MEMOTRET dan menulis itu setara prinsip mutu kerjanya, sudah kita jelaskan. Yakni sama merupakan ekspresi atau cerminan berbagai jalan pikiran serta citarasa. Bertolak dari pengertian ini maka orang menulis niscaya tidak pernah secara kebetulan. Atau tulisan itu lahir lantaran faktor keberuntungan.
“Tapi kok dalam foto ada yang suka bilang fotonya jadi karena faktor luck atau keberuntungan? Gimana tuh, Bung?” tanya kawan kita.
“Kalau ada yang menghubungkan karya foto dengan istilah judi (ya kebetulan, ya keberuntungan dan sebangsanya), itu berarti penghinaan! Sikap apresiatif jelas tidak mungkin dibina dengan mengenakan kacamata hina.”
“Lho! Menghina siapa, sih?”
“Ya orang lain, ya diri sendiri.”
“Kok? Tolong jelaskan, dong, maksudnya.”
“Begini. Suatu kali mungkin ada yang memuji foto yang kau bikin. Lalu dengan maksud merendah, kau bilang : ah, ini mah kebetulan … Dengan berkata begitu, kau perlu sadar bahwa sebenarnya kau bukan menunjukkan sikap rendah hati. Tapi lebih buruk lagi: itu cerminan orang rendah diri. Inferior atawa minder nggak karuan.”
“Lho, katanya, kita kan nggak boleh takabur atau sombong. Boleh dong merendah.”
“Merendah dalam arti jangan takabur atawa sombong, berbeda dengan rendah diri. Dan itu bedanya seperti siang dengan malam.”
“Maksudnya bagaimana sih, Bung?”
Mencerminkan Sikap Zalim
“Ini perlu uraian agak panjang. Harap sabar saja menyimaknya. Soal kebetulan kita urut mulai dari awal. Ambil contoh foto isteri kawan kita yang pernah dibicarakan, oke?”
“Oke, bob! Lanjut…”
“Nah, sebutlah dia kebetulan melihat isteri sedang mojok nonton tv. Kebetulan pula dia punya kamera di rumah. Berkebetulan lagi di dalam kamera itu ada film. Sebab pernah kejadian ada fotografer prof sekali pun, jepret sana jepret sini, belakangan baru sadar kameranya ternyata kosong.”
“Ya juga ya, aku pernah mengalaminya. Malahan pakai kamera digital pun pernah kehabisan batere, ngga bisa motret. Sial!”
“Pakai kamera analog, misalnya, Nikon F3 dengan /hot shoe/ pas di atas engkol. Kau tidak sadar film tak ikut berputar, karena ketutupan lampu kilat. Atau kamera digital 8 mega pixel, misalnya, hasilnya bisa berantakan lantaran teledor mengatur tombol-tombol aturan mainnya.
Masih berkaitan dengan istilah “kebetulan”, kita teruskan saja, mekanik kamera — jenis apa pun — semua bekerja bagus. Singkatnya, seluruh prasyarat untuk membuat foto siap sudah. Oke?”
“Ya.. oke dong. Apa lagi lanjutannya?”
“Tapi begitu kau mengangkat kamera dan membidikkan lensa ke arah sang isteri, maka pada detik itulah seluruh rangkaian faktor kebetulan atau keberuntungan tadi : bubar bin bubar!”
“Lho, kok bubar, sih?”
“Ya, karena sampai di sini alasan kebetulan atau keberuntungan sudah menjadi tidak waras. Dan bahkan mungkin juga kurang adab menyebutnya.”
“Wah, segitu gawatnya, yak!”
“Nalarnya sederhana sekali. Boleh jadi seseorang kebetulan punya kamera, dan kebetulan berada di suatu tempat. Lalu kebetulan pula berpapasan dengan sebuah kejadian. Tapi ketika dia menolehkan pandangan ke arah subjek itu maka urusan sudah menyangkut daya reaksi.”
“Ooo, begitu to…”
“Misalkan kau sekali dua menghasilkan foto yang sukses. Lalu kau anggap sebagai kebetulan atau keberuntungan. Inti soalnya adalah karena kau alpa mengasah ketajaman atau kejelian mata. Akibatnya, daya reaksi kau pun lamban. Atau tumpul.”
“Aku paham sekarang. Cuma sering banget tuh aku dengar orang nyeletuk : ini mah foto jadinya kebetulan saja. Atau karena faktor keberuntungan saja dia dapat foto jempolan.”
“Itu dia. Di sinilah teledornya orang menilai sebuah foto sukses. Boleh jadi karena tingkat apresiasinya belum sampai. Atau memang budayanya tidak biasa menghargai karya orang lain. Ya, enak saja menuding dengan aneka istilah judi itu.”
“Ooo…, ternyata kita dituntut punya pikiran jernih bukan hanya ketika melakukan pemotretan. Tapi juga pada saat menilai suatu karya foto. Tapi masih belum keliwat jernih soal fotografi memang tidak bersanak-famili dengan judi…”
“Begini. Coba saja perhatikan berapa banyak orang punya kamera, dan beruntung pula keliling dunia. Tapi karena matanya tidak terasah buat menangkap momen berharga, ya, umurnya pun habis begitu saja di jalan.
Kita tidak akan usut tentang nasib baik bisa sampai di suatu tempat. Atau merasa beruntung menyaksikan aneka kejadian dan peristiwa di tempat itu. Namun berapa banyak kejadian lewat menguap di depan hidung kita tanpa sama sekali beroleh perhatian. Apa lagi sampai diamati atau direkam dengan kamera.
Ini menunjukkan bukti: jika kita tidak menaruh perhatian terhadap sesuatu, jangankan memotretnya, sedangkan untuk menoleh ke arah subjek itu pun kita tak sudi. Atau istilah baiknya: seolah tidak punya waktu. Ya, kan?”
“Jadi, begitu kita dapat memotretnya, itu tandanya kita punya daya reaksi bagus. Ada bibit ketajaman mata - dan itu perlu selalu diasah. Begitu, kan, kesimpulan obrolan kita?”
“Intinya ialah biasakan menghargai karya foto secara proporsional. Menyebut-nyebut istilah “kebetulan” atau “keberuntungan” ketika menyaksikan sebuah karya foto adalah cerminan sikap zalim — baik pada diri sendiri maupun terhadap orang lain. Amit-amit!”
Pelihara Rasa Ingin Tahu
“Tapi, ngomong-ngomong, kau punya teorinya nggak cara mengasah ketajaman mata?”
“Bagian ini sudah cerita baru lagi, tapi baiklah kita lanjutkan sedikit. Aku sendiri sih nggak punya teori. Tapi belajar dari mereka yang berpengalaman, ada petunjuk berharga yang baik disimak. Yaitu, dalam melihat sesuatu, kita diingatkan agar selalu membangun rasa ingin tahu — curiosity, kata orang sono.
Kau ingat waktu masa kanak-kanak? Atau amati anak kau di rumah. Kan macam-macam yang mau direseknya. Sampai memanjat, dan jatuh. Kau sering kewalahan, dan juga mungkin sewot, kok ini anak lasak tidak senang diam, dan sebagainya. Padahal itulah tanda pertumbuhan anak yang sehat.”
“Iya, ya. Kalau dia ngelenggut doang atau melempem, kan artinya dia cacingan…”
“Nah. Fitrah dunia kanak-kanak adalah punya rasa ingin tahu yang berkibar. Sifat alamiah ini jangan dihapus ketika kau berangkat dewasa. Memang, di bagian ini orang sering keliru mengira kalau umur makin tua, ya, dia merasa sudah banyak tahu. Lalu menjadi pemalas, bukan cuma malas bekerja, tapi lebih celaka lagi adalah malas berfikir.”
“Oke, oke. Kita tidak perlu bahas ada orang pemalas. Nenek aku pernah bilang: orang bodoh bisa pandai kalau ada kemauan belajar. Tapi orang malas biar dibuldoser sekalipun, ya, nggak bakal ketolongan. Jadi, aku ingin dapat bahan untuk orang yang mau bekerja dan mau berpikir, tapi belum paham mengasah ketajaman matanya.”
“Tadi kan sudah kita sebut tentang sifat alamiah manusia. Yaitu punya rasa ingin tahu. Ini patut kau pelihara sampai umur berapa pun. Rasa ingin tahu yang kita miliki semasa kanak-kanak dikawinkan dengan ilmu pengetahuan serta sari aneka pengalaman setelah dewasa.
Itu kelak yang akan menumbuhkan sikap peduli terhadap berbagai hal yang terjadi di sekitar kita. Ada kegairahan untuk melihat sesuatu bukan sekadar dengan bola mata. Tapi terutama dengan mata batin.
Ini sesuai dengan makna esensial dari paham menulis dengan cahaya — berbeda jika disebut sebagai menulis dengan api — yang menyiratkan semangat serampangan atau kebencian, atau angkara. Dalam istilah cahaya tersirat adanya sejenis sikap santun maupun empati dalam memandang sesuatu.”
Ed Zoelverdi
Cuplikan buku Kita Menulis dengan Cahaya — Ikhtisar Fotografi Umum.
September 12th, 2008 at 4:11 pm
weeeh setelah membaca ulasan om ed tentang fotografi saya jadi berrefleksi diri lagineh tentang fotografi…
alhamdulilahnya di fotografi ini kata teman-temanku aku memiliki jiwa over PD or kelebihan PD dari foto2ku, karena menurutku foto2 ngk ada yang jelek.. maksudnya ada yang jelek dari pengalaman yang didapatkan dari satu fren tersebut.
emmm jd ingin mengasah lagi yah
October 5th, 2008 at 5:27 am
Tulisan yang wajib dibaca semua fotografer! Terima kasih sudah mau berbagi, Mat Maestro…