<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>

<channel>
	<title>Ed Zoelverdi</title>
	<atom:link href="http://edzoelverdi.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://edzoelverdi.com</link>
	<description></description>
	<pubDate>Tue, 29 Dec 2009 21:13:43 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.6.3</generator>
	<language>en</language>
	<image>
<link>http://edzoelverdi.com</link>
<url>http://edzoelverdi.com/wp-content/plugins/maxblogpress-favicon/icons/laughter.ico</url>
<title>Ed Zoelverdi</title>
</image>
		<item>
		<title>Bangun! Bangun! Bangun!</title>
		<link>http://edzoelverdi.com/2009/12/29/bangun-bangun-bangun/</link>
		<comments>http://edzoelverdi.com/2009/12/29/bangun-bangun-bangun/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Dec 2009 21:13:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matkodak</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://edzoelverdi.com/?p=167</guid>
		<description><![CDATA[SESUAI pakemnya, penanggalan tahun 20:10 sama persis dengan tahun 20:21,  20:27, 20:38, 20:49, 20:55, 20:66, 20:77, 20:83, 20:94, 21:00. Dan sesuai pakemnya pula, masa depan ditentukan oleh perilaku serta tindak-langkah hari ini, kini &#8212; detik ini.
Kalender dinding menggelinding tahun demi tahun, namun manusia sering luput menghayati pengalaman hidup pada tiap tahun yang dijalani. Memang, banyak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://edzoelverdi.com/wp-content/uploads/2009/12/2010-ed-blog.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-169" title="2010-ed-blog" src="http://edzoelverdi.com/wp-content/uploads/2009/12/2010-ed-blog-300x208.jpg" alt="" width="300" height="208" /></a>SESUAI pakemnya, penanggalan tahun 20:10 sama persis dengan tahun 20:21,  20:27, 20:38, 20:49, 20:55, 20:66, 20:77, 20:83, 20:94, 21:00. Dan sesuai pakemnya pula, masa depan ditentukan oleh perilaku serta tindak-langkah hari ini, kini &#8212; detik ini.</p>
<p>Kalender dinding menggelinding tahun demi tahun, namun manusia sering luput menghayati pengalaman hidup pada tiap tahun yang dijalani. Memang, banyak yang mampu beli komputer berkapasitas memori luar biasa hebat. Tapi lebih banyak yang alpa merawat memori pribadi &#8212; menjadikan pengalaman sebagai guru terbaik dalam kehidupan.<br />
<span id="more-167"></span><br />
Manusia sungguh makhluk pelupa. Bahkan sering lupa harkat dan martabat sebagai manusia, lalu terperosok di lembah kegelapan, sampai meraba-raba masadepan di kartu syirik si tukang nujum.</p>
<p>Hati dan pikiran yang gelap mustahil mengusir kegelapan; hanya cahaya yang mampu menghalaunya. Kebencian mustahil menggebrak kebencian; hanya cinta yang mampu meluluhkannya.</p>
<p>20:10 isyarat waktu &#8230; sudah jam delapan lewat sepuluh &#8212; malam, doyan lipan alias libur panjang kok masih terus disambung tidur panjang, sih? Bangun, dong!</p>
<p>Semoga Cahaya dan Cinta Ilahiyah senantiasa bersemi menerangi hati dan pikiran serta tindak-langkah kita. Kini &#8212; dan selamanya, untuk keluar dari era jahiliyah ini.</p>
<p><strong>&gt; Ed Zoelverdi</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://edzoelverdi.com/2009/12/29/bangun-bangun-bangun/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>KELAPA: SANG POHON KEHIDUPAN</title>
		<link>http://edzoelverdi.com/2009/12/24/kelapa-sang-pohon-kehidupan/</link>
		<comments>http://edzoelverdi.com/2009/12/24/kelapa-sang-pohon-kehidupan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Dec 2009 17:56:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matkodak</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<category><![CDATA[opini bengkok]]></category>

		<category><![CDATA[raja kelana]]></category>

		<category><![CDATA[sumber gizi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://edzoelverdi.com/?p=162</guid>
		<description><![CDATA[Minyak kelapa luas digunakan penduduk Asia Pasifik sebagai obat tradisional, selama ribuan tahun. Opini bengkok pernah menudingnya sebagai biang penyakit. Namun ilmu kesehatan moderen kini menggali kembali rahasia kekuatan kelapa untuk penyembuhan yang menakjubkan. 
INGAT lagu terkenal &#8220;Rayuan Pulau Kelapa&#8221; yang digubah Ismail Marzuki. Sentana kita mendengarnya tatkala berada di luar negeri, niscaya batin tergugah: [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Minyak kelapa luas digunakan penduduk Asia Pasifik sebagai obat tradisional, selama ribuan tahun. Opini bengkok pernah menudingnya sebagai biang penyakit. Namun ilmu kesehatan moderen kini menggali kembali rahasia kekuatan kelapa untuk penyembuhan yang menakjubkan. </em></p>
<p>INGAT lagu terkenal &#8220;Rayuan Pulau Kelapa&#8221; yang digubah Ismail Marzuki. Sentana kita mendengarnya tatkala berada di luar negeri, niscaya batin tergugah: antara haru dan bangga terhadap Ibu Pertiwi &#8212; negeri kepulauan yang kaya dengan pohon kelapa. Inilah jenis pohon yang tiada duanya dalam hal manfaat bagi kehidupan manusia (lihat juga: <em>Pohon Tiada Tandingan</em>).<br />
<span id="more-162"></span><br />
Buah kelapa dilukiskan sebagai &#8220;raja kelana&#8221; &#8212; sungguh jitu, karena dia bisa mengembara dibawa gelombang samudera, dan kemudian terdampar di pantai nun di pelosok dunia. Lalu dia pun tumbuh. Tanaman yang satu ini boleh dibilang istimewa. Dia tak hanya tumbuh di dekat air asin, tapi juga di kawasan<br />
pegunungan. Begitulah penduduk kepulauan di Asia dan Pasifik selama ribuan tahun sudah akrab dengan kelapa, baik sebagai bahan makanan maupun untuk pengobatan serta komoditas dagang.</p>
<p><strong>BERAGAM KHASIAT UNTUK KESEHATAN</strong><br />
Para penjelajah dari Spanyol di masa dini menyebutnya <em>coco nucifera</em> &#8212; ini kelak menjadi nama ilmiah kelapa. <em>Coco</em> berarti &#8220;muka monyet&#8221;, karena pada batok yang masih berbulu ada tiga mata, mirip kepala dan wajah monyet. <em>Nucifera</em> secara harfiah berarti <em>nut-bearing</em>, maksudnya ya buah kelapa.</p>
<p>Lepas dari urusan nama yang mungkin aneh itu, yang jelas sejarah sudah membuktikan betapa kelapa merupakan sumber gizi, baik berupa dagingnya, santan ataupun minyak. Buah ini bergizi tinggi dan kaya dengan serat, vitamin serta mineral, tergolong &#8220;makanan fungsional&#8221;, karena mengandung berbagai khasiat<br />
buat kesehatan.</p>
<p>Rahasia kekuatan penyembuhan yang menakjubkan dari kelapa, belakangan ini, kembali jadi kajian ilmu kesehatan moderen. Masyarakat dari beragam budaya, bahasa, agama, dan ras &#8212; yang tersebar di berbagai pelosok dunia, memuliakan kelapa sebagai sumber makanan serta bahan pengobatan. Namun opini bengkok yang gencar digelembungkan kemudian justru menuding kelapa sebagai &#8216;biang penyakit&#8217;.</p>
<p>Lambat-laun ketahuan, motifnya tak lain dari sekadar kepentingan bisnis. Kini, berbagai studi yang disiarkan dalam jurnal medis menunjukkan bahwa minyak kelapa memang mengandung khasiat yang luas untuk pengobatan. Secara tradisional, minyak kelapa mangkus mengobati aneka penyakit, seperti kurang<br />
gizi, lesu, asma, bronkitis, batuk, pilek, flu dan tifus.</p>
<p>Juga untuk sakit kuping, radang gusi, sakit gigi, radang tenggorokan, gangguan masa haid, keluhan lambung, sembelit, mual, batu ginjal. disentri, sakit kuning. Begitu pula untuk obat rambut rontok, membasmi kutu di kepala, abses, luka, memar, luka bakar, bengkak, bisul, infeksi kulit, kudis dan kurap. Luas pula digunakan untuk mengobati tumor, tbc paru-paru, dan bahkan untuk <em>gonorrhea</em> serta sipilis.</p>
<p>Penting dicatat lagi khasiatnya untuk mengobati stres, memelihara level kolesterol, meningkatkan kekebalan tubuh, memperkuat tulang, memelihara pencernaan dan metabolisme. Juga menormalkan tekanan darah, diabetes, dan obat kanker. Rangkaian bukti tentang khasiat minyak kelapa buat kesehatan, sejauh ini memang dikenal luas dalam pengobatan tradisional India di Ayurveda.</p>
<p>Minyak kelapa sering dipilih sebagai bagian menu para atlet dan binaragawan. Alasannya, minyak kelapa mengandung kalori lebih rendah dibandingkan minyak lain. Lemaknya mudah diolah menjadi energi, dan tidak menumpuk di jantung dan saluran darah. Dengan demikian, sang atlet dapat tampil prima di arena.</p>
<p>Minyak kelapa pernah disebut tak sehat. Salah paham ini timbul karena mengira kandungan lemak jenuhnya tinggi. Kini diketahui, lemak dalam minyak kelapa adalah unik, dan beda dengan umumnya minyak-minyak lain. Khasiatnya pun banyak buat kesehatan, sebagaimana terbukti dari serangkaian penelitian para ahli.</p>
<p><em>&#8220;Coconut oil is the healthiest oil on earth,&#8221; </em>kata Bruce Fife, N.D, pengarang 18 buku termasuk <em>The Coconut Oil Miracle</em> (sebelumnya berjudul <em>The Healing Miracles of Coconut Oil</em>), di Colorado, Amerika Serikat.</p>
<p>Mulai sekarang, mari gunakan kelapa untuk bahan masakan. Minyaknya untuk goreng-menggoreng, dan santannya untuk membuat gulai. Sebagai negeri kepulauan, pohon kelapa sungguh anugerah Ilahiyah. Kini waktunya untuk dimanfaatkan maksimal.</p>
<p>Dengan demikian, perlu dihidupkan lagi pabrik minyak kelapa tulen. Atau mendorong tumbuhnya industri rumahan. Lahan usaha rakyat jelata ini tentu dapat menjadi langkah menuju kemakmuran bersama di seluruh pelosok negeri.</p>
<p>Mudah-mudanan tak keliwat terlambat menyadari, sudah ribuan tahun pohon kelapa dipandang bernilai tinggi di belahan bumi kita. Sehingga tak berlebihan bila penduduk kepulauan di Asia dan Pasifik menjulukinya &#8220;Pohon Kehidupan&#8221; <em>(The Tree of Life)</em>.<br />
<strong><br />
POHON TIADA TANDINGAN</strong><br />
SEBAIK-baik manusia adalah yang berguna untuk orang lain. Mudah dihafal, memang. Tapi dalam kenyataan, apakah benar-benar berguna dari ujung rambut sampai ke ujung kaki, sebagaimana kehebatan pohon kelapa?</p>
<p>DAUN. Masih berupa daun muda alias pucuk, bisa digunakan sebagai hiasan gerbang sebuah pesta. Bisa dibikin janur, dan dapat pula dianyam jadi bungkus ketupat. Lanjut sedikit, daunnya boleh dirajut menjadi bahan tikar atawa dinding. Juga untuk bahan atap. Sedangkan lidinya cocok untuk tusuk sate. Lewat lagi, lidinya disusun menjadi sapu.</p>
<p>TANDAN BUAH. Ketika mulai berbuah, tandannya bisa ditakik untuk menyadap sari gula. Selanjutnya diolah menjadi gula kelapa alias gula merah.</p>
<p>BUAH. Bisa dipetik ketika masih hijau atau muda. Airnya segar pelepas dahaga, daging buahnya pun sedap dikorek dengan sendok. Jika kulitnya menguning atau dia jatuh sendiri, isinya bisa diparut untuk sayuran urap. Atau campuran goreng telur dadar supaya gembur.</p>
<p>Atau diperas jadi santan untuk gulai, seperti kelio, sayur lodeh atau rendang. Juga untuk kolak, dan sebagainya. Masih dari daging buahnya, santan dapat diolah menjadi minyak goreng. Dan bahan dasar untuk bikin mentega.</p>
<p>Di dalam buah kelapa yang tua, sering ada ekstra buah lagi seukuran bola tenis. Orang Minang menyebutnya //talombong./ Rasanya manis-manis gurih. Adakalanya talombong ini mengeras dan ciut sebesar kelereng. Ini disebut mustika kelapa, biasa dijadikan batu akik untuk hiasan cincin. Harganya tidaklah murah, karena terbilang akik langka.</p>
<p>Tambahan info: ampas sisa perasan santan, biasa pula dijadikan tambahan makanan untuk bebek piaraan. Atau untuk bahan membersihkan lantai rumah yang terbuat dari papan.</p>
<p>Minyak yang dihasilkan dari bahan daging kelapa, meski jelas berkhasiat untuk kesehatan, belakangan ada yang menyulingnya lagi. Itulah yang sempat beken disebut sebagai &#8220;minyak kelapa perawan&#8221; <em>(Virgin Cococnut Oil). </em></p>
<p>Adalah dari buah kelapa lahirnya ungkapan terkenal &#8220;mumbang jatuh kelapa jatuh&#8221;. Mumbang itu putik kelapa. Kiasan ini bermakna kematian bukanlah soal jumlah umur seseorang. Sebab bayi dalam kandungan pun bisa saja meninggal. Lalu, ada lagi ungkapan lain, bunyinya &#8220;coba-coba bertanam mumbang, siapa tahu<br />
tumbuh kelapa&#8221;. Maknanya, melakukan kerja yang sia-sia. Atau bisa dianggap positif: satu upaya yang tak kenal menyerah.</p>
<p>SABUT. Buah kelapa punya dua bungkus: sabut, dan tempurung atau batok. Sabut kelapa biasa digunakan untuk bahan pengganjal jok kursi mobil. Atau sofa yang pakai pegas keong. Tapi kini tampaknya sudah diabaikan. Selain itu, sabut kelapa bisa diolah menjadi tali. Inipun sekarang agak dilupakan.</p>
<p>TEMPURUNG. Secara tradisional, arang tempurung kelapa paling cocok untuk memanggang ayam, ikan atau sate. Dan di kampung yang tak ada listrik, orang memanaskan setrika dengan arang batok kelapa. Selain itu, arang tempurung kelapa pun mangkus sebagai obat anti diare.Adalah batok kelapa pula yang mengundang inspirasi para perajin.</p>
<p>Misalnya, yang paling sederhana membuatnya jadi sendok nasi atau gayung. Lebih maju lagi, ada yang membuat sebagai bahan aneka hiasan dinding, kancing baju, kepala ikat pinggang, atau merajutnya jadi tas imut,  dan sebagainya.</p>
<p>POHON. Batang kelapa bermanfaat sebagai balok, bisa untuk tiang bangunan, jembatan, bahan pagar, dan lain sebagainya. Gerak pohon serta dedaunan bergoyang diayun angin, inilah yang antaranya mengilhami lahirnya sebuah lagu. Ingat saja, lagu &#8220;Rayuan Pulau Kelapa&#8221; menjadi abadi, dan dijamin tak akan ada lagu Rayuan Pulau Kelapa Sawit&#8230;</p>
<p><em><strong>&gt;&gt; Koleksi Ed Zoelverdi</strong></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://edzoelverdi.com/2009/12/24/kelapa-sang-pohon-kehidupan/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Lipan, Flu Hantu &#038; Kropos Otak</title>
		<link>http://edzoelverdi.com/2009/11/23/lipan-flu-hantu-kropos-otak/</link>
		<comments>http://edzoelverdi.com/2009/11/23/lipan-flu-hantu-kropos-otak/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Nov 2009 17:26:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matkodak</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Haha-Hihi]]></category>

		<category><![CDATA[lipan; flu hantu; keropos otak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://edzoelverdi.com/?p=159</guid>
		<description><![CDATA[HARI berganti hari, minggu berbilang minggu, sampai lewat tiga bulan Mat Gawat raib bagai ditelan bumi. Pekan lampau, sempat mencogok secuil sms dari dia. &#8220;Aku telanjur jadi penggemar lipan, eh.. keterusan.. sekarang lagi kos di rumah sakit.&#8221; Wah!
Baru kali ini sepanjang umurnya Mat Gawat mau berurusan dengan dokter, dan masuk rumah sakit pula. Kita pun [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>HARI berganti hari, minggu berbilang minggu, sampai lewat tiga bulan Mat Gawat raib bagai ditelan bumi. Pekan lampau, sempat mencogok secuil sms dari dia. &#8220;Aku telanjur jadi penggemar lipan, eh.. keterusan.. sekarang lagi kos di rumah sakit.&#8221; Wah!</p>
<p>Baru kali ini sepanjang umurnya Mat Gawat mau berurusan dengan dokter, dan masuk rumah sakit pula. Kita pun buru-buru menjenguknya. Gawat, tentunya. Pas kita datang, dia sedang bercengkerama dengan cucunya di teras kamar perawatan.</p>
<p>&#8220;Eh, Mat, ente keracunan lipan, ya?&#8221; saya bertanya. &#8220;Nggak pernah kejadian ente sampai jadi urusan dokter kayak gini&#8230;&#8221;</p>
<p>Mat Gawat terbahak. &#8220;Ah, <em>sorry</em>, Bung. Aku lupa kau nggak doyan akronim. Lipan itu  singkatan libur panjang, ha..ha..ha..&#8221;<span id="more-159"></span></p>
<p>&#8220;Hah, busyet dah&#8230; Lalu gimana ceritanya sampai nginap di rumah sakit?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kau kan ingat.., sehabis libur panjang beberapa bulan yang lewat, aku terlalu letih&#8230;, naaa, tau-tau terkapar di rumah gara-gara kebagian juga itu virus flu hantu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ha? Model flu apaan lagi tuh, kok ada flu hantu segala?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ooops..,&#8221; Mat Gawat cepat menaruh telapak tangan di bibirnya. &#8220;<em>Sorry</em> lagi deh. Itu aku punya istilah aja untuk jenis flu yang katanya lagi wabah.&#8221;</p>
<p>&#8220;Lah, yang heboh diributin kan flu babi&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Iya, tapi kabarnya babi aja ogah dituding jadi biang penyanykit buat manusia. Maka dimunculkanlah nama lain: H1N1. Coba kau baca itu nama, HA-satu-N-saTU, nah &#8230; singkatannya ya hantu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Walah-weleh.. ente <em>enjoy</em> kayaknya jadi Bangsa Pendek Lidah.&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku serius, lho. Bayangin, hampir sebulan untuk bisa pulih dari usikan flu hantu itu. Rasanya udah segar, eh sebulan kemudian lantas ada lagi yang kena di rumah. Buntutnya, tau-taunya aku ketularan lagi, yah terpaksa meringkuk lagi di tempat tidur.&#8221;</p>
<p>Setelah merasa pulih sama sekali, menurut Mat Gawat, selain sibuk urusan bisnis dia punya kesibukan ekstra lagi. &#8220;Aku harus mengurus anak mertua &#8212; yang kata dokter mulai mengidap keropos tulang,&#8221; tuturnya.</p>
<p>Boleh jadi keliwat letih pula, suatu hari Mat Gawat merasa suhu tubuhnya panas. Dia kira bakal kena flu hantu lagi. Ternyata bukan. Kali ini dia kena demam berdarah. Dan itulah yang membawanya harus jadi penghuni rumah sakit.</p>
<p>&#8220;Ngomong-ngomong penyakit keropos tulang, aku pun mulai merasa ada gejalanya, nih,&#8221; kata Mat Gawat. &#8220;Apa kau nggak ikut merasakan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Amit-amit deh, Mat. Jauh deh itu model penyakit dari kita. Tadi ente bilang, mulai merasa kena, wah, kok cemas begitu, sih?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya cemas, dong. Udah umur&#8230;, lagian katanya hampir separuh orang Indonesia  mengidap keropos tulang.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi, Mat, yang lebih runyam sekarang menimpa orang kita bukan keropos tulang. Tapi keropos otak!&#8221;</p>
<p>Mat Gawat nyengir, lalu terangguk-angguk. Setelah terdiam sejenak, dia berkata: &#8220;Kalau menyimak kejadian-kejadian mutakhir, kayaknya gelagat keropos otak ini menarik juga jadi bahan penelitian para ahli&#8230;.&#8221;</p>
<p>&gt; <strong>Ed Zoelverdi</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://edzoelverdi.com/2009/11/23/lipan-flu-hantu-kropos-otak/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Era Mediasaurus</title>
		<link>http://edzoelverdi.com/2009/10/31/era-mediasaurus/</link>
		<comments>http://edzoelverdi.com/2009/10/31/era-mediasaurus/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 31 Oct 2009 16:11:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matkodak</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[GATRA]]></category>

		<category><![CDATA[pilar peradaban; otokritik; mediasaurus;]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://edzoelverdi.com/?p=142</guid>
		<description><![CDATA[PADA zaman serba komersial dewasa ini, orang memang gampang hanyut untuk urusan sejengkal seputar perut. Di tengah situasi negeri yang carut-marut kini, kiranya profesi kewartawanan wajib dijaga agar tidak latah menjadi keriput. Sebab dalam sejarah dunia kewartawanan, profesi ini pernah dinobatkan sebagai satu di antara pilar-pilar peradaban.
