SOLO, Jawa Tengah, akhir tahun 1972. Ada antri beras, dan beritanya santer muncul di koran. Sampai-sampai dikabarkan bahwa dalam antri itu ada bayi kejepit, dan tewas. Tak sabar menunggu laporan dari koresponden di kota itu — yang tak kunjung datang, maka saya pun diutus ke sana untuk menulis Laporan Utama, Tempo edisi 16 Desember 1972.
Perjalanan kali ini dibatasi hanya satu hari. Kita harus berpacu dengan koran harian, yang pada hari-hari itu gencar menampilkan kesan gawat. Agak sesak juga membayangkan sempitnya waktu yang tersedia. Tak kurang serunya pula ialah pesan bos: “Pokoknya kau harus dapat foto yang menggambarkan suasana kelaparan itu. Kalau tidak, lebih baik jangan pulang.” Wah!
Pesan berbumbu ancaman itu muncul, tentulah lantaran berita tadi: di tengah antri ada bayi tewas terjepit. Sebagai fotografer, terus terang, saya mengidamkan untuk beroleh lagi kesempatan semacam itu. Amit-amit….
Ya Memotret ya Menulis
Mengingat tugas harus rampung dalam tempo amat singkat, saya minta ada kawan pendamping. Bos setuju lalu menunjuk Martin Aleida. Saya membawa kamera pribadi Asahi Pentax 35 mm, dari kantor dibekali tiga rol film hitam putih. Martin juga bawa kamera pribadinya. Maklum, majalah Tempo belum mampu menyediakan kamera untuk operasional fotografer.
Satu-satunya inventaris Tempo hanyalah kamera 6 x 6 Zenza Bronica, khusus untuk membuat gambar kulit. Kamera ini lebih berat daripada kamera 35 mm, dan lebih berisik bunyinya, harus pula saya bawa dan diisi cuma satu rol film slide.
Semalam suntuk tak bisa tidur di kereta. Ada sedikit salah paham: sang kawan membeli karcis dengan tempat duduk satu gerbong berbaur dengan keranjang ayam. Paginya, selamat tiba di Solo. Saya rada menggerutu. Sebab perjalanan ini toh bukan buat piknik.
Energi yang habis di jalan sering mengusik kepekaan yang amat diperlukan kelak di lapangan.
Gambaran maut yang semula berkecamuk dalam pikiran, segera buyar begitu kita turun dari becak. Sebab di sepanjang jalan ke penginapan barusan, tidak tampak sepotong pun wajah loyo alias gawat.
Bocah-bocah berangkat ke sekolah dengan wajah ceria sembari mengayuh sepeda. Berpapasan dengan suasana begitu malah membuat saya hampir patah hati. Apa lagi abang becak itu bilang antrian baru akan ada lagi besoknya. Wah!
Tapi tentu tak perlu malu bertanya. Sampai akhirnya didapat info bakal adanya antrian nanti malam. Untuk memulihkan tenaga, kami pun istirahat dulu di penginapan — yang juga murah. Dan segera ‘melantik’ tukang becak tadi sebagai mata-mata, yang tiap saat segera memberitahu bila ada orang antri.
Jam sudah menunjuk pukul 20:00. Kabar yang dinanti masih nihil. Dalam keresahan itu menjelang jam 23:00 si abang becak mencogok. “Antrian sudah mulai,” dia bilang. Kami segera meluncur di jalan raya Kota Solo yang senyap.
Sampai di depan sebuah lorong, becak berhenti. Namun apa yang tampak? Sebuah gang yang hening dan sunyi. Sampai saya cuirga: jangan-jangan tukang becak ini cuma akal-akalan supaya becaknya bisa dicarter lebih lama ….
Tapi setelah diamati, ternyata di sepanjang tepi gang itu tersusun sejumlah batu, bata, kaleng rombeng, dan di sana sini ada panci bocor. Kamera saya suruh bekerja satu dua jepretan. Masih berdebar-debar, antara percaya dan tidak, menanti pagi yang tinggal secuil rasanya kok panjang sekali.
Tambahan pula ada cerita dari orang warung nasi Padang barusan yang mengusik. “Coba mas datang seminggu yang lewat, pasti dapat foto bagus,” katanya. Antri ada di 15 tempat. “Ada bayi jatuh dari gendongan, dan terinjak,” tuturnya. Ia mencoba berdialek Jawa, sementara caranya bicara masih kentara Padang-nya.
