Pada ulang tahun ke-42 (28 Juni 2007), Kompas menerbitkan buku kedua kumpulan foto para wartawannya. Layak ditunggu terbitnya buku foto yang menampilkan karya wartawannya secara tunggal.
MENGHIMPUN karya foto wartawan dalam sebuah album bukanlah pekerjaan gampang, rupanya. Bahkan untuk koran sebesar dan setua Kompas, perlu waktu 32 tahun untuk menerbitkan buku kedua kumpulan foto wartawannya. Buku pertama, Indonesia Dalam 250 Foto muncul tahun 1975 bersamaan dengan perayaan 10 tahun suratkabar itu.
Buku kedua, Mata Hati 1965-2007, diluncurkan bersamaan dengan pembukaan pameran 179 foto bertajuk serupa, di Gedung Bentara Budaya, Jalan Palmerah Selatan, Jakarta Selatan, 16 Juli 2007. Ketua Panitia — Arbain Rambey, mengatakan setelah digelar seminggu di Jakarta, foto-foto itu dikelilingkan ke Medan, Semarang, Yogyakarta, Malang dan Surabaya.
Dewasa ini, tempat dan peran foto merupakan bagian yang organis dalam surat kabar. Kelengkapan itu, menurut Jakob Oetama dalam kata pengantarnya, menyangkut deskripsi peristiwa, terutama dalam dimensi keharuan, tragedi, keceriaan atau dramatisasinya. Big-boss Kompas itu pada intinya mempertegas bahwa karya wartawan pada umumnya — termasuk wartawan foto — merupakan catatan sejarah kontemporer.
Album Mata Hati 1965-2007 berisi 287 foto karya 44 wartawan Kompas, mayoritas wartawan tulis. Ukuran buku 29 x 29 cm, kertas Artic Volum 150 gram, 300 halaman. Beratnya 2,5 kg, mengingatkan kita pada buku esai foto luar negeri pada dasawarsa 1980an. Yaitu, serial A Day in the Life of …. (Australia, Canada, Japan, Hawaii), 25,5 x 35,5 cm, 240 halaman, ya 2,5 kg juga. Sedangkan Indonesia Dalam 250 Foto, karya 40 wartawannya, termasuk enam orang luar. Bukunya 21,5 x 26 cm, art paper 116 halaman, dengan berat tak sampai 0.5 kg.
Di buku pertama ada selipan secarik kertas ralat, tapi pada buku kedua rupanya tak sempat dibuat. Misalnya, di halaman pelaksana produksi justru di baris pertama tertulis: Mata Hati 1975 - 2007. Atau di halaman 147 foto Eddy Hasbi dituliskan tahun 2002. Dalam indeks: 1998. Begitu pula dalam pengantar Jakob Oetama muncul dua kali kata “clan”. Maksudnya “dan”. Huruf “d” menganga lazim terjadi akibat naskah terketik disalin dengan scanner. Ya, sepatutnya dilakukan koreksi ulang.
Buku pertama berbeda dengan buku kedua secara fisik, memang. Namun Julian Sihombing selaku editor foto Mata Hati tampaknya masih melanjutkan konsep penyusunan foto yang dilakukan J. Widodo dan Kartono Ryadi pada buku pertama.
Yaitu menghindari pakem sajian jurnalisme foto. Hal ini pernah saya pertanyakan kepada mendiang Kartono Ryadi, tak lama setelah buku itu terbit. “Konsep kita memang cuma bikin mosaik Indonesia,” jawabnya, sambil tersenyum. Ketemu lagi beberapa tahun ke-mudian, kawan kita ini pun senyum ketika saya bilang bikin lagi album baru dengan pola kategorisasi jurnalistik versi World Press Photo (WPP).
Akan halnya album Mata Hati, menilik narasi pengantar yang mengawali peralihan bab, sajian fotonya dibagi dalam sembilan topik. Mulai dari dunia kanak-kanak, 19 halaman. Lalu tentang teroris, 14 halaman. Bencana alam, 27 halaman. Tentang api dan kebakaran, 18 halaman. Olahraga, 28 halaman. Tema reformasi, 36 halaman. Tentang tahanan politik (tapol), 18 halaman. Mengenai pluralisme, 30 halaman. Ihwal pesut dan topik langka, 68 halaman.
