Sebagai warganegara Indonesia, sosok pelukis Salim di Paris terbukti “bukanlah orang biasa”. Di negeri yang punya budaya menghargai manusia, warganegara berulang tahun ke-100 — dan masih hidup, beroleh ucapan “Selamat Ulang Tahun” langsung dari kepala negaranya.
E-MAIL dari Bung Ariffin Dungga, Staf KBRI di Paris, 6 September 2008, berisi foto-foto disertai cerita kecil: “Saya baru saja pulang dari rumah Pak Salim. Tetangganya, M. Galibert, membuat selamatan untuk Pak Salim di halaman masuk apartemen…. Yang datang, Wakil Walikota Neuilly-sur-Seine, Mme. Christine Giraud-Sauver. Ceritanya nanti ya.”
Meski hampir sepanjang umur bermukim di Paris, namun Salim tetap memelihara statusnya sebagai warganegara Indonesia. Nah, sampai petinggi Kota Paris bertamu di hari ulang tahunnya, membuktikan bahwa sosok Salim terbilang “bukan orang biasa” di kota dunia itu. Akan halnya di Indonesia sendiri, untuk merayakan ulang tahun yang langka — saat sang tokoh masih hidup — ini, Galeri Cemara 6 bekerjasama dengan Pusat Kebudayaan Prancis di Jakarta, dan Biro Oktroi Roosseno, meyelenggarakan pameran karya Salim.
Hajatan ini berlangsung di Galeri Nasional Indonesia, Jalan Merdeka Timur, persis di seberang stasiun Gambir. Terbuka untuk umum, 3–14 September 2008. Lukisan yang dipamerkan terdiri atas koleksi Prof. Toeti Heraty, jumlahnya 46 lukisan. Selain milik pendiri Galeri Cemara 6 itu ada lagi koleksi Pia Alisyahbana, dua lukisan. Lalu koleksi Nyonya Mien Soedarpo, satu lukisan. Dan koleksi Salim dari Paris, delapan lukisan. Ditambah tiga lagi, koleksi Alijullah Hasan Yusuf — sehari-hari Staf KBRI Paris
Di ruang pameran, pengunjung dapat pula menyaksikan tayangan video berupa cuplikan perjalanan hidup sang pelukis. Dalam usianya kini, Salim tampak masih tetap berapi-api dalam bicara. Menurut Alijullah, pendengaran Salim masih oke. Cuma mata sedikit mengalami gangguan sebagai bawaan usia lanjut. Karya mutakhir yang dipamerkan, buatan tahun 2004. Sedangkan karya tahun 2006 sudah keburu dibeli orang di sana.
Pada umbul-umbul yang menghiasi barisan pohon palm dan poster yang terpampang di pekarangan gedung pameran, ditampilkan potret Salim. Juga di buku katalog. Judulnya: “Salim/Siapa Salim”. Panitia penyelenggara seakan “kurang pede” menampilkan nama sang pelukis. Boleh jadi khalayak umum belum akrab dengan nama ini. Tapi masyarakat peminat senirupa niscaya mengenalnya. Juga para petinggi republik ini, tentunya. Sehingga agak aneh jika belum pernah mendengar nama pelukis Salim.
Salim lahir di dekat Kota Medan, Sumatera Utara, 3 September 1908. Di dalam katalog ada bagian tulisan yang keliru menyebutnya kelahiran Sumatera Barat. Sejak usia 12 tahun sudah menjejakkan kaki di Benua Eropa, dibawa orang tua angkatnya. Nun jauh di negeri orang sang pelukis pun hidup serta berkembang menjadi pelukis kaliber dunia. Banyak yang kagum terhadap sang maestro. Tapi ada juga yang juling memandangnya, sampai-sampai menuding Salim tidak Indonesia lagi. Atau tak punya nasionalisme lagi.
Di bagian ini menarik kita kutip uraian kritikus senirupa, Trisno Soemardjo (alm) — yang juga pelukis dan penyair. Dalam sebuah pengantar pameran Salim di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, tahun 1970an, Ketua Dewan Kesenian Jakarta itu menyebut Salim adalah salah satu pelukis bangsa kita yang terbesar, serta pantas mendapat kedudukan yang layak di dunia internasional. Ia tak sepakat menuding Salim sudah terlepas dari masyarakat bangsanya. Kata Trisno, tidak seharusnya kita terlalu tegang membagi-bagi lapangan kesenian dalam kotak-kotak nasional-internasional, timur-barat, klasik-moderen, dan sebagainya.
“Kita harus tahu sampai ke mana pagar-pagar itu tak perlu dipasang,” kata Trisno Soemardjo. “Dan akhirnya kehidupan serta pertumbuhan yang hakiki tak mau kenal lagi pagar-pagar itu.” Atau sebagaimana sering disebut para ahli: seni itu bersifat universal. Akan halnya istilah “nasional”, menurut Trisno, kian berbau politis. Sebabtitik beratnya pada urusan rebut-merebut pengkuan kebangsaan, kekuasaan dan soal-soal geografis. Sedangkan latar-belakang kerohanian bagi semuanya ini masih samar-samar.
Karya-karya Salim, menurut Trisno, mencerminkan bahwa Salim adalah satu di antara kita.
Nafas yang dihembuskan Salim adalah nafas kita. Dalam keadaaan demikian, kita sebetulnya hanya dapat berkata dalam hati: inlah kesenian sejati yang kita inginkan. Lain habislah kata-kata di mulut. Tak ubahnya seperti kita terima Raden Saleh, meskipun keduanya mengalami hak berbeda dari kita.
Masih menurut Trisno Soemardjo, pelukis Salim masuk dalam golongan kaum modernis. Istilah “modernis” bukan hanya berarti orang yang hidup zaman sekarang dengan memakai filsafat serta cara-cara lazim kini. Tapi juga mereka harus mempunyai pandangan ke depan, yang mengandung benih bagi perkembangan selanjutnya. Hasil karyanya mengandung daya motoris yang mendorong masyarakat bangsanya ke kemajuan di hari depan. Di bagian ini pelukis Salim merupakan contoh paling sahih.
Menurut Dr. Inda C. Noerhadi dari Galeri Cemara 6, persiapan pameran Salim ini dilakukan sejak setahun lalu. Untuk membuka pameran, hanya Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo yang diminta. Dan Pak Gub memang hadir pada hari pembukaan, sore 2 September 2008. Dengan mengenakan baju koko sempat melihat-lihat pameran, terima cenderamata dari panitia, lalu beliau pamit. Tak ada sepatah dua kata yang disampaikan.
Selain pameran di Jakarta, apakah panitia juga punya agenda mengelilingkan pameran ini ke berbagai kota di Indonesia? “Ada sih keinginan itu,” kata Inda. “Tapi kita belum punya dana.” Rencana selanjutnya, kata Inda, kami ingin menerbitkan buku tentang Salim, yang isinya khusus menelaah lukisan, bukan hanya berupa riwayat hidupnya.
Boleh juga diketahui, di negeri yang budaya menghargai manusia, ada warganegara yang berulang tahun ke-100 – saat masih hidup, beroleh ucapan Selamat Ulang Tahun langsung dari kepala negaranya. Tapi kita tahu, Pak Salim atau Bung Salim, tidak pernah merisaukan urusan semacam ini. Kerisauannya — sebagaimana pernah disebutnya dalam beberapa kali jumpa di Paris, terutama mengenai pengurus negara yang masih mengabaikan kepentingan hajat hidup rakyat.
Terima kasih salam terbaru melalui telepon dengan Bung Alijullah, Jumat sore, 5 September lalu. Selamat ulang tahun, Bung! Senantiasa beroleh berkah Allah swt — sekeluarga, sejahtera lahir batin dan tetap membawa berkah bagi umat manusia serta alam lingkungan, amin ya Rabbul’alamin!
Ed Zoelverdi
September 21st, 2008 at 2:07 pm
Selamat malam Pak,
Setelah baca postinga-an ini akhirnya saya punya koneksi juga ke salah satu kolom yang ada di “Voila”, sejenis buletin yang diterbitkan oleh Centre Culturel Francais (CCF) Jakarta. Padahal, seminggu yang lalu rasanya sudah diceritakan di kelas. he..he…
Satu poin yang masih lekat diingatan saya ketika Bapak bercerita di kelas, dan ternyata ada di artikel ini, yakni bagaimana “memanusiakan” orang lain. Pada taraf ini, saya memaknai bahwa siapa pun yang mampu berlaku dan bersikap seperti itu, dia telah mampu menghargai dirinya sendiri.
Salam,