuran dalam sajian karya foto.

Ed Zoelverdi
TEMPO, 5 FEBRUARI 1994 — Fotografi/Review

written by matkodak \\ tags: , ,

2 Responses to “Menggoda Kejujuran Fotografi”

  1. Ocky Says:

    Haram hukumnya pake Photoshop,yah, berarti, bos?

    – Pakai Photoshop, silakan. Soal “kejujuran” bukan tegantung pada alat, tapi tulen berasal dari hati * Ed.

  2. bayu Says:

    Pak Ed, foto itu kan harus jujur, jadi ga ada gunanya dong menggabungkan foto seperti yang bapak ajarkan pada saat foto lubang jalan, 3 foto jadi satu..

Leave a Reply