Riwayat Sepatu Senang Sama Senang Serba-serbi Ibu Era Globalisasi
Nov 12

AMANDA tengah sibuk bikin skripsi. Mungkin sedang macet atau memang lagi sepet bin mumet, dia lalu buka e-mailnya — dan terkesiap. Bagai orang baru siuman dari pingsan alias koma yang panjang, Amanda pun memulung sebuah e-mail lalu meneruskan kepada kawan-kawannya. Judulnya: “Ternyata kita sudah dibohongi sejak bayi…”

Bohong, kebohongan atau pembohongan dalam perilaku sehari-hari, boleh dibilang jenis penyakit yang celakanya ditularkan secara turun-temurun. Ini contoh kecil awal kebohongan yang dijejalkan bagai menu harian pada anak — bahkan semenjak masih bayi. Ingat, lagu “Nina bobo … oh nina bobo… kalau tidak bobo digigit nyamuk…”

Aha! Inilah ajaran berbohong paling dini. Sebab nyamuk suka-cita menggigit bukan waktu orang belum tidur, melainkan justru saat kita tertidur pulas. Senandung untuk menidurkan bayi itu kian lengkap menularkan naluri negatif, karena si bayi diajak tidur tapi sarat dengan bumbu ancaman. Dan ketika usianya sekitar dua tahun, untuk meredakan rengeknya di tengah malam si bocah pun diancam : “Cup…cup.., kalau nggak bobo …ntar ada maling ….”

Masuk umur tiga tahun, si bocah imut lasak berlari-lari dan jatuh terpeleset di lantai. Supaya tangisnya tidak menjadi-jadi, maka anak itu dipeluk seraya ditanya: “Siapa yang nakal? Ubinnya ya….” — lalu, plak-plok … lantai ditepuk. Sadar atau tidak, inilah cikal-bakal perilaku si anak kelak selalu mencari-cari kesalahan di luar dirinya alias tidak bertanggung-jawab!

Mengajar anak supaya tampil gagah, ya sah saja. Itu misalnya yang ingin ditampilkan melalui lagu : “Aku seorang kapiten… mempunyai pedang panjang … kalau berjalan prok..prok..prok.., aku seorang kapiten!” Silakan baca lagi baik-baik: bait pertama cerita tentang pedang, tapi di bait kedua cerita jadi mengganjil, karena urusan beralih ke sepatu. Jika ingin cerita tentang sepatu maka nyanyian yang cocok ialah : “… mempunyai sepatu baja (bukan pedang panjang) … kalau berjalan prok..prok..prok..” — nah, itu baru klop!

Tapi kalau maunya cerita tentang kehebatan pedang, si anak harus bernyanyi : “mempunyai pedang panjang… kalau berjalan ndul..gundal..gandul.. (atau srek.. srek.. srek..)”. Itu baru ada kaitannya dengan si pedang panjang.

Soal konsistensi terbilang penting dalam sikap hidup sehari-hari. Lalu, dengar pula lagu “Balonku ada lima … rupa-rupa warnanya … merah, kuning, kelabu.., merah muda dan biru … meletus balon hijau, dorrrr!!!” Nah, coba perhatikan lagi warna-warna kelima balon tersebut. Kok bisa tiba-tiba terselip warna hijau? Kalau begitu, balonnya bukan lima tapi enam.

Untuk terbiasa membantu ibu di rumah, bocah pun diajar menyanyi : “Bangun tidur ku terus mandi … tidak lupa menggosok gigi … habis mandi ku tolong ibu … membersihkan tempat tidurku..”
Ha?! Sehabis mandi si anak pantas-pantasnya pakai baju dulu, dan tidak langsung membersihkan tempat tidur dalam kondisi basah dan telanjang! Lagu ini kelak membuat anak-anak tidak terlatih secara baik dalam menyelesaikan tugas, dan selalu terburu-buru.

“Naik-naik ke puncak gunung … tinggi … tinggi sekali … kiri kanan kulihat saja … banyak pohon cemara …” Lagu ini dapat membuat anak kehilangan konsentrasi, semangat dan motivasi. Pada awal lagu terkesan semangat akan mendaki gunung yang tinggi. Tapi kemudian ternyata setelah melihat jalanan yang tajam mendaki lalu jadi bingung, dan tak tahu mau berbuat apa, kecuali sekadar tolah-toleh kiri kanan saja alias nggak maju-maju!

