SEORANG pemuda menyusuri lorong-lorong etalase di supermarket, merasa diikuti oleh seorang wanita setengah tua. Yakin tak ada yang perlu dicurigai, setelah memilih belanjaan, dia lalu menuju kasir. Perlu antre, eh pas di depannya adalah wanita tadi.
“Pardon me,” kata wanita itu setengah berbisik, “Maaf kalau pandanganku bikin kau risih, anak muda. Itu tak lain karena wajahmu mirip sekali dengan anakku yang sudah lama menghilang.”
“Wah, sayang sekali,” sahut si anak muda. “Mungkin ada sesuatu yang bisa saya bantu?”
“Yes,” sambut wanita itu, “cuma hal kecil, begitu aku selesai di kasir nanti bilang saja ‘good bye, Mom!’. Itu cukup membahagiakanku.”
“Sure,” jawab si anak muda. Maka begitu wanita itu meninggalkan kasir, dia pun bilang: “Good bye, Mom!” Kasir mendengarnya juga.
Tiba giliran di depan kasir, anak muda itu kaget melihat total yang harus dibayarnya mencapai Rp 1 juta lebih. “Wah, kok mahal sekali? Aku cuma beli sereal, permen dan biskuit…”
“Ya, tadi ibu anda bilang semua belanjaannya anda yang bayar,” jawab kasir.
* * *
SEBUTLAH wanita tadi bernama Aya, tapi manusia berperilaku “buaya” itu tak otomatis mewakili kelamin tertentu. Usut punya usut, Bu Aya menjadi “buaya” lantaran suaminya yang pernah jadi koruptor, kini bangkrut-krut setelah semua hartanya disita negara. Di bagian ini boleh dicatat, wabah korupsi bersimaharajalela, sebagian besar lantaran ada wanita di belakang sang koruptor.
Jangankan ada selingkuhan, sedangkan di rumah saja “virus buaya” mudah berbiak hanya oleh rengekan kecil si mami: “Papi gimana, sih? Jeng Anu yang suaminya lebih rendah pangkatnya dari papi kok bisa beli berlian segede jagung…” Walhasil, sang papi pun putar otak bikin akal-akalan memelintir anggaran di kantornya.
Jika cuplikan fakta kecil ini dibalik, maka yang mampu menghentikan perilaku “buaya” di kalangan pengurus negara ya kaum wanita, ya para Ibu di tiap rumah tangga. Ingat, dalam ajaran Islam jelas dan tegas disebutkan bahwa “perempuan adalah tiang negara.”
* * *
PARA mami yang sadar atau tidak telah mendorong suami mereka terperosok masuk bui gara-gara korupsi, bukannya tidak pernah tahu ajaran agama. Mereka bahkan rajin bikin giliran pengajian, dan untuk itu mereka membayar. Nah, di tengah era globalisasi yang serba komersial ini, maka berlaku pula hukum jual-beli dalam urusan agama.
Apa itu? Merasa sering bayar mahal untuk memanggil pembicara, dalam paham si mami sama seperti beli barang: “gue udah bayar, urusan dipakai atau tidak ya terserah gue, dong.” Begitulah kenyataannya. Papi sering pulang telat, karena sehabis jam kantor sibuk miting (//meeting,/ maksudnya). Mami pun tak kalah sibuknya. Kalau bukan belanja di mal, ya pergi arisan. Apa lagi punya mobil dan bisa setir sendiri, bikin si mami kian rajin nglencer ke luar rumah.
Urusan anak? Ah, kan ada orang yang bisa digaji buat menjaganya. Mami mengurus anak sepanjang hari di rumah, itu mah kuno! Bayar saja orang menjaganya, beres! Begitulah, katanya, gaya hidup kalau mau disebut ibu era globalisasi…
Sampai kini, belum ada sekolah yang mengeluarkan diploma untuk menjadi Ibu gaya lokal — apa lagi gaya global, maka ketika lahir anak pertama si mami langsung menyewa penjaga bayi alias baby sitter — yang sering dilafalkan olah nyonya gedongan juga sebagai baby sister. Nah, saat pertama kali meninggalkan bayinya dengan baby sitter, tiap hari si mami menelepon ke rumah sampai lima kali.
Dan sepulang ke rumah, si mami pun menyediakan waktu yang cukup buat menatap bayi tiap hari. Lahir anak kedua. Beberapa langkah setelah ke luar pintu rumah, si mami baru ingat meninggalkan nomor telepon yang bisa dikontak baby sitter. Begitu pulang, si mami justru memberi sedikit perhatian pada si sulung, untuk yakin bahwa dia tidak mencubit atau menyakiti si adik.
Giliran lahir anak ketiga. Tiba waktunya ke luar rumah, si mami pun meninggalkan instruksi buat baby sitter untuk menelepon hanya jika si bayi tampak berdarah. Hari-hari selanjutnya, ketika berada di rumah si mami justru merasa perlu sedikit waktu tiap hari untuk sembunyi dari anak-anak……..
* * *
LAIN lagi cerita empat ibu muda, yang juga ketularan gaya global: menjalani terapi kelompok pada seorang psikiter. Masing-masing bawa anak yang masih kecil.
“Kalian semua punya obsesi,” kata sang psikiater. Dan kepada ibu pertama, Amanda, dia bilang: “Anda terobsesi untuk menyantap begitu banyak yang manis-manis dan makanan cepat saji. Sampai-sampai anakmu diberi nama Candy.”
Lalu ia menoleh pada ibu kedua, Fanny, dan mengatakan: “Obsesi anda berkaitan dengan uang, Fan. Buktinya, itu tercermin pada nama anakmu, Penny.”
Giliran ibu ketiga, Mimin, dia bilang: “Obsesimu kentara sekali adalah jadi pedagang. Lagi-lagi, tampak pada pilihan nama anakmu, Untung.”
Sampai di sini, ibu ke-4, Nuri, diam-diam memegang tangan anaknya lalu berbisik: ” … Hayo, Dewan, kita pulang saja! Adikmu, si Caleg, kelamaan cuma ditemani anak tetangga di rumah!”
Ed Zoelverdi
Lionmag — the inflight magazine of Lion Air, edisi Desember 2008.
February 19th, 2009 at 9:07 am
aduh,,pak…
ibu pertama dan kedua kayaknya anak KOM tuh pak… (saya salah satunya)
yang ketiga itu… inspirasi namanya… dari mana pak? hehehe =p