Bersamaan dengan sadar posisi ini kalangan media massa perlu senantiasa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://edzoelverdi.com/wp-content/uploads/2009/10/mediasaurus.jpg"></a><a href="http://edzoelverdi.com/wp-content/uploads/2009/10/mediasaurus1.jpg"></a>PADA zaman serba komersial dewasa ini, orang memang gampang hanyut untuk urusan sejengkal seputar perut. Di tengah situasi negeri yang carut-marut kini, kiranya profesi kewartawanan wajib dijaga agar tidak latah menjadi keriput. Sebab dalam sejarah dunia kewartawanan, profesi ini pernah dinobatkan sebagai satu di antara pilar-pilar peradaban.<span id="more-142"></span></p>
<p><a href="http://edzoelverdi.com/wp-content/uploads/2009/10/mediasaurus1.jpg"></a>Bersamaan dengan sadar posisi ini kalangan media massa perlu senantiasa melakukan otokritik. Misalnya, pada awal 1990-an, penerbitan pers di Inggris, Prancis, Jerman dan Amerika Serikat, pernah melakukan <a href="http://edzoelverdi.com/wp-content/uploads/2009/10/mediasaurus.jpg"></a>penelitian. Mereka cemas, karena dalam kurun waktu dua dasawarsa terakhir tampak grafik yang melorot dalam penghasilan iklan serta tirasnya.</p>
<p>Pihak media cetak pun melotot ke alamat stasion televisi atau radio komersial. Media elektronik sempat dituding keliwat lahap melalap jatah iklan serta animo publik. Namun penelitian tadi menunjukkan, ternyata musababnya justru arogansi pihak media cetak sendiri. Sadar atau tidak, mereka sering ter<a href="http://edzoelverdi.com/wp-content/uploads/2009/10/mediasaurus.jpg"></a>perosok melecehkan narasumber.</p>
<p>Misalnya, ada yang memperlakukannya bagai bola pingpong. Atau &lt;menggili-gili&gt; mirip orang adu jangkrik. Lalu ada pula yang main tulis tanpa pernah ketemu sang narasumber. Penulisan pun ada yang cenderung bernada &#8216;mencakar&#8217;, dan sebagainya. Corak kerja semacam ini menurut penilaian publik yang kritis disebut sebagai gaya asoy-sendiri.</p>
<p><strong>Wartawan &amp; Politikus Sama-sama Narsis. </strong>Sepintas tampak di pasar begitu banyak media berita. Namun pembaca sering disuguhi topik yang nyaris monoton. Ini bisa ditandai tatkala mencuat suatu topik <em>hot</em> &#8211; bahkan masih sebatas isu, teristimewa di bidang politik. Dalam obrolan di warung kopi, publik menjuluki situasinya bagai lalar ijo merubung anu, ketika awak media begitu riuh berduyun meluruk ke satu titik topik.</p>
<p>Sepintas corak kerja begitu boleh jadi cocok dengan &lt;pakem&gt; jurnalistik yang kewi alias baku. Oke. Namun kesan suguhan seragam tak terelakkan mencerminkan kemalasan berpikir. Tak begitu jelas apakah mereka paham atau tidak sang topik justru cuma ibarat gelembung sabun alias &#8216;tikungan isu&#8217; &#8212; sebagaimana diingatkan Yudhistira AMNM Massardi (Gatra, 9 Februari 2002).</p>
<p>Bahkan di Amerika Serikat, misalnya &#8212; yang wartawannya adalah &#8216;orang sekolahan&#8217; (bukan wartawan jadi-jadian), profesionalisme liputan pihak media luas diragukan masyarakat. Hal ini tersingkap dalam buku <em>Principles of Editing, a Comprehensive Guide for Students and Journalists</em>, gubahan Daryl L. Frazell dan George Tuck, 1996.</p>
<p>Adalah Michael Crichton, pengarang novel fiksi dinosaurus &#8211;<em> Jurassic Park</em> &#8212; satu di antara publik yang amat mengecam media massa. Ia sampai menjuluki dunia media sebagai &#8220;mediasaurus&#8221;. Di forum National Press Club, April 1993, Crichton berkata: &#8220;Apa yang kini kita pahami sebagai media massa, bukan mustahil bakal menggelinding ke arah kepunahan dalam tempo 10 tahun ini. Mereka lenyap tanpa bekas.&#8221;</p>
<p>Ia menuding penerbitan pers telah mengabaikan fungsi pelayanan publik. Katanya, menurut jajak pendapat terbaru, kelompok terbesar penduduk Amerika berpendapat pihak media lebih syur terhadap hal-hal sepele, dan tak peduli terhadap topik yang benar-benar layak diberitakan.</p>
<p>Publik juga mengamati betapa kalangan media tidak melaporkan aneka persoalan negara, kecuali hanya sebagian saja. Walhasil, masyarakat pun tak keliru menyimpulkan: ya wartawan, ya politisi, adalah kaum narsis alias jenis orang yang cuma asyik-maksyuk dengan diri sendiri.</p>
<p>Masih menurut buku tadi, kritik pedas tersebut memang diakui pihak media. Banyak dari kalangan editor yang sepakat dengan Crichton. Ini tercermin dalam simposium &#8220;Future of Journalism&#8221; di Universitas San Fransisco, 1993. Gene Roberts, redaktur pelaksana <em>The New York Times</em>, bilang: koran-koran sedang terancam membunuh diri sendiri.</p>
<p>&#8220;Ancaman besar bagi jurnalisme datang dari dalam profesi kita sendiri, bukan dari luar,&#8221; ujar Roberts, &#8220;ancaman buat eksistensi kita adalah kerepotan yang latah ikut <em>trend</em> dan mode jurnalistik paling gres.&#8221; Ditambahkannya, kita mencekik masa depan dengan abai terhadap masa lampau, yang banyak bukti betapa kedangkalan, formula kurang pikir telah memupus genggaman kita terhadap pembaca.</p>
<p><strong>Luluhnya Etika &amp; Peran Sejarah.</strong> Sudah lebih 10 tahun kini, <em>Era Mediasaurus</em> tampaknya memang kian berkibar. Profesionalisme kewartawanan dalam maknanya yang hakiki enteng saja dicemooh kayak &#8216;tai kucing&#8217;. Berita dicuatkan melulu sebagai komoditi dagang. Bahkan mereka harus menyesuaikan isi berita untuk menarik perhatian para pemasang iklan baru. Atau memang harus cocok dengan maunya bos.</p>
<p>Akibatnya, peran kaum jurnalis dan jurnalisme pun jadi serong. Definisi tentang kemerdekaan pers, yakni bebas dari sensor dan kontrol, sebegitu jauh ternyata hanya menyangkut hubungan dengan pemerintah. Definisi ini tidak berlaku di perusahaan media tempat para awak pers bekerja. Ini bisa kita baca dalam buku John Herbert, <em>Practising Global Journalism: Exploring Reporting Issues Worldwide</em> (Focal Press, 2001).</p>
<p>Diungkapkan pula, beberapa jurnalis global berontak menentang prinsip manajemen arus-pasar tersebut. Mereka mengecam cara koran mendesakkan pola bisnis macam ini. Corak komersialisasi ini dinilai telah meluluhkan peran sejarah media massa sebagai &#8216;agen kebenaran&#8217; dan pengawas pemerintah <em>(government watchdog).</em></p>
<p>Situasi ironis ini sekaligus menggelontor ukuran kepatutan atau etika dalam pola pemberitaan. Ditambah lagi dengan kian maraknya internet merasuki pelbagai faset kehidupan semenjak awal dasawarsa 1990-an. Memang, masyarakat kini mudah sekali mendapatkan informasi mengenai suatu kejadian. Juga dapat memasok sudut pandang pribadinya dalam tempo sekejap lewat e-mail atau via ruang-ngerumpi <em>(chatroom).</em></p>
<p>Namun kemudahan yang disediakan teknologi mutakhir ini, nyatanya mengandung situasi yang pelik dalam urusan etika dan hukum. Misalnya, sesuatu yang legal di sebuah negara bisa saja ilegal di tempat lain. Begitu pula sesuatu yang etis di sebuah negara boleh jadi tidak etis di negara lain. Perbedaan semacam itu bahkan bisa terdapat di antara dua negeri berjiran.</p>
<p>Internet juga telah membiakkan problem etis pada dirinya. Satu di antara soal terbesar adalah menyangkut hak-cipta dan hak-hak kekayaan intelektual. Informasi di situs dunia maya tampaknya patut dipertimbangkan untuk punya kode etik. Sebuah organisasi yang mendesakkan pentingnya masalah ini adalah Better Ethics Online (BEO) (<a href="http://www.actionsites.com/beo/index.html">http://www.actionsites.com/beo/index.html</a>).</p>
<p>Sampai di mana upaya BEO memang diindahkan, tentu sejarah yang bakal mecatatnya kelak. Peragat teknologi untuk menyampaikan informasi boleh saja pesat silih-ganti berebut pintar. Bukan berarti bakal berkurang tuntutan kebutuhan akan reporter dan editor yang piawai dan memiliki integritas. tapi Justru kian meningkat.  Sebab amanah publik senantiasa menuntut supaya media massa profesional jangan gampang ditilap sihir para perekayasa isu atawa topik berita.</p>
<p>Dari kilasan risalah media massa dalam skala dunia ini, tampak betapa terjadi semacam pergulatan serius di dalam dirinya sendiri. Begitulah, sampai hari ini lonceng kematian jurnalisme memang belum berbunyi. Tapi selebihnya, tentu tergantung kepada generasi baru kelak membuktikan si lonceng maut tak bakal berdentang. Inilah tantangan bagi wartawan generasi baru &#8212; yang masuk dunia jurnalistik dalam era 1990-an. Baik di kalangan media cetak maupun media elektronik.</p>
<p>Di Amerika saja kondisinya begitu memprihatinkan, kononlah pula di negeri yang masih hubar-habir ini. Tugas investigasi sungguh masih merupakan sebuah kemewahan. Itu sebabnya, amat penting disadari oleh para awak media massa untuk terus belajar, dan belajar lagi. Sadar posisi agar tak gampang cuma dijadikan &#8216;layangan&#8217; sembarang kepentingan.</p>
<p>Ingat saja pesan Henry Ford (1863&#8211;1947). Industriawan otomotif beken ini pernah bilang: &#8220;Siapa saja yang berhenti belajar maka dia pun tua, tak peduli usianya 20 atau 80 tahun.&#8221; Nah!</p>
<p>* <strong>Ed Zoelverdi</strong>, <em>Gatra</em> &#8212; Kolom, edisi 23 Februari 2002, dengan revisi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://edzoelverdi.com/2009/10/31/era-mediasaurus/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>KORUPSI PENYAKIT TURUNAN</title>
		<link>http://edzoelverdi.com/2009/06/13/korupsi-penyakit-turunan/</link>
		<comments>http://edzoelverdi.com/2009/06/13/korupsi-penyakit-turunan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 13 Jun 2009 15:43:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matkodak</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Haha-Hihi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://edzoelverdi.com/?p=139</guid>
		<description><![CDATA[TIGA nako atawa narapidana korupsi sedang menjalani hukuman di bui. Suatu sore yang senggang, di tengah obrolan yang sering tidak berkeruncingan alias tak tentu arah, tiba-tiba Koruptor I berseru: &#8220;Hayo, sekarang kita taruhan soal ingatan.&#8221; Usianya sekitar 50-an tahun.
&#8220;Judi model apa lagi tuh?&#8221; tanya Koruptor II yang berumur 60-an.
&#8220;Ah, jangan sebut judilah, Pak. Anggap saja [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>TIGA nako atawa narapidana korupsi sedang menjalani hukuman di bui. Suatu sore yang senggang, di tengah obrolan yang sering tidak berkeruncingan alias tak tentu arah, tiba-tiba Koruptor I berseru: &#8220;Hayo, sekarang kita taruhan soal ingatan.&#8221; Usianya sekitar 50-an tahun.</p>
<p>&#8220;Judi model apa lagi tuh?&#8221; tanya Koruptor II yang berumur 60-an.</p>
<p><span id="more-139"></span>&#8220;Ah, jangan sebut judilah, Pak. Anggap saja main kuis, kan begitu yang ramai di tv, sms aja mirip togel nggak ada yang menyebut judi kok,&#8221; jawab Koruptor I.<br />
&#8220;Begini. Siapa  yang punya ingatan paling dini, dia yang menang. Hadiahnya, aku pasang satu vila mewah yang luput dari sitaan&#8230;&#8221;</p>
<p>Mereka pun setuju mempertaruhkan vila atau mobil mewah masing-masing &#8212; yang luput dari penyitaan. Koruptor I buka cerita: &#8220;Aku sudah mulai ingat waktu tanteku pacaran, dia suka memberiku coklat biar nggak mengganggu dia. Kalian mau tahu? Umurku waktu itu baru satu tahun lima bulan.&#8221;<br />
 <br />
Koruptor II mencibir dengar cerita itu, lalu katanya: &#8220;Wah, cuma segitu <em>you</em> punya ingatan. Kalau aku, ingat betul waktu tali pusarku digunting, aku lihat di bibir susternya ada tahi lalat, cantik oy&#8230;. Nah, <em>you</em> kalah, Bung!&#8221;<br />
 <br />
Giliran Koruptor III &#8212; berusia 60-an juga, dengan tenang mengisap cerutunya lalu berkata: &#8220;Cepat kalian teken penyerahan vila di gunung dan mobil mewah itu&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;E-e-eh.., bagaimana ceritanya, Pak? Belum apa-apa kok merasa menang, sih?&#8221; kata dua koruptor lainnya hampir serempak.</p>
<p>&#8220;Aha! Pasti, pasti aku menang, dong. Kalian semua lemah ingatan,&#8221; jawab Koruptor III. &#8220;Coba saja kalian hitung, waktu mami dan papiku masih pacaran&#8230;, aku ingat betul, pergi ke gunung aku masih ikut papi, eh&#8230; pas pulangnya tau-tau aku sudah ikut mami&#8230;.&#8221;<br />
* * *</p>
<p>PUNYA uang tidak bernomor seri, kata orang, begitulah sang koruptor junior baru saja membeli sebuah komputer dengan teknologi paling mutakhir. Benda ajaib seukuran kotak rokok ini dia pesan langsung dari pabrik. Dia penasaran karena alat pintar itu disebut-sebut mampu membuktikan bahwa korupsi merupakan penyakit keturunan. Dan dia sekarang memang sedang diusut dengan dakwaan korupsi.</p>
<p>Ceritanya, komputer itu bisa diajak bertanya-jawab. Tak sabaran, si koruptor muda memasukkan pertanyaan: &#8220;Papiku ada di mana sekarang?&#8221;</p>
<p>Zig-zig-zig&#8230; si komputer mendesing. Hanya dalam tempo sekian detik keluar jawaban di monitor: &#8220;Papimu kini sedang meringkuk di kandang situmbin alias penjara.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ah, sok tau lu!&#8221; komentar si koruptor, dan sembari mencibir ditulisnya: &#8220;Hoooi.., pantengong.. ! Papiku sudah lama mati&#8230;&#8221;</p>
<p>Komputer berdesing lagi, lalu menampilkan jawaban: &#8220;Hoooi juga&#8230;, kau nan pantengong alias pandir tengak ongok! Yang mati itu boleh jadi suami mami kamu, tapi papi kamu sekarang sedang isap cerutu sembari main kuis ingatan di dalam penjara&#8230;.&#8221;</p>
<p>* * *</p>
<p>MESKI sering bohong &#8212; juga pada diri sendiri, dapat jawaban telak dari komputer-pinter tadi, si koruptor pun stres juga. Buntutnya, dia jadi sobat jin-botol alias doyan alkohol. Sampai suatu malam konconya yang pernah jadi nako, berkomentar: &#8220;Bung, aku heran <em>you</em> membiarkan istri muda yang cantik tiap hari pulang pagi.&#8221;</p>
<p>&#8220;Segitu aja, kok heran sih? <em>You tau,</em> kalau lelaki pulang pagi artinya menghabiskan uang. Nah, cewek pulang pagi kan bawa banyak uang, he&#8230; he&#8230;he&#8230;&#8221;<br />
* * *</p>
<p>PENTING dicatat, tv satelit tadi pagi menyiarkan rilis dari Asosiasi Setan Iblis Indonesia : &#8220;Tuhan, mohon ampun, tolong mutasikan kami para setan iblis dari wilayah Indonesia. Jangan sampai anak-cucu kami cemar ketularan perilaku orang di sini yang bejatnya sudah melebihi setan iblis&#8230;.&#8221;</p>
<p><strong>Ed Zoelverdi<br />
</strong>&gt; Lionmag &#8212; <em>inflight magazine of Lion Air,</em> edisi Juni 2009.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://edzoelverdi.com/2009/06/13/korupsi-penyakit-turunan/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Duit Serong Bikin Pesong</title>
		<link>http://edzoelverdi.com/2009/05/25/duit-serong-bikin-pesong/</link>
		<comments>http://edzoelverdi.com/2009/05/25/duit-serong-bikin-pesong/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 May 2009 15:20:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matkodak</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Cakrawala]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://edzoelverdi.com/?p=134</guid>
		<description><![CDATA[SUATU sore di sebuah paktek dokter jiwa, datang seorang nyonya cantik. Dalam daftar nama pasien, namanya tertulis Nyonya Anu&#8230; &#8212; dan orang paham itu nama orang yang lagi getol obral janji di arena pilek, eh pileg.
Menurut kabar terakhir, dia gagal. Padahal modal tampil sudah ludes milyaran &#8212; dan sebagian pinjam kiri-kanan. Selama menunggu giliran, sang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>SUATU sore di sebuah paktek dokter jiwa, datang seorang nyonya cantik. Dalam daftar nama pasien, namanya tertulis Nyonya Anu&#8230; &#8212; dan orang paham itu nama orang yang lagi getol obral janji di arena pilek, eh <em>pileg</em>.</p>
<p>Menurut kabar terakhir, dia gagal. Padahal modal tampil sudah ludes milyaran &#8212; dan sebagian pinjam kiri-kanan. Selama menunggu giliran, sang nyonya hanya duduk diam di pojok. Tiba waktunya ketemu dokter, segera saja dia teriak: &#8220;Gawat, dokter! Anda harus segera tolong suami saya. Dia selalu bilang bahwa dia itu ayam.&#8221;<span id="more-134"></span></p>
<p>&#8220;Aha! Tenang, nyonya. Itu cuma delusi atau khayalan saja,&#8221; sahut dokter. &#8220;Bawa saja ke sini, supaya perasaan ayam itu bisa dihilangkan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Wah, nggak bisa, dok. Saya kan perlu telur ayam&#8230;&#8221;</p>
<p><strong>SEMBUH.., EH KUMAT LAGI.</strong> Ada yang merasa dirinya ayam, sebaliknya dengan seorang pasien yang sedang dirawat di rumah sakit: dia merasa dirinya padi. Begitu kental perasaan itu melekat dalam pikirannya, sampai-sampai ia menyebut dirinya sebagai Mister Padi.</p>
<p>Asal-muasal dia mengidap kelainan itu, menurut cerita, sejak dua periode pemilihan umum yang lewat. Dia gagal jadi caleg, sementara duitnya ludes sekian milyar. Uang itu hasil permainan serong, seharusnya diberikan untuk para petani sawah dan petani karet. Begitu lihainya, meski sempat heboh namun dia tak sampai masuk bui. Cuma yang namanya makan duit serong, ya buntutnya dia pun jadi pesong alias sinting.</p>
<p>Suatu pagi, ketika <em>jogging</em> bersama beberapa kawannya, dia melihat seekor ayam jantan mengejarnya. Dia pun lari pontang-panting sembari memekik minta tolong. Kawan-kawan yang mendekatinya malahan ditendang. Masih sambil berlari, dia teriak terus: &#8220;Tolong.., tolooong&#8230; aku bakal dicotok ayam&#8230;.&#8221;</p>
<p>Itulah hari pertama dia menyebut dirinya sebagai padi. Dan bangga pula menukar namanya jadi Mister Padi. Sebulan dalam perawatan, belum banyak kemajuan. Menjelang bulan ketiga, tampak isyarat kesembuhan. Dia tidak menoleh lagi ketika disapa Mr. Padi. Dan setelah benar-benar dia marah mendengar sebutan itu, maka sah sudah dia dinyatakan waras kembali. Ya, boleh pulang.</p>
<p>Begitu dia melangkah ke pelataran parkir, eh dia lihat beberapa ekor ayam sedang mengekas di bawah pohon. Lama dia menatap ayam-ayam itu, lalu sembari menciutkan badan dia putar langkah kembali ke dalam rumah sakit. &#8220;Hah.. hah.., mana dokter, mam..mana dokter?&#8221; katanya, dengan tersengal meski tadi dia tidak habis berlari.</p>
<p>Suster yang ditanya balik bertanya: &#8220;Lah, bapak kok balik lagi?&#8221;</p>
<p>&#8220;Aduh, suster, tolong aku&#8230; itu di luar ada ayam, cilaka.. bisa-bisa aku dicotok rame-rame&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Ooo, begitu. Tapi bapak kan bukan padi, kenapa harus takut, sih?&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku tahu, suster, aku ini bukan padi&#8230; Tapi ayam itu kan <em>nggak tau</em>.&#8221;<br />
<strong>DOKTER KOK GILA.</strong> Walhasil, Mister Padi pun dirawat lagi. Sampai suatu sore dia duduk di depan wastafel. Di tangannya ada sebatang lidi yang ujungnya diberi benang. Ujung benang itu dimainkannya di bak yang berisi air separuh &#8212; mirip orang memancing.</p>
<p>Seorang dokter lewat, dan menyapanya: &#8220;Selamat sore, Pak, eh asyik juga mancing&#8230; banyak dapat ikan?&#8221;<br />
 <br />
Belum jauh dokter itu berlalu, Mister Padi nyeletuk : &#8220;Ah, dokter gila ya, mosok mancing di wastafel dapat ikan&#8230;?&#8221;<br />
<strong>POKOK-E AMBIL KARET.</strong> Lewat lagi beberapa bulan, ketika dia benar-benar menolak disebut Mr Padi, maka dokter pun mengajaknya ngobrol sembari jalan-jalan di pekarangan. Sekilas kondisinya waras sudah, terutama waktu berpapasan dengan ayam dia sama sekali tidak ada reaksi apa-apa.</p>
<p>&#8220;Ngomong-ngomong, Pak, nanti kalau sampai di rumah apa yang bakal bapak kerjakan?&#8221; sang dokter bertanya.</p>
<p>&#8220;Wah, dokter mau <em>tau aje</em>&#8230;,&#8221; sahutnya sembari tertawa. &#8220;Aku mau bongkar mobil&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Hebat! Tapi bapak bukan montir, kan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Eh, dokter perlu <em>tau</em>&#8230; aku harus bongkar ban mobil itu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kok?&#8221;</p>
<p>&#8220;Iya&#8230;, ban dalam mobil itu aku buka pelan-pelan, lalu &#8230; lalu, aku ambil karetnya&#8230;&#8221;</p>
<p>Nah, ibarat gitar yang <em>snar</em>-nya semula kendor, sekarang kayaknya ada yang putus, maka Mr. Padi rupanya kian gawat dan harus dirawat lagi. Cuma kali ini tak sampai ia menyebut dirinya sebagai Mister Karet. Lewat lagi sekian bulan, ada gelagat mulai waras.</p>
<p>Sehari menjelang pulang, sempat pula beberapa dokter mengajaknya ngobrol. Ada yang memberi selamat berkumpul kembali dengan keluarga. Lalu seorang dokter bertanya: &#8220;Apa rencana bapak begitu sampai di rumah?&#8221;</p>
<p>&#8220;Sudah pasti aku kelonan sama istri, dong,&#8221; jawabnya, sambil tersipu.</p>
<p>&#8220;Bagus! Habis itu, apa lagi, Pak?&#8221;</p>
<p>&#8220;Alaaa&#8230;, dokter kok masih tanya, sih? &#8230; malu, ah!&#8221;</p>
<p>&#8220;Lho&#8230;, kok mesti malu, Pak?&#8221;</p>
<p>&#8220;<em>Mosok</em> aku harus cerita soal buka-bukaan? Tapi okelah&#8230;, pelan-pelan aku buka &#8216;cd&#8217;-nya .., lalu.. lalu.. aku ambil karetnya&#8230;&#8221;</p>
<p>Ingat pesan nenek: hati-hati dengan doa orang yang teraniaya atawa mereka yang dizalimi!</p>
<p><strong><em>Ed Zoelverdi</em></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://edzoelverdi.com/2009/05/25/duit-serong-bikin-pesong/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Ada Akar Rumput Ada Janda Rumput</title>
		<link>http://edzoelverdi.com/2009/05/07/akar-rumput-puuut/</link>
		<comments>http://edzoelverdi.com/2009/05/07/akar-rumput-puuut/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 07 May 2009 17:14:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matkodak</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Cakrawala]]></category>

		<category><![CDATA[grass roots; grass widow' grass widower; pilek; tali termahal; Rp 2 milyar;]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://edzoelverdi.com/?p=126</guid>
		<description><![CDATA[BARU satu alinea saya menulis, tiba-tiba kursi bergoyang. &#8220;Oalah, ente, Mat,&#8221; hanya itu yang bisa saya ucapkan, dan menunda omelan karena sobat ini datang tanpa uluk-salam lagi. Juga lain dari biasanya, kali ini wajah Mat Gawat kusut masai. Ada apa gerangan?
