“Demi Tuhan…, Demi Uang…!” Kalibataku versi Abad 21
Aug 14

Pelukis Salim genap berusia 100 tahun nun jauh di negeri orang, dan tetap memelihara status sebagai warganegara Indonesia. Di depan pintu kamarnya di Paris, ia memasang ungkapan “Mai Morirem” — kita tidak akan mati. Sepanjang umur bermukim di jantung budaya Barat, Monsieur Salim justru mengingatkan agar orang Indonesia tidak begitu saja memamah-biak segala yang datang dari Barat.

SEPUCUK kartu Selamat Tahun Baru saya terima dari Paris, Prancis, awal Januari 2008.  Pengirimnya: Salim — pelukis, orang Indonesia yang tahun ini genap berusia 100 tahun. Tulisan tangannya tidak banyak berubah. Saya mengenalnya pertama kali sekitar tahun 1970an, ketika Bung Salim — penggilan akrabnya — menggelar pameran karyanya di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Lalu dalam sebuah trip ke London, tahun 1981, pulangnya saya singgah di Paris — dengan tujuan utama mampir di rumahnya. Kemudian tahun 1987, saya ke Paris lagi menghadiri resepsi ulang tahun ke-20 Kantor Berita Foto Gamma. Acara penting lainnya tentu saja bertamu ke rumah Bung Salim. Begitu pula tahun 1993, dalam perjalanan pulang dari Amerika Serikat, saya pun singgah di Paris. Ya, mampir di rumah Bung Salim lagi.

Sampai suatu hari di awal 1995, dari Jakarta saya menelepon ke rumahnya di Paris — hanya sekadar kangen-kangenan. “Saya sekarang 86 tahun. Bukan main, ya, tua sudah,” katanya sambil tertawa. Dan sejauh itu, ia bilang tidak harus berpantang makan ini itu. “Saya makan apa saja. Minum anggur, tapi tidak merokok lagi. Sudah berhenti 14 tahun,” tuturnya, dalam bahasa Indonesia logat Prancis. Kecuali ada sedikit keluhan mengenai kaki, selebihnya Salim sehat-walafiat. Pendengarannya pun masih tajam. Juga, daya nalarnya tetap kritis.

Kontak saya dengan Bung Salim selama berbilang tahun rutin saling bertukar kartu, baik Selamat Idulfitri maupun Tahun Baru Masehi. Dan sejak tahun lalu, terdengar kabar bahwa ia sedang menyiapkan pameran ulang tahun ke-100, dan akan digelar di Jakarta, September 2008. Tentu saja saya berdoa cita-cita Bung Salim terwujud selagi masih hidup. Lalu kepada seorang kawan di Jerman — koresponden sebuah penerbitan pers di Jakarta, saya sarankan mampir di Paris untuk meliput dari dekat tokoh langka ini.

Sementara itu, via email saya mengontak sobat Buyung Tanisan, 63 tahun, di Payakumbuh, Sumatera Barat. Buyung sempat menjadi sejawat Salim ketika sama-sama bekerja di KBRI Paris, 1970an-1980an. Ia menyarankan agar saya mengontak Ariffin Dungga yang kini masih bekerja di KBRI Paris. Dan awal Agustus barusan, saya terima email dari Bung Ariffin. Intinya megabarkan, memang Pak Salim sudah menyiapkan pameran 100 tahun di Jakarta, September ini. Kondisi sang pelukis saat ini baik, meski tampak agak lemah.

Rumah Terganjil Sedunia
SEHARI-HARI Salim akan menerima tamu, waktu itu, jika lebih dulu ada janji lewat telepon. Dan di kota dunia seperti Paris, orang bisa ditelan jalan jika kurang cermat menyimak alamat yang dituju. Untuk itu, Salim akan memberi petunjuk sangat rinci tentang rute angkutan umum praktis. Misalnya, dengan kereta bawah tanah (metro), kita nanti akan tersembul cuma beberapa langkah dari depan tempat tinggalnya.

