Serba-serbi Ibu Era Globalisasi Dekat Pensiun Tuan Hakim Stres Beruntun
Jan 07

MAT GAWAT terkekeh sendiri membaca sms di ponselnya. “Udah lewat seminggu, masih ada juga yang kirim met taon baru,” komentarnya.

“Maklum, kan baru aja libur panjang. Bangsa ente paling doyan libur berkepanjangan, apa itu dianggap lucu?”

“Bagian itu sih bukan untuk diketawain, tapi justru bikin prihatin. Sama kayak temanku ini. Dia baru saja pensiun, ulang tahun pas 1 Januari.”

“Lalu, apa yang kocak dari sms dia?”

“Dia kirim sms bukan sekadar pesan pendek, tapi panjang buanget — sampai lima tahap. Ini aku kutip sedikit: … sekarang lebih banyak di rumah  jadi MC.”

“Wah, hebat! Jadi MC nggak bakal menganggur dia.”

“Tunggu dulu, Bung. MC yang dia maksud singkatan momong-cucu. Dalam usia pensiun, dia bilang, lebih asyik ngobrol dengan cucu daripada dengan anak. Rupanya siklus umurnya sudah kembali ke tingkat bocah.”

“Eh, jangan buru-buru menyimpulkan begitu, dong. Terus, apa lagi dia bilang?”

“Nih, …dulu di rumah semerbak aroma minyak wangi, sekarang lebih sering bau minyak angin. Dalam apa yang dia sebut ‘pancaciri pria jadi tua’ ini dia tulis: … dulu 7x seminggu, kini 7 minggu 1x… Yang lain nggak usah dibaca deh, kayak orang jompo dia…”

“Kasihan. Biar simpul syaraf di otaknya nggak telanjur kendor atau putus, coba kau ajak sang kawan berhitung: 1 tahun itu 12 bulan, atau sama dengan 52 minggu, atau 365 hari, atau 8,760 jam, atau 525.600 menit, atau 315.360.000 detik.”

“Yah, aku ingat kau pernah bilang Tuhan Maha Adil menyediakan waktu yang sama merata untuk semua makhlukNya. Lalu, untuk apa saja detik demi detik itu diisi dalam menjalani hidup ini?”

“Paham, ente. Itu sekaligus memperjelas beda ‘tua-muda’ bukan dari seberapa banyak orang pernah menghabiskan kalender dinding. Atau seperti diingatkan Jendral Besar Douglas McArthur (1880-1964): Masa muda bukanlah cuma sekeping waktu dalam hidup, tapi menyangkut ’state of mind’ alias jalan pikiran. Tak seorang pun menjadi tua hanya berdasarkan hitungan tahun yang dilewatinya.”

Satu lagi kutipan berharga, dari Hendry Ford (1863-1947): “Siapa saja yang berhenti belajar adalah tua! Tak peduli usiamu kini 20 atau 80 tahun.”

“Iya, yah. Begitu semangat belajar sudah nggak ada, usia tua tidak pernah membuat orang jadi dewasa. Ini sama saja kayak unta di Arab. Saban musim haji dia bawa orang ke Padang Arafah. Jangankan jadi haji, jadi Arab pun dia tidak. Tetap saja dia unta, sampai akhir hayatnya.” 

“Begitulah jadinya jika menjadi tua hanya sekadar menghabiskan detik demi detik, tanpa mampu menghayati pengalaman sebagai guru terbaik dalam kehidupan.”

Masih kata McArthur pula: “Di lubuk hati yang terdalam ada sebuah ruang rekaman. Selama dia menerima pesan tentang keindahan, harapan, kegembiraan, dan keberanian, itulah tandanya kau muda. Ketika dawai-dawainya mengendur dan hati kita diselimuti salju pesimisme serta batu-es sinisme, ya itulah tandanya kau menjadi tua.”

“Setuju! Itu sebabnya tiap kali orang tanya umurku, selalu aku bilang aku berhenti ulang tahun umur 30…”

“Boleh saja di mulut kau bilang begitu, tapi cocok apa tidak dengan perilaku atau sikap hidup kau sehari-hari?”

Singkat cerita, pada hitungan tahun ke berapa mau ulang tahun, silakan. Mau bertahun-baru pakai patokan tahun Masehi, oke. Tahun Hijri pun sah. Tahun Imlek atau mau ukuran Tahun Saka, monggo. Semuanya dituliskan dalam bentuk angka — yang pada gilirannya mengisyaratkan simbol “sang waktu”.

Memang, orang merasa sudah bangun jam 05:00, misalnya. Tapi apakah dia sungguh-sungguh sadar atau siuman dari lelap yang panjang? Bola mata mungkin nyalang — sampai melotot, namun bangun secara fisik belum seluruhnya dibarengi dengan bangun secara sukmawi. 

Akibatnya sangat fatal. Lantaran orang cuma bangun secara fisik, sedangkan “mata batin”nya tak kunjung siuman, maka dia pun mirip orang “ngelindur” alias jalan sambil tidur. Gampang jadi beringas. Atau bikin kesalahan yang sama berulang-ulang. Walhasil, orang tak pernah mampu memetik pelajaran atawa hikmah dari pengalaman sehari-hari…….

20:09, time to wake up! Bangun! Ingat bait dalam lagu “Indonesia Raya” …Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya… Justru jiwa lebih dulu harus bangun. Sekarang 20:09. Dibaca dalam gaya obrolan sehari-hari, maka bunyinya: sudah jam delapan malam lewat sembilan menit, hoooy…!!! Mau bangun betulan jam berapa, sih?

Ed Zoelverdi
Lionmag — the inflight magazine of Lion Air, edisi Januari 2009.

written by matkodak \\ tags: , ,

One Response to “20:09 — TIME TO WAKE UP!”

  1. muride bang ed Says:

    speechless…
    ketampar gue…

Leave a Reply