Negeri ini dimerdekakan para pejuang dari belenggu penjajahan asing, dengan cita-cita menjadi bangsa berdaulat dan bermartabat. Namun bagian ini kini bukan hanya dilupakan, tapi diobok-obok justru oleh anak negeri sendiri — demi segepok uang, sudi menjadi budak untuk kepentingan asing.
LACK of money is the root of all evil, kata George Bernard Shaw (1856-1950). Artinya, tidak punya uang adalah akar segala kejahatan. Rumusan sang penulis beken ini kini mencapai wujud lebih peyot: meski punya uang tetap saja orang berbuat jahat atawa lancung alias pesta-pora menjadi koruptor.
Nah, koruptor itu makhluk apa gerangan? Jika memang manusia — dengan banyak gelar pula, punya jabatan tinggi serta gedung yang semakin tinggi, tapi daya pikirnya sangatlah rendah. Tidak lebih cuma sejengkal dari pusar di perut. Padahal sejarah membuktikan, betapa wabah korupsi bermuara pada hancurnya negeri sendiri.
Sentana uang yang harus disanjung alias dipertuhankan, ada ungkapan terkenal yang membuktikan bahwa “uang bukanlah segala-galanya”. Uang perlu, memang. Dengan uang kita bisa membeli makanan, tapi bukan selera atau citarasa. Dengan uang kita bisa beli obat, tapi bukan kesehatan. Dengan uang orang bisa saja membeli singgasana, seperti pangkat, jabatan atawa kedudukan. Tapi bukan kharisma — apalagi kehormatan.
Korupsi sebagai wujud perilaku lancung alias selingkuh, adalah cerminan logika dan akal sehat yang kian menciut di tengah berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi. Kalender dinding silih-berganti menambah tahun demi tahun dalam umur manusia. Tapi luput menghayati pengalaman hidup pada tiap tahun yang dijalani. Sehingga walau pun mampu beli rumah, namun tak pernah menemukan keteduhan batin.
Dia bisa membeli ranjang terbuat dari batu giok bertatahkan emas belian, tapi bukan pulasnya tidur. Istrinya pun bisa membeli perhiasan, tapi bukan kecantikan. Dengan uang pula, si koruptor mampu membeli hiburan, tapi bukan kebahagiaan. Bisa membeli kemewahan dengan uang, namun bukan kebudayaan. Masih dengan uang, komputer bisa dibeli tapi bukan otak. Kenalan pun mudah dibeli, tapi bukan sahabat. Bahkan esek-esek bisa dibeli kapan mau, namun bukan cinta…….
* * *
MEMANG, dengan uang banyak yang mampu beli komputer berkapasitas memori luar biasa hebat. Namun lebih banyak yang abai merawat memori pribadi — menjadikan pengalaman sebagai guru terbaik dalam kehidupan. Sehingga perangai sehari-hari jauh lebih dungu ketimbang keledai tua sekalipun.
Hari ini banyak bertaburan rumah yang serba “wah dan wuih dan duileee”. Tapi keluarga di dalamnya morat-marit, pecah berkeping-keping. Dalam era yang digelembungkan sebagai “era globalisasi” ini, boleh jadi banyak yang mampu bolak-balik ke mancanegara. Tapi masih jauh lebih banyak yang kesulitan menyeberangi jalan untuk bertegur-sapa dengan tetangga baru. Dan hidup berdampingan secara damai.
Sementara pada posisi pembuat keputusan konkret bagi kepentingan hajat hidup orang banyak, terlalu banyak sumpah jabatan diobral. “Demi Allah…, Demi Tuhan…,” fasih dilafalkan di bibir, sementara dalam hati bunyinya: “Demi uang,…. Demi uang…., aku bersumpah….”
Selebihnya waktu dihabiskan hanya untuk bicara, bicara, dan sarat dengan aneka kebohongan. Terlalu banyak obral janji “akan begini” atawa “akan begitu” — seolah hidup ini cukup cuma dengan rumus “ke-akan-an” alias tak perlu sampai pada bentuk yang seharusnya diwujudkan.
Kini zamannya popok pakai-langsung-buang. Dan moralitas pun latah ikut-ikutan langsung-boleh-buang; pelayanan esek-esek cuma selincam alias sekadar menumpang lewat. Demi uang — kini kian leluasa beredar aneka obat setan alias pil penyebab tawa sinting ria lantaran otak jadi miring, sampai diam bisu membatu. Atau jadi kian mengganas, meliar, atau membunuh lebih buas dibandingkan predator di hutan rimba.
Di abad penjelajahan angkasa raya kini, sudah dilupakan menjelajah ruang di relung hati. Banyak yang heboh untuk membersihkan udara, tapi lebih banyak yang berlupa-lupa pada kotoran yang telah mencemari jiwa. Negeri ini dimerdekakan para pejuang dari belenggu penjajahan asing, untuk menjadi bangsa berdaulat dan bermartabat. Namun bagian ini kini bukan hanya dilupakan, tapi diobok-obok justru oleh anak negeri sendiri — demi segepok uang, sudi menjadi budak untuk kepentingan asing.
Mari merunduk untuk mengenang jasa para pejuang kemerdekaan, semoga arwah mereka beroleh tempat yang lapang di alam kekal, amin! Dan semoga pula Tuhan Semesta Alam menumbuhkan kesadaran anak negeri untuk tidak membiarkan bangsa dan negara ini karam hanya akibat ulah segelintir orang yang tergila-gila mempertuhankan uang.
Merdeka!
Ed Zoelverdi
Jakarta, 1 Agustus 2008.
August 2nd, 2008 at 3:48 pm
demi tuhan (bukan demi uang), mencerahkan banget catatannya…
December 17th, 2008 at 9:00 am
Mungkin “demi Tuhan” waktu sumpah jabatan perlu diperjelas agar calon koruptor tdk hny mrs akan melanggar sumpah jabatan kpd pengkangkatnya, tapi juga kpd Tuhan, mis: “sengsara dunia akhirat” atau “susah 70 turunan”