May 27

HARI-HARI di awal Juni 1977, Gubernur Ali Sadikin sebagai penguasa Jakarta bisa saja memanggil semua lurah datang menghadap, lalu pidato untuk pamitan. Tapi bukan itu yang dilakukannya. Bang Ali justru keliling mengunjungi seluruh kelurahan, hanya didampingi satu ajudan.

Pertemuan dengan para lurah begitu akrab. Dan warga setempat pun tumpah-ruah berebut menyalaminya. Di tiap kelurahan, Bang Ali selalu mengingatkan. “Pak Lurah, penghijauan yang kita lakukan sekarang baru pohon-pohon sementara,” katanya. “Cepat susulkan menanam pohon
yang awet, seperti mahoni, pohon asem, kenari, kayak zaman Belanda dulu”.

Sejauh yang kita amati, pesan Bang Ali itu tampaknya dilupakan begitu saja. Namun dalam skala besar, sulit melupakan jejak-langkahnya selama mengurus Jakarta. Bukan sekadar pembangunan fisik yang dikerjakannya hingga Jakarta layak menjadi Ibukota Republik Indonesia. Tapi lebih
dari itu: mencakup pelbagai faset kebutuhan hayati manusia, lahir batin. Ali Sadikin sebagai gubernur benar-benar mewujudkan prinsip mendahulukan kepentingan umum di atas kepentingan golongan atau korps.
Continue reading »

written by matkodak \\ tags: , , , ,