Jul 23
Memicingkan mata sebelah ketika memotret, bukan hanya soal terbiasa menyontek. Tapi lebih mendasar adalah terperangkap pada kebiasaan main kira-kira alias sangka-menyangka. Padahal satu di antara pegangan penting untuk bergaul akrab dengan fotografi adalah kita harus membebaskan diri dari “budaya prasangka”.
SERING kita lihat orang memotret dengan mata terpicing sebelah. Kok begitu, sih? Mereka yang bergaul dengan fotografi — baik pemula maupun kawakan, ada yang menganggap pertanyaan itu serius. Ada pula yang cuma mengira banyolan.
“Mata merem sebelah, kan biar lebih fokus waktu mengintip di kamera. Lebih kurang kayak orang menembak,” kata seorang Mat Kodak. Ini jawaban serius, tentu saja.
“Kalau dipicingkan dua-duanya, kita nggak bisa melihat dong,” komentar fotografer yang lain, sembari terbahak. Ini jawaban kelakar, memang.
Continue reading »
written by matkodak
\\ tags: terpicing; kebiasaan; menyon; pencong; individual; undu
Jun 14
BERTAMU pukul 03.00 dinihari. Yah, dia sohib kita, Mat Gawat namanya. Dan menjelang pagi — Senin 1 April lampau, kawan satu ini muncul sembari bawa cerita. Katanya, tadi ada kecelakaan di Jalan Raya Salemba, Jakarta. Jalan justru sepi, eh ada sepeda motor tahu-tahu terjungkal. Kejeblos lubang jalanan, gara-gara lubang itu terendam air.
“Pasti tak ada beritanya di koran. Aku maklum. Urusan bah yang begitu gawat pun buntutnya dilupakan sudah. Orang media kita payah,” komentarnya. Continue reading »
written by matkodak
\\ tags: bibit bagus, candid, digoyang, dirantai, dosa sejarah, gerah, izin terbit, manajemen air, orgasmus, pornografi, sensasional
Jun 14
Jika menganggap banjir cuma sebagai objek, silakan saja tunggu air merendam bundaran Hotel Indonesia sampai semata kaki…….
HANDUK kecil masih tersampir di pundak saya, ketika ada kawan bertamu di celah hari-hari basah yang parah kemarin. “Aku lihat jalan ke rumah Bung tidak kayak kolam renang lagi,” katanya, “masih berkeringat, kelihatannya habis kerja bakti.”
“Orang kate, seisi rumah kita barusan rame-rame melantai,” saya bilang. Continue reading »
written by matkodak
\\ tags: politikus, serampangan, subjek, terpulang, tokoh-pagi-sore
Jun 09
MEMOTRET dan menulis itu setara prinsip mutu kerjanya, sudah kita jelaskan. Yakni sama merupakan ekspresi atau cerminan berbagai jalan pikiran serta citarasa. Bertolak dari pengertian ini maka orang menulis niscaya tidak pernah secara kebetulan. Atau tulisan itu lahir lantaran faktor keberuntungan.
“Tapi kok dalam foto ada yang suka bilang fotonya jadi karena faktor luck atau keberuntungan? Gimana tuh, Bung?” tanya kawan kita. Continue reading »
written by matkodak
\\ tags: inferior minder zalim
Jun 08
FOTOGRAFI adalah sebuah medium. Dia netral sebagai alat ekspresi. Sama seperti bidang politik: mirip kendaraan — juga netral, tak bisa begitu saja disimpulkan “kotor”, misalnya. Fotografi pun dapat dijuluki kendaraan untuk menyampaikan aneka gagasan, pesan atau kesan, setara dengan sektor Bahasa Kata atau tulis-menulis.
Orang berkembang sesuai dengan potensi minatnya di bidang tulis-menulis — setelah belajar, tentu saja. Dan sejak awal belajar menulis, tidak pernah disebut-sebut bahwa orang harus punya bakat seni. Juga tidak pernah terdengar iming-iming: kalau pandai menulis nanti kau menjadi pujangga, misalnya. Warasnya, untuk belajar fotografi pun sama saja.
Continue reading »
written by matkodak
\\ tags: analog, digital, fotografi
Jun 06
JAKARTA pada suatu sore, di sebuah toko foto kita berpapasan dengan seorang Mat Kodak. Saya mengenal anak muda ini amat bergairah memilih pekerjaan sebagai fotografer. Selain menggunakan kamera digital, dia juga masih pakai kamera analog. Filmnya diproses di toko itu.
Sambil menunggu filmnya selesai dicuci, kita ngobrol ngalor-ngidul, termasuk tukar-tukaran lelucon kecil. Sampai suatu saat ia berbisik: “Bulan depan aku keluar dari kantor itu, Bang.” Wajahnya murung sejenak.
“Lho! Bagaimana ceritanya, sih. Apa lantaran gaji kecil?”
Continue reading »
written by matkodak
\\ tags: Add new tag, tripod monopod statif
Jun 04
Silakan mejeng bertopang dagu sembari nyengir. Foto setengah badan yang mungkin berkilauan emas itu, boleh jadi dibilang bagus oleh orang sedunia, namun coba saja sodorkan untuk minta katepe atawa paspor…….
DALAM pertemuan di berbagai forum publik, seperti lokakarya, penataran, sarasehan — atau di warung kopi, sering sekali kita disodori pertanyaan: foto bagus itu yang seperti apa sih? Pertanyaan itu muncul dari beragam peminat dan pelaku fotografi, termasuk dari para Mat Kodak di kalangan orang koran.
Misalnya, pada suatu hari ada kawan memperagakan selembar foto ukuran kartupos. “Aku baru beli kamera, coba-coba moto di rumah,” dia bilang. “Bagus nggak hasilnya begini?” Foto itu merekam seorang perempuan duduk teronggok di lantai sedang menonton televisi. Saya lalu bertanya : ” Siapa ini? Babu ente, ya?” Continue reading »
written by matkodak
\\ tags: foto bagus, fotografi
Jun 01
Jakarta, Selasa 29 Juni 1976.
Pukul 19:00, rapat di Sanggar Film Taman Ismail Marzuki (TIM). Yang mengundang: Sumardjono, sehari-hari Dekan Akademi Sinematografi Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (LPKJ), kali ini dalam kedudukannya selaku pengurus umum BPPS akademi tersebut.
Hadir malam itu selain Sumardjono, adalah M.D. Aliff, Fakhri Amrullah, Sutomo, Jimmy. Juga dua mahasiswa, Sentot dan Gde Estu. Sedangkan D.A. Peransi terlambat. Katanya sih, sakit perut. Pokok perbincangan adalah mengenai rencana keberangkatan ke Rimbo Bujang di Jambi, untuk membuat foto-foto mengenai proyek transmigrasi.
Sumardjono mengutarakan bahwa Direktorat Jenderal Transmigrasi meminta jasa baik Akademi Sinematografi untuk menggarap pemotretan proses transmigrasi. Ini akan meliputi seluruh provinsi di Indonesia. Mulai dari daerah asal, proses pemindahan, sampai mencapai tempat tujuan.
Continue reading »
written by matkodak