BERTAMU pukul 03.00 dinihari. Yah, dia sohib kita, Mat Gawat namanya. Dan menjelang pagi — Senin 1 April lampau, kawan satu ini muncul sembari bawa cerita. Katanya, tadi ada kecelakaan di Jalan Raya Salemba, Jakarta. Jalan justru sepi, eh ada sepeda motor tahu-tahu terjungkal. Kejeblos lubang jalanan, gara-gara lubang itu terendam air.
“Pasti tak ada beritanya di koran. Aku maklum. Urusan bah yang begitu gawat pun buntutnya dilupakan sudah. Orang media kita payah,” komentarnya.
“Wah, jangan sapu rata begitulah. Kau pernah lihat pameran foto tentang banjir di Galeri Foto Jurnalistik Antara? Itu karya 39 wartawan foto dari 21 media dan kantor berita. Para Mat Kodaknya tergabung dalam Pewarta Foto Indonesia. Ingat?”
“Ya, ya. Aku nonton sehari setelah pembukaan. Aku de-ngar kau yang pidato waktu pembukaannya. Di mana sih istimewanya pameran itu?”
“Pameran kali ini bukan sekadar tontonan — seperti kau bilang, tapi tulen kilas-balik pengalaman pahit kita bersama. Inilah bagian keunggulan wartawan foto ketimbang wartawan tulis, dia mampu menyegarkan kembali memori secara visual.
Melalui sajian foto-foto itu para Mat Kodak-nya berupaya mengingatkan: sungguh suatu ‘dosa sejarah’ jika enteng saja menyebut banjir bandang barusan dengan dalih banjir-lima-tahunan.”
“Persis! Negeri Belanda saja yang kawasannya dua meter di bawah permukaan Laut Utara, tidak terdengar memamah-biak adanya siklus banjir sekian tahunan. Mereka sejak lama sudah mengembangkan apa yang disebut sebagai manajemen air. Dengar-dengar sudah banyak pejabat dari sini dikirim ke sono buat belajar, apa yang mereka bawa pulang?”
(Pameran foto bertajuk Planet Banjir ini mulai ditampilkan di Galeri Foto Jurnalistik Antara, Jakarta, awal Maret lampau. Selain di Jakarta, juga dipamerkan keliling di Bandung, dan usai awal April lalu. Menurut Oscar Motuloh — pengelola galeri tersebut, sekembali dari Bandung foto-foto tadi bakal dipajang keliling lagi di berbagai mal di Jakarta).
“Dari segi mutu, foto macam apa yang kau pujikan?”
“Kau lihat lagilah pamerannya. Amati foto-foto karya Agus Susanto (Kompas); foto-foto Beawiharta dari kantor berita Reuter; dan Kemal Jufri dari sindikat foto Imaji. Mereka tampaknya paham membuat foto-foto candid. Dalam bahasa kita berarti blak-blakan alias spontan.
Cermat memilih sudut pandang. Lebih dari itu: momen yang jitu. Tombol kamera dipencet pas pada titik puncak. Istilah-nya di kalangan Mat Kodak, ya ibaratnya setara dengan saat orgasmus….”
“Gile! Lalu aku dengar, kau sampai bilang wartawan foto itu primadonanya dunia pers segala. Apa maksudnya?”
“Biasa. Sejak lama aku selalu mendorong para wartawan foto untuk juga mampu menulis. Kalau di negeri kita hal itu masih jadi harapan, di negeri sono sudah jadi kenyataan. Sampai-sampai jadi ungkapan, begini: Wartawan Foto tanpa buku notes, namanya tukang potret. Wartawan Foto tanpa kamera, namanya reporter. Wartawan Foto tanpa ka-mera dan buku notes, namanya ya cuma orang lewat …..”
“Apa dasarnya sih kau punya harapan begitu di sini?”
“Aku rutin keliling seantero Indonesia, 20 tahun belakangan. Banyak bibit bagus wartawan foto. Juga pada pameran mengenai banjir ini. Namun — ibarat tanaman — bibit bagus cuma bakal tumbuh bagus kalau lahannya juga bagus. Ya kan?”
“Masih ada lagi. Perusahaan pers sebagai lahan tumbuhnya profesionalisme pun perlu iklim yang menunjang. Bagian ini kini naga-naganya mulai digoyang lagi,” sambut Mat Gawat.
“Nah, apa lagi tuh…”
“Makanya jangan cuma ribet ditelan urusan deadline melulu. Apa kalian orang media tidak menangkap ada sinyal-sinyal bakal dirantai kembali? Kebebasan pers kini rupanya lumayan bikin gerah segelintir orang yang kebetulan sedang di atas.”
“Kau bisa sebut sinyal gawat itu?”
“Ingat, majalah dan koran pernah diharuskan punya izin terbit? Aturan itu pertama kali dilansir Penguasa Militer Daerah Jakarta Raya, 1 Oktober 1958. Alasannya, untuk mencegah publikasi yang ‘sensasional’ dan yang dinilai ‘bertentangan dengan moralitas’. (Beberapa Segi Perkembangan Sejarah Pers di Indonesia, suntingan Abdurrachman Surjomihardjo, halaman 154).
Istilah sekarang ya pornografi. Belum lewat sebulan kau tulis soal ini. Kesannya kau mau bilang mubazir ributin porno. Justru sebaliknya, topik pornografi bisa saja menjadi pintu masuk buat ‘menertibkan pers.’ Ini sinyal yang kalian perlu waspadai….”
Tampaknya belum terlalu luas dipahami bahwa “kebebasan pers” bukanlah milik kalangan media massa belaka. Tapi jelas merupakan milik masyarakat, dan bagian sah dari hak-hak asasi manusia.
Sentana pengamatan Mat Gawat tadi tak keliru, bak kata orang Medan, begitu mudahnya lupa lembaran hitam sejarah, bah!
Ed Zoelverdi
Gatra - Kolom, 27 April 2002.
June 16th, 2008 at 1:13 pm
Padahal harusnya jasmerah, jangan lupakan sejarah, bah, kata Soekarno.