HARI Senin, 10 Februari 1969, Trisno Soemardjo selaku Ketua Dewan Kesenian Jakarta, menyerahkan piagam penghargaan kepada pemenang dan pemenang harapan pameran lukisan kanak-kanak, dalam suatu upacara sederhana bertempat di Sekretariat Dewan Kesenian, Cikini, Jakarta.
Pameran lukisan kanak-kanak itu diselenggarakan sehubungan dengan Pesta Seni 10 November tahun lampau. Piagam berukuran folio itu ditanda-tangani oleh Gubernur Ali sadikin dan Trisno Soemardjo, diberikan kepada pemenang (peserta perorangan) dan pemenang harapan (peserta kelompok).
Pemenang pertama: Harry Soenharjo, 8 tahun. Pemenang kedua, Mirza, 8 tahun. Pemenang ketiga, Zamir, 8 tahun. Sedangkan pemenang kelompok adalah STK Ade Irma Suryani, STK Latihan I, STK Kwitang, dan STK Widuri. Selain piagam , untuk pemenang-pemenang ini diberikan pula sejumlah alat-alat gambar.
SEPANJANG pengetahuan kita, anak-anak umumnya bisa menggambar. Dan semua gambar mereka rata-rata akan sama spontan dan murni. Apakah pertimbangan untuk menentukan pemenang? Baik pelukis Zaini maupun Oesman Effendi selaku juri pada pokoknya bertitik-tolak dari penilaian terhadap unsur fantasi, dan kebebasan fantasi sang anak.
Dari dasar langkah yang diambil oleh Pusat Kesenian Jakarta ini, kita teringat pada kejangggalan yang masih menjadi sistem di sekolah kita hingga dewasa ini, dalam hal pelajaran menggambar. Umumnya angka-angka bagus diberikan kepada anak yang pandai menggambar rapi dan bermistar.
Sasaran pelajaran menggambar seolah-olah diarahkan kepada kecakapan cetakan, tanpa mengindahkan kemungkinan-kemungkinan lain bagi berkembangnya fantasi sang anak. Tentu saja sistem demikian tidak pada tempatnya lagi dipertahankan. Apa lagi pada saat ini kita sama gandrung pembangunan. Artinya tak dapat lain adalah mencakup segi materiil dan spirituil — sebagai wujud membangun manusia seutuhnya.
SEORANG anak yang pandai menggambar, bahkan anak yang kini dinyatakan sebagai pemenang tersebut, tidak usah diartikan kelak akan menjadi pelukis. Tidak selamanya demikian, meski ada kemungkinan bisa saja dia menjadi pelukis. Sama halnya dengan kemungkinan bakal menjadi sarjana, misalnya, dan sebagainya dan seterusnya.
Yang penting di sini ialah meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap senirupa, dan mengembangkan kreativitas anak-anak. Itulah bagi kita arti penghargaan kepada peserta pameran lukisan kanak-kanak tersebut.
Namun lebih penting lagi adalah: kalangan pendidik di sekolah dan kaum orang tua di rumah, pada tempatnya kini “mengambil alih” sikap dan pandangan yang telah diketengahkan oleh Dewan Kesenian Jakarta tersebut — untuk pertumbuhan anak-anak itu sendiri.
Ed Zoelverdi
HARIAN KAMI, Jakarta 12 Februari 1969.
January 4th, 2009 at 2:45 pm
Pak Zoel masih melukis…pameran donk…