Mengapa Mat Kodak?

Ya, mengapa Mat Kodak, sih? Julukan ini saya perkenalkan secara terbuka di rubrik Fotografi koran Sinar Harapan, 13 Oktober 1973. Penamaan itu muncul sebagai upaya menyederhanakan aneka sebutan buat fotografer. Lidah umum ada yang menyebutnya tukang potrek, tukang foto, juru potret, juru foto, fotograaf, photographer sampai tukang kodak.

JULUKAN “Mat Kodak” pada awalnya dilansir baru sebatas olok-olok dalam obrolan di warung, sekitar tahun 1960-an. Ketika itu, ada kawan yang suka bicara dalam nada gawat, lalu kita juluki dia Mat Gawat. Ada pula yang punya gaya mengatur, ya dia pun digelari Mat Atur. Pas dia tukang potret, sah saja dapat sebutan Mat Kodak.

Istilah photographer dalam ejaan kita disebut atau ditulis: “fotografer”. Ini dicomot dari bahasa Inggris. Tapi dalam percakapan sehari-hari sering terdengar orang begitu sulit menyebut huruf “F”. Maka “fotografer” pun dilafalkan menjadi: “potogreper”. Bahkan ada yang mencantumkan begitu di kartu namanya.

Ini poto, bukan foto...Ketika di kantor ada sejawat yang menyebut “foto” sebagai “poto”, saya ingatkan arti dua kata itu bisa beda. Saya tunjukkan buktinya: “poto” adalah makhluk primata yang hidup di pohon-pohon, seperti gambar di samping ini.

Nah, daripada membiarkan orang keseleo melulu, apa salahnya kita perkenalkan istilah Mat Kodak? Ada kaitannya dengan Kodak, tentu saja. Julukan “Mat Kodak” saya lansir secara terbuka di rubrik Fotografi koran Sinar Harapan, 13 Oktober 1973. Penamaan itu muncul sebagai upaya menyederhanakan aneka sebutan buat fotografer.

Orang yang paham memang menyebut pemotret itu fotografer (photographer – dari bahasa Inggris. Atau fotograaf yang dicomot dari bahasa Belanda. Sedangkan di kalangan jelata, sebutan itu berubah menjadi “tukang foto, jurupotret, jurufoto, tukang potrek, sampai tukang kodak”. Lambat-laun julukan “Mat Kodak” untuk fotografer pun kian luas digunakan masyarakat.

Buku pertama yang saya tulis, saya beri judul Mat Kodak Melihat Untuk Sejuta Mata, terbit tahun 1985. Buku tentang seluk-beluk kerja foto di dapur orang pers ini kini sedang dalam proses revisi final menjadi tiga seri. Yakni: ikhtisar fotografi umum, Kita Menulis Dengan Cahaya. Seri kedua, Mat Kodak Melihat Untuk Berjuta Mata, ikhtisar fotografi jurnalistik. Dan ketiga, Dari Foto Kita Menulis – latihan menulis menggunakan modul karya fotografi.

Buku-buku Ed ZoelverdiSatu lagi buku yang sudah berupa dummy adalah kisah lawatan jurnalistik: Mat Kodak Berselancar di Gelombang Cahaya. Semua buku ini ukurannya 13.5 x 20.7 cm dan tebal 300 halaman. Munculnya sistem digital dalam teknologi fotografi, saya pelajari serius tujuh tahun terakhir ini. Suka-duka bergaul dengan fotografi digital ini pun sedang dituangkan dalam buku kecil Sensasi Fotografi Digitamania.

Jenaka, Alergi, Dicaplok ….
Kembali pada cerita seputar nama “Mat Kodak”. Nama ini sempat menimbulkan salah paham di kalangan kawan atau kerabat yang lama tidak ketemu. Misalnya, pada suatu pagi tiba-tiba ada kawan menelepon ke rumah. “Kenapa kau kemarin? Aku baca di koran Mat Kodak kena batunya…,” dia bertanya, sambil terbahak.

Ada yang menganggap nama ini jenaka. Namun ada pula yang sangat alergi. Ini pun sudah saya alami sejak dini. Yaitu, ketika saya coba menyelipkan istilah “Mat Kodak” dalam artikel fotografi untuk koran Sinar Harapan. Muncul di koran, istilahnya berubah menjadi jurufoto.
Sekali. Yang kedua juga dicoret dan diubah. Tapi kemudian lolos juga, pertama kalinya muncul dalam rubrik Fotografi di Sinar Harapan, 13 Oktober 1973. Alasan penggantian nama “Mat Kodak” jadi “jurufoto” itu belakangan saya dengar karena, kabarnya, untuk menjaga jangan sampai orang “Fuji” tersinggung.

Ini menarik. Dan lebih seru lagi ketika ada kawan bercerita, perusahaan “Fuji” di Indonesia keberatan mensponsori suatu panitia lomba foto, karena di dalam proposalnya tercantum istilah “Mat Kodak”. Wah!

Lalu pada suatu hari, saya baca di koran ada toko foto digrebek, khusus untuk mencopot papan nama “Kodak”. Di hari lain ada lagi berita yang menyebut terjadi keributan dalam monopoli tempat jualan benda-benda foto, dan pihak “Fuji” bersengketa dengan “Konica”.

Bagaimana seharusnya etika kompetisi dalam dunia dagang, bersaing secara sehat itu bisa apa tidak, terus-terang saya awam. Sampai pada suatu hari sekitar tahun 1980-an, saya sempat bertamu di kantor besar agen tunggal “Fuji”, Jalan Raya Matraman, Jakarta Pusat.

Ngobrol dengan beberapa manajernya. Omong punya omong, saya pun bertanya, apakah dalam dunia dagang orang tak bisa punya humor? Mereka bilang, bisa. Bagus!

Mereka tentunya pernah ke Jepang. Dan pernah pula melihat reklame di bandara Narita. “Kodak” bikin iklan di Jepang: “Fujii Pakai Kodak”. Fujii-san adalah nama Mat Kodak beken di sana. Dibaca cepat nama itu bisa saja berbunyi Fuji.

“Di Indonesia seharusnya Anda sigap menyulap iklan itu: Mat Kodak pun pakai Fuji. Tidak tegang, tapi kocak,” saya bilang.

Mereka tertawa mendengarnya. Lalu manggut-manggut. Tapi terlambat sudah. Lagi-lagi “Kodak” berada selangkah di depan. Di tv mereka muncul dengan iklan yang justru menyebut: “Mat Kodak memakai Kodak.” Sampai ada kawan nyeletuk, “Sebetulnya kau bisa tuntut itu, mereka pakai istilah yang kau ciptakan.”

Saya cuma tertawa. Lepas dari apakah saya pernah mempopulerkan atau tidak, pada kenyataannya nama “Kodak” sendiri sudah telanjur akrab bagi lidah orang di seantero dunia. Sampai-sampai untuk merek kamera, ada yang menanyakan: “Ini kodaknya merek apa sih?” Sama halnya untuk merek sepeda motor, di desa-desa lumrah saja kedengaran orang bertanya: “Mas, hondanya merek apa sih?”

Dengan kata lain, tidak pernah terlintas dalam pikiran saya, omongan dari warung saja kok harus pakai hak cipta segala? Begitu pula, saya cuma nyengir ketika ingin membuat situs pribadi di internet, menjelang akhir tahun 2000.

Saya klik nama “Mat Kodak” dalam formulir kapling baru di dunia maya itu. Hanya dalam hitungan detik, muncul jawaban dari seberang sono: Mat Kodak sudah terdaftar atas nama si anu …, beralamat …, di Jakarta juga. Aha!

Lantaran sibuk, sampai hari ini saya tak sempat mencigok apa gerangan isi situs Mat Kodak versi si anu itu. Jangankan merogoh barang orang, sedangkan www.ed-zoelverdi.com saja terlantar. Padahal sudah dibayar US$ 35 untuk setahun.

Sebagai peneruka dan penanggung jawab rubrik “Multimedia” di majalah Gatra tempo hari, saya mafhum target sang pencaplok nama Mat Kodak itu. Beradu cepat pasang nama di internet konon bisa menjadi tambang duit, kalau sampai ada pihak lain yang mengklaim. Jika mengira hebat bergelayut di punggung orang untuk dapat menghasilkan uang, yah silakan saja.

Sebab ternyata dunia tidaklah buta atau tuli. Di bagian ini saya harus mengucapkan terima kasih kepada Kang Ebet Kadarusman. Presenter kondang ini mengundang saya dalam acaranya — “Sa-Lam Canda” — di RCTI, pada suatu Sabtu malam di bulan Desember 1992. Dalam acara itu Kang Ebet mengorek cerita asal-muasal nama Mat Kodak.

Terima kasih pula saya sampaikan kepada para sejawat di majalah Tempo. Menyambut abad ke-21, dalam Edisi Khusus Tahun 2000, di halaman “Perjalanan Satu Abad Kesenian Indonesia Modern”, Tempo menyelipkan catatan: “1973 …, Fotografer Ed Zoelverdi mempopulerkan istilah ‘Mat Kodak’ dalam tulisan di Sinar Harapan.”

Dan sebesar-sebesar terima kasih patut saya utarakan untuk Bung Erwin D. Nugroho, kini “orang penting” di Kantor Berita JPNN. Dede — begitu panggilannya — bukan cuma mengingatkan pentingnya membuka kapling di dunia maya ini. Lebih dari itu, anak muda yang bergairah meniti karir sebagai jurnalis ini pun masih meluangkan waktu untuk membuatkan “blog” saya ini. Seshe, syukran, terimakasih. Hebat, De!

Sedangkan kepada kawan-kawan yang membaca “blog” ini, dan kemudian menyampaikan beragam tanggapan, saya wajib menyatakan terima kasih tiada berhingga. Pertemuan kita di dunia maya ini — insya Allah — sama kita harapkan membawa berkah dan bermanfaat.

Jakarta, 20 Mei 2008

Ed Zoelverdi

7 Responses to “Mengapa Mat Kodak?”

  1. Sinaro Says:

    Insya Allah semua bermanfaat.

  2. Sinaro Says:

    Hebat nyiak, kayak minum obat anti biotik 2 kali sehari lahan ini dicigok. Teruslah berkarya.Selamat.

  3. Didin Says:

    Bang Ed, sangat menyegarkan membaca lapak Bang Ed. Saya juga baru tahu soal “mat Kodak”. Terima kasih atas pencerahannya!

  4. Mat Kodak (arti dan sejarah) « Catatanomongkosong’s Weblog Says:

    [...] Begitu dekat ternyata, coba cek “lapak” beliau di sini, dan sejarah Mat Kodak di sini [...]

  5. Blog Mat Kodak, Asli Punya… at Windede dot Com Says:

    [...] Sekarang blog Mat Kodak sudah bisa dinikmati. Alamatnya di http://www.edzoelverdi.com, berisi macam-macam tulisan dan ada juga galeri foto. Saya sendiri, setelah hampir 10 tahun mengenal beliau, baru tahu sejarah Mat Kodak setelah membaca posting beliau di sini. [...]

  6. Yoyo Says:

    Salam kenal Pak !
    kalau sempat silahkan berkunjung ke tempat saya, sekalian ijin taut link ya Pak !

  7. Abduhrahaman Nanda Says:

    Memang sudah saatnya…

Leave a Reply