Senandung lain yang juga bisa menyesatkan dan tidak mengajarkan anak tentang realita yang sebenarnya. tercermin pada lagu ini: “Di pucuk pohon cempaka … burung kutilang bernyanyi … bersiul-siul sepanjang hari dengan tak jemu-jemu … mengangguk-angguk sambil bernyanyi tri lili …li..li..li..li..” Burung kutilang menyanyi bunyinya kan cuit..cuit..cuit! Sedangkan “tri li li li li” itu pasti bukan kicauan kutilang, tapi bunyi suara orang. Ingat, acara lagu anak-anak dengan presenter Agnes Monica, waktu dia masih imut, adalah Tralala-trilili…*

“Bintang kecil di langit yang biru…” (Lha, bintang kan adanya malam. Mana ada langit biru di waktu malam?) ….. “Cangkul-cangkul, cangkul yang dalam, menanam jagung di kebun kita…”
(Kalau mau tanam jagung, mencangkul tak perlu dalam-dalam …. kecuali memang mau bikin sumur).

Masih seputar lagu anak-anak: “Pok ami-ami.. belalang kupu-kupu.. siang makan nasi, kalo malam minum susu…” Wah, ini jelas bukan konsumsi anak-anak. Tapi lebih cocok untuk kuis yang kehabisan bahan: hewan apa yang paling sehat di dunia? Pasti jawabnya: belalang dan kupu-kupu, karena pagi makan nasi malam minum susu…….

Banyak lagi sebenarnya contoh yang dikirim Amanda. Tapi kita persingkat sampai di sini saja.

Ed Zoelverdi
Lionmag — the inflight magazine of Lion Air, edisi November 2008.

written by matkodak \\ tags:

7 Responses to “Sarang Bohong Bermula di Ranjang”

  1. windede Says:

    mantap… bisa jadi bahan renungan nih, keburukan macam apa saja yang lekat dalam laku kita sehari-hari, yang ternyata memang bermula dari lagu-lagu kekanak penuh salah kaprah ini… hehe….

    makasih

  2. IWAN Says:

    ok juga tu buat pelajaran kita semua … hhaa hhii

  3. amanda itu lho... Says:

    pak ed.
    huahuahua… huihuihui… hehehe=))
    alhamdulillah saya nyusun skripsi,,hihihi…=p

    asiiiik,,nama saya disebut2… (apa coba?). sekarang saya mo numpang nampang di sini aaah,,hehehe=)

    yang lucu lagi dari lagu2 itu… sebagian besar dari kita menerima begitu saja lagu dan mitos-mitos, entah karena kurang kritis, atau karena sudah begitu mendarah daging sehingga orang2 mikirnya, “ya udahlah ya,,terima aja,,toh semua orang dari dulu juga bilangnya gitu… ngapain juga dipikirin…”

    gimana tuh pak?

    – Halo Amanda, ternyata boleh juga jadi pikiran ente, neng, sebab ada kekeliruan mengutip lagu-lagu itu, seperti diingatkan kawan kita Alekmuhibat dan Nathan, silakan simak * Ed.

  4. fakur Says:

    Pak, artikel yang bagus…
    minta ijin copy paste yah pak..

    — Terimakasih, Fakur. silakan!

  5. alekmuhibat Says:

    Asyik pak baca tulisannya, buat pelajaran bagi kita semua

    Tapi, lagu bintang kecil itu pak, yang benar bukannya “di langit yang biru”, tapi ..”di langit yang tinggi” kalau lagu “pelangi” baru..di langit yang biru”

    ——- Trims buat koreksinya, sekaligus catatan buat Amanda * Ed

  6. Nathan Says:

    Kl blh koreksi, lagu balonku bkn “merah kuning kelabu” tapi yg bnr “hijau kuning kelabu”.
    Jd bnr khan ada lima n rupa2 warnanya

    — Koreksi anda saya teruskan buat Amanda, trims * Ed.

  7. arie krim 04 Says:

    hmm…pas bener nh…saya punya adik kecil, umurnya 2 bulan…artikel ini bisa dijadikan tuntunan orang tua saya agar bayi kecil mereka bisa memulai hidupnya jauh dari kebohongan..hehehe
    makasi bang ed..

    –kapan ngopi lagi ditakor, hehehe..-

Leave a Reply