Sentana menggunakan pakem jurna-listik, sedikitnya ada dua pilihan pola sajian foto: kategorisasi, atau pola periodisasi. Dengan pola kategorisasi, seperti lumrah kita baca album tahunan WPP, Mata Hati sedikitnya terbagi dalam 11 kategori. Yakni Kategori Berita Politik, Ekonomi, Olahgara, Lingkungan Hidup, Potret, Bencana, Acara Kesenian, Dunia Anak, Pendidikan, Kesehatan, Pluralisme.
Topik tentang tapol, rangkaian unjuk rasa, terorisme, pembreidelan, bisa dikelompokkan di bawah Kategori Berita Politik. Sehingga foto Presiden Soeharto saat “didikte” Michael Camdessus dari IMF, misalnya, tak sampai nyelip di halaman rangkaian kisah pesut.
Atau foto Fikri Jufri melihat arloji di kantor Tempo menunggu pengumuman breidel, tak usah kesrimpet dalam kelom-pok para tapol. Dan masih banyak lagi contoh yang akan panjang untuk dirinci.
Judul Mata Hati 1965-2007 terkesan menawarkan pola periodesasi. Saya teringat sajian majalah Time dengan albumnya 30 Years in Pictures 1960-1990 (208 halaman, 20 x 25,2 cm). Merujuk pada petunjuk tahun Mata Hati, layak kita berharap menemukan aneka peristiwa monumental, misalnya, periode 1965-1966.
Ada satu foto Bung Karno sedang bercengkerama, tahun 1965, dan satu lagi tahun berikutnya bersama Ali Bhutto. Hanya itu. Selebihnya sajian didominasi foto keluaran tahun 2006. Wilayah liputan sekitar Jawa, Bali, sedikit Timor, Papua, dan Aceh.
Tangga spiral di Museum Louvre, Prancis, oleh Julian Sihombing, mengawali sajian foto-foto Mata Hati, dan diakhiri dengan wajah tua pria Aileu, Timor Timur, karya Eddy Hasbi, 1999.
Cropping berat dua bola mata pria ini memberi tekanan tentang wajah yang letih. Apa gerangan alasan memilih foto ini untuk gambar sampul?
“Yah, itulah matahati yang letih melihat kehidupan di negeri ini,” jawab Julian. Saya salami dia, karena sangat paham betapa ia sudah bekerja keras untuk mewujudkan buku ini. Dengan harapan, kiranya Julian Sihombing tidak pernah letih untuk membuat album berikutnya.
Kompas niscaya mampu menampilkan album foto karya para wartawannya — pribadi demi pribadi. Hal ini pernah saya utarakan kepada Kartono Ryadi. Mendiang beberapa kali saya ajak ke berbagai daerah untuk mengisi penataran fotografi kewartawanan, tahun 1990an. Hal yang sama juga pernah saya sampaikan kepada Bung Jakob Oetama, ketika bertemu di Istana Negara waktu ada jamuan dengan Presiden B.J. Habibie, Februari 1999.
Seratus foto terbaik dari tiap fotogafer dibukukan. Di sampul depan ada nama dan wajah sang Mat Kodak. Misalnya, Piet Warbung — yang menjadi wartawan foto ketika profesi ini belum diminati banyak orang. Ada pula Rudi Badil, “sang penjelajah” yang saya yakin juga kaya dengan karya foto jurnalistik. Begitu pula dengan Kartono Ryadi, J.B. Suratno, Julian Sihombing, Arbain Rambey. Atau siapa lagi generasi setelah itu — yang belum banyak saya kenal pribadi. Foto-foto mereka disajikan dalam kategorisasi jurnalistik nan kewi.
Melalui buku semacam ini, dapat dipahami lebih jernih tentang apa yang disebut sebagai jurnalisme fotografi. Yakni bukan sekadar buku bergambar — apalagi menjadikan foto cuma elemen desain. Tapi buku tentang visi dan pemikiran yang mengkomunikasikan manusia dalam hubungan dengan sesamanya, hubungan dengan alam lingkungannya serta hubungannya dengan sang nasib.
—-
Ed Zoelverdi
Jurnalis; Penulis Buku Mat Kodak Melihat Untuk Berjuta Mata.
GATRA - 1 AGUSTUS 2007