INI sepotong cerita lama dibuang sayang. Pada hari-hari menjelang pemilihan umum, seperti biasa ada yang berbusah obral janji : “Pokok-e nanti di sini kita bikin pabrik tektil, sudara-sudara.” Prok-prok-prok! Massa bertepuk riuh.
Dapat sambutan heboh, sang tokoh kian syur menggelebungkan “pabrik tektil”. Sampai lima kali. Sekian kali pula dia sebut “subtansi…. intropeksi…” Jurubisiknya risih. Tekstil, substansi, introspeksi — S di tengah kok raib.
Dari kursi dia setengah berteriak: “Kurang S, Pak…” Sang tokoh pun sigap tanggap, “Yak, susudara, bukan cuma tektil, nanti pabrik es juga bakal kita bikin…”
Mat Gawat masih terkekeh meski cerita itu agak sering diulangnya. “Kebiasaan korupsi, sih. Memulung kata orang lain, S pun ditilap,” komentarnya.
“Mengebiri huruf S, mungkin tak keliwat gawat selama makna kata itu tidak tergeol alias melenceng ke mana-mana…”
“Maksud, Bung?”