Pelukis Salim genap berusia 100 tahun nun jauh di negeri orang, dan tetap memelihara status sebagai warganegara Indonesia. Di depan pintu kamarnya di Paris, ia memasang ungkapan “Mai Morirem” — kita tidak akan mati. Sepanjang umur bermukim di jantung budaya Barat, Monsieur Salim justru mengingatkan agar orang Indonesia tidak begitu saja memamah-biak segala yang datang dari Barat.
SEPUCUK kartu Selamat Tahun Baru saya terima dari Paris, Prancis, awal Januari 2008. Pengirimnya: Salim — pelukis, orang Indonesia yang tahun ini genap berusia 100 tahun. Tulisan tangannya tidak banyak berubah. Saya mengenalnya pertama kali sekitar tahun 1970an, ketika Bung Salim — penggilan akrabnya — menggelar pameran karyanya di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.
Lalu dalam sebuah trip ke London, tahun 1981, pulangnya saya singgah di Paris — dengan tujuan utama mampir di rumahnya. Kemudian tahun 1987, saya ke Paris lagi menghadiri resepsi ulang tahun ke-20 Kantor Berita Foto Gamma. Acara penting lainnya tentu saja bertamu ke rumah Bung Salim. Begitu pula tahun 1993, dalam perjalanan pulang dari Amerika Serikat, saya pun singgah di Paris. Ya, mampir di rumah Bung Salim lagi.
Sampai suatu hari di awal 1995, dari Jakarta saya menelepon ke rumahnya di Paris — hanya sekadar kangen-kangenan. “Saya sekarang 86 tahun. Bukan main, ya, tua sudah,” katanya sambil tertawa. Dan sejauh itu, ia bilang tidak harus berpantang makan ini itu. “Saya makan apa saja. Minum anggur, tapi tidak merokok lagi. Sudah berhenti 14 tahun,” tuturnya, dalam bahasa Indonesia logat Prancis. Kecuali ada sedikit keluhan mengenai kaki, selebihnya Salim sehat-walafiat. Pendengarannya pun masih tajam. Juga, daya nalarnya tetap kritis. Continue reading »
JAKARTA pada suatu sore, di sebuah toko foto kita berpapasan dengan seorang Mat Kodak. Saya mengenal anak muda ini amat bergairah memilih pekerjaan sebagai fotografer. Selain menggunakan kamera digital, dia juga masih pakai kamera analog. Filmnya diproses di toko itu.