“Negeri Serumpun” punya bisnis serupa tetap berdampingan secara damai dan maju untuk makmur bersama. Teknologi mutakhir multimeda mungkin jadi sebagian solusi carut-marutnya situasi Jakarta.
PUKUL 07:00 waktu setempat, atau pukul 13:00 waktu Indonesia bagian barat. Pada pagi musim salju di bulan Februari, wajah rembulan sama cemerlangnya dengan lampu merkuri di jalan raya Kiruna. Kota yang memakai nama sejenis burung ini terletak di bilangan utara Swedia, satu jam setengah terbang dari ibukota (Stockholm). Jika terbang satu jam lagi, kita akan sampai di Greenland, pulau es di ubun-ubun bola dunia.
Semalam suhu berkisar 20 derajat Celsius di bawah nol. Pagi ini — meski matahari terik, masih 10 derajat di bawah nol. Buat orang dari negeri tropis, perubahan cuaca mendadak yang begitu tajam, sungguh terasa amat mencucuk. Kulit muka rasanya bagai tersayat kena sapuan angin mahadingin itu. Bibir pun retak-retak, meski diolesi lipstik pelembab. Begitu pula ujung hidung yang sudah dioles minyak zaitun, tetap saja terkelupas.
Kota Kiruna luasnya 20.000 km2, berpenduduk lebih kurang 20.000 jiwa. Sekitar 5.000 di antaranya adalah orang Finlandia. Mereka bekerja di tambang bijih besi. Di dalam bus wisata menuju Sungai Torne di Jukkasjarvi, 12 km dari Kiruna, Jonas sebagai pemandu wisata menceritakan bahwa di perut Kota Kiruna terdapat tambang bijih besi. Inilah tambang bawah tanah yang terbesar di dunia. Ada terowongan sepanjang 400 km, yang mencapai kawasan Finlandia. Di dalamnya lengkap dengan ruang konperensi. Objek wisata khas pula, tapi kali ini kita tidak singgah di situ.
Sungai Torne yang dituju, kini sedang bersalin rupa menjadi padang es. Jonas sudah menyiapkan sejumlah sepeda motor untuk bersafari di hamparan salju. Para turis yang punya nyali silakan mengendarainya, dan Jonas siap memandu. Saya bonceng dengan dia. Berangkat pukul 09:30, jalan kira-kira 500 meter ada belokan menanjak.
Jonas sukses melewatinya. Giliran sepeda motor di belakang, terjengkang. Aha, rupanya Lucky yang bawa. Christ bonceng. Meskipun terguling, mereka terbahak meriah di hamparan salju yang empuk. Begitu pula waktu pulang. Christ yang bonceng dengan Dewi, terperosok ke tepi jalan. Jonas lagi-lagi turun tangan.
Kembali ke Hotel Vinter Palatset di Kiruna, sudah malam dan masih ada kesempatan mandi sauna.
Sementara yang lain mandi uap, Jonas ke dapur memasak ikan hasil pancingan Dewi di sebuah danau es tadi. Saya duduk di restoran minum kopi hangat, sambil baca-baca brosur. Di meja saya taruh korek api “Cap Tuan” yang saya bawa dari rumah. Buatan Indonesia dengan lisensi dari Swedia.
Jonas melihat itu. “Dari mana you dapat ini?” dia bertanya. Saya bilang, nama Sweden sudah saya ketahui semenjak kecil di kampung, ya melalui korek api inilah. Jonas ketawa. Ada tulisan Jonkoping di situ. “Itu bacanya Joncoping,” katanya.
Lebih dari sekadar korek api, kita juga sudah lama mengenal kamera Hasselblad buatan Swedia. Bahkan Volvo — pernah menjadi mobil resmi menteri di Indonesia, ya buatan Swedia juga. Dan belakangan, paling beken adalah pesawat ponsel bernama “Ericsson”.
Lalu saya tanyakan, apa saja produk Indonesia yang dikenal oleh orang Swedia?
“Nothing !” jawab Jonas. Dia terdiam sejenak, kemudian menyebut ada baju //made in Indonesia/. “Cuma tidak istimewa, sebab banyak sekali baju buatan Cina di sini….,” katanya.
SENSASI HOTEL ES
Tak jauh dari lapangan parkir skuter salju tadi ada sebuah hotel. Namanya: Ice Hotel. Riwayatnya bermula dari seorang petugas public relations pariwisata setempat, Yngve Bergqvist. Di musim dingin, daerahnya sering sepi dari pelancong. Maklum, atraksi yang tesedia tak berbeda dari umumnya negeri salju. Misalnya, orang main ski atawa duduk di kereta yang ditarik puluhan serigala salju.
