<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>

<channel>
	<title>Ed Zoelverdi</title>
	<atom:link href="http://edzoelverdi.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://edzoelverdi.com</link>
	<description></description>
	<pubDate>Mon, 22 Dec 2008 19:11:01 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.6.3</generator>
	<language>en</language>
	<image>
<link>http://edzoelverdi.com</link>
<url>http://edzoelverdi.com/wp-content/plugins/maxblogpress-favicon/icons/laughter.ico</url>
<title>Ed Zoelverdi</title>
</image>
		<item>
		<title>Serba-serbi Ibu Era Globalisasi</title>
		<link>http://edzoelverdi.com/2008/12/22/serba-serbi-ibu-era-globalisasi/</link>
		<comments>http://edzoelverdi.com/2008/12/22/serba-serbi-ibu-era-globalisasi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Dec 2008 19:03:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matkodak</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Cakrawala]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://edzoelverdi.com/?p=75</guid>
		<description><![CDATA[SEORANG pemuda menyusuri lorong-lorong etalase di supermarket, merasa diikuti oleh seorang wanita setengah tua. Yakin tak ada yang perlu dicurigai, setelah memilih  belanjaan, dia lalu menuju kasir. Perlu antre, eh pas di depannya adalah wanita tadi.
 
&#8220;Pardon me,&#8221; kata wanita itu setengah berbisik, &#8220;Maaf kalau pandanganku bikin kau risih, anak muda. Itu tak lain karena wajahmu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>SEORANG pemuda menyusuri lorong-lorong etalase di <em>supermarket</em>, merasa diikuti oleh seorang wanita setengah tua. Yakin tak ada yang perlu dicurigai, setelah memilih  belanjaan, dia lalu menuju kasir. Perlu antre, eh pas di depannya adalah wanita tadi.<br />
 <br />
<em>&#8220;Pardon me,&#8221;</em> kata wanita itu setengah berbisik, &#8220;Maaf kalau pandanganku bikin kau risih, anak muda. Itu tak lain karena wajahmu mirip sekali dengan anakku yang sudah lama menghilang.&#8221;</p>
<p>&#8220;Wah, sayang sekali,&#8221; sahut si anak muda. &#8220;Mungkin ada sesuatu yang bisa saya bantu?&#8221;<span id="more-75"></span></p>
<p><em>&#8220;Yes,&#8221;</em> sambut wanita itu, &#8220;cuma hal kecil, begitu aku selesai di kasir nanti bilang saja &#8216;go<em>od bye, Mom!&#8217;</em>. Itu cukup membahagiakanku.&#8221;</p>
<p><em>&#8220;Sure,&#8221;</em> jawab si anak muda. Maka begitu wanita itu meninggalkan kasir, dia pun bilang: <em>&#8220;Good bye, Mom!&#8221;</em> Kasir mendengarnya juga.</p>
<p>Tiba giliran di depan kasir, anak muda itu kaget melihat total yang harus dibayarnya mencapai Rp 1 juta lebih. &#8220;Wah, kok mahal sekali? Aku cuma beli sereal, permen dan biskuit&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, tadi ibu anda bilang semua belanjaannya anda yang bayar,&#8221; jawab kasir.</p>
<p>* * *</p>
<p>SEBUTLAH wanita tadi bernama Aya, tapi manusia berperilaku &#8220;buaya&#8221; itu tak otomatis mewakili kelamin tertentu. Usut punya usut, Bu Aya menjadi &#8220;buaya&#8221; lantaran suaminya yang pernah jadi koruptor, kini bangkrut-krut setelah semua hartanya disita negara. Di bagian ini boleh dicatat, wabah korupsi bersimaharajalela, sebagian besar lantaran ada wanita di belakang sang koruptor.</p>
<p>Jangankan ada selingkuhan, sedangkan di rumah saja &#8220;virus buaya&#8221; mudah berbiak hanya oleh rengekan kecil si mami: &#8220;Papi <em>gimana, sih?</em> Jeng Anu yang suaminya lebih rendah pangkatnya dari papi kok bisa beli berlian segede jagung&#8230;&#8221; Walhasil, sang papi pun putar otak bikin akal-akalan memelintir anggaran di kantornya.</p>
<p>Jika cuplikan fakta kecil ini dibalik, maka yang mampu menghentikan perilaku &#8220;buaya&#8221; di kalangan pengurus negara ya kaum wanita, ya para Ibu di tiap rumah tangga. Ingat, dalam ajaran Islam jelas dan tegas disebutkan bahwa &#8220;perempuan adalah tiang negara.&#8221;       <br />
* * *</p>
<p>PARA mami yang sadar atau tidak telah mendorong suami mereka terperosok masuk bui gara-gara korupsi, bukannya tidak pernah tahu ajaran agama. Mereka bahkan rajin bikin giliran pengajian, dan untuk itu mereka membayar. Nah, di tengah era globalisasi yang serba komersial ini, maka berlaku pula hukum jual-beli dalam urusan agama.</p>
<p>Apa itu? Merasa sering bayar mahal untuk memanggil pembicara, dalam paham si mami sama seperti beli barang: <em>&#8220;gue udah bayar, urusan dipakai atau tidak ya terserah gue, dong.&#8221;</em> Begitulah kenyataannya. Papi sering pulang telat, karena sehabis jam kantor sibuk miting (//meeting,/ maksudnya). Mami pun tak kalah sibuknya. Kalau bukan belanja di mal, ya pergi arisan. Apa lagi punya mobil dan bisa setir sendiri, bikin si mami kian rajin <em>nglencer</em> ke luar rumah.</p>
<p>Urusan anak? Ah, kan ada orang yang bisa digaji buat menjaganya. Mami mengurus anak sepanjang hari di rumah, itu mah kuno! Bayar saja orang menjaganya, beres! Begitulah, katanya, gaya hidup kalau mau disebut ibu era globalisasi&#8230;</p>
<p>Sampai kini, belum ada sekolah yang mengeluarkan diploma untuk menjadi Ibu gaya lokal &#8212; apa lagi gaya global, maka ketika lahir anak pertama si mami langsung menyewa penjaga bayi alias <em>baby sitter</em> &#8212; yang sering dilafalkan olah nyonya gedongan juga sebagai <em>baby sister</em>. Nah, saat pertama kali meninggalkan bayinya dengan <em>baby sitter</em>, tiap hari si mami menelepon ke rumah sampai lima kali.</p>
<p>Dan sepulang ke rumah, si mami pun menyediakan waktu yang cukup buat menatap bayi tiap hari. Lahir anak kedua. Beberapa langkah setelah ke luar pintu rumah, si mami baru ingat meninggalkan nomor telepon yang bisa dikontak <em>baby sitter.</em> Begitu pulang, si mami justru memberi sedikit perhatian pada si sulung, untuk yakin bahwa dia tidak mencubit atau menyakiti si adik.</p>
<p>Giliran lahir anak ketiga. Tiba waktunya ke luar rumah, si mami pun meninggalkan instruksi buat <em>baby sitter</em> untuk menelepon hanya jika si bayi tampak berdarah. Hari-hari selanjutnya, ketika berada di rumah si mami justru merasa perlu sedikit waktu tiap hari untuk sembunyi dari anak-anak&#8230;&#8230;.. </p>
<p>* * *</p>
<p>LAIN lagi cerita empat ibu muda, yang juga ketularan gaya global: menjalani terapi kelompok pada seorang psikiter. Masing-masing bawa anak yang masih kecil.</p>
<p>&#8220;Kalian semua punya obsesi,&#8221; kata sang psikiater. Dan kepada ibu pertama, Amanda, dia bilang: &#8220;Anda terobsesi untuk menyantap begitu banyak yang manis-manis dan makanan cepat saji. Sampai-sampai anakmu diberi nama Candy.&#8221;</p>
<p>Lalu ia menoleh pada ibu kedua, Fanny, dan mengatakan: &#8220;Obsesi anda berkaitan dengan uang, Fan. Buktinya, itu tercermin pada nama anakmu, Penny.&#8221;</p>
<p>Giliran ibu ketiga, Mimin, dia bilang: &#8220;Obsesimu kentara sekali adalah jadi pedagang. Lagi-lagi, tampak pada pilihan nama anakmu, Untung.&#8221;</p>
<p>Sampai di sini, ibu ke-4, Nuri, diam-diam memegang tangan anaknya lalu berbisik: &#8221; &#8230; Hayo, Dewan, kita pulang saja! Adikmu, si Caleg, kelamaan cuma ditemani anak tetangga di rumah!&#8221;</p>
<p><strong>Ed Zoelverdi<br />
</strong>Lionmag &#8212; <em>the inflight magazine of Lion Air</em>, edisi Desember 2008.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://edzoelverdi.com/2008/12/22/serba-serbi-ibu-era-globalisasi/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Sarang Bohong Bermula di Ranjang</title>
		<link>http://edzoelverdi.com/2008/11/12/sarang-bohong-bermula-di-ranjang/</link>
		<comments>http://edzoelverdi.com/2008/11/12/sarang-bohong-bermula-di-ranjang/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 12 Nov 2008 19:39:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matkodak</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Haha-Hihi]]></category>