Kediaman Salim terletak di bilangan daerah bergengsi, sedikit di luar Kota Paris. Meski di daerah mewah, tempat tinggalnya berada di lantai enam, persis di bawah atap gedung tersebut. Ruangannya terdiri dari dua kamar. Mungkin terasa sempit. Tapi bagi Salim yang tinggal sorangan, itu memadai.

Untuk mencapai tempatnya, kita harus menaiki anak tangga sempit di bagian luar gedung. Salim tinggal di situ sejak akhir 1960-an. Baru pada 1970-an, gedung itu memasang lift atau elevator, sehingga Salim tidak perlu lagi turun naik lewat tangga. Dan awal 1980-an, telepon pun berdering di rumahnya.

Dari dua petak kamar tadi, satu digunakan sebagai tempat tidur merangkap ruang makan.  Satu lagi untuk sanggar melukis plus tempat menerima tamu. Di ruangan ini terdapat sejumlah rak buku yang sarat isinya. Juga ada koleksi piringan hitam, foto, dan benda-benda lain. Juga sejumlah lukisan, tentu saja.

Sudah berbilang tahun pula Salim memasang kelambu di jendelanya. Sebab, untuk kawan di rumahnya itu, ia memelihara burung kenari. Bukan dalam sangkar, melainkan dibiarkan terbang lepas di ruangan itu. Selain burung yang jumlahnya bisa sampai puluhan ekor, di satu pojok kamar juga terdapat bejana porselen berisi kura-kura, dan umurnya mungkin mendekati 10 tahun.

Burung-burung tersebut beranak-pinak, dan jika mereka beterbangan sudah kelewat riuh. Untuk mengurangi populasinya, Salim lalu membawanya ke pasar. Dilego. Ada yang sampai 40 ekor. Ketika itu, seekor bisa laku 15 franc atau sekitar Rp 6.000. Inilah kediaman paling unik, bukan hanya di lingkungan apartment tersebut, melainkan boleh jadi paling ganjil di seantero dunia.

Televisi Prancis sempat merekam perkerabatan manusia dengan burung dan kura-kura ini.  Sudah disiarkan. “Saya terkenal sekarang sebagai orang yang punya burung yang bebas di rumah,” tutur Salim sambil terbahak. Alamat rumahnya, 186 avenue Charles de Gaulle, 92 200 Neully sur Seine, France. Telepon (33-1) 46242610.

Di pintu masuk rumahnya tertera tulisan: “Mai Morirem”. Artinya, “Kami Tidak akan Mati”. Itu maknanya, kata Salim, seorang pelukis walau dipenjarakan sekalipun, jiwa sebagai seniman tidak akan pernah mati. “Mai Morirem” adalah bahasa Basqe, bahasa daerah perbatasan Spanyol-Prancis. Selain bahasa Spanyol, Salim juga belajar bahasa Arab. Belakangan malahan aksara Arab juga menghiasi lukisan-lukisannya.

Pelukis Salim : Maestro Kaliber Dunia
PARIS dikenal luas bagai kiblatnya kaum seniman mancanegara, bukanlah kota yang terlalu ramah bagi orang yang ingin mengadu untung. Apa lagi cuma punya ilmu serba tanggung. Namun, ke gelanggang yang sengit inilah Salim terjun. Dan mulai umur 17 tahun ia telah memilih hidup sebagai pelukis. Sarat sudah pengalaman jatuh bangun dalam kariernya, tapi ia tidak tampak gentar mengarungi profesinya, sampai hari ini.

Apa sih yang membuatnya betah bermukim di Prancis? “Di negara ini saya menemukan kebebasan, baik kebebasan berkarya, berpikir, dan berpendapat,” jawabnya. Pernah sekitar 1956, seorang sahabatnya, Sutan Syahzam, adik Sutan Sjahrir, membawanya pulang ke Indonesia. Salim diajak bekerja dan hidup sebagai seorang “tuan besar” — naik turun mobil berpakaian rapi dan berdasi. Tapi hidup serba enak ditolaknya. Dan ia pun kemudian kembali ke Prancis. Alasannya ketika itu: “Di Indonesia kurang ada kebebasan.”