&#8220;Huhh&#8230;, mumet,&#8221; dia bilang, sembari mengempaskan diri di kursi. &#8220;Pilek sekarang gawat, bisa berkibat maut,&#8221; [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>BARU satu alinea saya menulis, tiba-tiba kursi bergoyang. &#8220;<em>Oalah, ente</em>, Mat,&#8221; hanya itu yang bisa saya ucapkan, dan menunda omelan karena sobat ini datang tanpa uluk-salam lagi. Juga lain dari biasanya, kali ini wajah Mat Gawat kusut masai. Ada apa gerangan?</p>
<p>&#8220;Huhh&#8230;, mumet,&#8221; dia bilang, sembari mengempaskan diri di kursi. &#8220;Pilek sekarang gawat, bisa berkibat maut,&#8221; katanya lagi. Dan ketika disodori rokok, lagi-lagi dia melenguh.</p>
<p>&#8220;Pilek maut? Apa keluarga kau ada yang kena flu Singapura, eh flu Meksiko, atawa flu babi?&#8221;    </p>
<p><span id="more-126"></span>Terdiam sejenak, kemudian dia coba senyum. &#8220;<em>Sorry</em>, Bung,&#8221; katanya. &#8220;Aku lupa kau ogah jadi &#8216;bangsa-pendek-lidah&#8217;. Itu tadi maksudku pemilihan legistatif, singkatannya kan <em>pileg</em>.&#8221;  </p>
<p>&#8220;Busyet. Lalu apa urusannya sampai wajah kau berlipat tujuh?&#8221;</p>
<p>&#8220;Lumayan kau cuma melihat tujuh lipatan, nah, yang aku rasakan sekarang tujuh keliling pusingnya&#8230;&#8221;<br />
 <br />
Setelah keluh-kesahnya agak reda, Mat Gawat cerita bahwa uang simpanannya ikut ludes bersama jebloknya sang kawan dalam arena yang tadi disebutnya pileg itu. Dia meminjamkan uang lantaran yakin si kawan bakal sukses. Utang itu, katanya, kelak dibayar dengan bunga tinggi. Dan lebih menggiurkan, bakal dikasi fasilitas proyek ini itu.</p>
<p>Masih menurut cerita Mat Gawat, modal si kawan hampir Rp 2 milyar &#8212; sebagian berasal dari utang kiri-kanan. Begitu dapat gambaran gagal, kawan itu langsung gantung diri. Tapi ini pun gagal, karena cepat ketahuan.</p>
<p>&#8220;Dia sendiri yang beli tali ke pasar, <em>gile</em>,&#8221; tutur Mat Gawat.</p>
<p>&#8220;Wah, ini perlu dicatat sebagai keajaiban dunia: cuma di Indonesia ada tali termahal, harganya sampai Rp 2 milyar.&#8221;      </p>
<p>&#8220;Ah, kau jangan bercanda, dong. Aku tadinya percaya betul kawan itu. Dia paham ujung lorong politik itu kekuasaan&#8230;, dia pun rajin turun ke akar rumput..,&#8221;<br />
 <br />
&#8220;Eit, interupsi&#8230; Kau menyebut akar rumput, apa maksudnya?&#8221;</p>
<p>&#8220;Lah, itu kan istilah yang biasa dipakai elit politik atawa pakar pengamat, kayaknya sih terjemahan dari <em>grass roots</em>. Apanya yang aneh?&#8221;</p>
<p>&#8220;Urusannya bahkan aneh wal-ganjil bin ajaib, karena kau pun begitu culun memamah-biak terjemahan <em>grass roots</em> itu <em>akar rumput</em>.&#8221;</p>
<p>Mumpung belum jauh kejeblos aliran sesat, sohib ini kita silakan buka kamus, termasuk versi asli Inggris-Inggris. Dari kamus Webster, dia baca: <em>grass roots. An area comprising the small towns and rural sections of the US; a hypothetical segment of the US population residing outside the largest cities, &#8230;</em></p>
<p>Belum puas versi Amerika, dia buka lagi kamus British, &#8220;Longman Dictionary of Contemporary English&#8221;: <em>grass roots. &#8230; the ordinary people, not the one with power and knowledge&#8230;</em> Lalu dari kamus Inggris-Indonesia<em>: .. at the grass roots level. di tingkatan rakyat biasa</em>.</p>
<p>Matanya masih menatap lembar kamus, tiba-tiba Mat Gawat terkekeh sendiri. &#8220;Iya, yah&#8230;,&#8221; katanya. &#8220;Kalau <em>grass roots</em> disulih jadi &#8216;akar rumput&#8217;, maka <em>grass widow</em> itu &#8216;janda rumput&#8217;. Dan <em>grass widower</em> pun jadi &#8216;duda rumput&#8217;, he.. he.. he..&#8221;</p>
<p>Lalu dia ingat, dalam urusan bahasa ada yang namanya <em>idiom</em> &#8212; paket dua kata yang bermakna tunggal. Dalam bahasa kita, wanita yang cerai dengan suami, disebut &#8216;janda&#8217;. Orang sono bilang, <em>widow.</em> Cerai atau pisah suami-istri itu ada dua macam: cerai hidup &#8212; ini yang disebut <em>grass widow</em> atau <em>grass widower</em> tadi. Ini membedakannya dengan cerai karena pasangan berpulang ke alam <em>baqa</em>.</p>
<p>Lama Mat Gawat terpana. Lalu dia bilang, status janda atau duda yang begitu rinci bukanlah monopoli bahasa sono. &#8220;Ingat kan cerita kawan kita dari Tapanuli?&#8221; katanya. Dalam Bahasa Batak ada sebutan rinci untuk &#8216;janda&#8217;. Yaitu, <em>namabalu</em>, artinya wanita yang kematian suami. Dan satu lagi, <em>boru sirang</em> alias janda arena cerai dari suaminya.</p>
<p>Kembali pada pokok cerita ihwal <em>grass roots</em>, yang secara mentah dipulung jadi &#8220;akar rumput&#8221;, menurut Mat Gawat, ini mungkin semacam kiasan. Tapi kemudian ia ragu sendiri. Mau dibilang kiasan kok lebih tepat disebut makna sejati: rakyat dianggap sekadar rumput belaka, alias bisa diinjak dan disapu-rata seenaknya.</p>
<p>Kali ini Mat Gawat tidak terlalu meleset. Tiap kata punya energi. Begitu disebut dan diyakini, itu bakal menjadi naluri &#8212; dan pada gilirannya terwujud menjadi perilaku. Menyimak ucapan kawannya yang jeblok tadi bahwa ujung lorong politik itu kekuasaan, tak heran jika sikapnya congkak sekali menyebut turun untuk ketemu rakyat.</p>
<p>Apa boleh buat. Hanya sebatas itulah paham berkiprah di jalur politik versi Indonesia. Di bagian ini baik disimak ucapan Thomas Jefferson (1743 &#8212; 1826) &#8212; Presiden ke-3 Amerika Serikat : &#8220;Memelihara kehidupan manusia serta kebahagiaan mereka &#8212; dan bukan merusaknya, adalah tujuan tunggal yang masuk akal dalam mengurus negara secara baik.&#8221; Nah!</p>
<p><strong>Ed Zoelverdi<br />
</strong><em>Gatra</em> - Kolom, edisi 22 Mei 2009.</p>
<p>* * *</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://edzoelverdi.com/2009/05/07/akar-rumput-puuut/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Rapat &#8230; Pokok-e Ngumpul &#8230;</title>
		<link>http://edzoelverdi.com/2009/03/28/rapat-pokok-e-ngumpul/</link>
		<comments>http://edzoelverdi.com/2009/03/28/rapat-pokok-e-ngumpul/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Mar 2009 17:21:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matkodak</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Cakrawala]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://edzoelverdi.com/?p=123</guid>
		<description><![CDATA[PERAGAT teknologi komunikasi hari ini begitu terbilang sempurna. Segala urusan bisa selesai dalam sekejap mata, sekali pun rundingan berlangsung dari jarak berjauhan. Kebiasaan bikin pertemuan atau rapat secara bermuka-muka &#8212; sebagaimana lumrah dilakukan pada abad lampau, kini ditanggulangi dengan fasilitas kamera video pada benda imut itu.
Belum mampu memproduksi sendiri alat pintar serba komputer, mungkin boleh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>PERAGAT teknologi komunikasi hari ini begitu terbilang sempurna. Segala urusan bisa selesai dalam sekejap mata, sekali pun rundingan berlangsung dari jarak berjauhan. Kebiasaan bikin pertemuan atau rapat secara bermuka-muka &#8212; sebagaimana lumrah dilakukan pada abad lampau, kini ditanggulangi dengan fasilitas kamera video pada benda imut itu.</p>
<p>Belum mampu memproduksi sendiri alat pintar serba komputer, mungkin boleh disebut ketertinggalan sekian ribu langkah. Tapi cuma memakainya secara tepat-guna pun masih tidak paham, sungguh satu kemalangan tersendiri. Para bos berebut beli alat komunikasi paling gres, lantaran mitra bisnisnya baru saja beli barang itu. Selebihnya, dia sudah bangga ketika ada anak buahnya berdecak kagum melihat si imut pintar itu.<span id="more-123"></span></p>
<p>Itu pula sebabnya, sang bos rajin sekali mengundang sejawat, staf atau bawahannya untuk melakukan rapat di kantor. Atau ketemu mitra bisnis di hotel-hotel atawa restoran mewah. Harus bermacet-ria di jalan raya untuk mencapai lokasi <em>meeting</em>, yah sudah dianggap menu lumrah sebagai warga megapolitan. Dan benda teknologi paling mutakhir yang dipegangnya itu pun lumrah dianggap sekadar mainan. Yang penting: rapat, pokok-e harus kumpul&#8230;<br />
      <br />
&#8220;Ini kultur, bung,&#8221; kata seorang bos. &#8220;Kita ini punya peribahasa <em>mangan ora mangan asal ngumpul</em>.&#8221; Dan dalam gaya kota, bos mengumpulkan staf atau anak buah lantaran sudah telanjur pakai dasi. Bayangkan, jika si imut dimanfaatkan secara maksimal, semua rundingan selesai lewat alat pintar itu, nah, siapa lagi yang bakal lihat bos pakai dasi mahal? Dan siapa pula yang bakal kagum pada bos yang baru saja punya alat pintar.</p>
<p>Sekarang boleh dicatat, kalau bos memang hidup sesuai dengan zaman, ya patut memahami satu atau dua dari &#8220;panca-isyarat&#8221; bahwa sejawat atau mitra sudah jemu dengan rapat atau <em>meeting</em> gaya abad lampau&#8230; </p>
<p>1) Tiba-tiba ada yang menumpahkan kopi di meja rapat. Tenang dia ambil selembar kertas dan melipatnya jadi kapal-kapalan, lalu meluncurkannya seakan berlayar pada tumpahan kopi tadi. Kalau sampai bos memecatnya &#8212; hanya dengan alasan menumpahkan kopi, atau main kapal-kapalan di meja rapat, ini bakal mengundang tertawaan.</p>
<p>2) Sepanjang pertemuan, tiap kali bos menyebut sesuatu yang penting (atau yang ditekankan sebagai hal penting), ada peserta yang mendesis atau melenguh mirip suara sapi. Ini isyarat semua yang disampaikan si bos sering dimamah-biak alias diulang-ulang.</p>
<p>3) Ada peserta yang saling main kedipan mata. Dan satu dari mereka menggeleng-geleng kecil, itulah tanda pembicaraan sudah menikung ke mana-mana. Atau yang dibicarakan sudah diketahui semua orang. </p>
<p>4) Pada saat bos buka sesi tanya-jawab, sebagian peserta bersandar di kursi sembari menyilangkan kaki hingga dengkulnya mencuat di bibir meja. Dan ada yang bawa boneka <em>snoopy</em>, eh dia malahan menanyakan hal-hal yang lumayan sulit pas ke depan hidung bintang animasi itu.</p>
<p>5) Ada peserta rapat yang bawa benda imut yang sama dengan milik bos. Tiap kali bos menyebut suatu <em>point</em>, maka dia sibuk pencet ini itu berlagak mencocokkan dengan omongan si bos. Lalu dia manggut-manggut seraya mendengus &#8220;uh-huh, uh-huh!&#8221;</p>
<p>Sentana sempat mengalami satu atau dua &#8212; apalagi semua &#8212; laku mengganjil tadi, baik dalam rapat atau kerja sehari-hari, itulah lampu merah untuk bos mengoreksi diri. Posisi sebagai bos bukan untuk pamer &#8220;kuasa&#8221;, tapi buat menciptakan suasana kerja yang nyaman.</p>
<p>Untuk mendorong gairah kerja, misalnya, coba ingat ucapan Henry Ford (1863&#8211;1947): &#8220;Bukan bos yang membayar gaji. Tugas bos hanyalah mengelola uang. Sedangkan gaji datang dari produk yang dihasilkan.&#8221; Dengan memahami rumus industriawan otomotif beken ini, niscaya tak ada lagi ganjalan soal disiplin.<br />
 <br />
Urusan disiplin sering jadi keluhan mendasar ketika kita pertanyakan apa sulitnya memberdayakan alat komunikasi mutakhir untuk menyelesaikan pekerjaan. &#8220;Aku kepingin bisa begitu,&#8221; cerita seorang bos. &#8220;Cuma pengalaman membuktikan orang kita ini disiplinnya buruk! Jangankan tidak berhadapan, sedangkan bermuka-muka saja dia bisa banyak helah menunda-nunda pekerjaan.&#8221;</p>
<p>Titik lemahnya boleh jadi pada &#8220;disiplin buruk&#8221; sang pekerja. Tapi di bagian ini pula menarik dicatat: bos yang hebat punya seni mengajak seseorang berbuat sesuatu yang dia mau, dan orang itu pun memang ingin melakukannya.</p>
<p><strong>Ed Zoelverdi</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://edzoelverdi.com/2009/03/28/rapat-pokok-e-ngumpul/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>MELANCONG KE NEGERI BLUETOOTH</title>
		<link>http://edzoelverdi.com/2009/02/27/melancong-ke-negeri-bluetooth/</link>
		<comments>http://edzoelverdi.com/2009/02/27/melancong-ke-negeri-bluetooth/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Feb 2009 15:49:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matkodak</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Cakrawala]]></category>

		<category><![CDATA[; Cap Tuan; Bluetooth; bos; dasi]]></category>

		<category><![CDATA[Greenland; Jonas; Dewi;]]></category>

		<category><![CDATA[Kiruna]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://edzoelverdi.com/?p=104</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Negeri Serumpun&#8221; punya bisnis serupa tetap berdampingan secara damai dan maju untuk makmur bersama. Teknologi mutakhir multimeda mungkin jadi sebagian solusi carut-marutnya situasi Jakarta.
PUKUL 07:00 waktu setempat, atau pukul 13:00 waktu Indonesia bagian barat. Pada pagi musim salju di bulan Februari, wajah rembulan sama cemerlangnya dengan lampu merkuri di jalan raya Kiruna. Kota yang memakai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>&#8220;Negeri Serumpun&#8221; punya bisnis serupa tetap berdampingan secara damai dan maju untuk makmur bersama. Teknologi mutakhir multimeda mungkin jadi sebagian solusi carut-marutnya situasi Jakarta.</em></p>
<p>PUKUL 07:00 waktu setempat, atau pukul 13:00 waktu Indonesia bagian barat. Pada pagi musim salju di bulan Februari, wajah rembulan sama cemerlangnya dengan lampu merkuri di jalan raya Kiruna. Kota yang memakai nama sejenis burung ini terletak di bilangan utara Swedia, satu jam setengah terbang dari ibukota (Stockholm). Jika terbang satu jam lagi, kita akan sampai di Greenland, pulau es di ubun-ubun bola dunia.</p>
<p>Semalam suhu berkisar 20 derajat Celsius di bawah nol. Pagi ini &#8212; meski matahari terik, masih 10 derajat di bawah nol. Buat orang dari negeri tropis, perubahan cuaca mendadak yang begitu tajam, sungguh terasa amat mencucuk. Kulit muka rasanya bagai tersayat kena sapuan angin mahadingin itu. Bibir pun retak-retak, meski diolesi lipstik pelembab. Begitu pula ujung hidung yang sudah dioles minyak zaitun, tetap saja terkelupas. <span id="more-104"></span></p>
<p>Kota Kiruna luasnya 20.000 km2, berpenduduk lebih kurang 20.000 jiwa. Sekitar 5.000 di antaranya adalah orang Finlandia. Mereka bekerja di tambang bijih besi. Di dalam bus wisata menuju Sungai Torne di Jukkasjarvi, 12 km dari Kiruna, Jonas sebagai pemandu wisata menceritakan bahwa di perut Kota Kiruna terdapat tambang bijih besi. Inilah tambang bawah tanah yang terbesar di dunia. Ada terowongan sepanjang 400 km, yang mencapai kawasan Finlandia. Di dalamnya lengkap dengan ruang konperensi. Objek wisata khas pula, tapi kali ini kita tidak singgah di situ.</p>
<div id="attachment_113" class="wp-caption alignleft" style="width: 225px"><a href="http://edzoelverdi.com/wp-content/uploads/2009/02/spd-motor-salju1.jpg"><img class="size-medium wp-image-113 " title="spd-motor-salju1" src="http://edzoelverdi.com/wp-content/uploads/2009/02/spd-motor-salju1.jpg" alt="Konvoi gawat di hamparan salju Sungai Thorne." width="215" height="146" /></a><p class="wp-caption-text">Konvoi gawat di hamparan salju Sungai Torne.</p></div>
<p>Sungai Torne yang dituju, kini sedang bersalin rupa menjadi padang es. Jonas sudah menyiapkan sejumlah sepeda motor untuk bersafari di hamparan salju. Para turis yang punya nyali silakan mengendarainya, dan Jonas siap memandu. Saya bonceng dengan dia. Berangkat pukul 09:30, jalan kira-kira 500 meter ada belokan menanjak.</p>
<p>Jonas sukses melewatinya. Giliran sepeda motor di belakang, terjengkang. Aha, rupanya Lucky yang bawa. Christ bonceng. Meskipun terguling, mereka terbahak meriah di hamparan salju yang empuk. Begitu pula waktu pulang. Christ yang bonceng dengan Dewi, terperosok ke tepi jalan. Jonas lagi-lagi turun tangan.</p>
<p><a href="http://edzoelverdi.com/wp-content/uploads/2009/02/spd-motor-salju.jpg"></a> Kembali ke Hotel Vinter Palatset di Kiruna, sudah malam dan masih ada kesempatan mandi sauna.</p>
<div id="attachment_114" class="wp-caption alignright" style="width: 230px"><a href="http://edzoelverdi.com/wp-content/uploads/2009/02/jonas-dewi1.jpg"><img class="size-medium wp-image-114" title="jonas-dewi1" src="http://edzoelverdi.com/wp-content/uploads/2009/02/jonas-dewi1.jpg" alt="Jonas &amp; Dewi dari Ericsson Indonesia." width="220" height="156" /></a><p class="wp-caption-text">Jonas &amp; Dewi dari Ericsson Indonesia.</p></div>
<p>Sementara yang lain mandi uap, Jonas ke dapur memasak ikan hasil pancingan Dewi di sebuah danau es tadi. Saya duduk di restoran minum kopi hangat, sambil baca-baca brosur. Di meja saya taruh korek api &#8220;Cap Tuan&#8221; yang saya bawa dari rumah. Buatan Indonesia dengan lisensi dari Swedia.</p>
<p>Jonas melihat itu. “Dari mana <em>you</em> dapat ini?” dia bertanya. Saya bilang, nama Sweden sudah saya ketahui semenjak kecil di kampung, ya melalui korek api inilah. Jonas ketawa. Ada tulisan Jonkoping di situ. &#8220;Itu bacanya Joncoping,&#8221; katanya.</p>
<p>Lebih dari sekadar korek api, kita juga sudah lama mengenal kamera <em>Hasselblad</em> buatan Swedia. Bahkan <em>Volvo</em> &#8212; pernah menjadi mobil resmi menteri di Indonesia, ya buatan Swedia juga. Dan belakangan, paling beken adalah pesawat ponsel bernama &#8220;Ericsson&#8221;.<br />
 <br />
Lalu saya tanyakan, apa saja produk Indonesia yang dikenal oleh orang Swedia?</p>
<p><em>&#8220;Nothing !&#8221;</em> jawab Jonas. Dia terdiam sejenak, kemudian menyebut ada baju //made in Indonesia/. &#8220;Cuma tidak istimewa, sebab banyak sekali baju buatan Cina di sini&#8230;.,&#8221; katanya.</p>
<p><strong></strong></p>
<div id="attachment_115" class="wp-caption alignleft" style="width: 231px"><a href="http://edzoelverdi.com/wp-content/uploads/2009/02/hotel-es-bar.jpg"><img class="size-medium wp-image-115" title="hotel-es-bar" src="http://edzoelverdi.com/wp-content/uploads/2009/02/hotel-es-bar.jpg" alt="Bar di dalam Ice Hotel: semua perabot terbuat dari batu es." width="221" height="156" /></a><p class="wp-caption-text">Bar di dalam Ice Hotel: semua perabot terbuat dari batu es.</p></div>
<p>SENSASI HOTEL ES</p>
<p>Tak jauh dari lapangan parkir skuter salju tadi ada sebuah hotel. Namanya: <em>Ice Hotel</em>. Riwayatnya bermula dari seorang petugas <em>public relations</em> pariwisata setempat, Yngve Bergqvist. Di musim dingin, daerahnya sering sepi dari pelancong. Maklum, atraksi yang tesedia tak berbeda dari umumnya negeri salju. Misalnya, orang main ski atawa duduk di kereta yang ditarik puluhan serigala salju.</p>
<p>Apa anehnya? Lalu, pada suatu hari di musim dingin tahun 1989, Bergqvist membangun sebuah <em>igloo</em> di tepi Sungai Torne yang sedang membeku. Awalnya hanya sekadar memperagakan kerajinan tangan dan seni pribumi Sami. Di luar dugaannya, ada beberapa turis yang &#8220;pesan tempat&#8221;. Mdereka ingin tidur di dalam igloo yang bergaya eksotik Swedia.</p>
<p>Bergqvist pun menanggapi tantangan itu. Tahun berikutnya, ia mendirikan  bangunan ala Eskimo ini dalam</p>
<div id="attachment_116" class="wp-caption alignright" style="width: 246px"><a href="http://edzoelverdi.com/wp-content/uploads/2009/02/hotel-es-gereja.jpg"><img class="size-medium wp-image-116" title="hotel-es-gereja" src="http://edzoelverdi.com/wp-content/uploads/2009/02/hotel-es-gereja.jpg" alt="Upacara pernikahan di ruang gereja, Ice Hotel." width="236" height="156" /></a><p class="wp-caption-text">Upacara pernikahan di ruang gereja, Ice Hotel.</p></div>
<p>skala lebih besar. Luas bangunannya 4.000 meter persegi. Terbuat dari 10.000 ton balok es yang berasal dari sungai, dan 30.000 ton salju. Selain menyediakan kamar untuk 100 tamu, di dalam Hotel Es juga ada ruang sauna, ruangan untuk gereja, sebuah bar istimewa yang dinamai &#8220;Absolute Ice&#8221;. Seluruh perabot di dalamnya, seperti kursi, lampu gantung dan bahkan gelas, tulen terbuat dari batu es.</p>
<p>Suhu di dalam hotel berkisar antara 3-9 derajat Celsius di bawah nol. Di kamar tidur ada ranjang berupa balok es dan taburan salju, dialas dengan kulit rusa kutub lengkap dengan bulunya. Para tamu nyaman tidur di dalam <em>sleeping bag.</em> Di beberapa kamar ada pula ranjang susun. Bagian menu pagi berupa minuman hangat, disuguhkan di samping tempat tidur. Tarifnya semalam rata-rata 1.000 kronor atau sekitar =Rp 800.000,- per-orang.</p>
<div id="attachment_117" class="wp-caption alignleft" style="width: 213px"><a href="http://edzoelverdi.com/wp-content/uploads/2009/02/ed-hotel-es-kamar.jpg"><img class="size-medium wp-image-117" title="ed-hotel-es-kamar" src="http://edzoelverdi.com/wp-content/uploads/2009/02/ed-hotel-es-kamar.jpg" alt="" width="203" height="299" /></a><p class="wp-caption-text">Sejenak mencoba bangatnya ranjang batu es beralas kulit beruang kutub.</p></div>
<p>Namanya bangunan dari batu es, ya di musim panas dia meleleh lagi ke tempat asalnya di Sungai Torne. Dibangun sekitar bulan November, hotel itu rata kembali di bulan Juni. Demikian adanya tiap tahun. Hotel Es nun di belahan paling utara Swedia telah menjadi tujuan wisata paling top di musim dingin: mampu menarik 40.000 pelancong. Boleh dicatat, usaha serupa kini juga muncul di kawasan Norwegia dan Finlandia.<br />
 </p>
<p><strong>SPIRIT NEGERI SERUMPUN</strong><br />
Meski negeri jiran meniru model bisnisnya, tidak terdengar ada orang Swedia yang sewot. Sedangkan dalam bisnis skala besar pun mereka tenang saja punya usaha sejenis. Seperti disebut tadi, pesawat ponsel <em>Ericsson</em> adalah buatan Swedia. Bersamaan dengan itu, merek <em>Nokia</em> adalah keluaran Finlandia. Sebagai negara industri alat komunikasi terkemuka di dunia, mereka membuktikan dapat hidup berdampingan secara damai. Lebih dari itu: menjalin perkongsian dan maju untuk makmur bersama.</p>
<p>&#8220;Perkerabatan bisnis&#8221; ini kian terungkap ketika kita menyaksikan &#8220;CeBIT 2000&#8243; di Hannover, Jerman, 24 Februari - 1 Maret. Pekan raya terbesar teknologi multimedia ini diikuti 7.515 peserta dari 63 negara. Hajatan tingkat dunia ini dibuka tanpa perlu pidato presiden atawa menteri. Di antara pengunjung yang datang dari 100 negara, adalah Dewi Widiyanti dan Lucky Mirza &#8212; dari &#8220;Ericsson Indonesia&#8221;, mendampingi tiga wartawan Indonesia: saya dari <em>Gatra</em>, Christiany Tumesap <em>(The Jakarta Post)</em>, dan Moch. S. Hendrowiyono <em>(Kompas).</em></p>
<p>Di dunia teknologi, peran para peneliti memang beroleh porsi besar. <em>Ericsson</em>, misalnya, tahun 1998 mengeluarkan dana US$ 3,8 milyar hanya untuk riset dan pengembangan (R&amp;D). Jumlah ini 16% dari total penjualannya, guna membiayai 22.000 petugas R&amp;D yang tersebar di 25 negara. Kebolehan <em>Ericsson</em> melakukan rekayasa imajinatif, keunggulan piawai dan wilayah operasi yang mendunia, seluruhnya diwarisi dari jasa besar seorang bernama Lars Magnus Ericsson (1846 - 1926).</p>
<p>Sejarah panjang <em>Ericsson</em> sebagai perintis dalam industri komunikasi, masih tetap berkibar hingga kini. Kenyataan itu tercermin, misalnya, pada pengembangan teknologi <em>Bluetooth</em>. Jenis perangkat lunak ini memungkinkan internet bisa disimak di layar ponsel tanpa perlu kabel samasekali. Dengan menggunakan gelombang pendek radio, maka ponsel pribadi dapat dihubungkan ke peralatan bisnis bergerak.</p>
<p>Resminya pengembangan teknologi ini dilakukan oleh <em>Bluetooth Special Interest Group</em>. Anggotanya terdiri dari <em>Ericsson, IBM, Intel, Nokia</em> dan <em>Toshiba</em>. Lalu masuk pula <em>Motorolla, 3Com, Lucent</em> dan <em>Microsoft.</em> Namun kalangan industri terkemuka peragat multimedia itu tampaknya menaruh hormat tersendiri kepada negeri asal Ericsson, ditandai dengan penggunaan nama <em>Bluetooth</em> untuk teknologi mutakhirnya.</p>
<p>Bluetooh adalah terjemahan untuk &#8220;Blatand&#8221;, dicomot dari nama seorang Raja Viking, yakni Harald</p>
<div id="attachment_119" class="wp-caption alignright" style="width: 136px"><a href="http://edzoelverdi.com/wp-content/uploads/2009/02/bluetooth1.jpg"><img class="size-medium wp-image-119" title="bluetooth1" src="http://edzoelverdi.com/wp-content/uploads/2009/02/bluetooth1.jpg" alt="Bluetooth, Raja Viking." width="126" height="161" /></a><p class="wp-caption-text">Bluetooth, Raja Viking.</p></div>
<p> Gormsson Blatand, yang memerintah Norway serta Denmark abad ke-10. Swedia memang masuk rumpun Skandinavia &#8212; bersama Denmark, Norway dan Finlandia. Adalah Blatand alias Bluetooth, di masa itu, yang mempersatukan berbagai kekuatan politik di negerinya.</p>
<p>Spirit ini diserap dalam teknologi baru tadi, yang diberi nama: Bluetooth. Sehingga WAP <em>(wireless application protocol)</em> tidak diplesetkan lagi jadi singkatan <em>Where Are the Phone?,</em> seperti muncul di koran <em>Financial Times</em>, awal tahun 2000. Olok-olok ini mencerminkan betapa tidak sabarnya pihak investor menunggu terwujudnya peragat komunikasi berbasis WAP alias nirkabel.</p>
<p><strong>OPTIMALISASI MANFAAT TEKNOLOGI<br />
</strong>Ponsel anda lengkap dengan kamera dan fasilitas <em>Bluetooth?</em> Bagus. Tapi kemudahan yang disediakan pabrik ini harap dipakai secara hati-hati. Misalnya, jangan sembarangan buka kontak <em>Bluetooth</em> di tengah keramaian. Dia aktif sedikitnya dalam radius 30 meter, sehingga ketika ada lagi yang memainkannya maka data yang sedang mengudara bisa masuk ke ponsel anda. Dan bukan mustahil data yang tidak diundang itu justru mengandung virus. Ini sudah sering terjadi.</p>
