SEKAWANAN kerbau sedang leha-leha berendam di lumpur. Ada kubangan kerbau di kota, kok heran? Kan ada kota yang sudah dibikin megah, belakangan ini bersalin rupa jadi “kolam renang terbesar” di dunia. Nah, sejenak genangan itu surut, ya jadilah ada kubangan tempat kerbau berkumpul. Begitu asyik bercengkerama, sampai mereka tidak mendengar ada yang memanggil-manggil dari pinggir kubangan.
Suara itu berasal dari seekor tikus yang sejak tadi bersorak, sembari tertatih-tatih mengitari tepi kubangan. Si tikus akhirnya menemukan megaphone alias alat pembesar suara untuk berteriak. “Hoooi…, kawanan kebo!” serunya. Seekor kerbau yang agak dekat pinggiran, mendengar dan menoleh. “Eh, kamu, Tik…, ada apa teriak pakai pengeras suara segala?”
“Coba dengar, Bo, aku perintahkan kalian segera keluar dari lumpur ini, cepat!” ujar si tikus.
Perintah tikus cuma disambut gelak-tawa para kerbau, sehingga tikus makin penasaran. “Aku serius, Bo! Kalian harus cepat ke luar dari lumpur! Kalau tidak, aku akan siarkan 10 rahaisa kebo ke seluruh dunia.”
“He..he..he..,” kawanan kerbau terbahak. “Paling banter kamu cuma mau bilang, kaum kami dungu, seperti sering orang menyebut ‘kayak kebo dicucuk idung’ .. itu sih kuno!”
Tikus segera menimpali : “Yang itu memang rahasia nomor 1. Masih ada sembilan lagi.”
“Ah, kami juga tau. Kamu mau bilang lagi, tabiat kebo biar tanduk berlepotan asal sungu bisa makan.”
“Nah, itu baru nomor dua. Masih ada delapan lagi. Dan asal tau saja, kalian ini bawa sial buat manusia, Bo!”
“Ah, kayaknya tebulak-tebalik tuh cerita, Kus. Kamu justru yang bikin manusia sial!”
“Eh, masih belum bergerak ke luar kubangan? Oke, nih, aku bacakan lagi ..,” kata tikus, sambil mengeluarkan sebuah buku kecil dan mulai membaca: “Nomor 3, manusia yang berbuat mesum dijuluki ‘kumpul kebo’… ya, kan?”
“Wah! Itu kan cuma pintar-pintarnya lembaga survei yang bikin kesimpulan. Bukti di lapangan, kamu lihat sendiri… kebo kumpul-kumpul nggak pernah berbuat selingkuh kok…”
“Hei, jangan potong dulu, Bo! Ada lagi survei yang membuktikan kebo juga terbukti merupakan cikal-bakal segala yang jelek pada manusia. Coba lihat orang yang rambutnya rontok, namanya : kebotakan…. Lantas ada yang kemalingan, nama kamu lagi yang disebut: kebobolan atawa kebongkaran…”
Si tikus tak memberi kesempatan kawanan kerbau interupsi, dia menyerocos terus. “Orang doyan foya-foya, namanya keborosan… Salah pilih orang dalam pemilihan umum, namanya kebodohan…. Ada lagi bukti sahih buanget, betapa kebo merusak masyarakat — dan bahkan satu negara…”
Sampai di sini, kawanan kerbau sempat melotot, hingga tikus jadi cekikikan. “Hi..hi..hi, mau contoh lagi? Ini dia: korupsi merajalela erat kaitannya dengan “kebo”, ya “kebo”brokan mental, ya “kebo”coran uang rakyat, ya “kebo”hongan publik dari para penyelenggara negara…”
“Busyet kau, Tikus!” seru kawanan kerbau, tanpa tanda mau keluar dari kubangan. Namun akhirnya mereka sebal juga dengar ocehan si tikus, campur aduk jengkel, kesel, mangkel, sampai akhirnya bos kerbau berkata: “Sudah, sudah, oke, stop, stop! Sekarang kami ke luar dari lumpur…”
Setelah semua sampai di pinggir kubangan, Bos Kebo lalu bilang: “Kami kagum juga dengan ‘kebo’lehan kamu … sekalipun ‘kebo’sanan… tapi, ngomong-ngomong apa sih yang bikin kamu begitu kebelet minta kami semua ke luar dari kubangan?”
Si tikus lalu menatap satu persatu kebo yang bergelimang luluk alias lumpur itu, lalu katanya: “Ah, nggak ada urusan penting amat, sih. Kota kita kan jadi kolam renang terbesar di dunia, jadi aku cuma kepingin tau apa kalian ada yang memakai celana renangku ….”
Ed Zoelverdi
* Lionmag - the inflight magazine of Lion Air, edisi Februari 2009.
February 9th, 2009 at 7:36 am
Bukan main..
tetap mantap
dan lucu abizzz
– Oalaah, Dul! Dari mane aje ente … ape lagi sibuk jadi caleg juga, yak…. * Ed