May 25

SUATU sore di sebuah paktek dokter jiwa, datang seorang nyonya cantik. Dalam daftar nama pasien, namanya tertulis Nyonya Anu… — dan orang paham itu nama orang yang lagi getol obral janji di arena pilek, eh pileg.

Menurut kabar terakhir, dia gagal. Padahal modal tampil sudah ludes milyaran — dan sebagian pinjam kiri-kanan. Selama menunggu giliran, sang nyonya hanya duduk diam di pojok. Tiba waktunya ketemu dokter, segera saja dia teriak: “Gawat, dokter! Anda harus segera tolong suami saya. Dia selalu bilang bahwa dia itu ayam.” Continue reading »

written by matkodak

May 07

BARU satu alinea saya menulis, tiba-tiba kursi bergoyang. “Oalah, ente, Mat,” hanya itu yang bisa saya ucapkan, dan menunda omelan karena sobat ini datang tanpa uluk-salam lagi. Juga lain dari biasanya, kali ini wajah Mat Gawat kusut masai. Ada apa gerangan?

“Huhh…, mumet,” dia bilang, sembari mengempaskan diri di kursi. “Pilek sekarang gawat, bisa berkibat maut,” katanya lagi. Dan ketika disodori rokok, lagi-lagi dia melenguh.

“Pilek maut? Apa keluarga kau ada yang kena flu Singapura, eh flu Meksiko, atawa flu babi?”    

Continue reading »

written by matkodak \\ tags: