Catatan Harian Trip Rimbo Bujang Wartawan Foto Gesit, oy….
Jun 04

Silakan mejeng bertopang dagu sembari nyengir. Foto setengah badan yang mungkin berkilauan emas itu, boleh jadi dibilang bagus oleh orang sedunia, namun coba saja sodorkan untuk minta katepe atawa paspor…….

DALAM pertemuan di berbagai forum publik, seperti lokakarya, penataran, sarasehan — atau di warung kopi, sering sekali kita disodori pertanyaan: foto bagus itu yang seperti apa sih? Pertanyaan itu muncul dari beragam peminat dan pelaku fotografi, termasuk dari para Mat Kodak di kalangan orang koran.

Misalnya, pada suatu hari ada kawan memperagakan selembar foto ukuran kartupos. “Aku baru beli kamera, coba-coba moto di rumah,” dia bilang. “Bagus nggak hasilnya begini?” Foto itu merekam seorang perempuan duduk teronggok di lantai sedang menonton televisi. Saya lalu bertanya : ” Siapa ini? Babu ente, ya?”

Sang kawan melotot. “Gile, luh! Itu kan bini gue, mosok nggak kenal,” ujarnya, dengan suara agak meninggi. Lalu cepat ditambahkannya: “Yang aku mau tanya, bagus nggak fotonya?”

“Sabar dulu, bung,” saya bilang. “Dalam urusan foto kita tidak bisa serta-merta bilang bagus atau tidak bagus, sama halnya tidak ada kamera bisa begitu saja dibilang bagus.”

“Ah, ente kayak orang partai aja, suka bikin bingung,” komentar sang kawan.

Nilai Foto Sesuai Fungsinya
Oke. Biar fokus obrolan tak melenceng masuk pusaran bingung atawa “paham sesat”, mari kita pesiangi urusan bagus tak bagus ini. Saya kenal beberapa orang dari kalangan beruang, punya kebanggaan bikin foto keluarga di studio paling mahal di dunia.

Ketika kurs dolar masih Rp 2.000, studio foto di Jakarta mematok Rp 5 juta sudah terbilang top. Sang kenalan terbang ke negeri sono, tenang saja bayar US$ 10.000 untuk paket foto keluarga.

Satu dari foto itu berupa close up wajahnya. Dia mejeng bertopang dagu sembari nyengir. Pose bertopang dagu itu penting untuk memperagakan cincin serta arloji emas. Gagang kacamata emas juga tampak jelas. Lalu nyengir agar gigi emas putih alias platina jangan sampai ngumpet.

Foto yang berkilau emas ini lalu diberinya bingkai emas, dan dipajang di dinding berlapis granit keemasan. Kok heran? Orang Indonesia kan banyak yang kaya bukan alang-kepalang. Keran wastafel atau handel pintu pun dibuat dari bungkah emas murni.

Nah, melihat foto serba emas tadi apakah anda berani bilang tidak bagus. Itu sama saja mau mengajak tuan rumah berkelahi, kan? Haqqul yakin, itu foto bagus. Oke. Namun foto yang mungkin menurut orang sedunia itu bahkan mahabagus, coba saja sodorkan minta katepe di kantor kelurahan.

Bagus kalau tak sampai dikomentari: “Gile! Foto buat katepe kagak boleh nyengir bo…….” Apa lagi untuk minta paspor, wah, mana bisa bawa foto sendiri. Ya harus bikin foto di situ. Sebab urusan foto sudah lama jadi proyek khusus di kantor imigrasi.

Dari contoh sederhana ini tentu mudah dipahami, tiap foto harus ditinjau menurut fungsi atau keperluan. Tidak begitu saja bisa disebut bagus atau tidak bagus, tanpa mengaitkan cocok atau tidak dengan kebutuhan.

Klik = Titik Penutup Kalimat
“Lalu di bagian mana foto gue ini bisa dibilang cocok atau tidak dengan kebutuhan?” tanya kawan itu lagi.

“Mari amati kembali fotonya. Ente sebut ini foto sang istri, kan? Pertanyaan kita adalah kok tega sekali memotret dia dalam posisi mirip babu, sih?”

“Wah, gue kurang paham tuh. Pokok-e gue jepret, eh jadi kok.”

“Ini namanya ente memotret cuma megandalkan keunggulan teknis reproduksi kamera. Perlu dipahami bahwa kamera sekadar sambungan mata kita. Tombol kamera kita tekan sebagai isyarat sudah membuat sebuah keputusan.”

“Maksud, bung?”

“Tiap kali menekan tombol kamera mirip dengan membubuhkan titik penutup pada sebuah tulisan. Ada rangkaian proses pengamatan sebelum memencet tombol klik. Ingat, fotografi secara harfiah berarti menulis dengan cahaya.”

“Ya, ya, juga bagian lainnya aku ingat bahwa untuk belajar foto — sama seperti belajar menulis — orang nggak perlu digrecokin dengan punya bakat seni atau tidak.”

“Ternyata ingatan ente belum keracunan bumbu penyedap kimia. Bagus! Mau lebih jelas lagi? Bunyi klik di kamera setara nilainya dengan ketukan palu hakim saat menjatuhkan vonis.”

“Hah? Lalu…, kira-kira vonis apa yang ente pahami pada foto aku ini?”

“Kalau tulisan itu cerminan jalan pikiran, maka foto pun mencerminkan hal yang sama. Dalam kaitan foto ente ini, tak dapat lain kesimpulannya sang istri divonis tak lebih daripada sekadar babu.”

“Wah, mosok segitu jeleknya, sih?”

“Foto yang ente bikin sahih mewakili pendangan ente tentang si istri. Kalau mau bantah juga, ingat saja ungkapan tentang kemunafikan ini: banyak orang ogah memperistri babu, tapi tak sadar sering memperbabu istrinya.”

“He..he..he…, bisa aje ente. Tapi ngomong-ngomong apa memang segitu fatal salahnya aku bikin foto ini?

“Bukan soal salah, tapi ini menyangkut apresiasi ente terhadap sang istri. Ente pernah bilang, istri itu belahan nyawa sibiran tulang. Bagus. Kalau memang begitu cintanya terhadap anak mertua ente, buktikan dong dengan foto.”

“Caranya?”

“Misalnya, dia sedang bersolek. Atau pilih momen saat dia dalam situasi atau suasana hati yang ceria. Atau pilihkan sudut pandang yang menonjolkan aura cantiknya.”

Pahami Karakteristik Subjek Foto
Selain contoh tadi, sebutlah foto mengenai resepsi perkawinan. Gara-gara Mat Kodak lebih banyak terpaku di depan pengantin, tetamu yang menyalami mempelai cuma tampak bagian tengkuknya.

Padahal, rekaman wajah para tamu adalah yang terpenting. Jangan ada yang luput. Mempelai disalami tetamu cukup diwakili paling banyak lima foto. Selebihnya, Mat Kodak harus rajin keliling, mengamati satu-persatu para hadirin. Ada saatnya tamu saling bercengkerama. Atau tengah menyantap hidangan. Dan sebagainya. Suasana resepsi tampak, wajah tamu-tamu pun jelas.

Sebagai dokumentasi hari bersejarah bagi pasangan bersangkutan, foto-foto tersebut bakal sangat berharga untuk dipandang kembali sekian puluh tahun kemudian. Boleh jadi album itu ditata dengan aneka pernik kertas timah warna-warni. Namun dia belum dapat disebut bagus sebagai foto resepsi perkawinan, jika gagal menyimpan kenangan penting.

Foto-foto yang lebih banyak menampilkan punggung orang, sungguh tak berharga untuk dipandang-pandang. Lain halnya jika memang punggung yang harus jadi fokus. Dalam suatu peragaan fashion, misalnya. Ada model pakaian yang cocok untuk memamerkan punggung mulus.

Ada suasana suka ada suasana duka. Masing-masing punya ‘aturan’ untuk difoto. Sebab tiap peristiwa tentu punya keunikan sendiri-sendiri. Ambil contoh, mengabadikan keluarga yang kena musibah. Misalnya, kematian. Mat Kodak patut mengindahkan sikap santun, dan tidak merekam suasana duka itu dengan kesan ceria.

Lantaran film tatawarna sering mencuatkan kesan menor alias mencorong, ada yang menyarankan supaya pakai film hitam putih. Dalam topik ini pun Mat Kodak perlu rajin keliling, dan merekam wajah-wajah para pelayat. Gunanya, ya sekian tahun kemudian keluarga yang pesan album tahu siapa saja tamu yang pernah datang ke rumah mereka.

Jadi, tiap kali melakukan pemotretan maka Mat Kodak wajib memahami karakteristik subjeknya. Merekam keramaian, misalnya. Pesta kawin, orang ramai. Ada yang kematian, orang ramai. Unjuk rasa juga ramai. Di pasar, orang pun ramai.

Nah, bagaimana membedakan karakteristik ramai dari tiap subjek itu merupakan semacam kajian lapangan yang harus diselesaikan seketika. Sehingga tidak serabutan menjepret orang terbahak-bahak, misalnya, justru ketika merekam para pelayat di rumah duka. Ada apresiasi atau tepatnya empati terhadap tuan rumah sebagai subjek utama foto.

Memotret dengan Otak, Mata dan Hati
Dari risalah singkat ini tampak bahwa dasar-dasar pemotretan bukan ditentukan oleh kamera. Atau soal bakat seni-menyeni. Tapi tulen menyangkut sikap dasar: apa maunya kita bikin foto. Jadi jangan keseleo lagi bertanya: mana kamera bagus? Kamera sebagai alat untuk memotret, hakikatnya sama saja dengan pena di tangan seorang penulis.

Dalam analogi ini bisa dijamin, hatta orang pakai pena emas tidaklah otomatis hasilnya berupa “master piece” alias karya cemerlang. Dalam kaitannya dengan fotografi, kamera boleh saja produk mutakhir paling pintar — dan harganya selangit. Silakan. Tapi jika alat serba wah ini dipegang oleh sembarang orang, ya hasilnya pun bakal sembarangan.

Dengan kata lain, dalam kegiatan di dunia fotografi — baik sebagai hobi apa lagi sebagai profesi, sosok hasilnya bukan serta-merta tergantung pada alat. Tapi ditentukan pertama-tama oleh faktor manusianya.

Memang, yang menentukan sukses tidaknya suatu foto adalah dukungan pengetahuan tentang topik yang dihadapi. Untuk menguasai medan, Mat Kodak perlu ketajaman pikiran, kejelian mata serta kepekaan batin. Dari sinilah riwayat lahirnya ungkapan terkenal: kita memotret dengan otak, mata dan hati.***

Ed Zoelverdi
* Cuplikan buku Kita Menulis dengan Cahaya — Ikhtisar Fotografi Umum, kini berupa dummy final.

written by matkodak \\ tags: ,

7 Responses to “Mana Foto Bagus?”

  1. imcw Says:

    Tulisan yang menarik, salam kenal Mat.

  2. Sinaro Says:

    Bagus nyiak kalau bisa dengan contoh soal . Dan kata pesiangi artinya apa sih.

  3. robby Says:

    siap dalem om

  4. topan Says:

    Kapan nih Pak, keluar bukunya?? can’t hardly wait for

  5. rudi Says:

    Salut bang, sudah jadi filsuf ya he he. Kapan jalan ke Jambi bikin foto kehidupan Orang Rimba, sekalian bawa si Uni jalan.
    salam

    – Awak ko kan “urang jalanan”, Rud, tentu tertarik sekali datang ke Jambi. Sampai ketemu * Ed

  6. Asri Says:

    ck c..dosen gw…
    liat bang di blog saya, ada rangkuman materinya bang ed yang saya tulis, hehehe..

    >> Asri rupanya ustazah yg hebat …. eh, nulis dong di koran … tema tulisan ente itu layak muncul di koran atawa majalah, biar divaca publik yg lebih luas… katanya ada rangkuman materi saya, kok nggak nemu tuh… oke deh, trims. Selamat berda’wah! * Ed

  7. muride bang ed Says:

    neeh quotes ma materi bang ed yang pertama siy.. http://cahayamatadanhati.wordpress.com/aku-dan-komunikasi/

Leave a Reply