Duit Serong Bikin Pesong Era Mediasaurus
Jun 13

TIGA nako atawa narapidana korupsi sedang menjalani hukuman di bui. Suatu sore yang senggang, di tengah obrolan yang sering tidak berkeruncingan alias tak tentu arah, tiba-tiba Koruptor I berseru: “Hayo, sekarang kita taruhan soal ingatan.” Usianya sekitar 50-an tahun.

“Judi model apa lagi tuh?” tanya Koruptor II yang berumur 60-an.

“Ah, jangan sebut judilah, Pak. Anggap saja main kuis, kan begitu yang ramai di tv, sms aja mirip togel nggak ada yang menyebut judi kok,” jawab Koruptor I.
“Begini. Siapa  yang punya ingatan paling dini, dia yang menang. Hadiahnya, aku pasang satu vila mewah yang luput dari sitaan…”

Mereka pun setuju mempertaruhkan vila atau mobil mewah masing-masing — yang luput dari penyitaan. Koruptor I buka cerita: “Aku sudah mulai ingat waktu tanteku pacaran, dia suka memberiku coklat biar nggak mengganggu dia. Kalian mau tahu? Umurku waktu itu baru satu tahun lima bulan.”
 
Koruptor II mencibir dengar cerita itu, lalu katanya: “Wah, cuma segitu you punya ingatan. Kalau aku, ingat betul waktu tali pusarku digunting, aku lihat di bibir susternya ada tahi lalat, cantik oy…. Nah, you kalah, Bung!”
 
Giliran Koruptor III — berusia 60-an juga, dengan tenang mengisap cerutunya lalu berkata: “Cepat kalian teken penyerahan vila di gunung dan mobil mewah itu…”

“E-e-eh.., bagaimana ceritanya, Pak? Belum apa-apa kok merasa menang, sih?” kata dua koruptor lainnya hampir serempak.

“Aha! Pasti, pasti aku menang, dong. Kalian semua lemah ingatan,” jawab Koruptor III. “Coba saja kalian hitung, waktu mami dan papiku masih pacaran…, aku ingat betul, pergi ke gunung aku masih ikut papi, eh… pas pulangnya tau-tau aku sudah ikut mami….”
* * *

PUNYA uang tidak bernomor seri, kata orang, begitulah sang koruptor junior baru saja membeli sebuah komputer dengan teknologi paling mutakhir. Benda ajaib seukuran kotak rokok ini dia pesan langsung dari pabrik. Dia penasaran karena alat pintar itu disebut-sebut mampu membuktikan bahwa korupsi merupakan penyakit keturunan. Dan dia sekarang memang sedang diusut dengan dakwaan korupsi.

Ceritanya, komputer itu bisa diajak bertanya-jawab. Tak sabaran, si koruptor muda memasukkan pertanyaan: “Papiku ada di mana sekarang?”

Zig-zig-zig… si komputer mendesing. Hanya dalam tempo sekian detik keluar jawaban di monitor: “Papimu kini sedang meringkuk di kandang situmbin alias penjara.”

“Ah, sok tau lu!” komentar si koruptor, dan sembari mencibir ditulisnya: “Hoooi.., pantengong.. ! Papiku sudah lama mati…”

Komputer berdesing lagi, lalu menampilkan jawaban: “Hoooi juga…, kau nan pantengong alias pandir tengak ongok! Yang mati itu boleh jadi suami mami kamu, tapi papi kamu sekarang sedang isap cerutu sembari main kuis ingatan di dalam penjara….”

* * *

MESKI sering bohong — juga pada diri sendiri, dapat jawaban telak dari komputer-pinter tadi, si koruptor pun stres juga. Buntutnya, dia jadi sobat jin-botol alias doyan alkohol. Sampai suatu malam konconya yang pernah jadi nako, berkomentar: “Bung, aku heran you membiarkan istri muda yang cantik tiap hari pulang pagi.”

“Segitu aja, kok heran sih? You tau, kalau lelaki pulang pagi artinya menghabiskan uang. Nah, cewek pulang pagi kan bawa banyak uang, he… he…he…”
* * *

PENTING dicatat, tv satelit tadi pagi menyiarkan rilis dari Asosiasi Setan Iblis Indonesia : “Tuhan, mohon ampun, tolong mutasikan kami para setan iblis dari wilayah Indonesia. Jangan sampai anak-cucu kami cemar ketularan perilaku orang di sini yang bejatnya sudah melebihi setan iblis….”

Ed Zoelverdi
> Lionmag — inflight magazine of Lion Air, edisi Juni 2009.

written by matkodak

One Response to “KORUPSI PENYAKIT TURUNAN”

  1. Yudi Says:

    Minggu lalu saya baca linomag kalau tidak salah ada artikel tentang kekuatan focus. bagaimana saya bisa mendapatkankannya ya?

Leave a Reply