Lupa Sejarah Bah ! Advancing Asean and Humanitarian Photography
Jul 23

Memicingkan mata sebelah ketika memotret, bukan hanya soal terbiasa menyontek. Tapi lebih mendasar adalah terperangkap pada kebiasaan main kira-kira alias sangka-menyangka. Padahal satu di antara pegangan penting untuk bergaul akrab dengan fotografi adalah kita harus membebaskan diri dari “budaya prasangka”.

SERING kita lihat orang memotret dengan mata terpicing sebelah. Kok begitu, sih? Mereka yang bergaul dengan fotografi — baik pemula maupun kawakan, ada yang menganggap pertanyaan itu serius. Ada pula yang cuma mengira banyolan.

“Mata merem sebelah, kan biar lebih fokus waktu mengintip di kamera. Lebih kurang kayak orang menembak,” kata seorang Mat Kodak. Ini jawaban serius, tentu saja.

“Kalau dipicingkan dua-duanya, kita nggak bisa melihat dong,” komentar fotografer yang lain, sembari terbahak. Ini jawaban kelakar, memang.

Dalam contoh menembak pakai pistol atawa bedil, alasan memicingkan mata sebelah memang ada perlunya. Tapi senapan alias bedil tentu berbeda dengan kamera. Khususnya jenis kamera analog 35 mm, atau kamera digital jenis SLR. Atau pun pada kamera kompak yang menyediakan lubang pengintip (view finder).

Coba pakai mata kiri mengintip, otomatis mata kanan sudah tertutup body kamera. Begitu pula kalau menggunakan mata kanan, maka mata kiri pun ketutupan body kamera. Atau tertutup oleh punggung tangan kiri.

“Jadi, nggak perlu lagi memicingkan mata sebelah. Tapi sudah kebiasaan, kan sulit mengubahnya. Lagi pula, ini cuma soal teknis. Apa mau dibilang jenis paham sesat lagi, Bang?” kata seorang Mat Kodak muda.

“Kita tidak namakan paham sesat, sih. Selama orang nyaman pakai cara begitu buat motret, silakan saja. Perkara bakalan menyon di hari tua, yah risiko tanggung sendiri…..”

“Maksudnya?”

“Memicingkan mata sebelah (baik kiri atau pun kanan) — terbiasa bertahun-tahun, akibatnya otot pipi teregang. Buntut-buntutnya: bibir jadi menyon. Nah, kita bicara baik saja, maka pada ulang tahun ke-70 ente nggak mampu meniup lilin.”

“Lho! Kenapa, sih?”

“Api lilin dijamin nggak bisa padam. Sebab angin tiupan jadi menikung ke samping, gara-gara bibir telanjur pencong.”

“Ha-ha-ha….., serius nih, Bang?”

“Yah, anggap saja banyolan. Tapi lebih dari sekadar lelucon ataupun yang kau sebut tadi soal teknis, sebenarnya ada hal mendasar dalam urusan ini.”

“Sekarang era digital, Bang. Kita malahan bisa memotret sembari memicingkan mata dua-duanya, he.. he.. he…”

“Boleh juga ente jadi badut, ye. Eh, tapi ini sebenarnya rahasia, lho…”

“Nah, cerita apa lagi, Bang?”

“Masih lanjutan yang tadi. Begini. Untuk bergaul akrab dengan fotografi kita jangan terperangkan urusan peralatan. Mau pakai kamera konvensional atau pun jenis paling muakhir, silakan. Mulanya mungkin saja meniru cara orang, oke saja. Tapi pada akhirnya, tiap orang patut mengembangkan teknik pribadi. Di dalam kamus fotografi biasa disebut bahwa teknik itu sifatnya individual.”

“Kalau begitu, saya mundur lagi: nggak salah dong memotret sembari memicingkan mata sebelah?”

“Ah, dasar undur-undur… Inti soalnya bukan pada salah atau tak salah. Juga bukan soal alat baru atau alat lama. Ente kan sudah mengalami, tugas memotret itu sendiri melelahkan. Ya, nggak?”

“Wah, bukan cuma capek, Bang. Waktu motret huru-hara malahan kena pentung segala. Gawat!”

“Urusan kena pentung, ini satu soal lain lagi — yang mungkin menarik untuk diseminarkan. Kau bilang sendiri tadi, memotret itu capek. Nah, biar tetap jeli merekam momen-momen penting, atau sudut pandang yang jitu, minimal bola mata jangan dibikin capek.”