Apa anehnya? Lalu, pada suatu hari di musim dingin tahun 1989, Bergqvist membangun sebuah igloo di tepi Sungai Torne yang sedang membeku. Awalnya hanya sekadar memperagakan kerajinan tangan dan seni pribumi Sami. Di luar dugaannya, ada beberapa turis yang “pesan tempat”. Mdereka ingin tidur di dalam igloo yang bergaya eksotik Swedia.
Bergqvist pun menanggapi tantangan itu. Tahun berikutnya, ia mendirikan bangunan ala Eskimo ini dalam
skala lebih besar. Luas bangunannya 4.000 meter persegi. Terbuat dari 10.000 ton balok es yang berasal dari sungai, dan 30.000 ton salju. Selain menyediakan kamar untuk 100 tamu, di dalam Hotel Es juga ada ruang sauna, ruangan untuk gereja, sebuah bar istimewa yang dinamai “Absolute Ice”. Seluruh perabot di dalamnya, seperti kursi, lampu gantung dan bahkan gelas, tulen terbuat dari batu es.
Suhu di dalam hotel berkisar antara 3-9 derajat Celsius di bawah nol. Di kamar tidur ada ranjang berupa balok es dan taburan salju, dialas dengan kulit rusa kutub lengkap dengan bulunya. Para tamu nyaman tidur di dalam sleeping bag. Di beberapa kamar ada pula ranjang susun. Bagian menu pagi berupa minuman hangat, disuguhkan di samping tempat tidur. Tarifnya semalam rata-rata 1.000 kronor atau sekitar =Rp 800.000,- per-orang.
Namanya bangunan dari batu es, ya di musim panas dia meleleh lagi ke tempat asalnya di Sungai Torne. Dibangun sekitar bulan November, hotel itu rata kembali di bulan Juni. Demikian adanya tiap tahun. Hotel Es nun di belahan paling utara Swedia telah menjadi tujuan wisata paling top di musim dingin: mampu menarik 40.000 pelancong. Boleh dicatat, usaha serupa kini juga muncul di kawasan Norwegia dan Finlandia.
SPIRIT NEGERI SERUMPUN
Meski negeri jiran meniru model bisnisnya, tidak terdengar ada orang Swedia yang sewot. Sedangkan dalam bisnis skala besar pun mereka tenang saja punya usaha sejenis. Seperti disebut tadi, pesawat ponsel Ericsson adalah buatan Swedia. Bersamaan dengan itu, merek Nokia adalah keluaran Finlandia. Sebagai negara industri alat komunikasi terkemuka di dunia, mereka membuktikan dapat hidup berdampingan secara damai. Lebih dari itu: menjalin perkongsian dan maju untuk makmur bersama.
“Perkerabatan bisnis” ini kian terungkap ketika kita menyaksikan “CeBIT 2000″ di Hannover, Jerman, 24 Februari - 1 Maret. Pekan raya terbesar teknologi multimedia ini diikuti 7.515 peserta dari 63 negara. Hajatan tingkat dunia ini dibuka tanpa perlu pidato presiden atawa menteri. Di antara pengunjung yang datang dari 100 negara, adalah Dewi Widiyanti dan Lucky Mirza — dari “Ericsson Indonesia”, mendampingi tiga wartawan Indonesia: saya dari Gatra, Christiany Tumesap (The Jakarta Post), dan Moch. S. Hendrowiyono (Kompas).
Di dunia teknologi, peran para peneliti memang beroleh porsi besar. Ericsson, misalnya, tahun 1998 mengeluarkan dana US$ 3,8 milyar hanya untuk riset dan pengembangan (R&D). Jumlah ini 16% dari total penjualannya, guna membiayai 22.000 petugas R&D yang tersebar di 25 negara. Kebolehan Ericsson melakukan rekayasa imajinatif, keunggulan piawai dan wilayah operasi yang mendunia, seluruhnya diwarisi dari jasa besar seorang bernama Lars Magnus Ericsson (1846 - 1926).
Sejarah panjang Ericsson sebagai perintis dalam industri komunikasi, masih tetap berkibar hingga kini. Kenyataan itu tercermin, misalnya, pada pengembangan teknologi Bluetooth. Jenis perangkat lunak ini memungkinkan internet bisa disimak di layar ponsel tanpa perlu kabel samasekali. Dengan menggunakan gelombang pendek radio, maka ponsel pribadi dapat dihubungkan ke peralatan bisnis bergerak.
