KORUPSI PENYAKIT TURUNAN Lipan, Flu Hantu & Kropos Otak
Oct 31

PADA zaman serba komersial dewasa ini, orang memang gampang hanyut untuk urusan sejengkal seputar perut. Di tengah situasi negeri yang carut-marut kini, kiranya profesi kewartawanan wajib dijaga agar tidak latah menjadi keriput. Sebab dalam sejarah dunia kewartawanan, profesi ini pernah dinobatkan sebagai satu di antara pilar-pilar peradaban.

Bersamaan dengan sadar posisi ini kalangan media massa perlu senantiasa melakukan otokritik. Misalnya, pada awal 1990-an, penerbitan pers di Inggris, Prancis, Jerman dan Amerika Serikat, pernah melakukan penelitian. Mereka cemas, karena dalam kurun waktu dua dasawarsa terakhir tampak grafik yang melorot dalam penghasilan iklan serta tirasnya.

Pihak media cetak pun melotot ke alamat stasion televisi atau radio komersial. Media elektronik sempat dituding keliwat lahap melalap jatah iklan serta animo publik. Namun penelitian tadi menunjukkan, ternyata musababnya justru arogansi pihak media cetak sendiri. Sadar atau tidak, mereka sering terperosok melecehkan narasumber.

Misalnya, ada yang memperlakukannya bagai bola pingpong. Atau <menggili-gili> mirip orang adu jangkrik. Lalu ada pula yang main tulis tanpa pernah ketemu sang narasumber. Penulisan pun ada yang cenderung bernada ‘mencakar’, dan sebagainya. Corak kerja semacam ini menurut penilaian publik yang kritis disebut sebagai gaya asoy-sendiri.

Wartawan & Politikus Sama-sama Narsis. Sepintas tampak di pasar begitu banyak media berita. Namun pembaca sering disuguhi topik yang nyaris monoton. Ini bisa ditandai tatkala mencuat suatu topik hot – bahkan masih sebatas isu, teristimewa di bidang politik. Dalam obrolan di warung kopi, publik menjuluki situasinya bagai lalar ijo merubung anu, ketika awak media begitu riuh berduyun meluruk ke satu titik topik.

Sepintas corak kerja begitu boleh jadi cocok dengan <pakem> jurnalistik yang kewi alias baku. Oke. Namun kesan suguhan seragam tak terelakkan mencerminkan kemalasan berpikir. Tak begitu jelas apakah mereka paham atau tidak sang topik justru cuma ibarat gelembung sabun alias ‘tikungan isu’ — sebagaimana diingatkan Yudhistira AMNM Massardi (Gatra, 9 Februari 2002).

Bahkan di Amerika Serikat, misalnya — yang wartawannya adalah ‘orang sekolahan’ (bukan wartawan jadi-jadian), profesionalisme liputan pihak media luas diragukan masyarakat. Hal ini tersingkap dalam buku Principles of Editing, a Comprehensive Guide for Students and Journalists, gubahan Daryl L. Frazell dan George Tuck, 1996.

Adalah Michael Crichton, pengarang novel fiksi dinosaurus – Jurassic Park — satu di antara publik yang amat mengecam media massa. Ia sampai menjuluki dunia media sebagai “mediasaurus”. Di forum National Press Club, April 1993, Crichton berkata: “Apa yang kini kita pahami sebagai media massa, bukan mustahil bakal menggelinding ke arah kepunahan dalam tempo 10 tahun ini. Mereka lenyap tanpa bekas.”

Ia menuding penerbitan pers telah mengabaikan fungsi pelayanan publik. Katanya, menurut jajak pendapat terbaru, kelompok terbesar penduduk Amerika berpendapat pihak media lebih syur terhadap hal-hal sepele, dan tak peduli terhadap topik yang benar-benar layak diberitakan.

Publik juga mengamati betapa kalangan media tidak melaporkan aneka persoalan negara, kecuali hanya sebagian saja. Walhasil, masyarakat pun tak keliru menyimpulkan: ya wartawan, ya politisi, adalah kaum narsis alias jenis orang yang cuma asyik-maksyuk dengan diri sendiri.

Masih menurut buku tadi, kritik pedas tersebut memang diakui pihak media. Banyak dari kalangan editor yang sepakat dengan Crichton. Ini tercermin dalam simposium “Future of Journalism” di Universitas San Fransisco, 1993. Gene Roberts, redaktur pelaksana The New York Times, bilang: koran-koran sedang terancam membunuh diri sendiri.

“Ancaman besar bagi jurnalisme datang dari dalam profesi kita sendiri, bukan dari luar,” ujar Roberts, “ancaman buat eksistensi kita adalah kerepotan yang latah ikut trend dan mode jurnalistik paling gres.” Ditambahkannya, kita mencekik masa depan dengan abai terhadap masa lampau, yang banyak bukti betapa kedangkalan, formula kurang pikir telah memupus genggaman kita terhadap pembaca.