Melebar dan Meninggi
Pagi harinya batu-batuan semalam bersalin rupa. Kini barisan manusia memenuhi lorong tersebut. Namun menilik tarikan urat muka mereka, tidak tampak lantunan kesan wajah kelaparan, seperti diinstruksikan bos dari kursi putarnya di kantor.
Pintu kios belum waktunya dibuka. Saya mulai mendekati mereka. Seperti biasa, kamera yang tersandang di bahu ini menarik perhatian mereka. Saya berbisik pada Martin: “Ente di sebelah sana, biar saya di sini. Kalau mereka memperhatikan ente, saya jepret dari sini. Begitu sebaliknya.”
Namun taktik memecah perhatian ini tidak seluruhnya sukses. Terutama buat kalangan bocah. Juga cewek-cewek. Mereka malahan sibuk pasang aksi ke segala arah. Begitu sadarnya mereka, hingga tiap kali satu di antara kami mengangkat kamera, kontan disambut dengan acungan tangan. Repot, memang.
Menghadapi situasi semacam ini tak dapat lain, kita harus punya ekstra kesabaran. Boleh saja menjepret satu dua. Tapi selebihnya, tunda dulu memotret. Sampai akhirnya mereka tidak menggubris lagi kehadiran kita di sana. Ini terjadi ketika kupon mulai dibagikan.
Penilaian saat itu memberi petunjuk akan jadi seperti apa foto-foto itu nanti. Dalam tiap pemotretan, saya senantiasa menyediakan gambar bukan hanya dengan frame melebar, tapi juga meninggi. Sekaligus merekam subjek yang sama dari berbagai sudut, atau beragam ekspresi.
Metoda ini lumrah saja agar Redaktur Foto punya banyak pilihan untuk menentukan foto yang jitu sebagai pendamping tulisan. Artinya, sejak di lapangan kita sebagai fotografer sudah punya perhitungan bahwa kita memotret untuk keperluan penerbitan pers. Dan jenis media kita adalah majalah berita, yang juga banyak tergantung pada hidangan karya foto.
Merasa tak banyak lagi yang dapat digarap di tempat ini, kita beranjak ke lokasi lain. Sekarang di pasar. Juga mereka antri di sebuah gang. Sambutan yang diperoleh pun sama: mereka memperhatikan kehadiran Mat Kodak ini. Maka untuk menyenangkan mereka, ya apa salahnya kita rekam satu dua jepretan?
Mereka pun tenang. Suatu saat, Martin tergopoh-gopoh berbisik: “Tadi di sana gua lihat ada yang sedang cari kutu. Tapi nggak sempat diambil. Sialan.” Rada kesal dia. Tapi saya bilang, “Beres, Tin. Gua udah dapat.”
Menggebrak Pra-konsepsi
Cuma saya masih risau. Subjek untuk bahan gambar kulit belum juga saya temukan. Dari studi kecil di lapangan, maka pra-konsepsi tentang wajah kelaparan, jelas sudah harus bubar dari angan-angan. Lalu apa? Apa hanya mau melakukan reproduksi dari suasana bergalau? Apa bedanya dengan sebuah pemandangan pasar?
Adanya pra-konsepsi ketika mengutus pemotret ke lapangan, memang cara lumrah di kalangan dunia pers. Cuma, jangan terperangkap menjadikannya bagai kacamata kuda tatkala kita berada di lapangan. Sikap yang kurang dewasa memang cenderung mengejar sensasi, dengan dalih demi mengungguli saingan.
‘Cacat’ semacam itu tidak seluruhnya monopoli para bos, sebab kalangan pemotret sendiri pun sering mengidapkannya. Ini tak mengherankan, seperti sejak lama para pengamat pernah mengkonstatir: sebagai manusia kita terbiasa punya aneka prasangka, dan dibawa pengaruh lingkungan maka prasangka tadi berubah menjadi keyakinan. Ini berbahaya, tentu saja.
Di bagian inilah tantangan khas yang wajib kita selesaikan selaku jurufoto untuk penerbitan pers. Kita harus cepat membuang ‘kacamata kuda’ itu. Dan secepatnya memutar kreativitas, agar lebih leluasa membangun reaksi spontan.
Sebab, yang diuji dalam situasi seperti dituturkan tadi ialah ketajaman interpretif mengenai keadaan setempat. Dengan bersikap terbuka dan luwes inilah kita berupaya menguasai medan.
Lama saya berputar mengitari manusia yang antri itu, sembari tak lepas menghitung berbagai kemungkinan fotografis. Misalnya, meski berdiri diam di pojok timur, kita bisa saja mematok sudut pandang dari pojok barat. Atau di segenap penjuru angin, dan sekaligus mengkaji hasil yang akan dicapai.
Sekali kita bergeser ke satu sudut pengambilan, dan melakukan jepretan, pada hakikatnya kita sudah membuat sebuah keputusan. Kalau toh belum akan berupa hasil final, sedikitnya tetap bisa dipertanggung-jawabkan dari segala segi: baik teknis, isi maupun artistik.
Itu sebabnya, tak ada dalam kamus pengalaman hari-hari saya harus pontang-panting waktu memotret di mana saja. Ya di lapangan terbuka, ya di ruang tertutup.
Amati Lagi dan Lagi
Kenyang di tempat kedua ini, kita pindah ke tempat ketiga. Di sebuah lorong dekat pasar yang ada gerbang berpahatkan hari bulan kemerdekaan republik ini. Satu dua jepretan saya bidikkan dengan menyertakan gerbang tersebut.
Tapi tetap belum ada rasa plong, meski secara karikatural bisa saja dicapai makna yang menyindir: puluhan tahun merdeka, orang miskin kok sepertinya turun-temurun….
Berdiri diam lagi, saya mengamati satu-persatu wajah mereka. Mata hari pagi rupanya mulai dirasa menyengat, sehingga ada yang menudungkan panci di kepalanya, seraya bersandar di pagar bambu. Ada lagi yang sembunyi di balik pundak orang lain.
Akhirnya mata saya tertumbuk pada seraut wajah. Nampaknya mirip nenek-nenek. Tapi mungkin juga keliru. Sebab kondisi fisiknya tampak masih kukuh. Cuma kerut-marut itu tentu tak lain akibat tua dimakan hari alias derita hidup.
Saya dekati dia. Kamera saya angkat, pelan-pelan. Fokus mulai bekerja. Dia tak acuh. Ini dia, saya berseru dalam hati.
Selain mengamati si nenek, orang di sekitarnya juga tak lepas dari pengamatan saya. Di belakangnya ada satu perempuan muda. Lalu ada satu bocah (sipit matanya), dan di belakangnya ada satu bayi dalam gendongan. (Tapi bayi itu nggak jatuh-jatuh juga kok? Hush…!).
Segera saya angkat kamera kedua yang berisi film slide. Gambar yang masuk frame diperhitungkan juga memberi ruang untuk logo Tempo kelak. Tombol saya pencet, kamera itu menjeplak secara kilat. Bukan main legara rasanya kini, meski keringat membasahi sekujur tubuh.
Bahasa Simbolik & Editor Foto
Penting dicatat, bukanlah satu hal sekonyong-konyong yang membuat saya lega beroleh subjek tersebut. Wajah manusianya yang terangkum di situ terasa kompak mengekspresikan suatu situasi serius — apa pun namanya, mungkin bukan sekadar kelaparan. Pilihan saya berhenti di sini.
Timbul pertanyaan,bukankah keadaan sebenarnya ramai? Kenapa cuma segelintir orang yang ditampilkan? Untuk memahaminya, baik diingat sebuah peribasa Cina purba: melalui setetes air kita seakan-akan melihat laut …. Maknanya, suatu keadaan bisa diwakili dengan gambaran simbolik. Ini merupakan cara lumrah dalam dunia fotografi jurnalistik.
Hal lain yang penting disadari ialah sebagai fotografer sesungguhnya kita juga editor untuk tiap foto yang dibuat. Baik ketika berada di lapangan, maupun ketika foto itu akan dimasukkan ke bagian pracetak koran atau majalah.
Sebagai fotografer kita harus mampu memilihkan dan mengolahnya menjadi hidangan yang memukau.
Sekali pun secara hierarki nanti ada pula Editor Foto, bukan berarti sang Mat Kodak bisa seluruhnya melepas tanggung-jawab mutu final karyanya itu.