		<category><![CDATA[bohong ditularkan turun-temurun]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://edzoelverdi.com/?p=60</guid>
		<description><![CDATA[AMANDA tengah sibuk bikin skripsi. Mungkin sedang macet atau memang lagi sepet bin mumet, dia lalu buka e-mailnya &#8212; dan terkesiap. Bagai orang baru siuman dari pingsan alias koma yang panjang, Amanda pun memulung sebuah e-mail lalu meneruskan kepada kawan-kawannya. Judulnya: &#8220;Ternyata kita sudah dibohongi sejak bayi&#8230;&#8221;
Bohong, kebohongan atau pembohongan dalam perilaku sehari-hari, boleh dibilang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>AMANDA </strong>tengah sibuk bikin skripsi. Mungkin sedang macet atau memang lagi sepet bin mumet, dia lalu buka e-mailnya &#8212; dan terkesiap. Bagai orang baru siuman dari pingsan alias koma yang panjang, Amanda pun memulung sebuah e-mail lalu meneruskan kepada kawan-kawannya. Judulnya: &#8220;Ternyata kita sudah dibohongi sejak bayi&#8230;&#8221;</p>
<p>Bohong, kebohongan atau pembohongan dalam perilaku sehari-hari, boleh dibilang jenis penyakit yang celakanya ditularkan secara turun-temurun. Ini contoh kecil awal kebohongan yang dijejalkan bagai menu harian pada anak &#8212; bahkan semenjak masih bayi. Ingat, lagu <em>&#8220;Nina bobo &#8230; oh nina bobo&#8230; kalau tidak bobo digigit nyamuk</em>&#8230;&#8221;</p>
<p><span id="more-60"></span>Aha! Inilah ajaran berbohong paling dini. Sebab nyamuk suka-cita menggigit bukan waktu orang belum tidur, melainkan justru saat kita tertidur pulas. Senandung untuk menidurkan bayi itu kian lengkap menularkan naluri negatif, karena si bayi diajak tidur tapi sarat dengan bumbu ancaman. Dan ketika usianya sekitar dua tahun, untuk meredakan rengeknya di tengah malam si bocah pun diancam : &#8220;Cup&#8230;cup.., kalau nggak bobo &#8230;ntar ada maling &#8230;.&#8221;</p>
<p>Masuk umur tiga tahun, si bocah imut lasak berlari-lari dan jatuh terpeleset di lantai. Supaya tangisnya tidak menjadi-jadi, maka anak itu dipeluk seraya ditanya: &#8220;Siapa yang nakal? Ubinnya ya&#8230;.&#8221; &#8212; lalu, plak-plok &#8230; lantai ditepuk. Sadar atau tidak, inilah cikal-bakal perilaku si anak kelak selalu mencari-cari kesalahan di luar dirinya alias tidak bertanggung-jawab!</p>
<p>Mengajar anak supaya tampil gagah, ya sah saja. Itu misalnya yang ingin ditampilkan melalui lagu :<em> &#8220;Aku seorang kapiten&#8230; mempunyai pedang panjang &#8230; kalau berjalan prok..prok..prok.., aku seorang kapiten!&#8221;</em> Silakan baca lagi baik-baik: bait pertama cerita tentang pedang, tapi di bait kedua cerita jadi mengganjil, karena urusan beralih ke sepatu. Jika ingin cerita tentang sepatu maka nyanyian yang cocok ialah : <em>&#8220;&#8230; mempunyai sepatu baja (bukan pedang panjang) &#8230; kalau berjalan prok..prok..prok..&#8221;</em> &#8212; nah, itu baru klop!</p>
<p>Tapi kalau maunya cerita tentang kehebatan pedang, si anak harus bernyanyi : &#8220;mempunyai pedang panjang&#8230; kalau berjalan ndul..gundal..gandul.. (atau srek.. srek.. srek..)&#8221;. Itu baru ada kaitannya dengan si pedang panjang.</p>
<p>Soal konsistensi terbilang penting dalam sikap hidup sehari-hari. Lalu, dengar pula lagu <em>&#8220;Balonku ada lima &#8230; rupa-rupa warnanya &#8230; merah, kuning, kelabu.., merah muda dan biru &#8230; meletus balon hijau, dorrrr!!!&#8221;</em> Nah, coba perhatikan lagi warna-warna kelima balon tersebut. Kok bisa tiba-tiba terselip warna hijau? Kalau begitu, balonnya bukan lima tapi enam.</p>
<p>Untuk terbiasa membantu ibu di rumah, bocah pun diajar menyanyi : <em>&#8220;Bangun tidur ku terus mandi &#8230; tidak lupa menggosok gigi &#8230; habis mandi ku tolong ibu &#8230; membersihkan tempat tidurku..&#8221;<br />
</em>Ha?! Sehabis mandi si anak pantas-pantasnya pakai baju dulu, dan tidak langsung membersihkan tempat tidur dalam kondisi basah dan telanjang! Lagu ini kelak membuat anak-anak tidak terlatih secara baik dalam menyelesaikan tugas, dan selalu terburu-buru.</p>
<p><em>&#8220;Naik-naik ke puncak gunung &#8230; tinggi &#8230; tinggi sekali &#8230; kiri kanan kulihat saja &#8230; banyak pohon cemara &#8230;&#8221;</em> Lagu ini dapat membuat anak kehilangan konsentrasi, semangat dan motivasi. Pada awal lagu terkesan semangat akan mendaki gunung yang tinggi. Tapi kemudian ternyata setelah melihat jalanan yang tajam mendaki lalu jadi bingung, dan tak tahu mau berbuat apa, kecuali sekadar tolah-toleh kiri kanan saja alias nggak maju-maju!</p>
<p>Senandung lain yang juga bisa menyesatkan dan tidak mengajarkan anak tentang realita yang sebenarnya. tercermin pada lagu ini: <em>&#8220;Di pucuk pohon cempaka &#8230; burung kutilang bernyanyi &#8230; bersiul-siul sepanjang hari dengan tak jemu-jemu &#8230; mengangguk-angguk sambil bernyanyi tri lili &#8230;li..li..li..li..&#8221;</em> Burung kutilang menyanyi bunyinya kan cuit..cuit..cuit! Sedangkan &#8220;tri li li li li&#8221; itu pasti bukan kicauan kutilang, tapi bunyi suara orang. Ingat, acara lagu anak-anak dengan presenter Agnes Monica, waktu dia masih imut, adalah Tralala-trilili&#8230;*</p>
<p><em>&#8220;Bintang kecil di langit yang biru&#8230;&#8221;</em> (Lha, bintang kan adanya malam. Mana ada langit biru di waktu malam?) &#8230;.. <em>&#8220;Cangkul-cangkul, cangkul yang dalam, menanam jagung di kebun kita&#8230;&#8221;<br />
</em>(Kalau mau tanam jagung, mencangkul tak perlu dalam-dalam &#8230;. kecuali memang mau bikin sumur).</p>
<p>Masih seputar lagu anak-anak: <em>&#8220;Pok ami-ami.. belalang kupu-kupu.. siang makan nasi, kalo malam minum susu&#8230;&#8221;</em> Wah, ini jelas bukan konsumsi anak-anak. Tapi lebih cocok untuk kuis yang kehabisan bahan: hewan apa yang paling sehat di dunia? Pasti jawabnya: belalang dan kupu-kupu, karena pagi makan nasi malam minum susu&#8230;&#8230;.</p>
<p>Banyak lagi sebenarnya contoh yang dikirim Amanda. Tapi kita persingkat sampai di sini saja.</p>
<p><strong>Ed Zoelverdi<br />
</strong>Lionmag &#8212; <em>the inflight magazine of Lion Air</em>, edisi November 2008.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://edzoelverdi.com/2008/11/12/sarang-bohong-bermula-di-ranjang/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Riwayat Sepatu Senang Sama Senang</title>
		<link>http://edzoelverdi.com/2008/11/04/riwayat-sepatu-senang-sama-senang/</link>
		<comments>http://edzoelverdi.com/2008/11/04/riwayat-sepatu-senang-sama-senang/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 04 Nov 2008 18:57:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matkodak</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Cakrawala]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://edzoelverdi.com/?p=59</guid>
		<description><![CDATA[BUKITTINGGI di Sumatera Barat terkenal sebagai Kota Wisata paling lengkap. Hawanya sejuk, terutama malam hari, merupakan iklim khas yang menimbulkan selera makan. Coba raun-raun masuk pasar, kita dapat menjumpai beragam makanan berat atau ringan. Sehingga Bukitinggi bisa disebut bagaikan &#8220;surga selera&#8221;. Namun cerita kali ini bukan tentang &#8220;wisata kuliner&#8221;, melainkan urusan agak jauh di bawah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>BUKITTINGGI di Sumatera Barat terkenal sebagai Kota Wisata paling lengkap. Hawanya sejuk, terutama malam hari, merupakan iklim khas yang menimbulkan selera makan. Coba raun-raun masuk pasar, kita dapat menjumpai beragam makanan berat atau ringan. Sehingga Bukitinggi bisa disebut bagaikan &#8220;surga selera&#8221;. Namun cerita kali ini bukan tentang &#8220;wisata kuliner&#8221;, melainkan urusan agak jauh di bawah perut: perlengkapan kaki alias sepatu.<br />
  <br />
<em>&#8220;Urang awak&#8221;</em> yang pernah tinggal di Bukittinggi dan kota atau kampung sekitarnya sampai tahun 1960an &#8212; lalu selebihnya hidup di rantau, niscaya punya memori khas dengan <em>Toko Sepatu Yap Yek</em>. Sampai kini lokasinya masih di Jalan Janjang Minang 6. Cara membuat sepatunya juga sama: tetap menggunakan teknologi tertua dalam riwayat industri sepatu, masih mengandalkan &#8220;kerajinan tangan&#8221;.<span id="more-59"></span></p>
<p>Menarik pula dicatat, usia toko sepatu ini pun terbilang tua sudah. Yap Yek didirikan tahun 1928 oleh Lo Tjun &#8212; perantau asal Guangzhou, Negeri Cina, ahli bikin sepatu setelah mempelajarinya tahun 1919&#8211;1927. Dan sejak 1966 sampai sekarang, menurut Arief Samalo, roda usaha dipimpin oleh Djunaidi Susilo, 70 tahun, yang merupakan generasi ketiga. Arief berusia 50an, adalah penanggung jawab produksi.</p>
<p>Bahan utama berupa kulit sapi halus, menurut Arief, didatangkan dari Jawa. Bukan berarti di Sumatera Barat tak ada sapi. Ada, tentunya, cuma kulitnya telanjur dibikin kerupuk. Begitulah guyonan ala warung kopi. Kenyataan sebenarnya di daerah ini belum ada industri pengolah kulit sapi untuk bahan baku sepatu.</p>
<p>Kini di dapur Yap Yek ada delapan orang yang bekerja. Sepasang sepatu dikerjakan oleh dua orang, masing-masing dengan spesialisasi: membuat bagian atas, dan mengurus bagian bawah. Total tempo merampungkannya dua hari, 12 jam di antaranya untuk proses pengeringan di cetakan. Dengan cara alamiah itu dijamin mutu serta daya tahan sepatu, sekaligus membawa kenyamanan bagi pemakainya. Harga berkisar dari puluhan ribu sampai Rp 300.000-an.</p>
<p>Pembeli sepatu <em>&#8220;Made in Bukittinggi&#8221;</em> ini bukan hanya penduduk lokal. Atau cuma &#8220;<em>urang Minang</em>&#8221; yang lama di rantau dan rindu lagi sepatu Yak Yek. Tapi banyak juga wisatawan asing, bahkan ada yang sengaja ke Bukittinggi khusus belanja sepatu atau sandal di sini.  Jika model yang tersedia belum cocok, silakan pesan model sesuai yang disukai. Dalam tempo seminggu, sepatu akan dikirim via kurir ke alamat pemesan.</p>
<p>Di tengah era industri serupa yang serba komputer dewasa ini, Yap Yek tetap punya pamor dengan sepatu <em>&#8220;hand made&#8221;.</em> Hebat! Di bagian ini boleh kita kutip komentar kalangan industri di Swiss: konsumen yang mengutamakan mutu akan mencari produk bermutu pula. Konsumen senang, produsen pun senang. Ini cocok dengan nama &#8220;Yap Yek&#8221; yang artinya: &#8220;senang sama senang.&#8221;</p>
<p>Ed Zoelverdi</p>
<p>Lionmag &#8211;<em> the inflight magazine of Lion Air</em>, Oktober 2008.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://edzoelverdi.com/2008/11/04/riwayat-sepatu-senang-sama-senang/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Innalillahi&#8230;., Pelukis Salim&#8230;</title>
		<link>http://edzoelverdi.com/2008/10/14/innalillahi-pelukis-salim/</link>
		<comments>http://edzoelverdi.com/2008/10/14/innalillahi-pelukis-salim/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 14 Oct 2008 09:05:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matkodak</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Cakrawala]]></category>

