BARU satu alinea saya menulis, tiba-tiba kursi bergoyang. “Oalah, ente, Mat,” hanya itu yang bisa saya ucapkan, dan menunda omelan karena sobat ini datang tanpa uluk-salam lagi. Juga lain dari biasanya, kali ini wajah Mat Gawat kusut masai. Ada apa gerangan?
“Huhh…, mumet,” dia bilang, sembari mengempaskan diri di kursi. “Pilek sekarang gawat, bisa berkibat maut,” katanya lagi. Dan ketika disodori rokok, lagi-lagi dia melenguh.
“Pilek maut? Apa keluarga kau ada yang kena flu Singapura, eh flu Meksiko, atawa flu babi?”
Terdiam sejenak, kemudian dia coba senyum. “Sorry, Bung,” katanya. “Aku lupa kau ogah jadi ‘bangsa-pendek-lidah’. Itu tadi maksudku pemilihan legistatif, singkatannya kan pileg.”
“Busyet. Lalu apa urusannya sampai wajah kau berlipat tujuh?”
“Lumayan kau cuma melihat tujuh lipatan, nah, yang aku rasakan sekarang tujuh keliling pusingnya…”
Setelah keluh-kesahnya agak reda, Mat Gawat cerita bahwa uang simpanannya ikut ludes bersama jebloknya sang kawan dalam arena yang tadi disebutnya pileg itu. Dia meminjamkan uang lantaran yakin si kawan bakal sukses. Utang itu, katanya, kelak dibayar dengan bunga tinggi. Dan lebih menggiurkan, bakal dikasi fasilitas proyek ini itu.
Masih menurut cerita Mat Gawat, modal si kawan hampir Rp 2 milyar — sebagian berasal dari utang kiri-kanan. Begitu dapat gambaran gagal, kawan itu langsung gantung diri. Tapi ini pun gagal, karena cepat ketahuan.
“Dia sendiri yang beli tali ke pasar, gile,” tutur Mat Gawat.
“Wah, ini perlu dicatat sebagai keajaiban dunia: cuma di Indonesia ada tali termahal, harganya sampai Rp 2 milyar.”
“Ah, kau jangan bercanda, dong. Aku tadinya percaya betul kawan itu. Dia paham ujung lorong politik itu kekuasaan…, dia pun rajin turun ke akar rumput..,”
“Eit, interupsi… Kau menyebut akar rumput, apa maksudnya?”
“Lah, itu kan istilah yang biasa dipakai elit politik atawa pakar pengamat, kayaknya sih terjemahan dari grass roots. Apanya yang aneh?”
“Urusannya bahkan aneh wal-ganjil bin ajaib, karena kau pun begitu culun memamah-biak terjemahan grass roots itu akar rumput.”
Mumpung belum jauh kejeblos aliran sesat, sohib ini kita silakan buka kamus, termasuk versi asli Inggris-Inggris. Dari kamus Webster, dia baca: grass roots. An area comprising the small towns and rural sections of the US; a hypothetical segment of the US population residing outside the largest cities, …
Belum puas versi Amerika, dia buka lagi kamus British, “Longman Dictionary of Contemporary English”: grass roots. … the ordinary people, not the one with power and knowledge… Lalu dari kamus Inggris-Indonesia: .. at the grass roots level. di tingkatan rakyat biasa.
Matanya masih menatap lembar kamus, tiba-tiba Mat Gawat terkekeh sendiri. “Iya, yah…,” katanya. “Kalau grass roots disulih jadi ‘akar rumput’, maka grass widow itu ‘janda rumput’. Dan grass widower pun jadi ‘duda rumput’, he.. he.. he..”
Lalu dia ingat, dalam urusan bahasa ada yang namanya idiom — paket dua kata yang bermakna tunggal. Dalam bahasa kita, wanita yang cerai dengan suami, disebut ‘janda’. Orang sono bilang, widow. Cerai atau pisah suami-istri itu ada dua macam: cerai hidup — ini yang disebut grass widow atau grass widower tadi. Ini membedakannya dengan cerai karena pasangan berpulang ke alam baqa.
Lama Mat Gawat terpana. Lalu dia bilang, status janda atau duda yang begitu rinci bukanlah monopoli bahasa sono. “Ingat kan cerita kawan kita dari Tapanuli?” katanya. Dalam Bahasa Batak ada sebutan rinci untuk ‘janda’. Yaitu, namabalu, artinya wanita yang kematian suami. Dan satu lagi, boru sirang alias janda arena cerai dari suaminya.
Kembali pada pokok cerita ihwal grass roots, yang secara mentah dipulung jadi “akar rumput”, menurut Mat Gawat, ini mungkin semacam kiasan. Tapi kemudian ia ragu sendiri. Mau dibilang kiasan kok lebih tepat disebut makna sejati: rakyat dianggap sekadar rumput belaka, alias bisa diinjak dan disapu-rata seenaknya.
Kali ini Mat Gawat tidak terlalu meleset. Tiap kata punya energi. Begitu disebut dan diyakini, itu bakal menjadi naluri — dan pada gilirannya terwujud menjadi perilaku. Menyimak ucapan kawannya yang jeblok tadi bahwa ujung lorong politik itu kekuasaan, tak heran jika sikapnya congkak sekali menyebut turun untuk ketemu rakyat.
Apa boleh buat. Hanya sebatas itulah paham berkiprah di jalur politik versi Indonesia. Di bagian ini baik disimak ucapan Thomas Jefferson (1743 — 1826) — Presiden ke-3 Amerika Serikat : “Memelihara kehidupan manusia serta kebahagiaan mereka — dan bukan merusaknya, adalah tujuan tunggal yang masuk akal dalam mengurus negara secara baik.” Nah!
Ed Zoelverdi
Gatra - Kolom, edisi 22 Mei 2009.
* * *