Jika menganggap banjir cuma sebagai objek, silakan saja tunggu air merendam bundaran Hotel Indonesia sampai semata kaki…….
HANDUK kecil masih tersampir di pundak saya, ketika ada kawan bertamu di celah hari-hari basah yang parah kemarin. “Aku lihat jalan ke rumah Bung tidak kayak kolam renang lagi,” katanya, “masih berkeringat, kelihatannya habis kerja bakti.”
“Orang kate, seisi rumah kita barusan rame-rame melantai,” saya bilang.
“Ha? Masih sempat dansa dalam keadaan begini?” serunya.
“Ah, kau. Begini hari melantai maksudnya ya bersihin lantai…”
“Eh, ngomong-ngomong, Bung sempat motret, nggak? Banyak dong dapat objek foto bagus,” katanya lagi. Melihat saya agak lama terdiam, kawan itu pun bilang, “sorry, aku lupa Bung alergi sama istilah objek. Aku belum pernah sempat dapat penjelasannya. Kenapa, sih?”
“Bukan soal alergi. Tapi menyangkut sikap dasar yang jelas saja. Sejak awal aku coba pelajari, pelbagai literatur yang serius mengenai fotografi menyebut tiap sasaran foto adalah subject atau subjek. Bukan objek!”
Sang kawan mengerutkan dahi. “Apa segitu pentingnya sih soal sepotong kata saja?”
“Mudah-mudahan kau bukan termasuk golongan manusia yang meremehkan makna kata, sampai-sampai tak paham lagi beda istilah terpulang dan berpulang, misalnya. Terpulang itu artinya terserah, sedangkan berpulang artinya kembali — ya sinonimnya mati. Itu baru contoh kecil tentang serabutannya menggunakan kata.”
“Iya, yah. Tapi begitulah, malahan orang yang dianggap elit politik lebih gawat lagi. Pagi bicara lain sore lain lagi, kayaknya orang masih kagum sama dia tuh.”
“Nggak apa-apa. Perhatikan aja model tokoh-pagi-sore yang kau sebut tadi sering jantungan.”
“Kena serangan jantung maksud kau. Kok begitu?”
“Ingat ucapan mendiang Charles de Gaulle. Presiden Perancis (1958-1969) ini bilang: karena seorang politikus tak pernah percaya dengan apa yang diomongkannya, dia kaget bukan main ketika orang lain malah mempercayainya.”
“Hahaha …, tapi balik lagi soal objek dan subjek, apa sih bedanya buat Mat Kodak?”
“Bedanya seperti siang dengan malam. Objek itu secara harfiah berarti pelengkap penderita. Maknanya, ya unsur yang adanya di luar diri kita. Sedangkan subjek mengandung makna ada sangkut-pautnya dengan diri kita.
Jika sasaran foto disebut objek, maka pengertiannya ada jarak pemisah antara kita dengan apa yang dihadapi. Mat Kodak pun terperosok pada pola pelecehan. Itu bisa disimak dari hasil jepretannya yang mencuatkan kesan serampangan.”
“Kasih contoh fotonya kayak apa sih yang disebut serampangan itu?”
“Topik banjir, misalnya. Jangankan bah yang menjarah Jakarta sekarang ini. Sedangkan ketika Karawang saja direndam air ya tetap harus dihayati sebagai bagian dari diri si Mat Kodak — sekalipun dia orang Jakarta. Sebab Karawang adalah bagian dari lumbung beras republik ini. Beras jelas ada kaitan dengan ‘kampung tengah’ alias perut manusia. Ya perut dia, ya perut kita semua.
Jangankan menyangkut banjir. Sedangkan sebutir batu, tak dapat tidak tetap harus disebut subjek foto. Sebab di tangan seorang peneliti ahli, sang batu mungkin dapat menyingkapkan hikayat atau sejarah manusia, misalnya.
Dengan memahami semua kejadian adalah subjek foto, maka ada kepekaan menangkap derita manusia dari sudut pandang yang jitu. Untuk meliput banjir, bila perlu ya ikut nyemplung ke dalam genangan bah.”
“Basah dong kameranya.”
“Tak usah kuatir, orang Jepang sudah bikin mantelnya kok. Juga boks transparan anti air. Atau sekalian pakai kamera Nikonos, bisa dibawa menyelam. Tapi lebih penting dari urusan teknis adalah sikap dasar tadi.
Jika telanjur menganggap bah cuma objek foto, maka sang Mat Kodak sudah cukup puas menjepret hamparan air yang merendam rumah. Kalaupun ada manusianya, yang direkam sering melukiskan kesan riang-ria para bocah main air. Luput dari pahamnya untuk menangkap wajah derita penduduk yang dirundung malang.”
“Tapi aku lihat sih, rekaman foto akibat banjir di Jakarta sudah lebih yahut tuh. Lalu apa salahnya sih motret bocah sukacita main air, kalau memang faktanya begitu?”
“Perkara ada bocah riang-ria di tengah kemalangan, itu memang fakta. Ya begitulah sifat kanak-kanak. Namun jangan sampai kekanak-kanakan pula, misalnya, setelah memotretnya lalu menyorongkan foto itu untuk dimuat.”
“Lho! Kok jadi kekanak-kanakan, sih?”
“Begini. Momen berharga dalam suatu peristiwa dari kategori malapetaka seperti banjir ini, ialah rekaman yang memberi gambaran betapa sengsaranya manusia akibat kejadian tersebut. Sukses berkat keunggulan mekanik kamera, wajib dibarengi dengan kemampuan menyuarakan pesan esensial!”
“Pesan apa sih?”
“Pesan esensial itu menyangkut penyadaran segala pihak, ya penyelenggara negara ya masyarakat itu sendiri.”
“Aku lihat-lihat sih, media massa (cetak dan elektronik) sukses menggalang solidaritas kemanusiaan dalam musibah barusan.”
“Alhamdulillah! Namun tugas media bukan hanya pontang-panting ketika ada bencana. Peran sejarah media massa juga terletak pada kepekaannya menyuarakan pesan penyadaran semenjak dini.”
“Apa lagi tuh?”
“Bah yang melanda seantero negeri ini, menurut ajaran agama lazim disebut musibah. Tapi masih menurut ajaran agama, musibah tidak begitu saja turun dari langit.”
“Bencana banjir ini gara-gara ulah manusia, kayaknya semua kita sudah tahu itu.”
“Itu dia. Begitu air surut kelak, orang media tidak lantas berhenti memotret subjek yang banyak kaitannya dengan banjir.”
“Iya juga yah. Bakalan banyak dong yang bisa disoroti. Tapi kalau kalangan media sendiri ‘ketiduran’ atau merasa percuma, karena nggak bakal digubris sama para pejabat yang bergaya bolot, bagaimana?”
“Nggak apa. Siap-siap saja kelak dengar berita bah di bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, merendam sampai mata kaki …..”
“Ah, apa gawatnya cuma semata kaki, sih?”
“Ya…, semata kaki Patung Selamat Datang.”
Ed Zoelverdi
Suara Pembaruan — Minggu, 27 Februari 2002.