Jun 08

FOTOGRAFI adalah sebuah medium. Dia netral sebagai alat ekspresi. Sama seperti bidang politik: mirip kendaraan — juga netral, tak bisa begitu saja disimpulkan “kotor”, misalnya. Fotografi pun dapat dijuluki kendaraan untuk menyampaikan aneka gagasan, pesan atau kesan, setara dengan sektor Bahasa Kata atau tulis-menulis.

Orang berkembang sesuai dengan potensi minatnya di bidang tulis-menulis — setelah belajar, tentu saja. Dan sejak awal belajar menulis, tidak pernah disebut-sebut bahwa orang harus punya bakat seni. Juga tidak pernah terdengar iming-iming: kalau pandai menulis nanti kau menjadi pujangga, misalnya. Warasnya, untuk belajar fotografi pun sama saja.

Continue reading »

written by matkodak \\ tags: , ,

Jun 04

Silakan mejeng bertopang dagu sembari nyengir. Foto setengah badan yang mungkin berkilauan emas itu, boleh jadi dibilang bagus oleh orang sedunia, namun coba saja sodorkan untuk minta katepe atawa paspor…….

DALAM pertemuan di berbagai forum publik, seperti lokakarya, penataran, sarasehan — atau di warung kopi, sering sekali kita disodori pertanyaan: foto bagus itu yang seperti apa sih? Pertanyaan itu muncul dari beragam peminat dan pelaku fotografi, termasuk dari para Mat Kodak di kalangan orang koran.

Misalnya, pada suatu hari ada kawan memperagakan selembar foto ukuran kartupos. “Aku baru beli kamera, coba-coba moto di rumah,” dia bilang. “Bagus nggak hasilnya begini?” Foto itu merekam seorang perempuan duduk teronggok di lantai sedang menonton televisi. Saya lalu bertanya : ” Siapa ini? Babu ente, ya?” Continue reading »

written by matkodak \\ tags: ,

May 27

Pameran teknologi merekayasa karya foto di New York, membuka peluang manipulasi foto hampir tanpa batas. Kejujuran fotografi kini mendapat godaan.

MELIHAT satu kali jauh lebih berharga dibandingkan dengan hanya mendengar seratus kali. Itulah manfaat fotografi: menyebar-luaskan kenyataan di suatu tempat ke seluruh penjuru. Ini memang pernah teruji di bidang kerja orang koran alias dunia jurnalistik. Fotografi berkibar di media cetak sebagai kekuatan khas, sejak medium ini masuk koran menjelang abad ke-20.

Namun sebuah karya foto, sebagaimana tulisan, tak luput dari utak-atik. Sehingga hal “menyebar-luaskan kenyataan” kini harus dikoreksi. Karya foto ternyata bisa juga disalah-gunakan untuk memutar-balik keadaan sebenarnya, terutama untuk tujuan politis.

Ingat saja, misalnya, sajian foto di koran China Pictorial bulan Oktober 1976, dua minggu setelah Jiang Qing dan konco-konconya disingkirkan dari panggung politik Negeri Tirai Bambu itu. Foto tahun 1947 tersebut merekam saat Mao Zedong dan pasukannya melakukan long march, dan Jiang Qing tampak di latar belakang.

Continue reading »

written by matkodak \\ tags: , ,