Dec 22

SEORANG pemuda menyusuri lorong-lorong etalase di supermarket, merasa diikuti oleh seorang wanita setengah tua. Yakin tak ada yang perlu dicurigai, setelah memilih  belanjaan, dia lalu menuju kasir. Perlu antre, eh pas di depannya adalah wanita tadi.
 
“Pardon me,” kata wanita itu setengah berbisik, “Maaf kalau pandanganku bikin kau risih, anak muda. Itu tak lain karena wajahmu mirip sekali dengan anakku yang sudah lama menghilang.”

“Wah, sayang sekali,” sahut si anak muda. “Mungkin ada sesuatu yang bisa saya bantu?” Continue reading »

written by matkodak

Nov 04

BUKITTINGGI di Sumatera Barat terkenal sebagai Kota Wisata paling lengkap. Hawanya sejuk, terutama malam hari, merupakan iklim khas yang menimbulkan selera makan. Coba raun-raun masuk pasar, kita dapat menjumpai beragam makanan berat atau ringan. Sehingga Bukitinggi bisa disebut bagaikan “surga selera”. Namun cerita kali ini bukan tentang “wisata kuliner”, melainkan urusan agak jauh di bawah perut: perlengkapan kaki alias sepatu.
  
“Urang awak” yang pernah tinggal di Bukittinggi dan kota atau kampung sekitarnya sampai tahun 1960an — lalu selebihnya hidup di rantau, niscaya punya memori khas dengan Toko Sepatu Yap Yek. Sampai kini lokasinya masih di Jalan Janjang Minang 6. Cara membuat sepatunya juga sama: tetap menggunakan teknologi tertua dalam riwayat industri sepatu, masih mengandalkan “kerajinan tangan”. Continue reading »

written by matkodak

Oct 14

JAKARTA, 14 Oktober 2008, pukul 05:53, pesawat ponsel saya berdering. Di seberang sana, Bung Alijullah Hasan Jusuf dari Paris, menyampaikan kabar duka: Pelukis SALIM telah berpulang ke Rahmatullah tanggal 13 Oktober 2008 jam 17:15 waktu setempat.  Bung Alijullah selaku “anak angkat” Pelukis Salim saya minta supaya kirim email untuk cerita selengkapnya. Berikut ini kutipan emailnya:

Pelukis Salim meninggal dunia di rumah sakit Neuilly Sur Seine-Paris, France, dalam usia 100 tahun 1 bulan 10 hari. Sampai saat terakhir pikiran beliau masih cerdas, malah menanyakan berapa skor pertandingan sepak bola antara Prancis dan Rumania. Continue reading »

written by matkodak \\ tags:

Sep 22

Terowongan sepanjang 4 km berliku di perut Kota Wisata Bukittinggi — peninggalan zaman penjajahan Jepang, terbuka untuk kaum pelancong. Petunjuk tentang apa yang ada di dalamnya, sejauh ini baru sebatas catatan di gerbang gua.

ATTENTION…! Untuk kepuasan dan kenyamanan anda, para pengunjung Taman Panorama dan Lobang Jepang, kami menyediakan jasa pemandu yang berlisensi. Begitulah gaya pengumuman di kertas lusuh yang ditempel di dinding tebing, beberapa langkah dari gerbang Lubang Jepang di Ngarai Bukittinggi, Sumatera Barat.

Lalu di bawahnya, ada selembar kertas lagi berisi tulisan: Pengunjung yang terhormat. Nikmatilah keunikan serta keindahan Lobang Jepang ini !!! Mohon jangan melakukan aktivitas yang melanggar aturan serta perbuatan asusila !!! Semua aktivitas anda termonitor pada kamera kami… Terimakasih atas perhatiannya, ttd… Penanggung Jawab.

Continue reading »

written by matkodak

Sep 13

Sebagai warganegara Indonesia, sosok pelukis Salim di Paris terbukti “bukanlah orang biasa”. Di negeri yang punya budaya menghargai manusia, warganegara berulang tahun ke-100 — dan masih hidup, beroleh ucapan “Selamat Ulang Tahun” langsung dari kepala negaranya.


Pameran karya-karya Salim di Jakarta. E-MAIL dari Bung Ariffin Dungga, Staf KBRI di Paris, 6 September 2008, berisi foto-foto disertai cerita kecil: “Saya baru saja pulang dari rumah Pak Salim. Tetangganya, M. Galibert, membuat selamatan untuk Pak Salim di halaman masuk apartemen…. Yang datang, Wakil Walikota Neuilly-sur-Seine, Mme. Christine Giraud-Sauver. Ceritanya nanti ya.”

Meski hampir sepanjang umur bermukim di Paris, namun Salim tetap memelihara statusnya sebagai warganegara Indonesia. Nah, sampai petinggi Kota Paris bertamu di hari ulang tahunnya, membuktikan bahwa sosok Salim terbilang “bukan orang biasa” di kota dunia itu. Akan halnya di Indonesia sendiri, untuk merayakan ulang tahun yang langka — saat sang tokoh masih hidup — ini, Galeri Cemara 6 bekerjasama dengan Pusat Kebudayaan Prancis di Jakarta, dan Biro Oktroi Roosseno, meyelenggarakan pameran karya Salim. Continue reading »

written by matkodak

Aug 16

Kalibataku — singkatan kali-bagi-tambah-kurang, selama ini bikin bingung pabrik kalkulator. Sebab tombol bagi-membagi dibikin macet. Ternyata itu cerita kuno sudah. Kalibataku versi abad 21, jauh lebih meriah dan … amit-amit!

