Minyak kelapa luas digunakan penduduk Asia Pasifik sebagai obat tradisional, selama ribuan tahun. Opini bengkok pernah menudingnya sebagai biang penyakit. Namun ilmu kesehatan moderen kini menggali kembali rahasia kekuatan kelapa untuk penyembuhan yang menakjubkan.
INGAT lagu terkenal “Rayuan Pulau Kelapa” yang digubah Ismail Marzuki. Sentana kita mendengarnya tatkala berada di luar negeri, niscaya batin tergugah: antara haru dan bangga terhadap Ibu Pertiwi — negeri kepulauan yang kaya dengan pohon kelapa. Inilah jenis pohon yang tiada duanya dalam hal manfaat bagi kehidupan manusia (lihat juga: Pohon Tiada Tandingan).
Buah kelapa dilukiskan sebagai “raja kelana” — sungguh jitu, karena dia bisa mengembara dibawa gelombang samudera, dan kemudian terdampar di pantai nun di pelosok dunia. Lalu dia pun tumbuh. Tanaman yang satu ini boleh dibilang istimewa. Dia tak hanya tumbuh di dekat air asin, tapi juga di kawasan
pegunungan. Begitulah penduduk kepulauan di Asia dan Pasifik selama ribuan tahun sudah akrab dengan kelapa, baik sebagai bahan makanan maupun untuk pengobatan serta komoditas dagang.
BERAGAM KHASIAT UNTUK KESEHATAN
Para penjelajah dari Spanyol di masa dini menyebutnya coco nucifera — ini kelak menjadi nama ilmiah kelapa. Coco berarti “muka monyet”, karena pada batok yang masih berbulu ada tiga mata, mirip kepala dan wajah monyet. Nucifera secara harfiah berarti nut-bearing, maksudnya ya buah kelapa.
Lepas dari urusan nama yang mungkin aneh itu, yang jelas sejarah sudah membuktikan betapa kelapa merupakan sumber gizi, baik berupa dagingnya, santan ataupun minyak. Buah ini bergizi tinggi dan kaya dengan serat, vitamin serta mineral, tergolong “makanan fungsional”, karena mengandung berbagai khasiat
buat kesehatan.
Rahasia kekuatan penyembuhan yang menakjubkan dari kelapa, belakangan ini, kembali jadi kajian ilmu kesehatan moderen. Masyarakat dari beragam budaya, bahasa, agama, dan ras — yang tersebar di berbagai pelosok dunia, memuliakan kelapa sebagai sumber makanan serta bahan pengobatan. Namun opini bengkok yang gencar digelembungkan kemudian justru menuding kelapa sebagai ‘biang penyakit’.
Lambat-laun ketahuan, motifnya tak lain dari sekadar kepentingan bisnis. Kini, berbagai studi yang disiarkan dalam jurnal medis menunjukkan bahwa minyak kelapa memang mengandung khasiat yang luas untuk pengobatan. Secara tradisional, minyak kelapa mangkus mengobati aneka penyakit, seperti kurang
gizi, lesu, asma, bronkitis, batuk, pilek, flu dan tifus.
Juga untuk sakit kuping, radang gusi, sakit gigi, radang tenggorokan, gangguan masa haid, keluhan lambung, sembelit, mual, batu ginjal. disentri, sakit kuning. Begitu pula untuk obat rambut rontok, membasmi kutu di kepala, abses, luka, memar, luka bakar, bengkak, bisul, infeksi kulit, kudis dan kurap. Luas pula digunakan untuk mengobati tumor, tbc paru-paru, dan bahkan untuk gonorrhea serta sipilis.
Penting dicatat lagi khasiatnya untuk mengobati stres, memelihara level kolesterol, meningkatkan kekebalan tubuh, memperkuat tulang, memelihara pencernaan dan metabolisme. Juga menormalkan tekanan darah, diabetes, dan obat kanker. Rangkaian bukti tentang khasiat minyak kelapa buat kesehatan, sejauh ini memang dikenal luas dalam pengobatan tradisional India di Ayurveda.
Minyak kelapa sering dipilih sebagai bagian menu para atlet dan binaragawan. Alasannya, minyak kelapa mengandung kalori lebih rendah dibandingkan minyak lain. Lemaknya mudah diolah menjadi energi, dan tidak menumpuk di jantung dan saluran darah. Dengan demikian, sang atlet dapat tampil prima di arena.
Minyak kelapa pernah disebut tak sehat. Salah paham ini timbul karena mengira kandungan lemak jenuhnya tinggi. Kini diketahui, lemak dalam minyak kelapa adalah unik, dan beda dengan umumnya minyak-minyak lain. Khasiatnya pun banyak buat kesehatan, sebagaimana terbukti dari serangkaian penelitian para ahli.
“Coconut oil is the healthiest oil on earth,” kata Bruce Fife, N.D, pengarang 18 buku termasuk The Coconut Oil Miracle (sebelumnya berjudul The Healing Miracles of Coconut Oil), di Colorado, Amerika Serikat.
Mulai sekarang, mari gunakan kelapa untuk bahan masakan. Minyaknya untuk goreng-menggoreng, dan santannya untuk membuat gulai. Sebagai negeri kepulauan, pohon kelapa sungguh anugerah Ilahiyah. Kini waktunya untuk dimanfaatkan maksimal.