Editor atau Redaktur Foto, tugasnya tak berbeda dengan editor tulisan. Yakni menentukan apa yang patut dan apa yang tidak patut untuk dipublikasikan. Di tangannya terletak takaran — ibaratnya orang dapur di restoran, mau asin, asam, atau pedas tidaknya tiap hidangan. (Mat Kodak boleh jadi leluasa memotret ini itu di lapangan. Namun hasilnya tidak dengan sendirinya dapat menyelonong tanpa timbangan kelayakan).
Dibandingan dengan editor tulisan, maka pekrjaan Editor Foto sering lebih runyam. Ini contoh. Sebuah laporan tertulis, taruhlah bahannya bikin puyeng lantaran miskin data atau warna. Jika si edtor rajin, dia bisa mengais dari kliping koran untuk memperkaya tulisannya. Ditulis secara kreatif, hasilnya bisa saja merupakan bacaan yang sedap untuk dinikmati publik.
Lain ceritanya dengan foto. Kalau secara teknis saja afkir, mau bilang apa? Sementara peristiwanya tak bisa terulang dua kali. Nah, dikejar oleh deadline yang tak bisa ditawar-tawar, walhasil foto yang disuguhkan sering di bawah standar. Ini aib jika dinilai menurut paham profesional!
Itu sebabnya sangat dianjurkan, agar Mat Kodak ligat bertindak ketika sedang berada di lapangan. Jeli memasang mata di seputar penjuru angin dalam memandang suatu subjek.
Segera setelah negatif diproses, secepatnya pula dibuatkan contact print atawa cetak tempel.
Segera pula diisi keterangan di baliknya oleh pemotret bersangkutan. Keterangan itu mulai dari tanggal pemotretan, lokasi, apa, siapa, serta berbagai informasi ringkas lainnya. Data atau keterangan ini penting, mengingat hasil pemotretan itu kelak bisa saja diperlukan lagi. Jadi, catatan memorinya harus mudah untuk dicari kembali.
Mahkota Foto : Kejujuran
Tiap foto yang dibawa Mat Kodak dari lapangan, mirip dengan bahan liputan reporter: masih berupa bahan mentah. Untuk disajikan kepada publik, tentu harus dimasak lebih dulu. Di tangan Editor Foto, pengolahannya bisa menyangkut retouching, cutting, cropping serta berbagai timbangan estetika lainnya, seperti format meninggi atau melebar, serta ukuran mau seberapa besar.
Penyuguhan foto pada dasarnya memang bertujuan menceritakan sesuatu (baik sebagai pendamping tulisan maupun berdiri sendiri). Artinya, kita harus mengindahkan hak pembaca untuk memahaminya. Tak beda dengan hidangan tulisan, sebuah foto tak layak bikin mumet pembaca. Misalnya, terlalu banyak unsur visual yang bikin kesan foto itu semrawut, sampai orang tak paham lagi apa sebenarnya yang jadi fokus cerita.
Selesai dengan proses pengolahan (editing), foto tersebut tentu perlu dibubuhi keterangan (caption). Kandungan informasinya harus ringkas, dan tetap jelas. Mau diarah ke mana, bisa dibengkokkan bisa diluruskan.
Dari peluang semacam ini mungkin timbul pertanyaan: kalau begitu tidak objektif, dong? Kalau mau membuka pikiran sedikit, mana ada sih yang objektif di kolong langit ini? Lagi-lagi timbul pertanyaan: kalau begitu kita subjektif dong? Mumet.
Debat urusan subjektif atau objektif bisa merupakan obrolan berketiak ular, hati-hati. Agar tak membuang umur di pusaran bingung ini, para ahli menawarkan untuk melebur saja kedua istilah tadi menjadi satu soal: jujur atau tidak jujur.
Fotografi sebagai satu bentuk Bahasa Visual, memang terlalu berharga untuk dijadikan sarana menyebar dusta atawa kebohongan. Sebagai alat komunikasi, alat menyatakan pendapat atau piranti berfikir, fotografi akan mubazir hanya dipandang sebagai keajaiban teknologi.
Apa lagi di dunia jurnalistik, amit-amit, janganlah sampai fotografi semaunya dimanipulasi.
Sebab secara esensial, potensi fotografi jurnalistik terbukti mampu memberi sumbangsih terhadap khazanah peradaban umat manusia.
Jakarta, 31 Desember 1972, pukul 02:15.