Kalibataku — singkatan kali-bagi-tambah-kurang, selama ini bikin bingung pabrik kalkulator. Sebab tombol bagi-membagi dibikin macet. Ternyata itu cerita kuno sudah. Kalibataku versi abad 21, jauh lebih meriah dan … amit-amit!
SORE kemarin tiba-tiba Mat Gawat mencogok di rumah, setelah tiga hari tak kelihatan batang hidungnya. “Susah memang ini masyarakat ente,” gerutunya, sembari membanting topi petnya yang lusuh. Kepalanya yang botak berkilat oleh keringat. Belum sempat saya bertanya, dia menyerocos: “Mana tuh kopi jahe, mainkan…”
Gayanya mirip bos, maklum, dia pensiunan orang penting. Mau dibilang post power syndrome, ada juga meski tidak terlalu. Sebab Mat Gawat sadar juga bahwa “gaya kantoran” tak cocok dibawakan dalam pergaulan di masyarakat. Dan sebagai pensiunan, Mat Gawat tidak sudi disebut “mantan”, sebab, katanya, mantan artinya kan manusia-restan.
Punya pengalaman panjang jadi bos di perusahaan swasta, beberapa tahun sebelum pensiun Mat Gawat sudah menyiapkan sekoci. Dia buka perusahaan sendiri yang disebutnya masih kecil-kecilan. Merasa dapurnya aman, ia pun membagi waktu untuk aktif dalam berbagai kegiatan sosial di lingkungannya. Beberapa hari belakangan, katanya, dia sibuk jadi panitia 17-an tingkat RW.
“Ooo, aku kira kau sedang ke Hongkong,” saya bilang. “Jadi panitia 17-an, asyik dong.” Continue reading »
