Kawin Itu Jodoh, Cerai Itu Pilihan MELANCONG KE NEGERI BLUETOOTH
Feb 27

NERO, nama anak muda itu, sah sudah menduduki kursi bos di perusahaan pemberian bapak mertuanya. Tadinya dia enggan menerima tugas itu, karena kawan-kawannya pernah mengolok-olok: “Wah, Ne, kamu pendukung nepotisme, dong…” Dan guyonan itu sempat disebutnya kepada sang mertua. Tentu saja orang tua itu melotot.

“Hei, anak muda! Percuma aku ongkosi kamu studi jauh-jauh ke seberang. Coba buka lagi itu kamus,” ujar mertuanya. “Nepotisme memang seperti yang kejadian pada kamu. Dapat kerja karena dikasi mertua sendiri, di mana letak dosanya? Aku jamin ini usaha legal dan halal. Sudah, nggak perlu kamu dengar itu orang-orang usil.”

Ceritanya, Nero pun mulai berkantor di sebuah gedung baru dengan perabot serba wah. Sesuai pesan bapak, maka Nero sudah datang sebelum pegawai lain hadir. Dia mulai latihan duduk di kursi putar yang empuk, dengan sandaran tinggi. Sejenak dia mengelus-elus pesawat telepon, dia melihat ke luar, eh ada orang berdasi turun dari mobil.

“Ini pasti calon langganan kakap,” dia bicara sendiri. Ketika si orang berdasi mengetuk pintu ruang kerjanya, Nero pun bergaya sibuk, mengangkat telepon, dan mulai bicara seolah sedang ada transaksi besar. Dia lupa menyilakan tamunya masuk, eh si tamu sudah menyelonong ke depan mejanya.

Nero pun melepaskan gagang telepon dari telinga, menutup mikrofon dengan tangan, lalu dengan gaya ramah bertanya: “Yak, tuan, apa yang bisa saya bantu?”

Sang tamu berdasi itu menjawab: “Maaf, pak. Saya ke sini cuma untuk mengaktifkan sambungan pesawat telepon anda….”

* * *

MAKLUM, baru jadi bos — dan dia rasa mendadak pula. Untuk membangun rasa percaya diri alias pede, Nero kemudian memasang poster di dinding ruang kerjanya. Bunyinya: “Undang Undang Bos terdiri hanya atas dua pasal. Yaitu, Pasal 1: Bos tidak pernah salah. Pasal 2: Kalau Bos salah, lihat Pasal 1.”

Tapi sekalipun sudah dilindungi undang-undang, jangan dikira Pak Bos bebas dari penderitaan. Bos Nero sempat menyampaikan keluhan kepada kawan-kawannya dari perusahaan lain.
“Aku kepingin pecat sekretaris baru itu,” ujarnya.
“Lho! Kemarin kau bilang dia cantik bahenol, kok tiba-tiba saja mau dipecat?” tanya seorang kawannya.
‘Apa dia sok jual mahal…,? kawan lainna menimpali.
“Bukan, bukan itu soalnya.”
“Lalu, apa dong?”
“Kalian bayangkan. Tiap kali aku diktekan menulis surat, dia suka tanya ejaannya bagaimana?”

“Wah, sungguh menjengkelkan,” komentar kawan-kawannya, hampir serempak.

“Bukan soal jengkel, bro. Tapi malunya ini … Habis, saban kali aku harus bilang ‘gua sendiri juga nggak tau’…”

* * *

WALHASIL, Bos Nero lebih suka cari urusan di luar kantor. Mau tahu betapa sibuknya sang bos, dengar saja jawaban sekretarisnya lewat telepon:
“Bos belum datang.”
“Bos ada, tapi sedang rapat.”
“Bos sedang makan siang.”
“Bos kembali sebentar lagi, sekarang sedang meeting di luar.”
“Bos masih sekitar kantor, sih. Ada jas di sandaran kursinya, kok.”
“Bos ke luar kota buat beberapa hari.”

* * *

SUDAH dilindungi undang-undang bikinan sendiri, Nero masih belum pede. Suatu pagi dia bawa secarik stiker dari rumahnya. Stiker itu lalu ditempelkannya di pintu ruang kerjanya. Di situ tertulis dengan huruf besar: “I’M THE BOSS !”

Sekembali dari makan siang — biasa dengan kawan-kawannya, Nero melihat dari kejauhan ada secarik kertas lain menempel dekat stikernya. Namanya bos, dia pun berlagak marah. “Hey! Itu kerjaan siapa nempel-nempel kertas?”

Sekretarisnya yang bahenol segera berdiri dan mendekatinya. “Sabar, bos! Itu bukan sembarang tempel, tapi perintah istrinya bos dari rumah.”

“Ha!?” seru Bos Nero, sambil mendekat ke pintu. Di kertas kecil itu ada tulisan: “Segera bawa pulang lagi stiker mami ini….”

* * *

STRES, frustrasi, campur aduk. Dalam perjalan pulang, Bos Nero mampir di pasrr burung. Dia ingat, waktu kecil dulu pernah dibelikan ayahnya beo yang pintar diajak ngobrol. Iseng-iseng dia lalu menunjuk seeekor beo dalam sangkar.
“Berapa harga beo ini?” si bos bertanya.
“Rp 1 juta,” jawab pedagang.
“Kok mahal amat. Apa sih kepintarannya?”
“Dia hebat menyanyikan lagu dangdut.”
“Yang itu berapa?” tanya si bos menunjuk sangkar kedua.
“Rp 1,5 juta.”
“Kok lebih mahal. Apa kemampuannya?”
“Selain menyanyi, dia juga bisa kasi tau kalau ada orang asing mendekati rumah.”
“Yang di sangkar ketiga, berapa harganya?”
“Rp 3 juta.”
“Kok lebih mahal. Kelihatannya biasa-biasa saja. Apa istimewanya, sih?”
Si pedagang menjawab : “Saya juga tidak tau apa istimewanya. Sampai sekarang ocehannya amburadul, kerjanya cuma bersolek, dan jalan-jalan. Tapi beo-beo di sini memanggilnya Bos.”

* * *

MUTIARA kata kali ini: “Segala hal hendaknya dapat dibuat sederhana, tapi bukan digampang-gampangkan.” — Albert Einstein (1879–1955).

written by matkodak \\ tags:

Leave a Reply