Jul 27
(Makalah untuk seminar pada “The First Asean Photo Festival”, diselenggarakan Konfederasi Wartawan Asean (CAJ) di Hanoi, Vietnam, 25-26 September 1997).
ONE DAY in 1979, I was with four Indonesian journalists on a tour to Vietnam that brought us to interesting places, includmg Dien Bien Phu. It was a brief visit, but I had strong impressions which stick in my memory until today.
Our team was the second Indonesian group to have visited Dien Bien Phu over the past three decades. (The visitors registrar listed Mr. Ruslan Abdulgani, the former Indonesian foreign minister, who visited Dien Bien Phu early in the 1950s).
While taking a walk through the village, I saw a mortar for pounding rice in a house b
asement. That mortar reminded me of the same tool in my home village in West Sumatera– called “lesung berindik”, used to husk paddy.
Continue reading »
written by matkodak
\\ tags: lesung berindik; pangulo; pangulu; similarities; common
Jul 23
Memicingkan mata sebelah ketika memotret, bukan hanya soal terbiasa menyontek. Tapi lebih mendasar adalah terperangkap pada kebiasaan main kira-kira alias sangka-menyangka. Padahal satu di antara pegangan penting untuk bergaul akrab dengan fotografi adalah kita harus membebaskan diri dari “budaya prasangka”.
SERING kita lihat orang memotret dengan mata terpicing sebelah. Kok begitu, sih? Mereka yang bergaul dengan fotografi — baik pemula maupun kawakan, ada yang menganggap pertanyaan itu serius. Ada pula yang cuma mengira banyolan.
“Mata merem sebelah, kan biar lebih fokus waktu mengintip di kamera. Lebih kurang kayak orang menembak,” kata seorang Mat Kodak. Ini jawaban serius, tentu saja.
“Kalau dipicingkan dua-duanya, kita nggak bisa melihat dong,” komentar fotografer yang lain, sembari terbahak. Ini jawaban kelakar, memang.
Continue reading »
written by matkodak
\\ tags: terpicing; kebiasaan; menyon; pencong; individual; undu