		<category><![CDATA[innalillahi; Pelukis Salim;]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://edzoelverdi.com/?p=58</guid>
		<description><![CDATA[JAKARTA, 14 Oktober 2008, pukul 05:53, pesawat ponsel saya berdering. Di seberang sana, Bung Alijullah Hasan Jusuf dari Paris, menyampaikan kabar duka: Pelukis SALIM telah berpulang ke Rahmatullah tanggal 13 Oktober 2008 jam 17:15 waktu setempat.  Bung Alijullah selaku &#8220;anak angkat&#8221; Pelukis Salim saya minta supaya kirim email untuk cerita selengkapnya. Berikut ini kutipan emailnya:
Pelukis Salim meninggal dunia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>JAKARTA, 14 Oktober 2008, pukul 05:53, pesawat ponsel saya berdering. Di seberang sana, Bung Alijullah Hasan Jusuf dari Paris, menyampaikan kabar duka: Pelukis SALIM telah berpulang ke Rahmatullah tanggal 13 Oktober 2008 jam 17:15 waktu setempat.  Bung Alijullah selaku &#8220;anak angkat&#8221; Pelukis Salim saya minta supaya kirim email untuk cerita selengkapnya. Berikut ini kutipan emailnya:</p>
<p>Pelukis Salim meninggal dunia di rumah sakit Neuilly Sur Seine-Paris, France, dalam usia 100 tahun 1 bulan 10 hari. Sampai saat terakhir pikiran beliau masih cerdas, malah menanyakan berapa skor pertandingan sepak bola antara Prancis dan Rumania.<span id="more-58"></span><br />
 <br />
Sore tadi, Bapak Maruli Tua Sagala sebagai Kuasa Usaha a.i. dan Staf KBRI Paris, sudah datang melayat. Juga para sahabatnya. Almarhum Salim rencananya akan dikebumikan hari Jumat, 17 Oktober 2008.  Berita duka ini kiranya dapat disampaikan kepada para sahabat almarhum di Tanah Air.</p>
<p><em>Innalillahi wa ina ilaihi raji&#8217;un!</em> &#8220; Selamat jalan, Pak Salim, engkau telah membuktikan hidup secara mulia, kiranya beroleh tempat yang mulia pula di alam sana, <em>amin ya  Rabbul&#8217;alamin.</em></p>
<p>Untuk menyampaikan belasungkawa via email bisa langsung kepada Bung Alijullah HASAN JUSUF : <a href="mailto:aljushan@hotmail.com">aljushan@hotmail.com</a>. </p>
<p><strong>KABAR LANJUTAN.</strong>  Jakarta, jam 02:12, tanggal 16 Oktober 2008. Terima email dari Bung Alijullah, Paris,  menurut catatan mesin dikirim empat jam yang lalu. Selengkapnya kita salin, sebagai berikut.</p>
<p>&gt;&gt; Saya baru buka email. Soalnya saya sendiri yang mengurus semua administrasi dan pemakaman Bapak Salim. Apa lagi Isterinya juga lemas, sudah 90 tahun. Syukur semua urusan berjalan baik. Kami telah mengabarkan pâda semua sahabat karibnya di Eropa, sebagian besar akan datang pada pemakaman di Cimetiere NEUILLY-nanterre, tidak jauh dari tempat beliau tinggal.<br />
 <br />
Acara pemakaman beliau hari Jumat, 17 Oktober 2008, jam 10:00 waktu setempat, akan disembahayangkan di rumah sakit NEUILLY COURBEVOIE oleh para sahabat Staf Kedutaan Besar RI. Kemudian jam 11:00 akan diberangkatkan ke tempat pemakaman, dan dikebumikan jam 12:00.</p>
<p>Begitu saja sementara Bang Zul, nanti kalau sudah selesai penguburan akan kami coba tambeh beritanya lagi. Salam hangat dari Paris. &lt;&lt;</p>
<p>Ed Zoelverdi</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://edzoelverdi.com/2008/10/14/innalillahi-pelukis-salim/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Kisah Lubang Jepang di Bukittinggi</title>
		<link>http://edzoelverdi.com/2008/09/22/kisah-lubang-jepang-di-bukittinggi/</link>
		<comments>http://edzoelverdi.com/2008/09/22/kisah-lubang-jepang-di-bukittinggi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Sep 2008 20:14:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matkodak</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Cakrawala]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://edzoelverdi.com/?p=56</guid>
		<description><![CDATA[Terowongan sepanjang 4 km berliku di perut Kota Wisata Bukittinggi &#8212; peninggalan zaman penjajahan Jepang, terbuka untuk kaum pelancong. Petunjuk tentang apa yang ada di dalamnya, sejauh ini baru sebatas catatan di gerbang gua.
ATTENTION&#8230;! Untuk kepuasan dan kenyamanan anda, para pengunjung Taman Panorama dan Lobang Jepang, kami menyediakan jasa pemandu yang berlisensi. Begitulah gaya pengumuman [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Terowongan sepanjang 4 km berliku di perut Kota Wisata Bukittinggi &#8212; peninggalan zaman penjajahan Jepang, terbuka untuk kaum pelancong. Petunjuk tentang apa yang ada di dalamnya, sejauh ini baru sebatas catatan di gerbang gua.</em></p>
<p><img class="alignleft" style="float: left;" src="http://www.edzoelverdi.com/images/muda-mudi-moto.JPG" alt="" width="177" height="123" /><strong><em>ATTENTION&#8230;!</em></strong> <em>Untuk kepuasan dan kenyamanan anda, para pengunjung Taman Panorama dan Lobang Jepang, kami menyediakan jasa pemandu yang berlisensi</em>. Begitulah gaya pengumuman di kertas lusuh yang ditempel di dinding tebing, beberapa langkah dari gerbang Lubang Jepang di Ngarai Bukittinggi, Sumatera Barat.</p>
<p>Lalu di bawahnya, ada selembar kertas lagi berisi tulisan: <em>Pengunjung yang terhormat. Nikmatilah keunikan serta keindahan Lobang Jepang ini !!! Mohon jangan melakukan aktivitas yang melanggar aturan serta perbuatan asusila !!! Semua aktivitas anda termonitor pada kamera kami&#8230; Terimakasih atas perhatiannya, ttd&#8230; Penanggung Jawab</em>.</p>
<p><span id="more-56"></span></p>
<p>Di sebelahnya &#8212; masih pada dinding yang sama, ada panil denah terowongan di perut Kota Bukittinggi ini. Di situ tertulis petunjuk apa saja yang ada di dalam gua tersebut. Yaitu, ada mini teater, lorong maket geologi dan tatakota, lorong patung akrilik, lorong museum geologi, lorong pameran lukisan dan foto-foto, kafe, lorong duduk &amp; istirahat, mushala wanita, mushala pria, toilet wanita, toilet pria.</p>
<p>Kemudian, begitu lewat mulut gua segera kita menuruni perut bumi. Seluruhnya 132 undakan atau anak tangga, sampailah kita di dasar gua. Atau pada kedalaman 40 meter dari permukaan tanah. Panjang terowongan total 4 km. Dengan satu pintu masuk dari arah Panorama, jika jalan langsung ke arah pintu di ujungnya hanya sekitar sekilo. Ada tiga pintu ke luar di bagian darah Bukit Apik. Tapi cuma dua yang berfungsi. Satu persis di bawah tebing gardu panorama, telanjur ditutupi sampah.</p>
<p><img class="alignright" style="float: right;" src="http://www.edzoelverdi.com/images/ayu-lg-japang.JPG" alt="" width="118" height="161" />Di dalam gua ada penerangan listrik. Lantainya dilapisi konblok. Dinding serta langit-langit dipoles semen. Menurut Azwarman &#8212; Kepala Seksi Sarana Prasarana Kantor Pariwisata Bukittinggi, pemolesan dinding serta langit-langit gua ini dilakukan tahun 1974. Ketika terjadi gempa hebat beberapa waktu lampau, ada bagian terowongan yang retak. Tapi hanya lapisan semen saja. Sedangkan tanahnya tetap utuh. Unik juga konstruksi tanah di bawah Kota Bukittinggi ini. Sebab bagian lain yang merupakan tebing kota ini ada yang runtuh. Longsor parah terjadi di tebing seberang, bagian dari Nagari Kotogadang.</p>
<p>Pengumuman pada panil di gerbang gua, tinggal sebatas catatan di atas kertas, rupanya. Sepanjang lorong yang dilewati, masih berupa lubang asli buatan Jepang. Ada ruang amunisi, yang diberi pintu terali besi. Di bagian kiri kanan dinding menjelang mulut gua untuk keluar, ada mushala masing-masing untuk pria dan wanita. Juga toilet sendiri-sendiri, yang kini masih terkunci. Belum ada air masuk ke sini. &#8220;Bak airnya sudah lama dibikin di atas,&#8221; kata Azwarman. &#8220;Tapi sampai sekarang belum juga disambungkan pipa ke sini&#8221;.</p>
<p>Menarik dicatat adalah lokasi yang dituliskan sebagai Ruang Romusha alias pekerja paksa (lihat juga : <em>Tak Ada Kerja Paksa</em>). Tampaknya untuk membuat &#8220;Lobang Jepang&#8221; sebagai objek wisata, perlu dilengkapi dengan riset yang akurat datanya. Sehingga penyuguhan aneka materi tontonan lain &#8212; sebagaimana tercantum pada panil di gerbang, memang memperkaya khazanah pengetahuan publik secara sahih.</p>
<p>Sedikit tambahan, para petinggi Kota Bukittinggi mungkin pernah ke Mesir. Tentu sempat menyaksikan piramida peninggalan zaman Fir&#8217;aun tempo dulu. Ini sudah lama dijadikan tontonan khas di waktu malam. Puluhan lampu sorot bermain di padang pasir dihiasi suara, terkenal sebagai <em>sonne et lumiere</em> alias suara dan cahaya.</p>
<p>Juga di Thailand. Ingat, ada film yang dibintangi Alec Guines bernama <em>Bridge on the River Kwai</em>. Jembatan ini dikerjakan tahun 1943 oleh Jepang, dengan mengerahkan tawanan perang yang terdiri dari pasukan Sekutu serta romusha dari Asia. Proyek berdarah ini tulen kerja paksa untuk menghubungkan bagian daerah Thailand dengan Burma. Lokasinya di Provinsi Kanchanaburi, 130 km di barat Kota Bangkok.</p>
<p>Drama sekitar jembatan itu, kini merupakan bahan tontonan malam &#8212; menggunakan pola suara dan cahaya pula. Konsep serupa tampaknya bisa diterapkan untuk atraksi khas Lubang Jepang di Bukittinggi.</p>
<p><strong>Tak Ada Kerja Paksa</strong></p>
<p><img class="alignleft" style="float: left;" src="http://www.edzoelverdi.com/images/hirotada-honjyo.JPG" alt="" width="103" height="157" /><strong>ADALAH </strong>Hirotada Honjyo, lahir 1 Januari 1908, di kota kecil Iizuka, Provinsi Fukuoka, Kepulauan Kyushu, Jepang Selatan. Tamatan Fukultas Hukum, Hosei University, Tokyo, penggemar olahraga rugby ini, bekerja di perusahaan tambang batu bara, Asou Koggyo. Ia beroleh pengetahuan dasar tentang pertambangan dan terowongan. Berikut ini penuturannya yang ditulis tanggal 17 April 1997. Ia meninggal dunia tahun 2001.</p>
<p>Honjyo-san harus membuat &#8220;lubang perlindungan&#8221; di Ngarai Bukittinggi, atas instruksi Panglima Divisi ke-25 Angkatan Darat Bala Tentera Jepang, Letjen Moritake Tanabe. Waktu itu, ia berpangkat Kapten Angkatan Darat, perwira staf keuangan, sebagai jurubayar, untuk merencanakan, membuat dan mengawasi pelaksanaan sebuah &#8220;lubang perlindungan&#8221;.</p>
<p>Semua berkas mengenai rencana, gambar, spesifikasi dan anggarannya, sudah tidak ada lagi. Semua dibakar sesaat balatentara Jepang kalah, tanggal 15 Agustus 1945, sesuai perintah Panglima Letjen Moritake Tanabe. &#8220;Walaupun telah lewat 50 tahun lebih, saya masih ingat menggambarkan dan menyatakan cara pembuatan dan perencanaan pelaksanaan lubang lindungan tersebut,&#8221; kata Hojyo-san.</p>
<p>Konstruksinya mulai dikerjakan bulan Maret 1944, dan selesai pada awal Juni 1944. &#8220;Hal ini tidak bisa saya lupakan, karena sampai sekarang ada album kenang-kenangan yang saya simpan,&#8221; katanya. Pembuatan terowongan  dikerjakan di bawah pimpinan tiga ahli tambang batubara, dikirim dari perusahaan Hokkaido &#8212; Tanko Kisen Co. Perusahaan tambang batu bara terkenal di Hokkaido ini selama pendudukan balatentera Jepang, juga mengerjakan tambang batubara Ombilin.</p>
<p>Ketiga ahli terowongan itu adalah (1) Ir. Toshihiko Kubota, sebagai ketua, (2) Ir. Ichizo Kudo (3) Ir. Uhei Koasa. Mereka sudah meninggal. Selain dari orang-orang Jepang, ada juga beberapa orang Indonesia yang bekerja di tambang batubara Ombilin diperbantukan mengerjakan &#8220;lubang perlindungan&#8221; ini.</p>
<p>Konstruksi lubang perlindungan tersebut dijalankan menurut pembagian peranan keahlian, dengan contoh &#8220;sakiyama&#8221; membuat tambang batubara yang digali, kemudian diteruskan dengan &#8220;atoyama&#8221; atau mengambil galian &#8220;sakiyama&#8221; tersebut. Jadi &#8220;atoyama&#8221; dikerjakan sesudah pelaksanaan &#8220;sakiyama.&#8221; Urusan &#8220;sakiyama&#8221; dikerjakan oleh ahli-ahli bangsa Jepang, kemudian secara &#8220;atoyama&#8221; dikerjakan orang-orang Indonesia dan buruh-buruh harian.</p>
<p>Mereka yang menggali dan membuat dinding kayu untuk menahan reruntuhan. Lubang dibuat sempit, dapat dilalui seorang dengan membawa alat-alat pengebor, sehingga tidak dapat dikerjakan oleh banyak orang. Tiap hari rata-rata memerlukan tenaga kerja 50 atau 100 orang. Para pekerja ini didatangkan dan disediakan oleh Kantor Kotapraja Bukittinggi, yang terdaftar dan dibayar sebagai buruh harian. Mereka membawa bekal makanan sendiri untuk makan siang.</p>
<p>&#8220;Saya adalah seorang perwira staf keuangan, sebagai ahli jurubayar dan selama bertugas tidak menggunakan kekuasaan tentara dan fasilitas lainnya,&#8221; kata Honjyo-san. &#8220;Kepada saya diperbantukan seorang sersan dari Markas Besar Panglima dan beberapa lori untuk keperluan angkutan kerja&#8221;.</p>
<p>Selama tiga bulan bertugas, katanya, tidak ada terjadi insiden atau kecelakaan. Dan selama bertugas tidak menggunakan senjata, baik senjata berupa pedang samurai maupun senjata api lainnya. &#8220;Lubang perlindungan Jepang&#8221; itu tidak merupakan benteng pertahanan. tapi hanyalah lubang untuk melindungi diri. Supaya terhindar dari serangan bahaya udara.</p>
<p>Instruksi Panglima Divisi ke-25 Angkatan Darat Balatentara Jepang itu menyebutkan lagi: (1) membuat sebuah lubang perlindungan yang bisa menahan getaran letusan bom sekuat 500kg. (2) membuat lubang perlindungan yang dilengkapi dengan ruangan-ruangan untuk keperluan Markas Besar, ruang kantor dan fasilitas-fasilitas lainnya untuk keperluan Divisi ke-25 Angantan Darat.</p>
<p>Konstruksi lubang perlindungan tersebut tidak rahasia dan tidak ada yang perlu dijaga. Untuk bisa menahan getaran letusan bom di atas 500kg, perlu  penggalian sedalam 40-meter dari permukaan bumi atau 20-m dari ujung penggalian jurang tebing. Untuk menguatkan dan kokohnya dinding lubang, dibuat bentuk &#8220;torii-gumi&#8221; &#8212; menyerupai pintu depan lambang agama Shinto. Yaitu bagian bawah lebih besar daripada bagian atas.</p>
<p>Lubang perlindungan ini terbagai dua. Satu blok khusus untuk keperluan Markas Besar Divisi ke-25 Angkatan Darat. Satu blok lagi yang lebih aman terhindar dari serangan bahaya udara, dapat melindungi dan menyembunyikan diri. Tiap ruangan dihubungankan dengan jalan udara dari ujung jurang tebing yang agak besar sampai ke ujung yang lebih kecil. Sehingga udara segar bisa leluasa berlalu-lintas di dalamnya.</p>
<p>Kapasitas lubang tersebut direncanakan untuk 500 orang. Ditambah dengan k pegawai kantor bisa mencapai 1000 orang dalam keadaan darurat. Di dalam  lubang perlindungan tersebut tidak ada dapur. Sebab kalau memasak, akan mengurangi zat asam, mengeluarkan asap yang mengusik oksigen. Dengan kata lain, rancangan membuat kafe di dalamnya nanti perlu dipertimbangkan masak-masak.</p>
<p><strong>Ed Zoelverdi</strong></p>
<p><em>* Lionmag - the inflight magazine of Lion Air</em>, edisi September 2008.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://edzoelverdi.com/2008/09/22/kisah-lubang-jepang-di-bukittinggi/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Salim Usia 100 Tahun Masih Berapi</title>
		<link>http://edzoelverdi.com/2008/09/13/salim-usia-100-tahun-masih-berapi/</link>
		<comments>http://edzoelverdi.com/2008/09/13/salim-usia-100-tahun-masih-berapi/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 13 Sep 2008 14:20:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matkodak</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Cakrawala]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://edzoelverdi.com/?p=55</guid>
		<description><![CDATA[Sebagai warganegara Indonesia, sosok pelukis Salim di Paris terbukti &#8220;bukanlah orang biasa&#8221;. Di negeri yang punya budaya menghargai manusia, warganegara berulang tahun ke-100 &#8212; dan masih hidup, beroleh ucapan &#8220;Selamat Ulang Tahun&#8221; langsung dari kepala negaranya.

E-MAIL dari Bung Ariffin Dungga, Staf KBRI di Paris, 6 September 2008, berisi foto-foto disertai cerita kecil: &#8220;Saya baru saja [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Sebagai warganegara Indonesia, sosok pelukis Salim di Paris terbukti &#8220;bukanlah orang biasa&#8221;. Di negeri yang punya budaya menghargai manusia, warganegara berulang tahun ke-100 &#8212; dan masih hidup, beroleh ucapan &#8220;Selamat Ulang Tahun&#8221; langsung dari kepala negaranya.</em></p>
<p><em></em><br />
<strong><img class="alignleft" style="float: left;" src="http://www.edzoelverdi.com/images/salim-video-3.JPG" alt="Pameran karya-karya Salim di Jakarta. " width="304" height="125" />E-MAIL</strong> dari Bung Ariffin Dungga, Staf KBRI di Paris, 6 September 2008, berisi foto-foto disertai cerita kecil: &#8220;Saya baru saja pulang dari rumah Pak Salim. Tetangganya, M. Galibert, membuat selamatan untuk Pak Salim di halaman masuk apartemen&#8230;. Yang datang, Wakil Walikota Neuilly-sur-Seine, Mme. Christine Giraud-Sauver. Ceritanya nanti ya.&#8221;</p>
<p>Meski hampir sepanjang umur bermukim di Paris, namun Salim tetap memelihara statusnya sebagai warganegara Indonesia. Nah, sampai petinggi Kota Paris bertamu di hari ulang tahunnya, membuktikan bahwa sosok Salim terbilang &#8220;bukan orang biasa&#8221; di kota dunia itu. Akan halnya di Indonesia sendiri, untuk merayakan ulang tahun yang langka &#8212; saat sang tokoh masih hidup &#8212; ini, Galeri Cemara 6 bekerjasama dengan Pusat Kebudayaan Prancis di Jakarta, dan Biro Oktroi Roosseno, meyelenggarakan pameran karya Salim. <span id="more-55"></span></p>
<p>Hajatan ini berlangsung di Galeri Nasional Indonesia, Jalan Merdeka Timur, persis di seberang stasiun Gambir. Terbuka untuk umum, 3&#8211;14 September 2008. Lukisan yang dipamerkan terdiri atas koleksi Prof. Toeti Heraty, jumlahnya 46 lukisan. Selain milik pendiri Galeri Cemara 6 itu ada lagi koleksi Pia Alisyahbana, dua lukisan. Lalu koleksi Nyonya Mien Soedarpo, satu lukisan. Dan koleksi Salim dari Paris, delapan lukisan. Ditambah tiga lagi, koleksi Alijullah Hasan Yusuf &#8212; sehari-hari Staf KBRI Paris</p>
<p>Di ruang pameran, pengunjung dapat pula menyaksikan tayangan video berupa cuplikan perjalanan hidup sang pelukis. Dalam usianya kini, Salim tampak masih tetap berapi-api dalam bicara. Menurut Alijullah, pendengaran Salim masih oke. Cuma mata sedikit mengalami gangguan sebagai bawaan usia lanjut. Karya mutakhir yang dipamerkan, buatan tahun 2004. Sedangkan karya tahun 2006 sudah keburu dibeli orang di sana.</p>
<p>Pada umbul-umbul yang menghiasi barisan pohon palm dan poster yang terpampang di pekarangan gedung pameran, ditampilkan potret Salim. Juga di buku katalog. Judulnya: &#8220;Salim/Siapa Salim&#8221;. Panitia penyelenggara seakan &#8220;kurang pede&#8221; menampilkan nama sang pelukis. Boleh jadi khalayak umum belum akrab dengan nama ini. Tapi masyarakat peminat senirupa niscaya mengenalnya. Juga para petinggi republik ini, tentunya. Sehingga agak aneh jika belum pernah mendengar nama pelukis Salim.</p>
<p><img class="alignright" style="float: right;" src="http://www.edzoelverdi.com/images/salim-time.jpg" alt="Salim tahun 1950, 1993 dan 2008." width="212" height="102" />Salim lahir di dekat Kota Medan, Sumatera Utara, 3 September 1908. Di dalam katalog ada bagian tulisan yang keliru menyebutnya kelahiran Sumatera Barat. Sejak usia 12 tahun sudah menjejakkan kaki di Benua Eropa, dibawa orang tua angkatnya. Nun jauh di negeri orang sang pelukis pun hidup serta berkembang menjadi pelukis kaliber dunia. Banyak yang kagum terhadap sang maestro. Tapi ada juga yang juling memandangnya, sampai-sampai menuding Salim tidak Indonesia lagi. Atau tak punya nasionalisme lagi.</p>
<p>Di bagian ini menarik kita kutip uraian kritikus senirupa, Trisno Soemardjo (alm) &#8212; yang juga pelukis dan penyair. Dalam sebuah pengantar pameran Salim di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, tahun 1970an, Ketua Dewan Kesenian Jakarta itu menyebut Salim adalah salah satu pelukis bangsa kita yang terbesar, serta pantas mendapat kedudukan yang layak di dunia internasional. Ia tak sepakat menuding Salim sudah terlepas dari masyarakat bangsanya. Kata Trisno, tidak seharusnya kita terlalu tegang membagi-bagi lapangan kesenian dalam kotak-kotak nasional-internasional, timur-barat, klasik-moderen, dan sebagainya.</p>
<p><img class="alignleft" style="float: left;" src="http://www.edzoelverdi.com/images/salim-wkl.jpg" alt="" width="158" height="121" />&#8220;Kita harus tahu sampai ke mana pagar-pagar itu tak perlu dipasang,&#8221; kata Trisno Soemardjo. &#8220;Dan akhirnya kehidupan serta pertumbuhan yang hakiki tak mau kenal lagi pagar-pagar itu.&#8221; Atau sebagaimana sering disebut para ahli: seni itu bersifat universal. Akan halnya istilah &#8220;nasional&#8221;, menurut Trisno, kian berbau politis. Sebabtitik beratnya pada urusan rebut-merebut pengkuan kebangsaan, kekuasaan dan soal-soal geografis. Sedangkan latar-belakang kerohanian bagi semuanya ini masih samar-samar.</p>
<p>Karya-karya Salim, menurut Trisno, mencerminkan bahwa Salim adalah satu di antara kita.</p>
<p>Nafas yang dihembuskan Salim adalah nafas kita. Dalam keadaaan demikian, kita sebetulnya hanya dapat berkata dalam hati: inlah kesenian sejati yang kita inginkan. Lain habislah kata-kata di mulut. Tak ubahnya seperti kita terima Raden Saleh, meskipun keduanya mengalami hak berbeda dari kita.</p>
<p><img class="alignright" style="float: right;" src="http://www.edzoelverdi.com/images/salim-pam.jpg" alt="" />Masih menurut Trisno Soemardjo, pelukis Salim masuk dalam golongan kaum modernis. Istilah &#8220;modernis&#8221; bukan hanya berarti orang yang hidup zaman sekarang dengan memakai filsafat serta cara-cara lazim kini. Tapi juga mereka harus mempunyai pandangan ke depan, yang mengandung benih bagi perkembangan selanjutnya. Hasil karyanya mengandung daya motoris yang mendorong masyarakat bangsanya ke kemajuan di hari depan. Di bagian ini pelukis Salim merupakan contoh paling sahih.</p>
<p>Menurut Dr. Inda C. Noerhadi dari Galeri Cemara 6, persiapan pameran Salim ini dilakukan sejak setahun lalu. Untuk membuka pameran, hanya Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo yang diminta. Dan Pak Gub memang hadir pada hari pembukaan, sore 2 September 2008. Dengan mengenakan baju koko sempat melihat-lihat pameran, terima cenderamata dari panitia, lalu beliau pamit. Tak ada sepatah dua kata yang disampaikan.</p>
<p><img class="alignleft" style="float: left;" src="http://www.edzoelverdi.com/images/salim-ariffin.jpg" alt="" />Selain pameran di Jakarta, apakah panitia juga punya agenda mengelilingkan pameran ini ke berbagai kota di Indonesia? &#8220;Ada sih keinginan itu,&#8221; kata Inda. &#8220;Tapi kita belum punya dana.&#8221; Rencana selanjutnya, kata Inda, kami ingin menerbitkan buku tentang Salim, yang isinya khusus menelaah lukisan, bukan hanya berupa riwayat hidupnya.</p>
<p>Boleh juga diketahui, di negeri yang budaya menghargai manusia, ada warganegara yang berulang tahun ke-100 &#8211;  saat masih hidup, beroleh ucapan Selamat Ulang Tahun langsung dari kepala negaranya. Tapi kita tahu, Pak Salim atau Bung Salim, tidak pernah merisaukan urusan semacam ini. Kerisauannya &#8212; sebagaimana pernah disebutnya dalam beberapa kali jumpa di Paris, terutama mengenai pengurus negara yang masih mengabaikan kepentingan hajat hidup rakyat.</p>
<p>Terima kasih salam terbaru melalui telepon dengan Bung Alijullah, Jumat sore, 5 September lalu. Selamat ulang tahun, Bung! Senantiasa beroleh berkah Allah swt &#8212; sekeluarga, sejahtera lahir batin dan tetap membawa berkah bagi umat manusia serta alam lingkungan,  amin ya Rabbul&#8217;alamin!</p>
<p><strong>Ed Zoelverdi<br />
</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://edzoelverdi.com/2008/09/13/salim-usia-100-tahun-masih-berapi/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Romantika Kaum Perokok</title>
		<link>http://edzoelverdi.com/2008/09/10/romantika-kaum-perokok/</link>
		<comments>http://edzoelverdi.com/2008/09/10/romantika-kaum-perokok/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Sep 2008 20:19:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matkodak</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Haha-Hihi]]></category>

		<category><![CDATA[ayam merokok; awet muda; sarang nudis; perokok berat;]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://edzoelverdi.com/?p=54</guid>
		<description><![CDATA[AYAM merokok, boleh jadi banyak yang belum tahu. Atau bahkan jangan-jangan anda pun belum tahu bahwa ayam juga punya kepala. Ini pernah kejadian di Amerika. Gara-gara tahunya cuma ayam yang sudah dipajang di lemari pendingin super-market, anak-anak lalu dibawa ke peternakan ayam. Nah, manusia juga merokok &#8212; mirip dengan ayam, mulanya untuk menghangatkan tubuh, eh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>AYAM merokok, boleh jadi banyak yang belum tahu. Atau bahkan jangan-jangan anda pun belum tahu bahwa ayam juga punya kepala. Ini pernah kejadian di Amerika. Gara-gara tahunya cuma ayam yang sudah dipajang di lemari pendingin <em>super-market</em>, anak-anak lalu dibawa ke peternakan ayam. Nah, manusia juga merokok &#8212; mirip dengan ayam, mulanya untuk menghangatkan tubuh, eh &#8230;.. lama-lama kecanduan.</p>
<p><strong>Empat Manfaat Rokok</strong><br />
ROKOK bermanfaat? Jangan sewot dulu, dong. Apa lagi cari-cari gawe mau bikin larangan merokok. Kalau memang mau dunia ini bersih dari asap rokok, jangan cuma melarang orang merokok. Tapi langsung saja tutup semua pabrik rokok. Berani? Dijamin tak ada yang bernyali membubarkan ya pabrik rokok, ya pabrik minuman beralkohol. <span id="more-54"></span></p>
<p>Itulah manfaat pertama rokok. Yaitu, pajaknya sampai puluhan trilyun rupiah mengisi kocek negara, Manfaat kedua, berdasarkan hitungan gaya warung kopi, yakni rumah menjadi aman. Sebab orang perokok pasti sering terbatuk-batuk. Mendengar penghuni rumah masih batuk di tengah malam, maling pun urung beraksi. Ketiga, orang perokok dijamin tak bakal dikejar anjing.</p>
<p>Kok? Ya, orang perokok biasanya pendek nafas. Begitu dikejar anjing, dia tak kuat lari dan langsung jatuh duduk. Melihat orang terduduk, anjing pun langsung putar haluan karena mengira orang itu bakal memungut batu. Keempat, orang perokok bisa disebut awet muda. Ah! Coba saja dengar nasehat dokter, kalau mau umur panjang stop merokok. Dengan kata lain, orang perokok, katanya, jarang hidup sampai tua. Sampai di mana kebenaran teori ini masih wallahualam.  </p>
<p><strong>Empat Kelompok Perokok<br />
</strong>PERTAMA, perokok yang punya rokok dan punya pemantik api. Kelompok kedua, punya rokok tapi sering lupa bawa korek api. Kelompok ketiga, bisa merokok meski modalnya cuma korek api. Kelompok keempat, tetap bisa merokok sekali pun tak pernah beli sendiri.</p>
<p><strong>Denda Rokok Buat Beli Rokok<br />
</strong>CERITANYA, maka berlakulah aturan yang melarang orang merokok. Beda dengan berjibun aturan yang cuma memenuhi lemari arsip, urusan anti rokok ini benar-benar dilaksanakan. Beruntun razia menggebrak para perokok, bahkan sampai ke kamar tidur di rumah. Hebat, pokok-e. Mereka yang ketahuan merokok langsung didenda. Hebatnya lagi, di celah razia ada juga denda tak resmi alias pungli. Begitu terima duit, si petugas pun beli rokok&#8230;.</p>
<p><strong>Tahapan Stop Rokok<br />
</strong>MONA dan Susy teman karib sejak sekolah dasar, ketika melanjutkan di perguruan tinggi mereka beda fakultas. Suatu siang, Susy ketemu Mona dan berkata: &#8220;Hei, Mon, bagi rokoknya dong.&#8221;<br />
&#8220;Lho! Gue dengar lo udah berhenti merokok,&#8221; kata Mona.<br />
&#8220;Iya sih, tapi perlu proses, kan?&#8221; sahut Susy. &#8220;Naaa.., sekarang lagi tahap satu, nek!&#8221;<br />
&#8220;Tahap satu, maksud lo?&#8221; tanya Mona.<br />
&#8220;Iya, baru tahap berhenti beli rokok&#8230;.&#8221;</p>
<p><strong>Rasanya Berhenti Merokok<br />
</strong>CARA mangkus untuk stop merokok, ada yang bilang kalau biasanya sehari tiga bungkus, kurangi jadi sebungkus saja. Para perokok berpengalaman bilang, tak ada itu tahap-tahap untuk berhenti merokok. Cara paling cespleng ya berhenti saja: sekarang, detik ini juga.</p>
<p>Mau tahu rasanya berhenti merokok? Ada perasaan kehilangan. Jari-jemari yang biasa mengempit benda bulat kecil itu jadi salah tingkah. Sampai ada yang melukiskan hari-hari pertama berhentik rokok, keadaannya mirip orang masuk sarang <em>nudis</em> &#8230; itu tangan tak tahu harus <em>ngapain.</em></p>
<p><strong>Gugurnya Mitos Rokok</strong><br />
SEORANG kakek duduk di kursi taman sebuah kota dunia. Sendirian, dan asyik kepas-kepus alias menikmati kepulan asap rokoknya. Pas di bangku seberangnya, ada pria tua lain yang juga duduk sorangan, dan sejak tadi mengamati si kakek. Tak tahan juga dia, lalu menyapa: &#8220;Tuan perokok hebat, ya. Aku perhatikan <em>you</em> merokok tak ada putusnya. Lokomotif saja ada stasiunnya.&#8221;</p>
<p>Kakek yang ditegur melirik si pria tua, lalu menjawab: &#8220;Ah, apa hebatnya sih? Aku merokok cuma sebatang-sebatang,kok.&#8221;</p>
<p>&#8220;He..he..he.., betul juga, eh, ngomong-ngomong <em>you</em> merokok sejak umur berapa?&#8221; tanya pria tua itu.</p>
<p>&#8220;Wah, aku merokok sejak masih sekolah dasar.&#8221;</p>
<p>&#8220;Oh, ya?&#8221; sambut si pria tua. &#8220;Kira-kira <em>you</em> pernah hitung nggak, kalau duit yang dibakar itu ditabung, kan <em>you</em> bisa bikin gedung jangkung, seperti yang ada di depan situ&#8221;.</p>
<p>Sang kakek perokok melihat ke arah gedung pencakar langit yang ditunjuk pria tua. Lalu bertanya: &#8220;Apa <em>you</em> tahu siapa yang punya gedung itu?&#8221;</p>
<p>Pria tua menggeleng. Si kakek menyedot rokoknya dalam-dalam, kemudian berkata: &#8220;Itu cuma salah satu gedung yang aku punya&#8230;.&#8221;  <br />
 <br />
<a href="http://www.edzoelverdi.com">Ed</a> Zoelverdi</p>
<p>* Lionmag - <em>the inflight magazine of Lion Air</em>, edisi September 2008.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://edzoelverdi.com/2008/09/10/romantika-kaum-perokok/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Kalibataku versi Abad 21</title>
		<link>http://edzoelverdi.com/2008/08/16/kalibataku-versi-abad-21/</link>
		<comments>http://edzoelverdi.com/2008/08/16/kalibataku-versi-abad-21/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 16 Aug 2008 17:56:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matkodak</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Cakrawala]]></category>

