SUATU sore di sebuah paktek dokter jiwa, datang seorang nyonya cantik. Dalam daftar nama pasien, namanya tertulis Nyonya Anu… — dan orang paham itu nama orang yang lagi getol obral janji di arena pilek, eh pileg.
Menurut kabar terakhir, dia gagal. Padahal modal tampil sudah ludes milyaran — dan sebagian pinjam kiri-kanan. Selama menunggu giliran, sang nyonya hanya duduk diam di pojok. Tiba waktunya ketemu dokter, segera saja dia teriak: “Gawat, dokter! Anda harus segera tolong suami saya. Dia selalu bilang bahwa dia itu ayam.”
“Aha! Tenang, nyonya. Itu cuma delusi atau khayalan saja,” sahut dokter. “Bawa saja ke sini, supaya perasaan ayam itu bisa dihilangkan.”
“Wah, nggak bisa, dok. Saya kan perlu telur ayam…”
SEMBUH.., EH KUMAT LAGI. Ada yang merasa dirinya ayam, sebaliknya dengan seorang pasien yang sedang dirawat di rumah sakit: dia merasa dirinya padi. Begitu kental perasaan itu melekat dalam pikirannya, sampai-sampai ia menyebut dirinya sebagai Mister Padi.
Asal-muasal dia mengidap kelainan itu, menurut cerita, sejak dua periode pemilihan umum yang lewat. Dia gagal jadi caleg, sementara duitnya ludes sekian milyar. Uang itu hasil permainan serong, seharusnya diberikan untuk para petani sawah dan petani karet. Begitu lihainya, meski sempat heboh namun dia tak sampai masuk bui. Cuma yang namanya makan duit serong, ya buntutnya dia pun jadi pesong alias sinting.
Suatu pagi, ketika jogging bersama beberapa kawannya, dia melihat seekor ayam jantan mengejarnya. Dia pun lari pontang-panting sembari memekik minta tolong. Kawan-kawan yang mendekatinya malahan ditendang. Masih sambil berlari, dia teriak terus: “Tolong.., tolooong… aku bakal dicotok ayam….”
Itulah hari pertama dia menyebut dirinya sebagai padi. Dan bangga pula menukar namanya jadi Mister Padi. Sebulan dalam perawatan, belum banyak kemajuan. Menjelang bulan ketiga, tampak isyarat kesembuhan. Dia tidak menoleh lagi ketika disapa Mr. Padi. Dan setelah benar-benar dia marah mendengar sebutan itu, maka sah sudah dia dinyatakan waras kembali. Ya, boleh pulang.
Begitu dia melangkah ke pelataran parkir, eh dia lihat beberapa ekor ayam sedang mengekas di bawah pohon. Lama dia menatap ayam-ayam itu, lalu sembari menciutkan badan dia putar langkah kembali ke dalam rumah sakit. “Hah.. hah.., mana dokter, mam..mana dokter?” katanya, dengan tersengal meski tadi dia tidak habis berlari.
Suster yang ditanya balik bertanya: “Lah, bapak kok balik lagi?”
“Aduh, suster, tolong aku… itu di luar ada ayam, cilaka.. bisa-bisa aku dicotok rame-rame…”
“Ooo, begitu. Tapi bapak kan bukan padi, kenapa harus takut, sih?”
“Aku tahu, suster, aku ini bukan padi… Tapi ayam itu kan nggak tau.”
DOKTER KOK GILA. Walhasil, Mister Padi pun dirawat lagi. Sampai suatu sore dia duduk di depan wastafel. Di tangannya ada sebatang lidi yang ujungnya diberi benang. Ujung benang itu dimainkannya di bak yang berisi air separuh — mirip orang memancing.
Seorang dokter lewat, dan menyapanya: “Selamat sore, Pak, eh asyik juga mancing… banyak dapat ikan?”
Belum jauh dokter itu berlalu, Mister Padi nyeletuk : “Ah, dokter gila ya, mosok mancing di wastafel dapat ikan…?”
POKOK-E AMBIL KARET. Lewat lagi beberapa bulan, ketika dia benar-benar menolak disebut Mr Padi, maka dokter pun mengajaknya ngobrol sembari jalan-jalan di pekarangan. Sekilas kondisinya waras sudah, terutama waktu berpapasan dengan ayam dia sama sekali tidak ada reaksi apa-apa.
“Ngomong-ngomong, Pak, nanti kalau sampai di rumah apa yang bakal bapak kerjakan?” sang dokter bertanya.
“Wah, dokter mau tau aje…,” sahutnya sembari tertawa. “Aku mau bongkar mobil…”
“Hebat! Tapi bapak bukan montir, kan?”
“Eh, dokter perlu tau… aku harus bongkar ban mobil itu.”
“Kok?”
“Iya…, ban dalam mobil itu aku buka pelan-pelan, lalu … lalu, aku ambil karetnya…”
Nah, ibarat gitar yang snar-nya semula kendor, sekarang kayaknya ada yang putus, maka Mr. Padi rupanya kian gawat dan harus dirawat lagi. Cuma kali ini tak sampai ia menyebut dirinya sebagai Mister Karet. Lewat lagi sekian bulan, ada gelagat mulai waras.
Sehari menjelang pulang, sempat pula beberapa dokter mengajaknya ngobrol. Ada yang memberi selamat berkumpul kembali dengan keluarga. Lalu seorang dokter bertanya: “Apa rencana bapak begitu sampai di rumah?”
“Sudah pasti aku kelonan sama istri, dong,” jawabnya, sambil tersipu.
“Bagus! Habis itu, apa lagi, Pak?”
“Alaaa…, dokter kok masih tanya, sih? … malu, ah!”
“Lho…, kok mesti malu, Pak?”
“Mosok aku harus cerita soal buka-bukaan? Tapi okelah…, pelan-pelan aku buka ‘cd’-nya .., lalu.. lalu.. aku ambil karetnya…”
Ingat pesan nenek: hati-hati dengan doa orang yang teraniaya atawa mereka yang dizalimi!
Ed Zoelverdi