JAKARTA pada suatu sore, di sebuah toko foto kita berpapasan dengan seorang Mat Kodak. Saya mengenal anak muda ini amat bergairah memilih pekerjaan sebagai fotografer. Selain menggunakan kamera digital, dia juga masih pakai kamera analog. Filmnya diproses di toko itu.
Sambil menunggu filmnya selesai dicuci, kita ngobrol ngalor-ngidul, termasuk tukar-tukaran lelucon kecil. Sampai suatu saat ia berbisik: “Bulan depan aku keluar dari kantor itu, Bang.” Wajahnya murung sejenak.
“Lho! Bagaimana ceritanya, sih. Apa lantaran gaji kecil?”
“Selain soal gaji, ada lagi yang lebih parah. Aku kira tadinya penerbitan pers yang begitu terkenal, cara kerjanya rapi. Nggak taunya amburadul. Orang jadi redaktur lantas ogah ke lapangan. Wartawan kok cuma rumah-kantor doang acaranya, eh sok tau foto lagi. Lain yang aku usulkan lain lagi yang dimuat. Setahun rasanya udah kelamaan. Aku merasa tak punya prospek di sana, ya karuan aja kita cabut…”
“Apa sudah kau timbang baik-baik? Kan kau masih pengantin baru. Istri bilang apa?”
“Ini malahan dia yang dorong supaya aku berhenti aja.”
“Lalu, apa rencana kau?”
“Aku mau kerja freelance aja……”
Bagus! Pujian kita pada Mat Kodak yang satu ini adalah karena sejak dini ia tahu ke arah mana harus melangkah. Dia bilang, tak ingin terjerumus kerja akal-akalan — meskipun bisa saja dia lakukan.
Misalnya, selain memotret untuk penerbitannya, bisa juga jualan foto kepada kantor berita asing. Di bagian ini kita kutip ucapan anak muda itu: “Aku tak mau jadi benalu, tapi kepingin tumbuh sebagai pohon beneran.”
Tahan Nafas Bisa Mati Berdiri
KITA tidak perpanjang cerita sang Mat Kodak dan kantornya, tapi mari lihat keningnya yang berkerut ketika mengamati hasil pemotretannya. Nah, apa lagi gerangan yang kejadian?
“Wah, banyak yang goyang ini foto. Kok masih gagal aja aku pakai speed rendah,” katanya.
“Kau bilang dulu pernah belajar khusus soal kodak-mengodak. Apa pakai speed rendah nggak pernah diajarin?”
“Pernah dong, Bang. Kalau mau selamat ya pakai tripod atau monopod. Tapi semalam ada yang pesta taman, aku punya flash tiba-tiba ngadat. Sialnya, lupa pula bawa tripod.”
Menurut ceritanya, ia pernah diberitahu cara memotret pakai speed rendah tanpa statif (kaki kamera). “Aku disuruh menahan nafas ketika memotret pakai speed 1/15 detik, atau 1/8 detik,” tuturnya. Hasil foto yang dicapainya dengan cara menahan nafas itu, katanya, kadang-kadang sukses. Tapi lebih sering gambarnya kayak kena gempa, ya seperti hasilnya barusan.
“Sebelum telanjur terperosok jauh dalam paham sesat, coba kau bayangkan kalau keseringan tahan nafas waktu memotret, salah-salah kau lupa betulan bernafas. Akibatnya, bisa-bisa kau malahan mati-berdiri.”
“Wah, segitu seramnya. Lantas, bagaimana dong caranya yang selamat?”
Dalam dunia fotografi yang serius, sungguh, tidak ada kamusnya orang harus tahan nafas ketika memotret pakai speed rendah. Oke, sebutlah kadar cahaya yang tersedia menurut petunjuk light meter hanya mungkin direkam dengan speed 1/2 (setengah) detik. Kaki kamera lupa, lampu kilat pun ketinggalan. Tak usah panik. Tetap saja memotret, kenapa bingung?
“Caranya?”
Sedikitnya ada tiga cara. Pertama, body kamera dudukkan di telapak tangan kiri. Kedua siku rapat ke tubuh. Cara kedua, kamera ditaruh di lengan dekat pundak, seperti dapat dilihat pada foto di halaman ini. Setelah merasa mantap, lalu tarik nafas pelan-pelan agak panjang, dan bersamaan dengan saat melepas nafas — juga pelan — pencet tombol kamera.”
“Artinya, kita jangan tahan nafas tapi harus pandai mengatur pernafasan, Begitu ya, Bang?”
“Persis! Eh, tadi kau sempat mengeluhkan lupa tripod, kan? Nah, dibandingkan harus bawa kaki penyangga kamera, ini cara ketiga: pakai saja alat bantu lain yang ringan dan jauh lebih murah. Namanya: tali.”
“Aha! Bisa pakai tali rapia juga?”
“Yaaa.., jangan cuma tali rapia, dong. Pilih yang biasa dipakai untuk latihan pramuka, ingat? Panjangnya sesuaikan dengan ukuran tubuh ente.”
Pengganti tripod yang murah meriah ini tidak menyita tempat di dalam tas kamera. Cara menggunakannya, lihat gambar di samping ini. Mau pakai kamera analog atau pun kamera digital, tali ini pasti bermanfaat, sekalipun kini kamera digital dilengkapi fasilitas “anti goyang”.
Ini baru sebagian dari cara selamat untuk memotret dalam keadaan harus pakai speed lambat. Bahkan sampai satu detik. Cara lainnya memotret sembari bersandar di dinding, sehingga pegangan kamera tak mudah goyang. Atau menumpangkan kamera di meja atau sandaran kursi.
Boleh diketahui, soal mengatur pernafasan ini tentunya perlu latihan yang teratur pula sehari-hari. Gunakan nafas perut. Ini soal teknis, memang. Untuk terbiasa, ya perlu latihan, dong. Tak soal apakah kau perokok ringan atau pun perokok berat.
“Jadi, kalau boleh kita simpulkan: Mat Kodak tahan nafas, no! Atur nafas, yes!”
“Yak! Begitulah. Kunci penting untuk akrab bergaul dengan dunia kerja fotografi secara umum, ingat, jangan gampang panik. Apa lagi sampai grusa-grusu waktu memotret, kayak ikan rebutan anu di empang.”
“Iya, yah. Aku selalu ingat tuh yang Abang suka ingatkan, supaya kita selalu bersikap tenang di lapangan. Tapi mata harus kayak burung elang membidik mangsa, ya, kan?”
“Seratus buat kau. Inti obrolan kita kali ini adalah untuk punya mata yang terang sebagai fotografer, tulen berpangkal dari pikiran dan hati yang terang. Tidak gampang panik.”
Sikap yang tenang merupakan modal dasar untuk menguasai medan. Sehingga mata kita dapat melakukan tugasnya secara kritis — dan kreatif. Di bagian ini letak keunggulan seorang fotografer dibandingkan sembarang tukang potret. Selamat berlatih, dan sukses!
Ed Zoelverdi
* Cuplikan buku Kita Menulis dengan Cahaya — Ikhtisar Fotografi Umum. Kini tahap koreksi final.
June 13th, 2008 at 7:31 am
Bang kocak abis, bisa dijadiin bahan kuliah buat mahasiswa saya…..hahahahahahahaha
July 21st, 2008 at 7:52 pm
bwhahhahahahaha….kocak abeeees. ijin copas gan…….
September 12th, 2008 at 4:32 pm
maaf bang sering melakukan hal itu tapi jadi bahan tertawaan teman-teman yang lain katanya aneh…