KEBAKARAN hutan, lagi-lagi dan lagi. Meski terbilang rutin, ya tetap saja menimbulkan heboh lantaran banyak negeri jiran jadi repot. Dan sewot. Lalu sebuah kantor berita mengirim fotografer untuk memotret kebakaran itu. Tiba di lokasi, sang Mat Kodak kalang-kabut. Dia segera kontak bosnya di kantor.
“Wuih…, asap melulu, bos. Nggak ada bagusnya cuma difoto dari bawah. Tolong sewakan pesawat terbang, dong.”
“Oke! Kamu datang saja ke pinggir kota, di situ ada airstrip…,” jawab sang bos.
Belum selesai bosnya bicara, si Mat Kodak menutup telepon dan cepat menggelinding ke bandara kecil yang dimaksud. Di situ ada satu pesawat kecil. Baling-balingnya sudah berputar. Tanpa banyak tanya, Mat Kodak dengan gesit lompat ke dalam pesawat itu. Kepada orang yang duduk di kursi pilot dia teriak: “Let’s go, man!”
Pesawat yang biasa dipakai latihan terbang itu pun mengudara. Si Mat Kodak mengambil kamera dari tasnya, lalu bilang kepada pilot: “Hayo, kita harus terbang di atas hutan yang terbakar itu. You bisa lebih rendah lagi, kan?”
“Lho, kenapa begitu?” tanya pilot.
“Saya perlu bikin foto! Saya kan fotografer …”
“Oalaaah..,” jawab sang pilot. Terdiam beberapa detik, dia lalu bergumam : “Jadi … you bukan instruktur yang bakal melatih cara landing?”