MELANCONG KE NEGERI BLUETOOTH Ada Akar Rumput Ada Janda Rumput
Mar 28

PERAGAT teknologi komunikasi hari ini begitu terbilang sempurna. Segala urusan bisa selesai dalam sekejap mata, sekali pun rundingan berlangsung dari jarak berjauhan. Kebiasaan bikin pertemuan atau rapat secara bermuka-muka — sebagaimana lumrah dilakukan pada abad lampau, kini ditanggulangi dengan fasilitas kamera video pada benda imut itu.

Belum mampu memproduksi sendiri alat pintar serba komputer, mungkin boleh disebut ketertinggalan sekian ribu langkah. Tapi cuma memakainya secara tepat-guna pun masih tidak paham, sungguh satu kemalangan tersendiri. Para bos berebut beli alat komunikasi paling gres, lantaran mitra bisnisnya baru saja beli barang itu. Selebihnya, dia sudah bangga ketika ada anak buahnya berdecak kagum melihat si imut pintar itu.

Itu pula sebabnya, sang bos rajin sekali mengundang sejawat, staf atau bawahannya untuk melakukan rapat di kantor. Atau ketemu mitra bisnis di hotel-hotel atawa restoran mewah. Harus bermacet-ria di jalan raya untuk mencapai lokasi meeting, yah sudah dianggap menu lumrah sebagai warga megapolitan. Dan benda teknologi paling mutakhir yang dipegangnya itu pun lumrah dianggap sekadar mainan. Yang penting: rapat, pokok-e harus kumpul…
      
“Ini kultur, bung,” kata seorang bos. “Kita ini punya peribahasa mangan ora mangan asal ngumpul.” Dan dalam gaya kota, bos mengumpulkan staf atau anak buah lantaran sudah telanjur pakai dasi. Bayangkan, jika si imut dimanfaatkan secara maksimal, semua rundingan selesai lewat alat pintar itu, nah, siapa lagi yang bakal lihat bos pakai dasi mahal? Dan siapa pula yang bakal kagum pada bos yang baru saja punya alat pintar.

Sekarang boleh dicatat, kalau bos memang hidup sesuai dengan zaman, ya patut memahami satu atau dua dari “panca-isyarat” bahwa sejawat atau mitra sudah jemu dengan rapat atau meeting gaya abad lampau… 

1) Tiba-tiba ada yang menumpahkan kopi di meja rapat. Tenang dia ambil selembar kertas dan melipatnya jadi kapal-kapalan, lalu meluncurkannya seakan berlayar pada tumpahan kopi tadi. Kalau sampai bos memecatnya — hanya dengan alasan menumpahkan kopi, atau main kapal-kapalan di meja rapat, ini bakal mengundang tertawaan.

2) Sepanjang pertemuan, tiap kali bos menyebut sesuatu yang penting (atau yang ditekankan sebagai hal penting), ada peserta yang mendesis atau melenguh mirip suara sapi. Ini isyarat semua yang disampaikan si bos sering dimamah-biak alias diulang-ulang.

3) Ada peserta yang saling main kedipan mata. Dan satu dari mereka menggeleng-geleng kecil, itulah tanda pembicaraan sudah menikung ke mana-mana. Atau yang dibicarakan sudah diketahui semua orang. 

4) Pada saat bos buka sesi tanya-jawab, sebagian peserta bersandar di kursi sembari menyilangkan kaki hingga dengkulnya mencuat di bibir meja. Dan ada yang bawa boneka snoopy, eh dia malahan menanyakan hal-hal yang lumayan sulit pas ke depan hidung bintang animasi itu.

5) Ada peserta rapat yang bawa benda imut yang sama dengan milik bos. Tiap kali bos menyebut suatu point, maka dia sibuk pencet ini itu berlagak mencocokkan dengan omongan si bos. Lalu dia manggut-manggut seraya mendengus “uh-huh, uh-huh!”

Sentana sempat mengalami satu atau dua — apalagi semua — laku mengganjil tadi, baik dalam rapat atau kerja sehari-hari, itulah lampu merah untuk bos mengoreksi diri. Posisi sebagai bos bukan untuk pamer “kuasa”, tapi buat menciptakan suasana kerja yang nyaman.

Untuk mendorong gairah kerja, misalnya, coba ingat ucapan Henry Ford (1863–1947): “Bukan bos yang membayar gaji. Tugas bos hanyalah mengelola uang. Sedangkan gaji datang dari produk yang dihasilkan.” Dengan memahami rumus industriawan otomotif beken ini, niscaya tak ada lagi ganjalan soal disiplin.
 
Urusan disiplin sering jadi keluhan mendasar ketika kita pertanyakan apa sulitnya memberdayakan alat komunikasi mutakhir untuk menyelesaikan pekerjaan. “Aku kepingin bisa begitu,” cerita seorang bos. “Cuma pengalaman membuktikan orang kita ini disiplinnya buruk! Jangankan tidak berhadapan, sedangkan bermuka-muka saja dia bisa banyak helah menunda-nunda pekerjaan.”

Titik lemahnya boleh jadi pada “disiplin buruk” sang pekerja. Tapi di bagian ini pula menarik dicatat: bos yang hebat punya seni mengajak seseorang berbuat sesuatu yang dia mau, dan orang itu pun memang ingin melakukannya.

Ed Zoelverdi

written by matkodak

Leave a Reply