NERO, nama anak muda itu, sah sudah menduduki kursi bos di perusahaan pemberian bapak mertuanya. Tadinya dia enggan menerima tugas itu, karena kawan-kawannya pernah mengolok-olok: “Wah, Ne, kamu pendukung nepotisme, dong…” Dan guyonan itu sempat disebutnya kepada sang mertua. Tentu saja orang tua itu melotot.
“Hei, anak muda! Percuma aku ongkosi kamu studi jauh-jauh ke seberang. Coba buka lagi itu kamus,” ujar mertuanya. “Nepotisme memang seperti yang kejadian pada kamu. Dapat kerja karena dikasi mertua sendiri, di mana letak dosanya? Aku jamin ini usaha legal dan halal. Sudah, nggak perlu kamu dengar itu orang-orang usil.”
Ceritanya, Nero pun mulai berkantor di sebuah gedung baru dengan perabot serba wah. Sesuai pesan bapak, maka Nero sudah datang sebelum pegawai lain hadir. Dia mulai latihan duduk di kursi putar yang empuk, dengan sandaran tinggi. Sejenak dia mengelus-elus pesawat telepon, dia melihat ke luar, eh ada orang berdasi turun dari mobil. Continue reading »