		<category><![CDATA[beban melulu]]></category>

		<category><![CDATA[berlinang]]></category>

		<category><![CDATA[cucu]]></category>

		<category><![CDATA[elit politik]]></category>

		<category><![CDATA[kali-bagi-tambah-kurang]]></category>

		<category><![CDATA[kalkulator]]></category>

		<category><![CDATA[kuno]]></category>

		<category><![CDATA[mantan]]></category>

		<category><![CDATA[panjat pinang]]></category>

		<category><![CDATA[pejuang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://edzoelverdi.com/?p=53</guid>
		<description><![CDATA[Kalibataku &#8212; singkatan kali-bagi-tambah-kurang, selama ini bikin bingung pabrik kalkulator. Sebab tombol bagi-membagi dibikin macet. Ternyata itu cerita kuno sudah. Kalibataku versi abad 21, jauh lebih meriah dan &#8230; amit-amit!
SORE kemarin tiba-tiba Mat Gawat mencogok di rumah, setelah tiga hari tak kelihatan batang hidungnya. &#8220;Susah memang ini masyarakat ente,&#8221; gerutunya, sembari membanting topi petnya yang lusuh. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Kalibataku &#8212; singkatan kali-bagi-tambah-kurang, selama ini bikin bingung pabrik kalkulator. Sebab tombol bagi-membagi dibikin macet. Ternyata itu cerita kuno sudah. Kalibataku versi abad 21, jauh lebih meriah dan &#8230; amit-amit!</em></p>
<p>SORE kemarin tiba-tiba Mat Gawat mencogok di rumah, setelah tiga hari tak kelihatan batang hidungnya. &#8220;Susah memang ini masyarakat <em>ente</em>,&#8221; gerutunya, sembari membanting topi petnya yang lusuh. Kepalanya yang botak berkilat oleh keringat. Belum sempat saya bertanya, dia menyerocos: &#8220;Mana tuh kopi jahe, mainkan&#8230;&#8221;</p>
<p>Gayanya mirip bos, maklum, dia pensiunan orang penting. Mau dibilang <em>post power syndrome</em>, ada juga meski tidak terlalu. Sebab Mat Gawat sadar juga bahwa &#8220;gaya kantoran&#8221; tak cocok dibawakan dalam pergaulan di masyarakat. Dan sebagai pensiunan, Mat Gawat tidak sudi disebut &#8220;mantan&#8221;, sebab, katanya, mantan artinya kan manusia-restan.</p>
<p>Punya pengalaman panjang jadi bos di perusahaan swasta, beberapa tahun sebelum pensiun Mat Gawat sudah menyiapkan sekoci. Dia buka perusahaan sendiri yang disebutnya masih kecil-kecilan. Merasa dapurnya aman, ia pun membagi waktu untuk aktif dalam berbagai kegiatan sosial di lingkungannya. Beberapa hari belakangan, katanya, dia sibuk jadi panitia 17-an tingkat RW.</p>
<p>&#8220;Ooo, aku kira kau sedang ke Hongkong,&#8221; saya bilang. &#8220;Jadi panitia 17-an, asyik dong.&#8221; <span id="more-53"></span></p>
<p>&#8220;Asyik apanya? Kau tau, barusan rapat panitia, aku minta supaya lomba panjat pinang ditiadakan, eh aku kalah suara&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Lho, kau bagaimana, sih? Lomba panjat pinang kan sudah lama jadi hiburan rakyat.&#8221;</p>
<p>&#8220;Hiburan sih hiburan, tapi coba perhatikan. Untuk bisa naik ke puncak harus injak kepala orang, lalu memlorot celana orang yang di atas. Ini kan tidak mendidik.&#8221;</p>
<p>&#8220;Aha! Kok tebulak-tebalik jadinya. Itu justru pendidikan yang sudah lama dipraktekkan para elit politik.&#8221;</p>
<p>&#8220;He.. he.. he.., betul juga, yak! Tapi ngomong-ngomong, ntar malam bagusnya kita ke Kalibata, ziarah di makam para pejuang kemerdekaan.&#8221;</p>
<p>Selesai menyeruput kopi jahe hangat, Mat Gawat menerawang sambil mengepulkan asap rokoknya. Agak lama juga dia tercenung, lalu berkata : &#8220;Aku pernah mimpi ketemu adik kakekku yang tewas semasa perang kemerdekaan dulu.&#8221;</p>
<p>&#8220;O, ya? Dalam mimpi itu apa kau sempat ngobrol dengan beliau?&#8221;</p>
<p>&#8220;Nggak sempat bicara, sih. Aku sedang momong cucu lalu melihat sosok beliau, dan wajahnya berlinang air mata memandang ke arah cucuku. Coba, mungkin kau paham apa kira-kira maknanya?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ah, <em>ente</em>, bisa-bisanya kasih tebakan. Tapi kalau dibaca secara harfiah, beliau sedih ke arah cucu kau, karena situasi saat ini tidak sesuai dengan cita-cita perjuangan memerdekaan negeri ini.&#8221;</p>
<p>&#8220;Oh, Kalibataku sayang Kalibataku malang&#8230;,&#8221; Mat Gawat bersenandung pilu, kemudian termenung lagi.</p>
<p>Saya lalu menjawil pundaknya. Dia menoleh : &#8220;Mau bilang apa lagi kau?&#8221; Saya hanya mengulangi ucapannya : &#8220;Kau bilang Kalibataku sayang, eh masih ingat kan arti lain dari kalibataku?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, terang, dong. Kalibataku itu singkatan kali-bagi-tambah-kurang. Begitu kan yang kau maksud?&#8221;</p>
<p>&#8220;Naaa&#8230;, kau tau dong kalibataku versi abad 21.&#8221;</p>
<p>Bola mata Mat Gawat kembali berbinar. &#8220;Urusan kali-mengali di abad 21 ini lebih ganas dibandingkan zaman aku masih dinas dulu. Proyek Rp 400 juta enak saja digelembungkan jadi Rp 1 milyar. Itu baru contoh kecil.</p>
<p>Urusan bagi-membagi, kau pernah bilang tombolnya di kalkulator dibikin macet. Itu kuno. Justru untuk urusan bagi-membagi ini ada kelihaian luar biasa. Entah siapa yang bikin utang, tapi ribuan trilyun kok cucuku kebagian harus ikut bayar. Aku mau cari sekolahnya tuh, dia berutang orang lain yang bayar.&#8221;</p>
<p>Kalau sudah begini, sulit memotong pembicaraan Mat Gawat. Saya mau tanya soal tambah-menambah, cepat disenggaknya: &#8220;Tunggu! Ini masih urusan bagi-membagi. Ada lagi yang lebih dahsyat: untuk membangun citra baik-hati, eh duit dari kocek negara dibagi-bagikan.&#8221;</p>
<p>Di bagian ini terpaksa kita interupsi. &#8220;Eh, Mat. Ingat seperti diisyaratkan Francois Marie Arouet alias Voltaire (1694-1778): Secara umum, seni mengurus negara terletak pada kemampuan menghimpun sebanyak-banyaknya uang dari sebagian warganegara, lalu membagikannya kepada yang lain.&#8221;</p>
<p>&#8220;Betul itu! Tapi beda dengan main bagi-bagi gaya Robin Hood, uang pajak rakyat mungkin sah dibagi-bagikan sejauh memang membuka lapangan kerja bagi sebanyak-banyaknya warganegara. Rumusan Voltaire tadi intinya uang pajak dikelola untuk kesejahteraan yang merata. Efektif dan produktif, begitu loh!&#8221; </p>
<p>&#8220;Oke, bos. Lalu urusan tambah-menambah?&#8221;<br />
 <br />
&#8220;Coba periksa kau punya tagihan PBB &#8212; pajak bumi bangunan. Atas nama target, hitungannya enak saja ditambah-tambah tiap tahun. Tetanggaku merasa jadi warga bijak, rajin bayar pajak. Dia tak baca teliti formulir tagihan, sudah tujuh tahun bayar PBB, eh ukuran rumahnya digelembungkan dua kali lipat.</p>
<p>Jangan kau potong dulu, ini masih urusan tambah-menambah. Kau sering dengar pidato yang mengutip ungkapan &#8216;berat sama dipikul, ringan sama dijinjing&#8217;? Nah, coba simak baik-baik, kalimat itu amat gamblang artinya bahwa urusan kita cuma membawa beban melulu. Rakyat yang sudah terseok-seok masih ditambahi beban lagi. Dan lagi-lagi beban.</p>
<p>Sebelum kau sebut, biar aku bilang orang hidup yang membawa beban melulu memang ada dalam mitologi Yunani tentang nasib Sisyphus *&gt;. Atau dalam lingkungan kerajaan yang zalim. Tapi dalam dunia yang beradab, manusia hidup dalam paket lengkap: ya punya kewajiban (bawa beban, oke), ya punya hak yang berimbang.</p>
<p>Dalam kaitan ini kita pergoki slogan yang santer dicanangkan : &#8216;Orang bijak bayar pajak&#8217;. Lihat? Ungkapan yang terkesan cantik itu, sungguh menekankan &#8216;beban melulu&#8217; di pundak rakyat. Sudah waktunya &#8212; meski amat terlambat &#8212; ada slogan &#8216;Bayar pajak hidup enak!&#8217; </p>
<p>Bercermin dari negara-negara beradab, maka para wajib pajak punya hak memperoleh tunjangan negara &#8212; ketika dia kena pehaka, misalnya. Negara mengembalikan sebagian pajak yang pernah dibayar oleh si warganegara. Atau seorang anak sudah memasuki usia kerja, tapi belum kunjung tertampung di suatu lapangan kerja. Negara memberinya tunjangan sesuai standar hidup, sebab orang tuanya sudah bayar pajak.</p>
<p>Sekolah serta urusan kesehatan rakyat pun menjadi tanggungan negara. Kebutuhan pokok masyarakat diurus hingga harganya tidak sembarangan menggila. Semua dikelola tanpa menyebutnya sebagai subsidi. Istilah subsidi dikumandangkan seakan negara &#8216;berbuat baik&#8217; terhadap rakyat. Padahal tugas mensejahterakan rakyat banyak &#8216;bukan kebaikan&#8217; melainkan &#8220;kewajiban&#8221; pengelola negara &#8212; yang memungut uang pajak dari rakyat juga.&#8221;</p>
<p>Sampai di sini Mat Gawat kembali terdiam. Rokok di ujung jarinya sudah tinggal puntung, dia tersentak karena bunga kukunya nyaris terpanggang. Cepat dia sambung sebatang lagi. Masih termenung dia. Saya lalu ingatkan tentang urusan kurang-mengurangi.</p>
<p>&#8220;Bagian kurang-mengurangi ini lumayan marak di negeri kita. Aku punya sejawat tempo hari, kebelet kawin lagi lalu mengutip ucapan ustad: &#8216;lelaki boleh beristri lebih dari satu, kok&#8217;. Aku ingatkan, jika sebatas itu kalimat ini memang sedap dimamah-biak. Tapi simak jugalah kalimat lanjutannya, yakni : &#8220;asalkan mampu berbuat adil&#8221;. Nah, bagian kedua inilah yang sengaja dikurangi alias disunat seenaknya. Coba, kau punya contoh lain?&#8221;</p>
<p>&#8220;Tadi kau kutip pemo &#8216;berat sama dipikul, ringan sama dijinjing.&#8217; Ini terkesan hanya sebagai beban melulu, karena ada bagian kalimat yang bukan cuma dikurangi, tapi bahkan dibuang.&#8221;</p>
<p>&#8220;Nah, apa sih bunyi selengkapnya ungkapan itu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Paket utuh ungkapan itu kita kutip dari aslinya &#8212; Bahasa Minang, begini: <em>sadanciang bak basi, saciok bak ayam; tabang sapulun, hinggok sacakam; barek samo dipiku, ringan samo dijinjiang; salapiak duduak, sajamba makan</em>.&#8221;</p>
<p>&#8220;Wah, bagian ini perlu terjemahkan, dong.&#8221;</p>
<p>&#8220;Sedencing bak besi, seciap bak ayam, suatu gambaran kekompakan serta guyubnya sebuah komunitas. Dan lebih dipertegas dalam rumusan &#8216;terbang sepulun, hinggap secekam&#8217; &#8212; bagaikan burung yang biasa terbang berombongan, tertib, teratur alias tidak serabutan menampilkan maunya sendiri-sendiri.</p>
<p>Dan jika ada masalah, besar atau kecil, ya ditanggung bersama. Itulah yang dikiaskan sebagai &#8216;berat sama dipikul, ringan sama dijinjing&#8217;. Selepas dari menanggulangi aneka persoalan, baik berat maupun ringan, ada giliran untuk sama-sama duduk setikar. Simbolik tentang kesetaraan.</p>
<p>Dan makan dalam satu hidangan bersama, mengisyaratkan adanya hak yang imbang. Itu maksud dari ungkapan &#8216;duduk selapik, makan sejambal. Dengan memahami kalimat seutuhnya, pemeo itu mengisyaratkan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, ditata secara berimbang : dalam paket kewajiban ada hak-hak yang melekat.</p>
<p>&#8220;Ooooo, bagitu, yak! Jadi, selama ini kita cuma disuguhi potongan-potongan pemeo yang begitu luhur. Cilakanya, di mata awam si pembicara dianggap sebagai &#8216;tokoh bijak&#8217;. Terkesan sudi sama memikul yang berat, dan sama menjinjing yang ringan, bersedia senasib-sepenanggungan dengan kaum jelata. Itu kesan awam.</p>
<p>Aku jadi ingat pantun yang sering kau sebut : makanan udang ya udang juga, tapi udang landir-landir; makanan orang ya orang juga, tapi orang pandir-pandir. Terus-terang, aku sekarang juga ikut jadi MC alias momong cucu, supaya kelak dia menjadi manusia yang tidak pandir alias culun bin lo&#8217;on. Amit-amit!&#8221;</p>
<p>Mardeka!</p>
<p><strong>Ed Zoelverdi<br />
</strong>1:36 AM 8/17/2008</p>
<p>&#8212;&#8211;</p>
<p>*&gt; Dalam mitologi Yunani, Sisyphus adalah raja bergajul yang dihukum di Tartarus. Ia harus mendorong sebungkah batu yang amat besar ke atas bukit. Setiba di puncak, batu itu menggelinding ke bawah. Sisyphus harus menggotong kembali ke atas bukit, dan si batu pun melorot lagi. Beban ini berulang-ulang harus dilakukan sepanjang hidupnya.<br />
 <br />
Sosok Sisyphus kini digunakan sebagai ungkapan terhadap kegiatan yang tidak berkeruncingan alias tak jelas ujungnya, dan atau sekadar diulang-ulang, tapi tanpa manfaat. Juga mengacu pada tugas-tugas yang tak bermanfaat serta tidak dihargai.***</p>
<p> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://edzoelverdi.com/2008/08/16/kalibataku-versi-abad-21/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Sang Maestro Berusia 100 Tahun</title>
		<link>http://edzoelverdi.com/2008/08/14/sang-maestro-berusia-100-tahun/</link>
		<comments>http://edzoelverdi.com/2008/08/14/sang-maestro-berusia-100-tahun/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 Aug 2008 15:00:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matkodak</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Cakrawala]]></category>

		<category><![CDATA[Add new tag]]></category>

		<category><![CDATA[cium tanah]]></category>

		<category><![CDATA[geram]]></category>

		<category><![CDATA[maestro]]></category>

		<category><![CDATA[Mai Morirem;]]></category>

		<category><![CDATA[pejuang]]></category>

		<category><![CDATA[tokoh langka]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://edzoelverdi.com/?p=51</guid>
		<description><![CDATA[Pelukis Salim genap berusia 100 tahun nun jauh di negeri orang, dan tetap memelihara status sebagai warganegara Indonesia. Di depan pintu kamarnya di Paris, ia memasang ungkapan &#8220;Mai Morirem&#8221; &#8212; kita tidak akan mati. Sepanjang umur bermukim di jantung budaya Barat, Monsieur Salim justru mengingatkan agar orang Indonesia tidak begitu saja memamah-biak segala yang datang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><a href="http://edzoelverdi.com/wp-content/uploads/2008/08/1993-salim-paris.jpg"></a>Pelukis Salim genap berusia 100 tahun nun jauh di negeri orang, dan tetap memelihara status sebagai warganegara Indonesia. Di depan pintu kamarnya di Paris, ia memasang ungkapan </em>&#8220;Mai Morirem&#8221; &#8212; kita tidak akan mati.<em> Sepanjang umur bermukim di jantung budaya Barat, Monsieur Salim justru mengingatkan agar orang Indonesia tidak begitu saja memamah-biak segala yang datang dari Barat.</em></p>
<p><a href="http://edzoelverdi.com/wp-content/uploads/2008/08/1993-salim-paris.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-52" style="float: left;" title="1993-salim-paris" src="http://edzoelverdi.com/wp-content/uploads/2008/08/1993-salim-paris.jpg" alt="" width="216" height="273" /></a><strong>SEPUCUK</strong> kartu Selamat Tahun Baru saya terima dari Paris, Prancis, awal Januari 2008.  Pengirimnya: Salim &#8212; pelukis, orang Indonesia yang tahun ini genap berusia 100 tahun. Tulisan tangannya tidak banyak berubah. Saya mengenalnya pertama kali sekitar tahun 1970an, ketika Bung Salim &#8212; penggilan akrabnya &#8212; menggelar pameran karyanya di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.</p>
<p>Lalu dalam sebuah trip ke London, tahun 1981, pulangnya saya singgah di Paris &#8212; dengan tujuan utama mampir di rumahnya. Kemudian tahun 1987, saya ke Paris lagi menghadiri resepsi ulang tahun ke-20 Kantor Berita Foto <em>Gamma</em>. Acara penting lainnya tentu saja bertamu ke rumah Bung Salim. Begitu pula tahun 1993, dalam perjalanan pulang dari Amerika Serikat, saya pun singgah di Paris. Ya, mampir di rumah Bung Salim lagi.</p>
<p>Sampai suatu hari di awal 1995, dari Jakarta saya menelepon ke rumahnya di Paris &#8212; hanya sekadar kangen-kangenan. &#8220;Saya sekarang 86 tahun. Bukan main, ya, tua sudah,&#8221; katanya sambil tertawa. Dan sejauh itu, ia bilang tidak harus berpantang makan ini itu. &#8220;Saya makan apa saja. Minum anggur, tapi tidak merokok lagi. Sudah berhenti 14 tahun,&#8221; tuturnya, dalam bahasa Indonesia logat Prancis. Kecuali ada sedikit keluhan mengenai kaki, selebihnya Salim sehat-walafiat. Pendengarannya pun masih tajam. Juga, daya nalarnya tetap kritis.<span id="more-51"></span></p>
<p>Kontak saya dengan Bung Salim selama berbilang tahun rutin saling bertukar kartu, baik Selamat Idulfitri maupun Tahun Baru Masehi. Dan sejak tahun lalu, terdengar kabar bahwa ia sedang menyiapkan pameran ulang tahun ke-100, dan akan digelar di Jakarta, September 2008. Tentu saja saya berdoa cita-cita Bung Salim terwujud selagi masih hidup. Lalu kepada seorang kawan di Jerman &#8212; koresponden sebuah penerbitan pers di Jakarta, saya sarankan mampir di Paris untuk meliput dari dekat tokoh langka ini.</p>
<p>Sementara itu, via email saya mengontak sobat Buyung Tanisan, 63 tahun, di Payakumbuh, Sumatera Barat. Buyung sempat menjadi sejawat Salim ketika sama-sama bekerja di KBRI Paris, 1970an-1980an. Ia menyarankan agar saya mengontak Ariffin Dungga yang kini masih bekerja di KBRI Paris. Dan awal Agustus barusan, saya terima email dari Bung Ariffin. Intinya megabarkan, memang Pak Salim sudah menyiapkan pameran 100 tahun di Jakarta, September ini. Kondisi sang pelukis saat ini baik, meski tampak agak lemah.</p>
<p><strong>Rumah Terganjil Sedunia<br />
</strong>SEHARI-HARI Salim akan menerima tamu, waktu itu, jika lebih dulu ada janji lewat telepon. Dan di kota dunia seperti Paris, orang bisa ditelan jalan jika kurang cermat menyimak alamat yang dituju. Untuk itu, Salim akan memberi petunjuk sangat rinci tentang rute angkutan umum praktis. Misalnya, dengan kereta bawah tanah (metro), kita nanti akan tersembul cuma beberapa langkah dari depan tempat tinggalnya.</p>
<p>Kediaman Salim terletak di bilangan daerah bergengsi, sedikit di luar Kota Paris. Meski di daerah mewah, tempat tinggalnya berada di lantai enam, persis di bawah atap gedung tersebut. Ruangannya terdiri dari dua kamar. Mungkin terasa sempit. Tapi bagi Salim yang tinggal sorangan, itu memadai.</p>
<p>Untuk mencapai tempatnya, kita harus menaiki anak tangga sempit di bagian luar gedung. Salim tinggal di situ sejak akhir 1960-an. Baru pada 1970-an, gedung itu memasang lift atau elevator, sehingga Salim tidak perlu lagi turun naik lewat tangga. Dan awal 1980-an, telepon pun berdering di rumahnya.</p>
<p>Dari dua petak kamar tadi, satu digunakan sebagai tempat tidur merangkap ruang makan.  Satu lagi untuk sanggar melukis plus tempat menerima tamu. Di ruangan ini terdapat sejumlah rak buku yang sarat isinya. Juga ada koleksi piringan hitam, foto, dan benda-benda lain. Juga sejumlah lukisan, tentu saja.</p>
<p>Sudah berbilang tahun pula Salim memasang kelambu di jendelanya. Sebab, untuk kawan di rumahnya itu, ia memelihara burung kenari. Bukan dalam sangkar, melainkan dibiarkan terbang lepas di ruangan itu. Selain burung yang jumlahnya bisa sampai puluhan ekor, di satu pojok kamar juga terdapat bejana porselen berisi kura-kura, dan umurnya mungkin mendekati 10 tahun.</p>
<p>Burung-burung tersebut beranak-pinak, dan jika mereka beterbangan sudah kelewat riuh. Untuk mengurangi populasinya, Salim lalu membawanya ke pasar. Dilego. Ada yang sampai 40 ekor. Ketika itu, seekor bisa laku 15 franc atau sekitar Rp 6.000. Inilah kediaman paling unik, bukan hanya di lingkungan apartment tersebut, melainkan boleh jadi paling ganjil di seantero dunia.</p>
<p>Televisi Prancis sempat merekam perkerabatan manusia dengan burung dan kura-kura ini.  Sudah disiarkan. &#8220;Saya terkenal sekarang sebagai orang yang punya burung yang bebas di rumah,&#8221; tutur Salim sambil terbahak. Alamat rumahnya, 186 avenue Charles de Gaulle, 92 200 Neully sur Seine, France. Telepon (33-1) 46242610.</p>
<p>Di pintu masuk rumahnya tertera tulisan: &#8220;Mai Morirem&#8221;. Artinya, &#8220;Kami Tidak akan Mati&#8221;. Itu maknanya, kata Salim, seorang pelukis walau dipenjarakan sekalipun, jiwa sebagai seniman tidak akan pernah mati. &#8220;Mai Morirem&#8221; adalah bahasa Basqe, bahasa daerah perbatasan Spanyol-Prancis. Selain bahasa Spanyol, Salim juga belajar bahasa Arab. Belakangan malahan aksara Arab juga menghiasi lukisan-lukisannya.</p>
<p><strong>Pelukis Salim : Maestro Kaliber Dunia<br />
</strong>PARIS dikenal luas bagai kiblatnya kaum seniman mancanegara, bukanlah kota yang terlalu ramah bagi orang yang ingin mengadu untung. Apa lagi cuma punya ilmu serba tanggung. Namun, ke gelanggang yang sengit inilah Salim terjun. Dan mulai umur 17 tahun ia telah memilih hidup sebagai pelukis. Sarat sudah pengalaman jatuh bangun dalam kariernya, tapi ia tidak tampak gentar mengarungi profesinya, sampai hari ini.</p>
<p>Apa sih yang membuatnya betah bermukim di Prancis? &#8220;Di negara ini saya menemukan kebebasan, baik kebebasan berkarya, berpikir, dan berpendapat,&#8221; jawabnya. Pernah sekitar 1956, seorang sahabatnya, Sutan Syahzam, adik Sutan Sjahrir, membawanya pulang ke Indonesia. Salim diajak bekerja dan hidup sebagai seorang &#8220;tuan besar&#8221; &#8212; naik turun mobil berpakaian rapi dan berdasi. Tapi hidup serba enak ditolaknya. Dan ia pun kemudian kembali ke Prancis. Alasannya ketika itu: &#8220;Di Indonesia kurang ada kebebasan.&#8221;</p>
<p>Lukisan-lukisannya mencuatkan kesan dominan cita-rasa yang halus dan mungkin manis. Menurut pengamat senirupa, aliran lukisan Salim ini adalah impresionisme. Tapi menurut sahabatnya &#8212; Yazir Marzuki, Salim tidak mengikuti aliran tertentu. Namun, tiap pemerhati lukisan, kata Yazir, &#8220;Pasti akan tahu, wow, ini lukisan dia.&#8221;</p>
<p>Atau seperti ditegaskan pelukis Affandi yang dikutip Yazir, &#8220;Lukisan-lukisan Salim sama sekali tidak Barat. Dia tetap Timur, Indonesia, terutama dalam garis-garisnya.&#8221;  Dan ketika pameran lagi di Amsterdam, tahun 1965, selain dapat kritik Salim juga beroleh pujian. Beberapa surat kabar di Negeri Belanda, menyebut Salim pelukis profesional dari Indonesia &#8212; yang karyanya bernilai internasional.</p>
<p>Menarik juga dicatat adalah proses kelahiran karya sang maestro. Lukisan yang wujudnya begitu cantik, meluncur dari olesan kuas di jemari Salim, lantaran sang pelukis sedang marah. Atau sebutlah karya itu meluncur sebagai suatu protes terhadap keadaan yang dianggapnya brengsek. Dan menurut Salim, ia sering merasa marah jika mendengar berita-berita politik.</p>
<p>&#8220;Di mana-mana berita politik tidak ada yang baik,&#8221; ujarnya. &#8220;Di Prancis juga, karena di Eropa sekarang sedang berkembang rasisme. Saya tidak senang itu. Dulu tidak begitu.&#8221; Dan Bung Salim amat geram terhadap sikap Barat yang memelintir makna agama Islam. &#8220;Sekarang ada pandangan yang menilai Islam itu teroris. Ini jelas salah!&#8221; ujarnya.</p>
<p>Sebagai warga negara yang masih setia dengan paspor Indonesia, Salim tidak pernah absen mengikuti perkembangan di Tanah Air. Itu didapatnya melalui media cetak dan elektronik, serta dari para kenalannya. Untuk memenuhi rasa dahaganya terhadap aneka berita, ia bahkan sampai berlangganan buletin langsung dari kantor berita, seperti <em>Agence France Presse</em> (AFP) dan <em>Reuter.</em></p>
<p>&#8220;Saya tidak setuju kalau terjadi kekerasan dalam mengatasi satu peristiwa,&#8221; katanya. Sebab, menurut Salim, jika mau berusaha, niscaya banyak cara lain yang dapat ditempuh, tanpa membawa korban nyawa manusia.</p>
<p><strong>Pejuang Teguh Anti Harta Kolonial</strong><br />
MENURUT cerita seorang sahabatnya, Salim berasal dari daerah Tapanuli, Sumatera Utara. Tapi sejauh ini ia tidak pernah menyampirkan nama marganya. Bahkan menurut pengakuannya sudah lama ia lupa. Juga ketika ditanya nama kampungnya, pun Salim bilang sudah lupa. Ia mulai menjejakkan kaki di daratan Eropa, sekitar 1920 &#8212; atau dalam usia 12 tahun, dibawa oleh sebuah keluarga Belanda ke Nederland, sebagai anak angkat. Dibesarkan dan disekolahkan di sana. Kemudian Salim belajar melukis.</p>
<p>Pada 1930-an, Salim pulang ke Indonesia dan sempat bekerja pada perusahaan reklame. Di Indonesia ia melihat dan merasakan langsung perlakuan orang Belanda sebagai penjajah. Ia pun memilih gabung dengan pejuang kemerdekaan, terutama dari kelompok Bung Sjahrir. Sebagai pemuda, Salim ketika itu ikut berjuang bersama teman-teman lainnya.</p>
<p>Beberapa tahun kemudian, Salim kembali ke Eropa, ikut bersama keluarga Indonesia yang pindah ke Prancis. Tidak banyak yang diceritakan sejak ia kembali ke Eropa ketika itu. Begitu juga tentang pengalamannya tinggal di Eropa selama Perang Dunia II. Beberapa orang yang tahu tentang Salim mengatakan, ia banyak bergerak di bawah tanah dalam menentang penjajahan.</p>
<p>Kekejian Belanda terhadap rakyat Indonesia membekas di hati Salim, sampai akhirnya ia menganggap semua orang Belanda sebagai orang busuk. Begitu getirnya sanubari Salim, sampai-sampai ia memutuskan hubungan dengan ayah angkatnya yang orang Belanda itu.</p>
<p>Di Prancis sekitar tahun 1934 hidupnya melarat. Menurut cerita Yazir Marzuki pula, bahkan jaket untuk pelindung di musim salju pun ia tak punya. Sampai suatu hari, Salim dapat kabar bahwa ayah angkatnya di Belanda meninggal dunia. Dan semua harta warisan diserahkan kepada Salim.</p>
<p>Dalam kondisi melarat, Salim seharusnya berangkat ke  Negeri Belanda untuk mengurus warisannya. Namun ia teguh pada pendiriannya: sudah memutuskan hubungan dengan ayah angkat, maka semua harta itu diberikannya kepada panti asuhan yatim piatu di Negeri Belanda.</p>
<p>&#8220;Orang akan bilang Salim itu goblok,&#8221; komentar Yazir. Pada saat melarat tidak punya apa-apa, namun karena mempertahankan keyakinan yang teguh dan konsisten dengan ucapannya, akhirnya ia menolak harta warisan dari ayah angkatnya itu. &#8220;Saya kira, ini ekspresi Salim karena benci kepada Belanda yang dinilainya telah menyengsarakan bangsa Indonesia,&#8221; kata Yazir.</p>
<p><strong>Tragedi Seniman Pemula</strong><br />
MENGENANG pengalaman getirnya di hari-hari yang lampau, Salim menilai sebagai amat bermanfaat bagi dirinya. &#8220;Itu baik juga untuk disiplin,&#8221; katanya. Jadi, kata kuncinya adalah disiplin. Di bagian ini Salim merasa amat prihatin. Sebab, menurut dia, kini banyak pelukis yang baru mulai, tapi tidak serius membina kualitas diri dan karyanya.</p>
<p>Salim pernah mengajar di sebuah akademi senirupa di Paris. &#8220;Tapi sekarang tidak lagi, karena kaki saya sakit-sakitan,&#8221; katanya. &#8220;Sampai umur berapa Anda akan melukis?&#8221; saya bertanya, ketika bertemu di tahun 1993. &#8220;Sampai umur berapa? Ya, sampai meninggal,&#8221; jawabnya, seraya ketawa. Terdiam sejenak, Salim lalu menambahkan, &#8220;Ya, saya harap sampai 10 tahun lagi.&#8221;</p>
<p>Menyimak riwayat kesenimanan pelukis Salim, satu hal penting dicatat: status seniman bukanlah sekadar gaya, melainkan merupakan sebuah pilihan dan sikap hidup. Dan dalam proses menghayati kehidupan, Salim juga melakukan pengayaan terhadap intelektualitasnya. Itu ditimbanya dari berbagai bahan bacaan. Atau dari serangkaian diskusi &#8212; yang di Paris lazim berlangsung di cafe alias kedai kopi. Paris memang terkenal dengan kedai kopinya, yang bertaburan di seantero kota.</p>
<p>Kesenimanan bukan gaya, dalam arti cuma mencuatkan perangai ganjil alias slebor. Misalnya, supaya sah dianggap seniman, orang lantas berpakaian nyaris kumal. Kalau perlu tak mandi-mandi. Atau ada lagi yang sibuk berlagak miskin, padahal punya simpanan di bank dalam mata uang dolar. Kemudian jualan retorika kiri-kanan tentang kemanusiaan. Tragis, memang.</p>
<p>Atau ada lagi yang membiarkan rambutnya panjang, dan serabutan pula. Pendek kata, kulit lebih penting ketimbang isi. Yang dikejar hanyalah agar orang cuma ternganga dan menganggapnya seniman tulen. Saking sibuk dengan pernik-pernik yang dikira mengesankan citra seniman ini, banyak kemudian yang abai melahirkan karya gemilang. Sampai menimbulkan olok-olok: jangan cuma rambut yang dibikin panjang, tapi akal yang patut dipanjangkan.</p>
<p><strong>Obat Rindu: Mencium Tanah Indonesia</strong><br />
KALAUPUN menurut kacamata awam sosok Salim tampak aneh, itu semata-mata hanyalah lantunan dari suatu cara berpikir manusia merdeka. Pikiran boleh bebas &#8212; bahkan menerawang tanpa kenal batas ruang dan waktu &#8212; namun dalam pergaulan sehari-hari, menurut para kenalannya, Salim amat menaruh hormat pada wilayah kedaulatan yang sifatnya amat pribadi.</p>
<p>Itu sebabnya ia tidak terlalu bahagia jika ada yang ingin mengungkit kehidupan pribadinya. Ia bisa tampak tersinggung, misalnya, ketika orang menanyakan: mengapa sih lebih suka hidup membujang? Sikap Salim ini mengisyaratkan satu hal, yakni betapa pun orang berpikiran bebas, namun dalam pergaulan tetap ada batas-batas, yang menurut adab adalah sah dan amat patut dihormati.</p>
<p>Meski lama bermukim di Prancis, Salim banyak punya kenalan di kalangan pejabat tinggi Indonesia, yang selalu menjenguknya jika sedang berkunjung ke negeri itu. Menurut Buyung Tanisan, ketika Presiden Soekarno singgah di Paris dalam kunjungan tidak resmi, Bung Salim ikut menyambut di bandara bersama masyarakat Indonesia di Paris.</p>
<p>Tatkala menyalami Salim, Presiden Soekarno bertanya: &#8220;Mau mati di sini?&#8221; Bung Salim ligat menjawab, &#8220;Tidak! Saya mau hidup di sini!&#8221;</p>
<p>Nyaris sepanjang umur bermukim nun di benua seberang, satu hal yang tidak lekang dalam sikapnya adalah bahwa ia orang Indonesia. Dan itu tetap dipeliharanya. Mirip dengan komponis beken Frederick Chopin &#8212; merantau di Prancis membawa bekal sekepal tanah dari negeri asalnya di Polandia, lebih kurang begitulah Salim menjalin rasa cintanya terhadap Indonesia.</p>
<p>Salim membawa sebongkah tanah dari sini, lalu ditaruh dalam botol selai bersama biji mangga yang sudah mengering. Tiap kali ia merasa rindu pada Indonesia, aroma tanah itu dihirupnya. Tanah itu dicomotnya dari Tegal, Jawa Tengah, tahun 1950-an. &#8220;Saya suka Tegal, karena kesannya Indonesia tulen. Tidak ada Borobudur, tidak ada kesan Jawa, tapi Indonesia biasa sekali. Saya senang di sana,&#8221; katanya.</p>
<p>&#8220;Saya tidak senang di Jakarta. Sebab, di sana banyak pseudo-intelectual,&#8221; katanya. Menurut Salim, mereka yang di mata awam dianggap kaum intelek ternyata cuma intelek-semu alias intelek-palsu. Mereka ternyata lebih suka berburu uang. Itulah sebabnya, katanya, kalau ke Indonesia ia merasa lebih senang bertemu dengan orang di kampung-kampung. &#8220;Saya senang bergaul dengan orang biasa. Saya suka orang biasa, karena saya belajar banyak dari orang biasa, di mana-mana. Di Prancis juga,&#8221; tuturnya.</p>
<p>&#8220;Di KBRI Paris saya senang dengan orang yang bukan diplomat. Yang diplomat ya ada juga, misalnya Hadi Thayeb,&#8221; katanya. Lebih jauh diungkapkannya, banyak diplomat Indonesia yang kurang mampu menghayati tugasnya. Dan masih bersikap feodal. &#8220;Ada duta besar yang menempatkan dirinya lebih tua dari masyarakat. Lantas tidak pernah datang ke rumah saya. Bukan karena saya susah lalu harus ditengok, melainkan aneh kan kalau tidak mau kenal dengan saya,&#8221; kata Salim.</p>
<p>Akan halnya kaum intelektual di Indonesia yang disebutnya sebagai intelektual-semu tadi, menurut Salim, memang mereka itu banyak membaca buku. &#8220;Tapi tidak punya kepribadian sendiri. Sedangkan orang kampung, kendati tidak bisa membaca, mereka punya kepribadian sendiri &#8212; dan itu penting,&#8221; katanya. Dan sebagai mukimin yang sudah berbilang tahun hidup di jantung budaya Barat, Salim punya nasehat berharga: orang Indonesia janganlah begitu saja memamah-biak segala yang datang dari Barat. Nah!</p>
<p><strong>Ed Zoelverdi<br />
</strong>Lionmag - edisi Agustus 2008<br />
<em>(The Inflight Magazine of Lion Air)</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://edzoelverdi.com/2008/08/14/sang-maestro-berusia-100-tahun/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>&#8220;Demi Tuhan&#8230;, Demi Uang&#8230;!&#8221;</title>
		<link>http://edzoelverdi.com/2008/08/01/ketika-uang-dipertuhankan/</link>
		<comments>http://edzoelverdi.com/2008/08/01/ketika-uang-dipertuhankan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 Aug 2008 18:00:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matkodak</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Cakrawala]]></category>

		<category><![CDATA[bangsa berdaulat; bermartabat; demi uang; lancung; buda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://edzoelverdi.com/?p=50</guid>
		<description><![CDATA[Negeri ini dimerdekakan para pejuang dari belenggu penjajahan asing, dengan cita-cita menjadi bangsa berdaulat dan bermartabat. Namun bagian ini kini bukan hanya dilupakan, tapi diobok-obok justru oleh anak negeri sendiri &#8212; demi segepok uang, sudi menjadi budak untuk kepentingan asing.
LACK of money is the root of all evil, kata George Bernard Shaw (1856-1950).  Artinya, tidak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Negeri ini dimerdekakan para pejuang dari belenggu penjajahan asing, dengan cita-cita menjadi bangsa berdaulat dan bermartabat. Namun bagian ini kini bukan hanya dilupakan, tapi diobok-obok justru oleh anak negeri sendiri &#8212; demi segepok uang, sudi menjadi budak untuk kepentingan asing.</em></p>
<p><em><strong>LACK</strong> of money is the root of all evil</em>, kata George Bernard Shaw (1856-1950).  Artinya, tidak punya uang adalah akar segala kejahatan. Rumusan sang penulis beken ini kini mencapai wujud lebih peyot: meski punya uang tetap saja orang berbuat jahat atawa lancung alias pesta-pora menjadi koruptor.</p>
<p>Nah, koruptor itu makhluk apa gerangan? Jika memang manusia &#8212; dengan banyak gelar pula, punya jabatan tinggi serta gedung yang semakin tinggi, tapi daya pikirnya sangatlah rendah. Tidak lebih cuma sejengkal dari pusar di perut. Padahal sejarah membuktikan, betapa wabah korupsi bermuara pada hancurnya negeri sendiri.  <span id="more-50"></span></p>
<p>Sentana uang yang harus disanjung alias dipertuhankan, ada ungkapan terkenal yang membuktikan bahwa &#8220;uang bukanlah segala-galanya&#8221;. Uang perlu, memang. Dengan uang kita bisa membeli makanan, tapi bukan selera atau citarasa. Dengan uang kita bisa beli obat, tapi bukan kesehatan. Dengan uang orang bisa saja membeli singgasana, seperti pangkat, jabatan atawa kedudukan. Tapi bukan kharisma &#8212; apalagi kehormatan.</p>
<p>Korupsi sebagai wujud perilaku lancung alias selingkuh, adalah cerminan logika dan akal sehat yang kian menciut di tengah berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi. Kalender dinding silih-berganti menambah tahun demi tahun dalam umur manusia. Tapi luput menghayati pengalaman hidup pada tiap tahun yang dijalani. Sehingga walau pun  mampu beli rumah, namun tak pernah menemukan keteduhan batin.</p>
<p>Dia bisa membeli ranjang terbuat dari batu giok bertatahkan emas belian, tapi bukan pulasnya tidur. Istrinya pun bisa membeli perhiasan, tapi bukan kecantikan. Dengan uang pula, si koruptor mampu membeli hiburan, tapi bukan kebahagiaan. Bisa membeli kemewahan dengan uang, namun bukan kebudayaan. Masih dengan uang, komputer bisa dibeli tapi bukan otak. Kenalan pun mudah dibeli, tapi bukan sahabat. Bahkan esek-esek bisa dibeli kapan mau, namun bukan cinta&#8230;&#8230;.</p>
<p>* * *</p>
<p>MEMANG, dengan uang banyak yang mampu beli komputer berkapasitas memori luar biasa hebat. Namun lebih banyak yang abai merawat memori pribadi &#8212; menjadikan pengalaman sebagai guru terbaik dalam kehidupan. Sehingga perangai sehari-hari jauh lebih dungu ketimbang keledai tua sekalipun.<br />
 <br />
Hari ini banyak bertaburan rumah yang serba &#8220;wah dan wuih dan duileee&#8221;. Tapi keluarga di dalamnya morat-marit, pecah berkeping-keping. Dalam era yang digelembungkan sebagai &#8220;era globalisasi&#8221; ini, boleh jadi banyak yang mampu bolak-balik ke mancanegara. Tapi masih jauh lebih banyak yang kesulitan menyeberangi jalan untuk bertegur-sapa dengan tetangga baru. Dan hidup berdampingan secara damai.</p>
<p>Sementara pada posisi pembuat keputusan konkret bagi kepentingan hajat hidup orang banyak, terlalu banyak sumpah jabatan diobral. &#8220;Demi Allah&#8230;, Demi Tuhan&#8230;,&#8221; fasih dilafalkan di bibir, sementara dalam hati bunyinya: &#8220;Demi uang,&#8230;. Demi uang&#8230;., aku bersumpah&#8230;.&#8221;</p>
<p>Selebihnya waktu dihabiskan hanya untuk bicara, bicara, dan sarat dengan aneka kebohongan. Terlalu banyak obral janji “akan begini” atawa “akan begitu” &#8212; seolah hidup ini cukup cuma dengan rumus “ke-akan-an” alias tak perlu sampai pada bentuk yang seharusnya diwujudkan.</p>
<p>Kini zamannya popok pakai-langsung-buang. Dan moralitas pun latah ikut-ikutan langsung-boleh-buang; pelayanan esek-esek cuma selincam alias sekadar menumpang lewat. Demi uang &#8212; kini kian leluasa beredar aneka obat setan alias pil penyebab tawa sinting ria lantaran otak jadi miring, sampai diam bisu membatu. Atau jadi kian mengganas, meliar, atau membunuh lebih buas dibandingkan predator di hutan rimba.</p>
<p>Di abad penjelajahan angkasa raya kini, sudah dilupakan menjelajah ruang di relung hati. Banyak yang heboh untuk membersihkan udara, tapi lebih banyak yang berlupa-lupa pada kotoran yang telah mencemari jiwa. Negeri ini dimerdekakan para pejuang dari belenggu penjajahan asing, untuk menjadi bangsa berdaulat dan bermartabat. Namun bagian ini kini bukan hanya dilupakan, tapi diobok-obok justru oleh anak negeri sendiri &#8212; demi segepok uang, sudi menjadi budak untuk kepentingan asing.</p>
<p>Mari merunduk untuk mengenang jasa para pejuang kemerdekaan, semoga arwah mereka beroleh tempat yang lapang di alam kekal, amin! Dan semoga pula Tuhan Semesta Alam menumbuhkan kesadaran anak negeri untuk tidak membiarkan bangsa dan negara ini karam hanya akibat ulah segelintir orang yang tergila-gila mempertuhankan uang.<br />
 <br />
Merdeka!</p>
<p><strong>Ed Zoelverdi</strong><br />
Jakarta, 1 Agustus 2008.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://edzoelverdi.com/2008/08/01/ketika-uang-dipertuhankan/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