Luluhnya Etika & Peran Sejarah. Sudah lebih 10 tahun kini, Era Mediasaurus tampaknya memang kian berkibar. Profesionalisme kewartawanan dalam maknanya yang hakiki enteng saja dicemooh kayak ‘tai kucing’. Berita dicuatkan melulu sebagai komoditi dagang. Bahkan mereka harus menyesuaikan isi berita untuk menarik perhatian para pemasang iklan baru. Atau memang harus cocok dengan maunya bos.

Akibatnya, peran kaum jurnalis dan jurnalisme pun jadi serong. Definisi tentang kemerdekaan pers, yakni bebas dari sensor dan kontrol, sebegitu jauh ternyata hanya menyangkut hubungan dengan pemerintah. Definisi ini tidak berlaku di perusahaan media tempat para awak pers bekerja. Ini bisa kita baca dalam buku John Herbert, Practising Global Journalism: Exploring Reporting Issues Worldwide (Focal Press, 2001).

Diungkapkan pula, beberapa jurnalis global berontak menentang prinsip manajemen arus-pasar tersebut. Mereka mengecam cara koran mendesakkan pola bisnis macam ini. Corak komersialisasi ini dinilai telah meluluhkan peran sejarah media massa sebagai ‘agen kebenaran’ dan pengawas pemerintah (government watchdog).

Situasi ironis ini sekaligus menggelontor ukuran kepatutan atau etika dalam pola pemberitaan. Ditambah lagi dengan kian maraknya internet merasuki pelbagai faset kehidupan semenjak awal dasawarsa 1990-an. Memang, masyarakat kini mudah sekali mendapatkan informasi mengenai suatu kejadian. Juga dapat memasok sudut pandang pribadinya dalam tempo sekejap lewat e-mail atau via ruang-ngerumpi (chatroom).

Namun kemudahan yang disediakan teknologi mutakhir ini, nyatanya mengandung situasi yang pelik dalam urusan etika dan hukum. Misalnya, sesuatu yang legal di sebuah negara bisa saja ilegal di tempat lain. Begitu pula sesuatu yang etis di sebuah negara boleh jadi tidak etis di negara lain. Perbedaan semacam itu bahkan bisa terdapat di antara dua negeri berjiran.

Internet juga telah membiakkan problem etis pada dirinya. Satu di antara soal terbesar adalah menyangkut hak-cipta dan hak-hak kekayaan intelektual. Informasi di situs dunia maya tampaknya patut dipertimbangkan untuk punya kode etik. Sebuah organisasi yang mendesakkan pentingnya masalah ini adalah Better Ethics Online (BEO) (http://www.actionsites.com/beo/index.html).

Sampai di mana upaya BEO memang diindahkan, tentu sejarah yang bakal mecatatnya kelak. Peragat teknologi untuk menyampaikan informasi boleh saja pesat silih-ganti berebut pintar. Bukan berarti bakal berkurang tuntutan kebutuhan akan reporter dan editor yang piawai dan memiliki integritas. tapi Justru kian meningkat.  Sebab amanah publik senantiasa menuntut supaya media massa profesional jangan gampang ditilap sihir para perekayasa isu atawa topik berita.

Dari kilasan risalah media massa dalam skala dunia ini, tampak betapa terjadi semacam pergulatan serius di dalam dirinya sendiri. Begitulah, sampai hari ini lonceng kematian jurnalisme memang belum berbunyi. Tapi selebihnya, tentu tergantung kepada generasi baru kelak membuktikan si lonceng maut tak bakal berdentang. Inilah tantangan bagi wartawan generasi baru — yang masuk dunia jurnalistik dalam era 1990-an. Baik di kalangan media cetak maupun media elektronik.

Di Amerika saja kondisinya begitu memprihatinkan, kononlah pula di negeri yang masih hubar-habir ini. Tugas investigasi sungguh masih merupakan sebuah kemewahan. Itu sebabnya, amat penting disadari oleh para awak media massa untuk terus belajar, dan belajar lagi. Sadar posisi agar tak gampang cuma dijadikan ‘layangan’ sembarang kepentingan.

Ingat saja pesan Henry Ford (1863–1947). Industriawan otomotif beken ini pernah bilang: “Siapa saja yang berhenti belajar maka dia pun tua, tak peduli usianya 20 atau 80 tahun.” Nah!

* Ed Zoelverdi, Gatra — Kolom, edisi 23 Februari 2002, dengan revisi.

written by matkodak \\ tags:

One Response to “Era Mediasaurus”

  1. Tri Mustika Says:

    Tapi kan emang bener Pak,Kalo penggunaan internet lebih memudahkan kita mencari informasi,berita,etc. Ya meskipun Banyak juga sih Pak,dampak negatif nya. StujU juga sih sama yang Bapak tulis,bahwa “Internet & Informasi di situs dunia maya tampaknya patut dipertimbangkan untuk punya kode etik”.

Leave a Reply