Resminya pengembangan teknologi ini dilakukan oleh Bluetooth Special Interest Group. Anggotanya terdiri dari Ericsson, IBM, Intel, Nokia dan Toshiba. Lalu masuk pula Motorolla, 3Com, Lucent dan Microsoft. Namun kalangan industri terkemuka peragat multimedia itu tampaknya menaruh hormat tersendiri kepada negeri asal Ericsson, ditandai dengan penggunaan nama Bluetooth untuk teknologi mutakhirnya.
Bluetooh adalah terjemahan untuk “Blatand”, dicomot dari nama seorang Raja Viking, yakni Harald
Gormsson Blatand, yang memerintah Norway serta Denmark abad ke-10. Swedia memang masuk rumpun Skandinavia — bersama Denmark, Norway dan Finlandia. Adalah Blatand alias Bluetooth, di masa itu, yang mempersatukan berbagai kekuatan politik di negerinya.
Spirit ini diserap dalam teknologi baru tadi, yang diberi nama: Bluetooth. Sehingga WAP (wireless application protocol) tidak diplesetkan lagi jadi singkatan Where Are the Phone?, seperti muncul di koran Financial Times, awal tahun 2000. Olok-olok ini mencerminkan betapa tidak sabarnya pihak investor menunggu terwujudnya peragat komunikasi berbasis WAP alias nirkabel.
OPTIMALISASI MANFAAT TEKNOLOGI
Ponsel anda lengkap dengan kamera dan fasilitas Bluetooth? Bagus. Tapi kemudahan yang disediakan pabrik ini harap dipakai secara hati-hati. Misalnya, jangan sembarangan buka kontak Bluetooth di tengah keramaian. Dia aktif sedikitnya dalam radius 30 meter, sehingga ketika ada lagi yang memainkannya maka data yang sedang mengudara bisa masuk ke ponsel anda. Dan bukan mustahil data yang tidak diundang itu justru mengandung virus. Ini sudah sering terjadi.
Sejauh ini di negeri kita para konsumen benda-benda teknologi, terbilang amat gairah melahap aneka produk terbaru. Sekitar 15 tahun lampau, peragat jinjing alat komunikasi masih seukuran tas tangan. Sebentar lagi, menurut gambaran pihak Nokia, sosoknya mungkin saja seukuran arloji tangan. Dan mampu menampung serta menyalurkan data, suara, serta foto. “When you consider mobile communications, you need a mobile mind,” kata orang Nokia.
Sasaran utamanya, dengan demikian, memang orang-orang aktif, khususnya di dunia bisnis atau organisasi massa. Saat ini, dalam ukuran telapak tangan saja sudah cukup fasilitasnya buat menggenggam bola dunia. Dengan benda imut ukuran dompet itu, sebenarnya orang tidak perlu harus sewa kantor mahal-mahal. Dan khusus di Jakarta, sungguh tidak perlu lagi bermacet-ria di jalan raya saban hari.
Begitu dahsyat godaan yang ditayangkan tiap hari, sehingga banyak konsumen yang tergiur. Namun apa boleh buat, sampai hari ini pun saya sering terbahak ketemu kawan yang membanggakan punya ponsel model mutakhir. Dia bukan saudagar, bukan pula orang partai. Tapi pegawai di sebuah kantor swasta. Dan untuk saling berbalas sms pun dia masih kalang-kabut.
“Kalau begini peragat komunikasi yang kau pegang, ini hari mestinya kita tidak ketemu di warung kopi Cikini,” saya bilang.
“Lantas, di mana dong?”
“Ya…, pantasnya ngopi sembari berjemur di Pantai Waikiki, Hawaii. Dengan alat ini kau tinggal pencet tombol untuk mengatur 30 perusahaan….”
“Sialan, luh,” katanya, sambil ketawa. “Aku pernah usul sama bos di kantor, supaya maksimal memanfaatkan potensi teknologi mutakhir ini. Jadi, nggak perlu ngantor lagi, eh dia nggak setuju….”
“Tentu saja. Mana mungkin bos kau setuju. Dia udah pakai dasi mahal, siapa yang lihat? Lebih dari itu, kalau tak ada orang di depan hidungnya, bos bisa unjuk kuasa sama siapa?”
Sebagai konsumen aneka produk teknologi mutakhir, janganlah sampai kita jadi olok-olok: mampu membeli tapi tak mampu memanfatkannya secara optimal. ***
Ed Zoelverdi
– Cuplikan buku Mat Kodak Berselancar di Gelombang Cahaya; Kisah Lawatan Jurnalistik.





