Aug 16

Kalibataku — singkatan kali-bagi-tambah-kurang, selama ini bikin bingung pabrik kalkulator. Sebab tombol bagi-membagi dibikin macet. Ternyata itu cerita kuno sudah. Kalibataku versi abad 21, jauh lebih meriah dan … amit-amit!

SORE kemarin tiba-tiba Mat Gawat mencogok di rumah, setelah tiga hari tak kelihatan batang hidungnya. “Susah memang ini masyarakat ente,” gerutunya, sembari membanting topi petnya yang lusuh. Kepalanya yang botak berkilat oleh keringat. Belum sempat saya bertanya, dia menyerocos: “Mana tuh kopi jahe, mainkan…”

Gayanya mirip bos, maklum, dia pensiunan orang penting. Mau dibilang post power syndrome, ada juga meski tidak terlalu. Sebab Mat Gawat sadar juga bahwa “gaya kantoran” tak cocok dibawakan dalam pergaulan di masyarakat. Dan sebagai pensiunan, Mat Gawat tidak sudi disebut “mantan”, sebab, katanya, mantan artinya kan manusia-restan.

Punya pengalaman panjang jadi bos di perusahaan swasta, beberapa tahun sebelum pensiun Mat Gawat sudah menyiapkan sekoci. Dia buka perusahaan sendiri yang disebutnya masih kecil-kecilan. Merasa dapurnya aman, ia pun membagi waktu untuk aktif dalam berbagai kegiatan sosial di lingkungannya. Beberapa hari belakangan, katanya, dia sibuk jadi panitia 17-an tingkat RW.

“Ooo, aku kira kau sedang ke Hongkong,” saya bilang. “Jadi panitia 17-an, asyik dong.” Continue reading »

written by matkodak \\ tags: , , , , , , , , ,

Aug 14

Pelukis Salim genap berusia 100 tahun nun jauh di negeri orang, dan tetap memelihara status sebagai warganegara Indonesia. Di depan pintu kamarnya di Paris, ia memasang ungkapan “Mai Morirem” — kita tidak akan mati. Sepanjang umur bermukim di jantung budaya Barat, Monsieur Salim justru mengingatkan agar orang Indonesia tidak begitu saja memamah-biak segala yang datang dari Barat.

SEPUCUK kartu Selamat Tahun Baru saya terima dari Paris, Prancis, awal Januari 2008.  Pengirimnya: Salim — pelukis, orang Indonesia yang tahun ini genap berusia 100 tahun. Tulisan tangannya tidak banyak berubah. Saya mengenalnya pertama kali sekitar tahun 1970an, ketika Bung Salim — penggilan akrabnya — menggelar pameran karyanya di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Lalu dalam sebuah trip ke London, tahun 1981, pulangnya saya singgah di Paris — dengan tujuan utama mampir di rumahnya. Kemudian tahun 1987, saya ke Paris lagi menghadiri resepsi ulang tahun ke-20 Kantor Berita Foto Gamma. Acara penting lainnya tentu saja bertamu ke rumah Bung Salim. Begitu pula tahun 1993, dalam perjalanan pulang dari Amerika Serikat, saya pun singgah di Paris. Ya, mampir di rumah Bung Salim lagi.

Sampai suatu hari di awal 1995, dari Jakarta saya menelepon ke rumahnya di Paris — hanya sekadar kangen-kangenan. “Saya sekarang 86 tahun. Bukan main, ya, tua sudah,” katanya sambil tertawa. Dan sejauh itu, ia bilang tidak harus berpantang makan ini itu. “Saya makan apa saja. Minum anggur, tapi tidak merokok lagi. Sudah berhenti 14 tahun,” tuturnya, dalam bahasa Indonesia logat Prancis. Kecuali ada sedikit keluhan mengenai kaki, selebihnya Salim sehat-walafiat. Pendengarannya pun masih tajam. Juga, daya nalarnya tetap kritis. Continue reading »

written by matkodak \\ tags: , , , , , ,

Aug 01

Negeri ini dimerdekakan para pejuang dari belenggu penjajahan asing, dengan cita-cita menjadi bangsa berdaulat dan bermartabat. Namun bagian ini kini bukan hanya dilupakan, tapi diobok-obok justru oleh anak negeri sendiri — demi segepok uang, sudi menjadi budak untuk kepentingan asing.

LACK of money is the root of all evil, kata George Bernard Shaw (1856-1950).  Artinya, tidak punya uang adalah akar segala kejahatan. Rumusan sang penulis beken ini kini mencapai wujud lebih peyot: meski punya uang tetap saja orang berbuat jahat atawa lancung alias pesta-pora menjadi koruptor.

Nah, koruptor itu makhluk apa gerangan? Jika memang manusia — dengan banyak gelar pula, punya jabatan tinggi serta gedung yang semakin tinggi, tapi daya pikirnya sangatlah rendah. Tidak lebih cuma sejengkal dari pusar di perut. Padahal sejarah membuktikan, betapa wabah korupsi bermuara pada hancurnya negeri sendiri.  Continue reading »

written by matkodak \\ tags: