Pameran teknologi merekayasa karya foto di New York, membuka peluang manipulasi foto hampir tanpa batas. Kejujuran fotografi kini mendapat godaan.
MELIHAT satu kali jauh lebih berharga dibandingkan dengan hanya mendengar seratus kali. Itulah manfaat fotografi: menyebar-luaskan kenyataan di suatu tempat ke seluruh penjuru. Ini memang pernah teruji di bidang kerja orang koran alias dunia jurnalistik. Fotografi berkibar di media cetak sebagai kekuatan khas, sejak medium ini masuk koran menjelang abad ke-20.
Namun sebuah karya foto, sebagaimana tulisan, tak luput dari utak-atik. Sehingga hal “menyebar-luaskan kenyataan” kini harus dikoreksi. Karya foto ternyata bisa juga disalah-gunakan untuk memutar-balik keadaan sebenarnya, terutama untuk tujuan politis.
Ingat saja, misalnya, sajian foto di koran China Pictorial bulan Oktober 1976, dua minggu setelah Jiang Qing dan konco-konconya disingkirkan dari panggung politik Negeri Tirai Bambu itu. Foto tahun 1947 tersebut merekam saat Mao Zedong dan pasukannya melakukan long march, dan Jiang Qing tampak di latar belakang.