Innalillahi…., Pelukis Salim… Sarang Bohong Bermula di Ranjang
Nov 04

BUKITTINGGI di Sumatera Barat terkenal sebagai Kota Wisata paling lengkap. Hawanya sejuk, terutama malam hari, merupakan iklim khas yang menimbulkan selera makan. Coba raun-raun masuk pasar, kita dapat menjumpai beragam makanan berat atau ringan. Sehingga Bukitinggi bisa disebut bagaikan “surga selera”. Namun cerita kali ini bukan tentang “wisata kuliner”, melainkan urusan agak jauh di bawah perut: perlengkapan kaki alias sepatu.
  
“Urang awak” yang pernah tinggal di Bukittinggi dan kota atau kampung sekitarnya sampai tahun 1960an — lalu selebihnya hidup di rantau, niscaya punya memori khas dengan Toko Sepatu Yap Yek. Sampai kini lokasinya masih di Jalan Janjang Minang 6. Cara membuat sepatunya juga sama: tetap menggunakan teknologi tertua dalam riwayat industri sepatu, masih mengandalkan “kerajinan tangan”.

Menarik pula dicatat, usia toko sepatu ini pun terbilang tua sudah. Yap Yek didirikan tahun 1928 oleh Lo Tjun — perantau asal Guangzhou, Negeri Cina, ahli bikin sepatu setelah mempelajarinya tahun 1919–1927. Dan sejak 1966 sampai sekarang, menurut Arief Samalo, roda usaha dipimpin oleh Djunaidi Susilo, 70 tahun, yang merupakan generasi ketiga. Arief berusia 50an, adalah penanggung jawab produksi.

Bahan utama berupa kulit sapi halus, menurut Arief, didatangkan dari Jawa. Bukan berarti di Sumatera Barat tak ada sapi. Ada, tentunya, cuma kulitnya telanjur dibikin kerupuk. Begitulah guyonan ala warung kopi. Kenyataan sebenarnya di daerah ini belum ada industri pengolah kulit sapi untuk bahan baku sepatu.

Kini di dapur Yap Yek ada delapan orang yang bekerja. Sepasang sepatu dikerjakan oleh dua orang, masing-masing dengan spesialisasi: membuat bagian atas, dan mengurus bagian bawah. Total tempo merampungkannya dua hari, 12 jam di antaranya untuk proses pengeringan di cetakan. Dengan cara alamiah itu dijamin mutu serta daya tahan sepatu, sekaligus membawa kenyamanan bagi pemakainya. Harga berkisar dari puluhan ribu sampai Rp 300.000-an.

Pembeli sepatu “Made in Bukittinggi” ini bukan hanya penduduk lokal. Atau cuma “urang Minang” yang lama di rantau dan rindu lagi sepatu Yak Yek. Tapi banyak juga wisatawan asing, bahkan ada yang sengaja ke Bukittinggi khusus belanja sepatu atau sandal di sini.  Jika model yang tersedia belum cocok, silakan pesan model sesuai yang disukai. Dalam tempo seminggu, sepatu akan dikirim via kurir ke alamat pemesan.

Di tengah era industri serupa yang serba komputer dewasa ini, Yap Yek tetap punya pamor dengan sepatu “hand made”. Hebat! Di bagian ini boleh kita kutip komentar kalangan industri di Swiss: konsumen yang mengutamakan mutu akan mencari produk bermutu pula. Konsumen senang, produsen pun senang. Ini cocok dengan nama “Yap Yek” yang artinya: “senang sama senang.”

Ed Zoelverdi

Lionmag – the inflight magazine of Lion Air, Oktober 2008.

written by matkodak

Leave a Reply