Lukisan-lukisannya mencuatkan kesan dominan cita-rasa yang halus dan mungkin manis. Menurut pengamat senirupa, aliran lukisan Salim ini adalah impresionisme. Tapi menurut sahabatnya — Yazir Marzuki, Salim tidak mengikuti aliran tertentu. Namun, tiap pemerhati lukisan, kata Yazir, “Pasti akan tahu, wow, ini lukisan dia.”

Atau seperti ditegaskan pelukis Affandi yang dikutip Yazir, “Lukisan-lukisan Salim sama sekali tidak Barat. Dia tetap Timur, Indonesia, terutama dalam garis-garisnya.”  Dan ketika pameran lagi di Amsterdam, tahun 1965, selain dapat kritik Salim juga beroleh pujian. Beberapa surat kabar di Negeri Belanda, menyebut Salim pelukis profesional dari Indonesia — yang karyanya bernilai internasional.

Menarik juga dicatat adalah proses kelahiran karya sang maestro. Lukisan yang wujudnya begitu cantik, meluncur dari olesan kuas di jemari Salim, lantaran sang pelukis sedang marah. Atau sebutlah karya itu meluncur sebagai suatu protes terhadap keadaan yang dianggapnya brengsek. Dan menurut Salim, ia sering merasa marah jika mendengar berita-berita politik.

“Di mana-mana berita politik tidak ada yang baik,” ujarnya. “Di Prancis juga, karena di Eropa sekarang sedang berkembang rasisme. Saya tidak senang itu. Dulu tidak begitu.” Dan Bung Salim amat geram terhadap sikap Barat yang memelintir makna agama Islam. “Sekarang ada pandangan yang menilai Islam itu teroris. Ini jelas salah!” ujarnya.

Sebagai warga negara yang masih setia dengan paspor Indonesia, Salim tidak pernah absen mengikuti perkembangan di Tanah Air. Itu didapatnya melalui media cetak dan elektronik, serta dari para kenalannya. Untuk memenuhi rasa dahaganya terhadap aneka berita, ia bahkan sampai berlangganan buletin langsung dari kantor berita, seperti Agence France Presse (AFP) dan Reuter.

“Saya tidak setuju kalau terjadi kekerasan dalam mengatasi satu peristiwa,” katanya. Sebab, menurut Salim, jika mau berusaha, niscaya banyak cara lain yang dapat ditempuh, tanpa membawa korban nyawa manusia.

Pejuang Teguh Anti Harta Kolonial
MENURUT cerita seorang sahabatnya, Salim berasal dari daerah Tapanuli, Sumatera Utara. Tapi sejauh ini ia tidak pernah menyampirkan nama marganya. Bahkan menurut pengakuannya sudah lama ia lupa. Juga ketika ditanya nama kampungnya, pun Salim bilang sudah lupa. Ia mulai menjejakkan kaki di daratan Eropa, sekitar 1920 — atau dalam usia 12 tahun, dibawa oleh sebuah keluarga Belanda ke Nederland, sebagai anak angkat. Dibesarkan dan disekolahkan di sana. Kemudian Salim belajar melukis.

Pada 1930-an, Salim pulang ke Indonesia dan sempat bekerja pada perusahaan reklame. Di Indonesia ia melihat dan merasakan langsung perlakuan orang Belanda sebagai penjajah. Ia pun memilih gabung dengan pejuang kemerdekaan, terutama dari kelompok Bung Sjahrir. Sebagai pemuda, Salim ketika itu ikut berjuang bersama teman-teman lainnya.

Beberapa tahun kemudian, Salim kembali ke Eropa, ikut bersama keluarga Indonesia yang pindah ke Prancis. Tidak banyak yang diceritakan sejak ia kembali ke Eropa ketika itu. Begitu juga tentang pengalamannya tinggal di Eropa selama Perang Dunia II. Beberapa orang yang tahu tentang Salim mengatakan, ia banyak bergerak di bawah tanah dalam menentang penjajahan.

Kekejian Belanda terhadap rakyat Indonesia membekas di hati Salim, sampai akhirnya ia menganggap semua orang Belanda sebagai orang busuk. Begitu getirnya sanubari Salim, sampai-sampai ia memutuskan hubungan dengan ayah angkatnya yang orang Belanda itu.

Di Prancis sekitar tahun 1934 hidupnya melarat. Menurut cerita Yazir Marzuki pula, bahkan jaket untuk pelindung di musim salju pun ia tak punya. Sampai suatu hari, Salim dapat kabar bahwa ayah angkatnya di Belanda meninggal dunia. Dan semua harta warisan diserahkan kepada Salim.

Dalam kondisi melarat, Salim seharusnya berangkat ke  Negeri Belanda untuk mengurus warisannya. Namun ia teguh pada pendiriannya: sudah memutuskan hubungan dengan ayah angkat, maka semua harta itu diberikannya kepada panti asuhan yatim piatu di Negeri Belanda.

“Orang akan bilang Salim itu goblok,” komentar Yazir. Pada saat melarat tidak punya apa-apa, namun karena mempertahankan keyakinan yang teguh dan konsisten dengan ucapannya, akhirnya ia menolak harta warisan dari ayah angkatnya itu. “Saya kira, ini ekspresi Salim karena benci kepada Belanda yang dinilainya telah menyengsarakan bangsa Indonesia,” kata Yazir.

Tragedi Seniman Pemula
MENGENANG pengalaman getirnya di hari-hari yang lampau, Salim menilai sebagai amat bermanfaat bagi dirinya. “Itu baik juga untuk disiplin,” katanya. Jadi, kata kuncinya adalah disiplin. Di bagian ini Salim merasa amat prihatin. Sebab, menurut dia, kini banyak pelukis yang baru mulai, tapi tidak serius membina kualitas diri dan karyanya.

Salim pernah mengajar di sebuah akademi senirupa di Paris. “Tapi sekarang tidak lagi, karena kaki saya sakit-sakitan,” katanya. “Sampai umur berapa Anda akan melukis?” saya bertanya, ketika bertemu di tahun 1993. “Sampai umur berapa? Ya, sampai meninggal,” jawabnya, seraya ketawa. Terdiam sejenak, Salim lalu menambahkan, “Ya, saya harap sampai 10 tahun lagi.”

Menyimak riwayat kesenimanan pelukis Salim, satu hal penting dicatat: status seniman bukanlah sekadar gaya, melainkan merupakan sebuah pilihan dan sikap hidup. Dan dalam proses menghayati kehidupan, Salim juga melakukan pengayaan terhadap intelektualitasnya. Itu ditimbanya dari berbagai bahan bacaan. Atau dari serangkaian diskusi — yang di Paris lazim berlangsung di cafe alias kedai kopi. Paris memang terkenal dengan kedai kopinya, yang bertaburan di seantero kota.

Kesenimanan bukan gaya, dalam arti cuma mencuatkan perangai ganjil alias slebor. Misalnya, supaya sah dianggap seniman, orang lantas berpakaian nyaris kumal. Kalau perlu tak mandi-mandi. Atau ada lagi yang sibuk berlagak miskin, padahal punya simpanan di bank dalam mata uang dolar. Kemudian jualan retorika kiri-kanan tentang kemanusiaan. Tragis, memang.

Atau ada lagi yang membiarkan rambutnya panjang, dan serabutan pula. Pendek kata, kulit lebih penting ketimbang isi. Yang dikejar hanyalah agar orang cuma ternganga dan menganggapnya seniman tulen. Saking sibuk dengan pernik-pernik yang dikira mengesankan citra seniman ini, banyak kemudian yang abai melahirkan karya gemilang. Sampai menimbulkan olok-olok: jangan cuma rambut yang dibikin panjang, tapi akal yang patut dipanjangkan.

Obat Rindu: Mencium Tanah Indonesia
KALAUPUN menurut kacamata awam sosok Salim tampak aneh, itu semata-mata hanyalah lantunan dari suatu cara berpikir manusia merdeka. Pikiran boleh bebas — bahkan menerawang tanpa kenal batas ruang dan waktu — namun dalam pergaulan sehari-hari, menurut para kenalannya, Salim amat menaruh hormat pada wilayah kedaulatan yang sifatnya amat pribadi.

