May 30
Pada ulang tahun ke-42 (28 Juni 2007), Kompas menerbitkan buku kedua kumpulan foto para wartawannya. Layak ditunggu terbitnya buku foto yang menampilkan karya wartawannya secara tunggal.
MENGHIMPUN karya foto wartawan dalam sebuah album bukanlah pekerjaan gampang, rupanya. Bahkan untuk koran sebesar dan setua Kompas, perlu waktu 32 tahun untuk menerbitkan buku kedua kumpulan foto wartawannya. Buku pertama, Indonesia Dalam 250 Foto muncul tahun 1975 bersamaan dengan perayaan 10 tahun suratkabar itu.
Buku kedua, Mata Hati 1965-2007, diluncurkan bersamaan dengan pembukaan pameran 179 foto bertajuk serupa, di Gedung Bentara Budaya, Jalan Palmerah Selatan, Jakarta Selatan, 16 Juli 2007. Ketua Panitia — Arbain Rambey, mengatakan setelah digelar seminggu di Jakarta, foto-foto itu dikelilingkan ke Medan, Semarang, Yogyakarta, Malang dan Surabaya.
Continue reading »
written by matkodak
\\ tags: buku, foto, kompas, mata hati, wartawan
May 27
HARI-HARI di awal Juni 1977, Gubernur Ali Sadikin sebagai penguasa Jakarta bisa saja memanggil semua lurah datang menghadap, lalu pidato untuk pamitan. Tapi bukan itu yang dilakukannya. Bang Ali justru keliling mengunjungi seluruh kelurahan, hanya didampingi satu ajudan.
Pertemuan dengan para lurah begitu akrab. Dan warga setempat pun tumpah-ruah berebut menyalaminya. Di tiap kelurahan, Bang Ali selalu mengingatkan. “Pak Lurah, penghijauan yang kita lakukan sekarang baru pohon-pohon sementara,” katanya. “Cepat susulkan menanam pohon
yang awet, seperti mahoni, pohon asem, kenari, kayak zaman Belanda dulu”.
Sejauh yang kita amati, pesan Bang Ali itu tampaknya dilupakan begitu saja. Namun dalam skala besar, sulit melupakan jejak-langkahnya selama mengurus Jakarta. Bukan sekadar pembangunan fisik yang dikerjakannya hingga Jakarta layak menjadi Ibukota Republik Indonesia. Tapi lebih
dari itu: mencakup pelbagai faset kebutuhan hayati manusia, lahir batin. Ali Sadikin sebagai gubernur benar-benar mewujudkan prinsip mendahulukan kepentingan umum di atas kepentingan golongan atau korps.
Continue reading »
written by matkodak
\\ tags: ali sadikin, bangsa, pahlawan, souvenir, tokoh
May 26
INI sepotong cerita lama dibuang sayang. Pada hari-hari menjelang pemilihan umum, seperti biasa ada yang berbusah obral janji : “Pokok-e nanti di sini kita bikin pabrik tektil, sudara-sudara.” Prok-prok-prok! Massa bertepuk riuh.
Dapat sambutan heboh, sang tokoh kian syur menggelebungkan “pabrik tektil”. Sampai lima kali. Sekian kali pula dia sebut “subtansi…. intropeksi…” Jurubisiknya risih. Tekstil, substansi, introspeksi — S di tengah kok raib.
Dari kursi dia setengah berteriak: “Kurang S, Pak…” Sang tokoh pun sigap tanggap, “Yak, susudara, bukan cuma tektil, nanti pabrik es juga bakal kita bikin…”
Mat Gawat masih terkekeh meski cerita itu agak sering diulangnya. “Kebiasaan korupsi, sih. Memulung kata orang lain, S pun ditilap,” komentarnya.
“Mengebiri huruf S, mungkin tak keliwat gawat selama makna kata itu tidak tergeol alias melenceng ke mana-mana…”
“Maksud, Bung?”
Continue reading »
written by matkodak
\\ tags: bahasa, GATRA, jurnalis, kreol