20:09 — TIME TO WAKE UP! Tikus & 10 Rahasia Kebo
Jan 14

TUAN Hakim frustrasi berat — dan lumayan stres — belakangan ini, katanya, bukan lantaran harus pensiun. Tapi gara-gara kejadian kurang sedap yang dialaminya justru menjelang hari-hari terakhir dalam karirnya. Coba saja simak. 
 
Ketika menyidangkan seorang koruptor, Tuan Hakim sampai berkali-kali menegur terdakwa: “Saudara terdakwa tahu hukumannya kalau berbohong?”

Sekian kali sebelumnya ditegur, terdakwa cuma membisu. Tapi sekali ini si koruptor manjawab: “Tahu dan paham sekali, Tuan Hakim. Hukuman bohong kan lebih ringan daripada hukuman untuk koruptor.”

Dapat jawaban itu, Tuan Hakim melotot lalu berkata: “Baikkah, kalau begitu saudara divonis tambahan, selain untuk kasus korupsi juga untuk bohongnya.”

Mendengar ucapan Tuan Hakim, sang pengacara cepat berdiri dan protes. “Yang Mulia!” serunya. “Sidang ini mengenai kasus korupsi. Kalau urusan bohong mau diadili juga, kami mohon untuk digelar tersendiri. Ingat, Yang Mulia, seperti kata Edmun Burke, hukum yang buruk itu jenis terburuk dari tirani”.

* * *

KEMUDIAN pada hari lain, Tuan Hakim begitu jengkel dengan argumentasi berbelit-belit dari seorang pengacara, dan diulang-ulang pula. Bukan hanya membosankan, tapi jadwal sidang pun bagai berketiak ular alias jadi berlarut-larut tak keruan. Dan suasana pun tegang. 

Akhirnya, frustrasi buanget dengan argumentasi yang dimamah-biak atawa diulang-ulang oleh si pengacara, Tuan Hakim lalu menunjuk telinganya dan berkata: “Saudara pengacara, harap perhatikan ini, apa pun yang saudara katakan cuma bakal masuk kuping kiri, dan keluar di kuping kanan.”

“Yang Mulia,” sahut si pengacara, — “Apakah di antara dua kuping itu memang tidak ada yang melindungi?”

* * *

PULANG dari sidang pengadilan dengan beban frustrasi dan stres campur aduk, setiba di rumah Tuan Hakim malahan tak bisa segera istirahat. Baru masuk ruang tamu, Tuan Hakim berpapasan dengan sidang lain lagi. Istrinya sedang riuh mencerca si Inem — yang sudah 10 tahun lebih jadi babu mereka.

“Ada apa, sih, kok meriah amat?” tanya Tuan Hakim, sambil menyuruh si Inem pindah duduk di kursi, dan tidak bersimpuh terus di lantai.

Masih dengan wajah kemerahan — dan telunjuk masih menuding si Inem, istrinya mengadu: “Papih! Mosok mamih punya CD hilang sampai tiga…”

“Urusan CD aja, kok sampai sewot sama Inem, sih?” jawab Tuan Hakim. “Cari aja di rak buku itu.”

Si mamih agak gregetan lalu mendekat berbisik: “Iih, papih nggak mudeng, ya? CD itu singkatan celana dalam…”

“Oalah! Mamih udah ketularan orang pendek lidah, ya, doyan singkatan-singkatan. Nah, kalau urusan CD yang itu, kenapa harus lapor papih juga?”

“Ah, papih, begitu, sih. Itu kan bakal mamih peragakan pada peringatan kawin emas kita…”

“Ya, sudah. Tanya saja sama Inem, dah,” jawab si papih sambil melangkah, tapi ditahan oleh istrinya.

“Tunggu dulu, papih. Hayo, Inem, kamu yang curi celana dalamku, kan? Mumpung ada tuan, kamu mengaku aja, deh,” ujar sang nyonya. Si Inem yang sejak tadi cuma menunduk, lalu mengangkat mukanya dengan mata terbelalak — dan kemudian menunduk lagi.

Tuh, kan? Papih lihat, dia nggak berani jawab, artinya betul dia yang curi…”
 
Sang babu akhirnya memompa nyali, sampai akhirnya mampu buka suara: “Saya berani sumpah, nyonya. Tuan tau banget saya nggak pernah pake celana dalam, kok…”

written by matkodak \\ tags:

One Response to “Dekat Pensiun Tuan Hakim Stres Beruntun”

  1. Ali Says:

    hihihi… kirain tuh CDnya Nyonya hakim dipake pak hakim yang stress… wekekekeke….

Leave a Reply