May 25
SUATU sore di sebuah paktek dokter jiwa, datang seorang nyonya cantik. Dalam daftar nama pasien, namanya tertulis Nyonya Anu… — dan orang paham itu nama orang yang lagi getol obral janji di arena pilek, eh pileg.
Menurut kabar terakhir, dia gagal. Padahal modal tampil sudah ludes milyaran — dan sebagian pinjam kiri-kanan. Selama menunggu giliran, sang nyonya hanya duduk diam di pojok. Tiba waktunya ketemu dokter, segera saja dia teriak: “Gawat, dokter! Anda harus segera tolong suami saya. Dia selalu bilang bahwa dia itu ayam.” Continue reading »
written by matkodak
May 07
BARU satu alinea saya menulis, tiba-tiba kursi bergoyang. “Oalah, ente, Mat,” hanya itu yang bisa saya ucapkan, dan menunda omelan karena sobat ini datang tanpa uluk-salam lagi. Juga lain dari biasanya, kali ini wajah Mat Gawat kusut masai. Ada apa gerangan?
“Huhh…, mumet,” dia bilang, sembari mengempaskan diri di kursi. “Pilek sekarang gawat, bisa berkibat maut,” katanya lagi. Dan ketika disodori rokok, lagi-lagi dia melenguh.
“Pilek maut? Apa keluarga kau ada yang kena flu Singapura, eh flu Meksiko, atawa flu babi?”
Continue reading »
written by matkodak
\\ tags: grass roots; grass widow' grass widower; pilek; tali termahal; Rp 2 milyar;
Mar 28
PERAGAT teknologi komunikasi hari ini begitu terbilang sempurna. Segala urusan bisa selesai dalam sekejap mata, sekali pun rundingan berlangsung dari jarak berjauhan. Kebiasaan bikin pertemuan atau rapat secara bermuka-muka — sebagaimana lumrah dilakukan pada abad lampau, kini ditanggulangi dengan fasilitas kamera video pada benda imut itu.
Belum mampu memproduksi sendiri alat pintar serba komputer, mungkin boleh disebut ketertinggalan sekian ribu langkah. Tapi cuma memakainya secara tepat-guna pun masih tidak paham, sungguh satu kemalangan tersendiri. Para bos berebut beli alat komunikasi paling gres, lantaran mitra bisnisnya baru saja beli barang itu. Selebihnya, dia sudah bangga ketika ada anak buahnya berdecak kagum melihat si imut pintar itu. Continue reading »
written by matkodak
Feb 27
“Negeri Serumpun” punya bisnis serupa tetap berdampingan secara damai dan maju untuk makmur bersama. Teknologi mutakhir multimeda mungkin jadi sebagian solusi carut-marutnya situasi Jakarta.
PUKUL 07:00 waktu setempat, atau pukul 13:00 waktu Indonesia bagian barat. Pada pagi musim salju di bulan Februari, wajah rembulan sama cemerlangnya dengan lampu merkuri di jalan raya Kiruna. Kota yang memakai nama sejenis burung ini terletak di bilangan utara Swedia, satu jam setengah terbang dari ibukota (Stockholm). Jika terbang satu jam lagi, kita akan sampai di Greenland, pulau es di ubun-ubun bola dunia.
Semalam suhu berkisar 20 derajat Celsius di bawah nol. Pagi ini — meski matahari terik, masih 10 derajat di bawah nol. Buat orang dari negeri tropis, perubahan cuaca mendadak yang begitu tajam, sungguh terasa amat mencucuk. Kulit muka rasanya bagai tersayat kena sapuan angin mahadingin itu. Bibir pun retak-retak, meski diolesi lipstik pelembab. Begitu pula ujung hidung yang sudah dioles minyak zaitun, tetap saja terkelupas. Continue reading »
written by matkodak
\\ tags: ; Cap Tuan; Bluetooth; bos; dasi, Greenland; Jonas; Dewi;, Kiruna
Feb 24
RIBUAN tamu yang menghadiri pesta pernikahan Jack dan Jacky, sepakat mengomentari bahwa pasangan mempelai sungguh dua anak manusia yang saling mencintai. Jack seorang arsitek yang sukses, sementara Jacky sedang naik daun sebagai ahli hukum. Menjelang bulan kedua perkawinan mereka, Jacky pun merasa tepat waktunya menyampaikan semacam prinsip hidup berumah tangga yang aman secara hukum.
“Darling,” bisiknya, pada suatu malam menjelang tidur. “Aku ingin sekali pernikahakn kita ini langgeng.”
“Hm? Ya, dong, sayang,” sahut Jack yang mulai lelap-lelap ayam. “Bukan sekadar sampai nenek dan kakek, tapi sampai akhir hayat…”
Jacky lalu menjawil Jack untuk bangun. “Kalau begitu, mari kita bicarakan…” Continue reading »
written by matkodak
\\ tags: anugerah, cerai, jodoh, pilihan
Jan 07
MAT GAWAT terkekeh sendiri membaca sms di ponselnya. “Udah lewat seminggu, masih ada juga yang kirim met taon baru,” komentarnya.
“Maklum, kan baru aja libur panjang. Bangsa ente paling doyan libur berkepanjangan, apa itu dianggap lucu?”
“Bagian itu sih bukan untuk diketawain, tapi justru bikin prihatin. Sama kayak temanku ini. Dia baru saja pensiun, ulang tahun pas 1 Januari.”
“Lalu, apa yang kocak dari sms dia?” Continue reading »
written by matkodak
\\ tags: bangunlah badannya, bangunlah jiwanya, nglindur
Dec 22
SEORANG pemuda menyusuri lorong-lorong etalase di supermarket, merasa diikuti oleh seorang wanita setengah tua. Yakin tak ada yang perlu dicurigai, setelah memilih belanjaan, dia lalu menuju kasir. Perlu antre, eh pas di depannya adalah wanita tadi.
“Pardon me,” kata wanita itu setengah berbisik, “Maaf kalau pandanganku bikin kau risih, anak muda. Itu tak lain karena wajahmu mirip sekali dengan anakku yang sudah lama menghilang.”
“Wah, sayang sekali,” sahut si anak muda. “Mungkin ada sesuatu yang bisa saya bantu?” Continue reading »
written by matkodak
Nov 04
BUKITTINGGI di Sumatera Barat terkenal sebagai Kota Wisata paling lengkap. Hawanya sejuk, terutama malam hari, merupakan iklim khas yang menimbulkan selera makan. Coba raun-raun masuk pasar, kita dapat menjumpai beragam makanan berat atau ringan. Sehingga Bukitinggi bisa disebut bagaikan “surga selera”. Namun cerita kali ini bukan tentang “wisata kuliner”, melainkan urusan agak jauh di bawah perut: perlengkapan kaki alias sepatu.
“Urang awak” yang pernah tinggal di Bukittinggi dan kota atau kampung sekitarnya sampai tahun 1960an — lalu selebihnya hidup di rantau, niscaya punya memori khas dengan Toko Sepatu Yap Yek. Sampai kini lokasinya masih di Jalan Janjang Minang 6. Cara membuat sepatunya juga sama: tetap menggunakan teknologi tertua dalam riwayat industri sepatu, masih mengandalkan “kerajinan tangan”. Continue reading »
written by matkodak