Dengan demikian, perlu dihidupkan lagi pabrik minyak kelapa tulen. Atau mendorong tumbuhnya industri rumahan. Lahan usaha rakyat jelata ini tentu dapat menjadi langkah menuju kemakmuran bersama di seluruh pelosok negeri.
Mudah-mudanan tak keliwat terlambat menyadari, sudah ribuan tahun pohon kelapa dipandang bernilai tinggi di belahan bumi kita. Sehingga tak berlebihan bila penduduk kepulauan di Asia dan Pasifik menjulukinya “Pohon Kehidupan” (The Tree of Life).
POHON TIADA TANDINGAN
SEBAIK-baik manusia adalah yang berguna untuk orang lain. Mudah dihafal, memang. Tapi dalam kenyataan, apakah benar-benar berguna dari ujung rambut sampai ke ujung kaki, sebagaimana kehebatan pohon kelapa?
DAUN. Masih berupa daun muda alias pucuk, bisa digunakan sebagai hiasan gerbang sebuah pesta. Bisa dibikin janur, dan dapat pula dianyam jadi bungkus ketupat. Lanjut sedikit, daunnya boleh dirajut menjadi bahan tikar atawa dinding. Juga untuk bahan atap. Sedangkan lidinya cocok untuk tusuk sate. Lewat lagi, lidinya disusun menjadi sapu.
TANDAN BUAH. Ketika mulai berbuah, tandannya bisa ditakik untuk menyadap sari gula. Selanjutnya diolah menjadi gula kelapa alias gula merah.
BUAH. Bisa dipetik ketika masih hijau atau muda. Airnya segar pelepas dahaga, daging buahnya pun sedap dikorek dengan sendok. Jika kulitnya menguning atau dia jatuh sendiri, isinya bisa diparut untuk sayuran urap. Atau campuran goreng telur dadar supaya gembur.
Atau diperas jadi santan untuk gulai, seperti kelio, sayur lodeh atau rendang. Juga untuk kolak, dan sebagainya. Masih dari daging buahnya, santan dapat diolah menjadi minyak goreng. Dan bahan dasar untuk bikin mentega.
Di dalam buah kelapa yang tua, sering ada ekstra buah lagi seukuran bola tenis. Orang Minang menyebutnya //talombong./ Rasanya manis-manis gurih. Adakalanya talombong ini mengeras dan ciut sebesar kelereng. Ini disebut mustika kelapa, biasa dijadikan batu akik untuk hiasan cincin. Harganya tidaklah murah, karena terbilang akik langka.
Tambahan info: ampas sisa perasan santan, biasa pula dijadikan tambahan makanan untuk bebek piaraan. Atau untuk bahan membersihkan lantai rumah yang terbuat dari papan.
Minyak yang dihasilkan dari bahan daging kelapa, meski jelas berkhasiat untuk kesehatan, belakangan ada yang menyulingnya lagi. Itulah yang sempat beken disebut sebagai “minyak kelapa perawan” (Virgin Cococnut Oil).
Adalah dari buah kelapa lahirnya ungkapan terkenal “mumbang jatuh kelapa jatuh”. Mumbang itu putik kelapa. Kiasan ini bermakna kematian bukanlah soal jumlah umur seseorang. Sebab bayi dalam kandungan pun bisa saja meninggal. Lalu, ada lagi ungkapan lain, bunyinya “coba-coba bertanam mumbang, siapa tahu
tumbuh kelapa”. Maknanya, melakukan kerja yang sia-sia. Atau bisa dianggap positif: satu upaya yang tak kenal menyerah.
SABUT. Buah kelapa punya dua bungkus: sabut, dan tempurung atau batok. Sabut kelapa biasa digunakan untuk bahan pengganjal jok kursi mobil. Atau sofa yang pakai pegas keong. Tapi kini tampaknya sudah diabaikan. Selain itu, sabut kelapa bisa diolah menjadi tali. Inipun sekarang agak dilupakan.
TEMPURUNG. Secara tradisional, arang tempurung kelapa paling cocok untuk memanggang ayam, ikan atau sate. Dan di kampung yang tak ada listrik, orang memanaskan setrika dengan arang batok kelapa. Selain itu, arang tempurung kelapa pun mangkus sebagai obat anti diare.Adalah batok kelapa pula yang mengundang inspirasi para perajin.
Misalnya, yang paling sederhana membuatnya jadi sendok nasi atau gayung. Lebih maju lagi, ada yang membuat sebagai bahan aneka hiasan dinding, kancing baju, kepala ikat pinggang, atau merajutnya jadi tas imut, dan sebagainya.
POHON. Batang kelapa bermanfaat sebagai balok, bisa untuk tiang bangunan, jembatan, bahan pagar, dan lain sebagainya. Gerak pohon serta dedaunan bergoyang diayun angin, inilah yang antaranya mengilhami lahirnya sebuah lagu. Ingat saja, lagu “Rayuan Pulau Kelapa” menjadi abadi, dan dijamin tak akan ada lagu Rayuan Pulau Kelapa Sawit…
>> Koleksi Ed Zoelverdi