<p>Sejauh ini di negeri kita para konsumen benda-benda teknologi, terbilang amat gairah melahap aneka produk terbaru. Sekitar 15 tahun lampau, peragat jinjing alat komunikasi masih seukuran tas tangan. Sebentar lagi, menurut gambaran pihak <em>Nokia</em>, sosoknya mungkin saja seukuran arloji tangan. Dan mampu menampung serta menyalurkan data, suara, serta foto. <em>“When you consider mobile communications, you need a mobile mind,”</em>  kata orang <em>Nokia</em>.<br />
 <br />
Sasaran utamanya, dengan demikian, memang orang-orang aktif, khususnya di dunia bisnis atau organisasi massa. Saat ini, dalam ukuran telapak tangan saja sudah cukup fasilitasnya buat menggenggam bola dunia. Dengan benda imut ukuran dompet itu, sebenarnya orang tidak perlu harus sewa kantor mahal-mahal. Dan khusus di Jakarta, sungguh tidak perlu lagi bermacet-ria di jalan raya saban hari.</p>
<p>Begitu dahsyat godaan yang ditayangkan tiap hari, sehingga banyak konsumen yang tergiur. Namun apa boleh buat, sampai hari ini pun saya sering terbahak ketemu kawan yang membanggakan punya ponsel model mutakhir. Dia bukan saudagar, bukan pula orang partai. Tapi pegawai di sebuah kantor swasta. Dan untuk saling berbalas sms pun dia masih kalang-kabut.<br />
 <br />
“Kalau begini peragat komunikasi yang kau pegang, ini hari mestinya kita tidak ketemu di warung kopi Cikini,” saya bilang.</p>
<p>“Lantas, di mana dong?”</p>
<p>“Ya&#8230;, pantasnya ngopi sembari berjemur di Pantai Waikiki, Hawaii. Dengan alat ini kau tinggal pencet tombol untuk mengatur 30 perusahaan&#8230;.”</p>
<p>“Sialan, luh,” katanya, sambil ketawa. “Aku pernah usul sama bos di kantor, supaya maksimal memanfaatkan potensi teknologi mutakhir ini. Jadi, nggak perlu ngantor lagi, eh dia nggak setuju&#8230;.”</p>
<p>“Tentu saja. Mana mungkin bos kau setuju. Dia udah pakai dasi mahal, siapa yang lihat? Lebih dari itu, kalau tak ada orang di depan hidungnya, bos bisa unjuk kuasa sama siapa?”</p>
<p>Sebagai konsumen aneka produk teknologi mutakhir, janganlah sampai kita jadi olok-olok:  mampu membeli tapi tak mampu memanfatkannya secara optimal. ***</p>
<p><strong><em>Ed Zoelverdi<br />
</em></strong>&#8211; Cuplikan buku <em>Mat Kodak Berselancar di Gelombang Cahaya; Kisah Lawatan Jurnalistik.<br />
</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://edzoelverdi.com/2009/02/27/melancong-ke-negeri-bluetooth/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Nepotisme, Memangnya Kenapa &#8230;</title>
		<link>http://edzoelverdi.com/2009/02/27/nepotisme-memangnya-kenapa/</link>
		<comments>http://edzoelverdi.com/2009/02/27/nepotisme-memangnya-kenapa/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Feb 2009 11:42:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matkodak</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Haha-Hihi]]></category>

		<category><![CDATA[undang-undang bos;]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://edzoelverdi.com/?p=99</guid>
		<description><![CDATA[NERO, nama anak muda itu, sah sudah menduduki kursi bos di perusahaan pemberian bapak mertuanya. Tadinya dia enggan menerima tugas itu, karena kawan-kawannya pernah mengolok-olok: &#8220;Wah, Ne, kamu pendukung nepotisme, dong&#8230;&#8221; Dan guyonan itu sempat disebutnya kepada sang mertua. Tentu saja orang tua itu melotot.
&#8220;Hei, anak muda! Percuma aku ongkosi kamu studi jauh-jauh ke seberang. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>NERO, nama anak muda itu, sah sudah menduduki kursi bos di perusahaan pemberian bapak mertuanya. Tadinya dia enggan menerima tugas itu, karena kawan-kawannya pernah mengolok-olok: &#8220;Wah, Ne, kamu pendukung nepotisme, dong&#8230;&#8221; Dan guyonan itu sempat disebutnya kepada sang mertua. Tentu saja orang tua itu melotot.</p>
<p>&#8220;Hei, anak muda! Percuma aku ongkosi kamu studi jauh-jauh ke seberang. Coba buka lagi itu kamus,&#8221; ujar mertuanya. &#8220;Nepotisme memang seperti yang kejadian pada kamu. Dapat kerja karena dikasi mertua sendiri, di mana letak dosanya? Aku jamin ini usaha legal dan halal. Sudah, nggak perlu kamu dengar itu orang-orang usil.&#8221;</p>
<p>Ceritanya, Nero pun mulai berkantor di sebuah gedung baru dengan perabot serba wah. Sesuai pesan bapak, maka Nero sudah datang sebelum pegawai lain hadir. Dia mulai latihan duduk di kursi putar yang empuk, dengan sandaran tinggi. Sejenak dia mengelus-elus pesawat telepon, dia melihat ke luar, eh ada orang berdasi turun dari mobil. <span id="more-99"></span></p>
<p>&#8220;Ini pasti calon langganan kakap,&#8221; dia bicara sendiri. Ketika si orang berdasi mengetuk pintu ruang kerjanya, Nero pun bergaya sibuk, mengangkat telepon, dan mulai bicara seolah sedang ada transaksi besar. Dia lupa menyilakan tamunya masuk, eh si tamu sudah menyelonong ke depan mejanya.</p>
<p>Nero pun melepaskan gagang telepon dari telinga, menutup mikrofon dengan tangan, lalu dengan gaya ramah bertanya: &#8220;Yak, tuan, apa yang bisa saya bantu?&#8221;</p>
<p>Sang tamu berdasi itu menjawab: &#8220;Maaf, pak. Saya ke sini cuma untuk mengaktifkan sambungan pesawat telepon anda&#8230;.&#8221;</p>
<p>* * *</p>
<p>MAKLUM, baru jadi bos &#8212; dan dia rasa mendadak pula. Untuk membangun rasa percaya diri alias pede, Nero kemudian memasang poster di dinding ruang kerjanya. Bunyinya: <em>&#8220;Undang Undang Bos terdiri hanya atas dua pasal. Yaitu, Pasal 1: Bos tidak pernah salah. Pasal 2: Kalau Bos salah, lihat Pasal 1.&#8221;</em></p>
<p>Tapi sekalipun sudah dilindungi undang-undang, jangan dikira Pak Bos bebas dari penderitaan. Bos Nero sempat menyampaikan keluhan kepada kawan-kawannya dari perusahaan lain.<br />
&#8220;Aku kepingin pecat sekretaris baru itu,&#8221; ujarnya.<br />
&#8220;Lho! Kemarin kau bilang dia cantik bahenol, kok tiba-tiba saja mau dipecat?&#8221; tanya seorang kawannya.<br />
&#8216;Apa dia sok jual mahal&#8230;,? kawan lainna menimpali.<br />
&#8220;Bukan, bukan itu soalnya.&#8221;<br />
&#8220;Lalu, apa dong?&#8221;<br />
&#8220;Kalian bayangkan. Tiap kali aku diktekan menulis surat, dia suka tanya ejaannya bagaimana?&#8221;</p>
<p>&#8220;Wah, sungguh menjengkelkan,&#8221; komentar kawan-kawannya, hampir serempak.</p>
<p>&#8220;Bukan soal jengkel, <em>bro.</em> Tapi malunya ini &#8230; Habis, saban kali aku harus bilang <em>&#8216;gua sendiri juga nggak tau&#8217;&#8230;&#8221;</em></p>
<p>* * *</p>
<p>WALHASIL, Bos Nero lebih suka cari urusan di luar kantor. Mau tahu betapa sibuknya sang bos, dengar saja jawaban sekretarisnya lewat telepon:<br />
&#8220;Bos belum datang.&#8221;<br />
&#8220;Bos ada, tapi sedang rapat.&#8221;<br />
&#8220;Bos sedang makan siang.&#8221;<br />
&#8220;Bos kembali sebentar lagi, sekarang sedang <em>meeting</em> di luar.&#8221;<br />
&#8220;Bos masih sekitar kantor, sih. Ada jas di sandaran kursinya, kok.”<br />
&#8220;Bos ke luar kota buat beberapa hari.&#8221;</p>
<p>* * *</p>
<p>SUDAH dilindungi undang-undang bikinan sendiri, Nero masih belum pede. Suatu pagi dia bawa secarik stiker dari rumahnya. Stiker itu lalu ditempelkannya di pintu ruang kerjanya. Di situ tertulis dengan huruf besar: &#8220;I&#8217;M THE BOSS !&#8221;</p>
<p>Sekembali dari makan siang &#8212; biasa dengan kawan-kawannya, Nero melihat dari kejauhan ada secarik kertas lain menempel dekat stikernya. Namanya bos, dia pun berlagak marah. &#8220;Hey! Itu kerjaan siapa nempel-nempel kertas?&#8221;</p>
<p>Sekretarisnya yang bahenol segera berdiri dan mendekatinya. &#8220;Sabar, bos! Itu bukan sembarang tempel, tapi perintah istrinya bos dari rumah.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ha!?&#8221; seru Bos Nero, sambil mendekat ke pintu. Di kertas kecil itu ada tulisan: &#8220;Segera bawa pulang lagi stiker mami ini&#8230;.&#8221;</p>
<p>* * *</p>
<p>STRES, frustrasi, campur aduk. Dalam perjalan pulang, Bos Nero mampir di pasrr burung. Dia ingat, waktu kecil dulu pernah dibelikan ayahnya beo yang pintar diajak ngobrol. Iseng-iseng dia lalu menunjuk seeekor beo dalam sangkar.<br />
&#8220;Berapa harga beo ini?&#8221; si bos bertanya.<br />
&#8220;Rp 1 juta,&#8221; jawab pedagang.<br />
&#8220;Kok mahal amat. Apa sih kepintarannya?&#8221;<br />
&#8220;Dia hebat menyanyikan lagu dangdut.&#8221;<br />
&#8220;Yang itu berapa?&#8221; tanya si bos menunjuk sangkar kedua.<br />
&#8220;Rp 1,5 juta.&#8221;<br />
&#8220;Kok lebih mahal. Apa kemampuannya?&#8221;<br />
&#8220;Selain menyanyi, dia juga bisa kasi tau kalau ada orang asing mendekati rumah.&#8221;<br />
&#8220;Yang di sangkar ketiga, berapa harganya?&#8221;<br />
&#8220;Rp 3 juta.&#8221;<br />
&#8220;Kok lebih mahal. Kelihatannya biasa-biasa saja. Apa istimewanya, sih?&#8221;<br />
Si pedagang menjawab : &#8220;Saya juga tidak tau apa istimewanya. Sampai sekarang ocehannya amburadul, kerjanya cuma bersolek, dan jalan-jalan. Tapi beo-beo di sini memanggilnya Bos.&#8221;</p>
<p>* * *</p>
<p>MUTIARA kata kali ini: &#8220;Segala hal hendaknya dapat dibuat sederhana, tapi bukan digampang-gampangkan.&#8221; &#8212; Albert Einstein (1879&#8211;1955).</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://edzoelverdi.com/2009/02/27/nepotisme-memangnya-kenapa/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
