Tikus & 10 Rahasia Kebo Nepotisme, Memangnya Kenapa …
Feb 24

RIBUAN tamu yang menghadiri pesta pernikahan Jack dan Jacky, sepakat mengomentari bahwa pasangan mempelai sungguh dua anak manusia yang saling mencintai. Jack seorang arsitek yang sukses, sementara Jacky sedang naik daun sebagai ahli hukum. Menjelang bulan kedua perkawinan mereka, Jacky pun merasa tepat waktunya menyampaikan semacam prinsip hidup berumah tangga yang aman secara hukum.

“Darling,” bisiknya, pada suatu malam menjelang tidur. “Aku ingin sekali pernikahakn kita ini langgeng.”

“Hm? Ya, dong, sayang,” sahut Jack yang mulai lelap-lelap ayam. “Bukan sekadar sampai nenek dan kakek, tapi sampai akhir hayat…”

Jacky lalu menjawil Jack untuk bangun. “Kalau begitu, mari kita bicarakan…”

“Hoooaah…,” Jack menguap lebar, lalu berkata: “Sayang, apanya, sih, yang mau dibicarakan? Kita jalani saja, oke?”

Jacky yang sudah duduk bersimpuh di ranjang, dengan suara manja menyahut: “Aku setuju sekali kita jalani aja hidup ini, darling. Tapi kan sebaiknya ada landasan hukum yang jelas. Jadi, enak sama enak buat kita…”

“Maksudnya, apa sih, yang?” Jack bertanya, sembari masih tiduran, tapi matanya sudah nyalang kembali.

“Begini, darling. Aku mau kita benar-benar saling terbuka…”

Mendengar ucapan istrinya, Jack terkekeh. Sampai wajah Jacky memerah, lalu cepat dia bilang sambil mencubit pipi Jack: “Iiih.., mau dengar, nggak?

“Oke, oke, lanjut,” kata Jack.

Jacky lalu mengambil blocknote dari meja kecil di samping tempat tidur. Melihat itu, Jack agak heran. “Lho! Buat apa itu pakai komputer segala?” dia bertanya.

“Biar urusannya tidak habis cuma sekadar bicara,” jawab Jacky. “Begini. Mulai malam ini kita catat hal-hal yang kurang kita sukai dari pasangan kita. Itu kemudian dibahas agar ada perubahan ke arah yang positif.”

Jack setuju, termasuk menyatakan tak bakal tersinggung jika istrinya bikin catatan negatif tentang dirinya. Jacky dapat giliran pertama menulis. Agak panjang dia menulis, sampai-sampai Jack ketiduran.

Mereka terbangun agak kesiangan, maklum, hari libur. Tiba waktu sarapan, Jacky enyodorkan blocknote itu untuk dibaca oleh suaminya. Jack malah kembali menyorongkan benda itu pada si istri. “Kamu sajalah yang bacakan, yang. Agak keras juga boleh,” katanya.

Jacky pun mulai membacakan satu-persatu hal yang tidak dia sukai dari Jack. Begitu rinci. Dan tiap kali membaca, Jacky memainkan bola mata ke arah sang sumi. Baru bagian ketiga dia baca, dia melihat mata Jack berlinang dan sedikit terisak.

Sorry, darling. Apakah aku harus stop membaca lanjutannya?” Jacky bertanya.

“Oh no, no!” jawab Jack.

Begitulah, si istri membacakan semua yang ditulisnya. Ada 17 pasal semua, yang merupakan hal serba negatif tentang sang suami. “Nah, sekarang kita gantian, darling,” kata Jacky, sambil menyerahkan blocknote ke tangan si suami. “Silakan tulis apa pun yang kamu anggap buruk dari diriku ini.”

Jack menerima komputer imut itu. Selesai menulis, blocknote itu dikembalikannya pada Jacky. Dengan rasa ingin tahu yang berkibar, Jacky membaca catatan Jack. Dan tak terbendung lagi, dia menangis sesenggukan. Wah, gawat! Apa gerangan yang ditulis Jack?

Mari kita intip. Pas di bawah catatan si istri, Jack menulis: “Sayangku, kamu cantik dan smart. Aku tulus menyimpulkan kamu adalah perempuan terbaik yang dianugerahkan Tuhan sehingga kehidupanku menjadi amat indah. Nenenku bilang, jodoh itu tulen karunia Tuhan Mahapencipta Alam Semesta. Tapi cerai itu tulen urusan manusia. Kita berpasangan ibarat tangan kiri dan tangan kanan. Dua tangan itu mencerminkan keutuhan kita sebagai manusia.”

Anita yang kirim cerita ini via email, lalu sedikit kasi wejangan: rumah tangga bahagia ketika pasangan suami istri mampu menemukan hal-hal indah pada diri masing-masing. Dan bukannya malahan sibuk saling melukai atau mengorek-ngorek bekas luka yang mungkin pernah ada.

written by matkodak \\ tags: , , ,

One Response to “Kawin Itu Jodoh, Cerai Itu Pilihan”

  1. ari Says:

    wuidih, ini indah sekali ya
    salut salut

Leave a Reply