“Ya, ya, aku mengerti, Bang. Tapi kan perlu latihan juga buat mengubah kebiasaan, seperti cerita tadi … merem sebelah itu.”

“Kok mundur ke situ lagi, sih? Mau terpicing sebelah atau mau terpicing dua-duanya, bukan di situ pokok soalnya. Ingat, bahkan orang buta sekalipun bisa bikin foto. Nggak percaya? Silakan longok situsnya di internet.”

“O, ya? Nanti aku lihat di warnet, deh. Oke, Bang, lanjut…”

“Untuk bisa serius bergaul dengan fotografi, sejak dini pikiran dan sikap kita harus bebas dari ‘budaya-prasangka’ alias kebiasaan sangka-menyangka.”

“Wah, jangan berat-berat dong bicaranya, Bang.”

“Justru ini pembicaraan ringan, kok. Ini pernah saya utarakan di Radio Delta, Jakarta, suatu hari di tahun 1997. Sang penyiar — Yati Asfan Lubis, waktu itu, menanyakan apa pengalaman paling menarik selama saya jadi Mat Kodak.”

“Lalu, Abang cerita apa?”

“Saya bilang, pengalaman paling menarik bukan saat bertugas jadi fotografer, melainkan pada proses belajarnya. Awalnya sih, kita memotret ya meniru-niru orang lain. Sampai suatu hari sekitar tahun 1968, saya ketemu bacaan yang intinya mengingatkan pentingnya membersihkan pikiran dari kebiasaan sangka-menyangka.”

“Masih bingung aku, tolong diperjelas dong, Bang.”

“Contohnya, begini. Sebelum kita ketemu bermuka-muka, ente pernah dengar apa tentang saya dari orang lain?”

“Macam-macam, Bang. Ada yang bilang, si Ed itu kan cuma bisanya teori doang. Ada lagi yang bisik-bisik, hati-hati kalau ngomong sama Ed…”

“Naaa.., begitu, yak? Padahal orang yang bicara itu belum tentu pernah ketemu langsung dengan saya. Apa lagi ngobrol kayak gini. Lincah menabur gosip alias syur menggunjingkan orang, boleh jadi bagian dari naluri rendah manusiawi. Seperti kata para ahli, prasangka, praduga atawa sangka-menyangka, terbentuk jadi kebiasaan sejak kecil di rumah. Dan kian menjadi-jadi dalam pergaulan sehari-hari.”

“Betul juga, Bang. Kita memang sering menelan begitu saja apa kata orang mengenai sesuatu atau seseorang. Ini barangkali yang disebut keracunan opini…”

“Eh, boleh juga ente… Yah, kita sering termakan opini orang lain dalam menilai — baik tentang suatu kejadian ataupun tentang seseorang. Kalau kurang kritis menyaringnya, atau bahkan kita tak mampu membebaskan diri dari pengaruh opini tadi, ini tidak menguntungkan jika kita ingin mengembangkan diri sebagai fotografer yang serius, di cabang manapun.”

“Iya, yah. Abang kan sering bilang, apa lagi sebagai wartawan: untuk bertanya tentang sesuatu minimal kita harus menguasai setengah dari persoalan. Jangan sampai terkesan sok-tau, atau kelihatan culun sama sekali gara-gara tanpa modal referensi. Resep yang sama berlaku pula untuk Wartawan Foto, sebelum memotret ya pahami seluk-beluk latar-belakang subjek. Kan begitu, Bang?”

“Seratus buat ente. Ternyata ingatan ente lumayan bagus sebagai seorang Mat Kodak. Untuk memelihara penglihatan yang tajam, kritis dan kreatif, pikiran kita memang harus bersih dari segala bentuk prasangka alias sangka-menyangka. Ini salah satu sikap dasar. Dan dari sinilah lahirnya ungkapan terkenal yang berbunyi: kalau kita melihat sama seperti orang kebanyakan melihat, sesungguhnya kita tidak melihat apa-apa. Dan tidak memperlihatkan apa-apa !!”

Ed Zoelverdi
* Cuplikan buku Mat Kodak Menulis dengan Cahaya.

written by matkodak \\ tags:

One Response to “Mata Terpicing Sebelah, Mengapa?”

  1. Ocky Says:

    Pak, ini mungkin yang saya dapat dari kuliah sabtu sore kemarin, Sebelum foto suatu subjek (karena tidak ada objek dalam fotografi) hindari prasangka mengenai subjek yang ingin difoto. karena foto adalah cerminan hati dan pikiran. bijak sekali

Leave a Reply