Itu sebabnya ia tidak terlalu bahagia jika ada yang ingin mengungkit kehidupan pribadinya. Ia bisa tampak tersinggung, misalnya, ketika orang menanyakan: mengapa sih lebih suka hidup membujang? Sikap Salim ini mengisyaratkan satu hal, yakni betapa pun orang berpikiran bebas, namun dalam pergaulan tetap ada batas-batas, yang menurut adab adalah sah dan amat patut dihormati.

Meski lama bermukim di Prancis, Salim banyak punya kenalan di kalangan pejabat tinggi Indonesia, yang selalu menjenguknya jika sedang berkunjung ke negeri itu. Menurut Buyung Tanisan, ketika Presiden Soekarno singgah di Paris dalam kunjungan tidak resmi, Bung Salim ikut menyambut di bandara bersama masyarakat Indonesia di Paris.

Tatkala menyalami Salim, Presiden Soekarno bertanya: “Mau mati di sini?” Bung Salim ligat menjawab, “Tidak! Saya mau hidup di sini!”

Nyaris sepanjang umur bermukim nun di benua seberang, satu hal yang tidak lekang dalam sikapnya adalah bahwa ia orang Indonesia. Dan itu tetap dipeliharanya. Mirip dengan komponis beken Frederick Chopin — merantau di Prancis membawa bekal sekepal tanah dari negeri asalnya di Polandia, lebih kurang begitulah Salim menjalin rasa cintanya terhadap Indonesia.

Salim membawa sebongkah tanah dari sini, lalu ditaruh dalam botol selai bersama biji mangga yang sudah mengering. Tiap kali ia merasa rindu pada Indonesia, aroma tanah itu dihirupnya. Tanah itu dicomotnya dari Tegal, Jawa Tengah, tahun 1950-an. “Saya suka Tegal, karena kesannya Indonesia tulen. Tidak ada Borobudur, tidak ada kesan Jawa, tapi Indonesia biasa sekali. Saya senang di sana,” katanya.

“Saya tidak senang di Jakarta. Sebab, di sana banyak pseudo-intelectual,” katanya. Menurut Salim, mereka yang di mata awam dianggap kaum intelek ternyata cuma intelek-semu alias intelek-palsu. Mereka ternyata lebih suka berburu uang. Itulah sebabnya, katanya, kalau ke Indonesia ia merasa lebih senang bertemu dengan orang di kampung-kampung. “Saya senang bergaul dengan orang biasa. Saya suka orang biasa, karena saya belajar banyak dari orang biasa, di mana-mana. Di Prancis juga,” tuturnya.

“Di KBRI Paris saya senang dengan orang yang bukan diplomat. Yang diplomat ya ada juga, misalnya Hadi Thayeb,” katanya. Lebih jauh diungkapkannya, banyak diplomat Indonesia yang kurang mampu menghayati tugasnya. Dan masih bersikap feodal. “Ada duta besar yang menempatkan dirinya lebih tua dari masyarakat. Lantas tidak pernah datang ke rumah saya. Bukan karena saya susah lalu harus ditengok, melainkan aneh kan kalau tidak mau kenal dengan saya,” kata Salim.

Akan halnya kaum intelektual di Indonesia yang disebutnya sebagai intelektual-semu tadi, menurut Salim, memang mereka itu banyak membaca buku. “Tapi tidak punya kepribadian sendiri. Sedangkan orang kampung, kendati tidak bisa membaca, mereka punya kepribadian sendiri — dan itu penting,” katanya. Dan sebagai mukimin yang sudah berbilang tahun hidup di jantung budaya Barat, Salim punya nasehat berharga: orang Indonesia janganlah begitu saja memamah-biak segala yang datang dari Barat. Nah!

Ed Zoelverdi
Lionmag - edisi Agustus 2008
(The Inflight Magazine of Lion Air)

written by matkodak \\ tags: , , , , , ,

One Response to “Sang Maestro Berusia 100 Tahun”

  1. andre Says:

    Bung Ed, Salim mengirim CD berisi rekaman terima kasih buat panitia pamerannya tgl 2 Sept 2008, Bung Salim menyebutkan nama Bung Ed juga dalam rekaman itu.

    Jangan lupa datang tanggal 2 Sept di Galnas.

    Salam Andre

Leave a Reply