SORE kemarin tiba-tiba Mat Gawat mencogok di rumah, setelah tiga hari tak kelihatan batang hidungnya. “Susah memang ini masyarakat ente,” gerutunya, sembari membanting topi petnya yang lusuh. Kepalanya yang botak berkilat oleh keringat. Belum sempat saya bertanya, dia menyerocos: “Mana tuh kopi jahe, mainkan…”

Gayanya mirip bos, maklum, dia pensiunan orang penting. Mau dibilang post power syndrome, ada juga meski tidak terlalu. Sebab Mat Gawat sadar juga bahwa “gaya kantoran” tak cocok dibawakan dalam pergaulan di masyarakat. Dan sebagai pensiunan, Mat Gawat tidak sudi disebut “mantan”, sebab, katanya, mantan artinya kan manusia-restan.

Punya pengalaman panjang jadi bos di perusahaan swasta, beberapa tahun sebelum pensiun Mat Gawat sudah menyiapkan sekoci. Dia buka perusahaan sendiri yang disebutnya masih kecil-kecilan. Merasa dapurnya aman, ia pun membagi waktu untuk aktif dalam berbagai kegiatan sosial di lingkungannya. Beberapa hari belakangan, katanya, dia sibuk jadi panitia 17-an tingkat RW.

“Ooo, aku kira kau sedang ke Hongkong,” saya bilang. “Jadi panitia 17-an, asyik dong.” Continue reading »

written by matkodak \\ tags: , , , , , , , , ,

Aug 14

Pelukis Salim genap berusia 100 tahun nun jauh di negeri orang, dan tetap memelihara status sebagai warganegara Indonesia. Di depan pintu kamarnya di Paris, ia memasang ungkapan “Mai Morirem” — kita tidak akan mati. Sepanjang umur bermukim di jantung budaya Barat, Monsieur Salim justru mengingatkan agar orang Indonesia tidak begitu saja memamah-biak segala yang datang dari Barat.

SEPUCUK kartu Selamat Tahun Baru saya terima dari Paris, Prancis, awal Januari 2008.  Pengirimnya: Salim — pelukis, orang Indonesia yang tahun ini genap berusia 100 tahun. Tulisan tangannya tidak banyak berubah. Saya mengenalnya pertama kali sekitar tahun 1970an, ketika Bung Salim — penggilan akrabnya — menggelar pameran karyanya di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Lalu dalam sebuah trip ke London, tahun 1981, pulangnya saya singgah di Paris — dengan tujuan utama mampir di rumahnya. Kemudian tahun 1987, saya ke Paris lagi menghadiri resepsi ulang tahun ke-20 Kantor Berita Foto Gamma. Acara penting lainnya tentu saja bertamu ke rumah Bung Salim. Begitu pula tahun 1993, dalam perjalanan pulang dari Amerika Serikat, saya pun singgah di Paris. Ya, mampir di rumah Bung Salim lagi.

Sampai suatu hari di awal 1995, dari Jakarta saya menelepon ke rumahnya di Paris — hanya sekadar kangen-kangenan. “Saya sekarang 86 tahun. Bukan main, ya, tua sudah,” katanya sambil tertawa. Dan sejauh itu, ia bilang tidak harus berpantang makan ini itu. “Saya makan apa saja. Minum anggur, tapi tidak merokok lagi. Sudah berhenti 14 tahun,” tuturnya, dalam bahasa Indonesia logat Prancis. Kecuali ada sedikit keluhan mengenai kaki, selebihnya Salim sehat-walafiat. Pendengarannya pun masih tajam. Juga, daya nalarnya tetap kritis. Continue reading »

written by matkodak \\ tags: , , , , , ,

Aug 01

Negeri ini dimerdekakan para pejuang dari belenggu penjajahan asing, dengan cita-cita menjadi bangsa berdaulat dan bermartabat. Namun bagian ini kini bukan hanya dilupakan, tapi diobok-obok justru oleh anak negeri sendiri — demi segepok uang, sudi menjadi budak untuk kepentingan asing.

LACK of money is the root of all evil, kata George Bernard Shaw (1856-1950).  Artinya, tidak punya uang adalah akar segala kejahatan. Rumusan sang penulis beken ini kini mencapai wujud lebih peyot: meski punya uang tetap saja orang berbuat jahat atawa lancung alias pesta-pora menjadi koruptor.

Nah, koruptor itu makhluk apa gerangan? Jika memang manusia — dengan banyak gelar pula, punya jabatan tinggi serta gedung yang semakin tinggi, tapi daya pikirnya sangatlah rendah. Tidak lebih cuma sejengkal dari pusar di perut. Padahal sejarah membuktikan, betapa wabah korupsi bermuara pada hancurnya negeri sendiri.  Continue reading »

written by matkodak \\ tags: